Belenggu Cinta Anakku dan Anak Mantu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Hidup dengan anakku dan anak mantuku, membuat masa-masa tuaku semakin menyedihkan. Aku tak dihormati dan dihargai sebagai seseorang yang sudah tua dan sebagai orang tua. Bahkan cinta anakku sendiri terhadapku, sangatlah sedikit dapat aku rasakan. Semua hanya tercurahkan untuk anak dan istrinya. Nasihat orang tua yang sejatinya selalu dipatuhi, kini tak diindahkan mereka. Baginya, aku adalah wanita yang sudah tua, rapuh, tidak tahu akan kehidupan anak muda sekarang. Sakit, sakit sebagai orang tua aku diperlakukan seperti itu.

Aku mendidik Arman, anakku dengan segenap jiwa dan raga, bekerja keras agar dia bisa sekolah dan menjadi orang sukses. Ayahnya yang telah meninggalkan aku bersamanya, tak membuat hidupku patah dan berhenti di tengah jalan. Aku berharap, di masa tuaku nanti, kesuksesannya bisa kita nikmati bersama dengan anak cucu dan mantuku. Aku ingin masa tuaku senang dan hidup bahagia. Melihat anakku berkeluarga dan mempunyai anak.

Aku hanya ingin masa tuaku, aku habiskan untuk beribadah. Nyawa kapan saja bisa terbang dan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Hidup hanya untuk beribadah dan melihat kebahagiaan anak dan cucu tercinta di masa tua. Semua pekerjaan menjadi berat dilakukan, kini hanya dikerjakan sekedarnya saja. Untuk olahraga dan membuat badan sedikit gerak dan menjadi enteng.

Tapi, masa tuaku amatlah menyedihkan. Perih dan hanya bisa menerima. Aku tinggal dengan anakku dan juga anak mantu. Entah kenapa, rasa cinta, dan sayang Arman begitu berbeda. Apakah dia tidak tahu siapa aku dan siapa wanita yang baru hadir dalam hidupnya. Apakah wanita itu tidak tahu, bahwa aku ibu dari suaminya, yang menjadi ibunya juga, orang yang harus dihormati di rumahnya sendiri, sedangkan dia hanya menumpang.

Ingin sekali aku berbicara apa yang menjadi sakit hatiku kepada mereka. Tapi, semua itu hanya memancing amarah mereka. Akupun tak yakin, anakku sendiri mengindahkan aku. Bagiku, hidupku tak lama lagi. Menggunakan waktu sebaik-baiknya, agar kelak ada bekal yang akan kubawa jika aku telah tiada. Oleh karena itu, aku hanya diam dengan sakit yang hanya aku sendiri yang merasa. Terkadang hatiku bertanya, adakah kaitannya terhadap sikapku dahulu terhadap ibuku sendiri. Aku selalu menengadahkan tangan dan meembumbungkan permintaan ke angkasa agar dosaku diampuni-Nya.

“Nita.., Anita, ibu bawa bubur sumsum, kamu suka, kan.” Kata Ibu Rahmi pada anak mantunya. Anita pun langsung menghampiri ibunya di ruang tengah. Saat itu, memang ibu Rahmi sangat senang-senangnya mendapat mantu anak wanita. Berharap, kelak dia akan merawatnya ketika tubuhnya mulai tua dan rapuh. “Iya, Bu. Anita suka sekali. Terimakasih ya, Bu.” Kata Anita dengan sopan dan hormat dengan ibu mertuanya. Sangat berbeda dengan sekarang.

Tanpa Rahmi sadari, ibunya sendiri yang sudah tua dan tidak bisa berjalan, hanya melihat mereka yang sedang asyik makan bubur sumsum di ruang tengah. Kamar ibunya yang dekat dan pintunya sedikit terbuka, menyisakan kesedihan bagi ibunya. Ia hanya bisa menatap anak kandungnya sendiri yang lebih menyayangi anak mantunya, dari pada dirinya, ibu kandungnya. Kenapa ia tak memberikan bubur itu terlebih dahulu padanya. Bubur sumsum yang teksturnya lembut, sangat cocok menjadi santapan nenek tua sepertinya.

Kalau pun ia berteriak memanggil Rahmi, dan memintanya untuk menyuapi, suaranya yang lirih dan rendah tidak akan di dengarnya. Suara televisi di ruang tengah sangat keras. Suaranya akan lenyap begitu saja. Sakit hatinya sangat dalam. Ia hanya diam dan memendam dalah hatinya. Hati yang terlampau hancur dan ia memaksakan untuk menyimpan semua beban yang sudah menggunung. Bagaimanakah perasaan orang tua jika diperlakukan seperti itu. Sakit, amatlah sakit, bagai diiris-iris, bagai di rajam dan dipukuli hingga hancur.

“Bu, ini Rahmi bawakan Bubur sumsum, ibu makan, ya!” Kata Rahmi yang menyuapi ibunya. Sebelum sendok mendekati mulutnya, ibunya sudah menyenggol tangan Rahmi hingga bubur di sendok itu tumpah. “Ibu, ibu kenapa? Ibu tidak suka?” Rahmi terkejut melihat sikap ibunya. Tapi, ibuya hanya diam saja. Hatinya terlampau sakit hati dengannya. “Kalau begitu, ibu mau makan apa? Biasanya ibu suka.” Kata Rahmi. Tapi, ibunya tetap diam saja.

Dalam baringan di atas kasur aku melamunkan sesuatu. “Maafkan aku ibu, jika sikapku dulu pada Anita telah menyakiti ibu.” Kata Rahmi sembari memeluk foto ibunya yang sudah meninggalkan ia. Ada penyesalan dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Keinginannya untuk hidup bahagia di masa tua hanyalah angan-angan. Anak mantunya, hanya menelantarkan ia di masa tuanya. Ia bahkan tak memiliki rasa hormat sekalipun terhadapnya. “Ibu, mungkin sebentar lagi aku akan menemuimu. Kita akan hidup bersama. Aku akan bahagia jika aku sudah bersama ibu, maafkan aku ibu. Maafkan aku sebelum aku bertemu denganmu, Bu.” Air mata Rahmi pecah dari persembunyiannya.

Aku seperti hidup di neraka dunia. Kejam dan penuh dengan beban. Anakku sendiri lebih mendengarkan apa kata istrinya dari pada aku, ibunya. Mataku selalu melihat kejahatan dan perilaku busuk Anita. Aku kasihan melihat kerja keras Arman demi memebahagiakan anak dan juga istrinya. Seringnya ia keluar kota, membuat istrinya bermain api dengan tetangga sendiri. Tapi, Arman tak pernah mendengarkan aku. Istrinya selalu bilang, aku hanya wanita tua yang tak tahu apa-apa. Dia bilang aku sudah pikun dan mengada-ada.

Tiba-tiba suara pintu depan terbuka, dan mengagetkan lamunan Rahmi. Ia pun langsung bangun, dan membuka sedikit pintu kamarnya dan melihat apa yang terjadi di luar sana. Matanya sangat terkejut, jantungnya berdebar kencang, kakinya seketika lemas, dan napas mulai terengah-engah. “Tenang saja, Mas Arman lagi keluar kota. Mungkin seminggu lagi baru pulang. Dia selalu bilang kalau mau pulang. Jadi, jangan khawatir ketahuan sama Mas Arman.” Kata Anita pada Alex. Seorang duda yang ditinggal oleh istrinya yang bekerja sebagai bidan, lantaran ia mengangur. Ia tinggal dengan anaknya yang berumur 17 Tahun.
“Lalu, bagaimana dengan ibu mertuamu?” Tanya Alex. “Sudahlah, dia hanya wanita kempot dan lemah. Dia tidak tahu apa-apa. Kalau dia ngadu sama Mas Arman, dia akan berhadapan denganku. Sudah tua sebentar lagi juga mati.” Kata Anita. Sudahlah, lebih baik kita ke kamar saja, hari sudah larut malam. Nanti keburu pagi, gak ngapa-ngapain.” Kata Anita dengan manja pada lelaki yang bukan suaminya, bukan mahramnya.

Rahmi lantas menutup pintu kamarnya. Ia berbaring kembali di kasurnya. Ia menangis tersedu-sedu. “Ya Allah, bukakanlah pintu Arman agar ia tahu siapa sebenarnya Anita. Wanita yang sangat dicintainya, telah menghianatinya.” Kata Rahmi. Ia sedih melihat perjuangan anaknya, membeli rumah, membuat usaha, agar keluarganya menjadi hidup kecucupan. Semangat dan kerja kerasnya sungguh luar biasa. Kini, ia sukses dan punya segalanya. Tapi, Istrinya sangat biadab.

“Kerja kerasmu hanya sia-sia Arman. Pulanglah, pulanglah, Nak. Lihat Istrimu.” Teriak Rahmi. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Menasihati Anita, tak ada artinya apa-apa. Dia tak menghormatinya, dan tak menghargainya. Rumah yang menjadi istana yang dihadiahkan Arman untukku, ternyata hanya membuatkan kandang bagi wanita yang berperilaku seperti binatang itu. Rumah yang harusnya menjadi tertram dan damai. Sekarang, semuanya lenyap, rumah terasa panas dan pengap, kerena ulah istrinya yang biadab. Rumah Ini tak ubahnya seperti neraka.

Semua orang sudah tahu bagaimana kelakuan mantuku itu. “Bu, kenapa tidak di nasihati. Kasihan Arman kerja keras mencari nafkah hanya untuk menghidupi orang seperti Anita.” Kata Bu Laras yang sangat prihatin melihat kondisi keluarga Rahmi. Dia adalah tetangga yang mengerti akan keadannya. “Arman sudah tidak percaya dengan saya lagi, Bu. Saya sudah di anggap orang lain dalam hidupnya. Bahkan, Anita sama sekali tak menghargai saya. Saya hanyalah wanita tua yang tidak tahu apa-apa dan sebentar lagi akan pergi untuk selama-lamanya.” Kata Rahmi.
“Semua tetangga juga sudah tahu, kalau mereka sering keluar bersama. Bahkan dengan santai mereka ngobrol bercanda di depan rumah, seperti dengan suaminya sendiri. Apakah Anita tidak punya pikiran yang benar?” Kata Laras. “Sudahlah, Bu. Saya tidak ingin ikut campur. Saya sudak tidak di anggap, jadi buat apa saya berteriak-teriak menasihatinya. Toh, hanya akan membuat ribut dan di dengar tetangga. Tidak enak. Saya sudah tua, saya hanya beribadah memohon ampun. Kelak jika Allah berkenan memanggil saya, sudah ada bekal yang akan saya bawa.” Kata Bu rahmi.
“Betul kata Bu rahmi. Biarkan saja kelakuan Anita jika memang tidak digubris. Semua akan ada balasannya dari yang di atas. Ibu hanya beribadah memantapkan hati. Dan semoga Arman segera diberi hidayah agar mengetahui kelakuan istrinya itu.” Kata Laras.

Ingin rasanya aku di perhatikan oleh Anita. “Ibu hari ini ingin dimasakkan apa?” Bayangan Rahmi. Anita sama sekali tak menghiraukan aku. Ingin sekali aku makan sesuatu yang aku inginkan. Tapi, Anita tidak akan membelikannya untukku. Kenapa hidupku seperti ini. Sakit, sakit rasanya. Hatiku terus menjerit, dan merintih kesakitan. Tapi, siapa tahu hantiku telah hancur dan luluh lantah akan sikap anak-anakku. Aku seperti hidup terkurung dan terbelenggu akan cinta anakku dan anak mantuku. Cinta yang seharusnya membuatku bahagia. Kalaupun Arman mengetahui yang sebenarnya, rumah tangga mereka akan hancur. Aku tak tega melihat perasannya ikut hancur.

Setiap hari, Anita selalu masak makanan yang enak-enak. Tetapi, ia selalu mengantarkan makanan itu kepada Alex, yang rumahnya berjarak tiga rumah dari rumah kami. Sakit hatiku melihatnya. Aku sama sekali tidak disapa “Bu, makanannya sudah matang. Ibu mau diambilkan? Tadi Anita masak makanan kesukaan ibu” Lamunan Rahmi. Ingin rasanya, mantunya itu bersikap sopan dan ramah terhadapku. Menyayangiku dengan penuh kasih sayang, sebagaimana ia menyayangi ibunya.

Arman adalah anak satu-satunya dalam hidupku. Memiliki mantu perempuan adalah sesuatu yang aku impikan sejak dulu. Merawatku saat tua, mengasuh anak, dan menata segala keperluan rumah tangga. Tapi, siapa yang bangga memiliki mantu yang cantik tapi sifatnya buruk. Sungguh, aku tidak pernah terpikirkan akan mengalami nasib seperti ini. Aku tak menginginkan dilayani seperti ratu di istanaku sendiri. Aku hanya ingin dihormati dan dihargai sebagai ibu, bahkan di istanaku sendiri.

Dan jika Rasya anak Arman pulang sekolah, aku hanya akan menjadi pengasuhnya. Entah apa yang Anita ajarkan pada anaknya. Ia tumbuh menjadi anak yang nakal, berani dan melawan orang tua. Keinginanku memiliki cucu yang baik, dan menyayangiku juga hancur. Keluarga ini sudah hancur dalam buaian harta. Harta yang sebenarnya digunakan di jalan Allah, raib entah kemana. Kenapa Arman begitu lemah dan takluk dihadapan wanita itu. Jiwa kepemimpinannya hilang, demi terbinanya keluarga yang bahagia. Cinta telah membutakannya untuk melihat semuanya.

“Arman, Anita sudah menghianatimu. Ibu malu dengan omongan tetangga tentang Anita. Ibu ingin keluarga kalian bahagia. Ibu juga tidak ingin kalian bercerai. Anita sering membawa Alex ke rumah ini, dan tidur bersamanya.” Kata Rahmi yang sudah habis kesabarannya, melihat ulah Anita jika Arman tidak di rumah. Uang hasil kerja kerasnya, Anita berikan kepada laki-laki keparat itu.
“Ibu, itu hanya ocehan para tetangga. Sudahlah, jangan di hiraukan. Anita sudah menceritakan semuanya pada Arman. Mereka tidak ada apa-apa, Bu. Itu hanya ulah para tetangga saja yang ingin menghancurkan rumah tangga Arman. Sebenarnya mereka iri dengan kesuksesan yang sekarang Arman miliki.” Kata Arman yang mengagetkanku. Apa sebenarnya yang Anita katakan. Hingga Arman luluh dalam lidahnya yang pandai bersilat itu.
“Apa yang Anita katakan Arman?” tanyaku penasaran. “Anita bilang, dia di fitnah. Semua orang mengatakan ia berselingkuh dengan Pak Alex. Itu semua salah. Arman tidak habis pikir kenapa mereka bisa memebuat gosip murahan seperti itu. Mereka pasti iri dengan kita, Bu.” Kata Arman. “Arman, apa yang mereka katakan benar. Anita berselingkuh dengan Pak Alex. Ibu melihat dengan mata kepala ibu sendiri. Ibu sakit hati dengannya, ibu tidak dihargai dan dihormati.” Kataku.
“Bu, itu hanya gosip tetangga. Jangan dengarkan. Bu Aya, ngompor-ngompori orang, kerena Pak Alex menolak untuk dijodohkan dengan adiknya. Bu Siti juga menyebarkan gosip, kerena Pak Alex menolak untuk menikah dengan anaknya yang ternyata tidak waras. Semua gosip itu hanya akal-akalan mereka, Bu.” Kata Arman. Tiba-tiba Anita datang dengan membawa makanan yang di belinya. Seharusnya, ia bisa masak sendiri, dan tidak menghambur-hamburkan uang suaminya. Toh, belanjaan di kulkas juga masih banyak.
“Bu, Anita sudah belikan makanan. Sebaiknya kita makan sekarang, nanti keburu dingin.” Kata Anita dengan sopan dan ramah. Ia tahu, itu hanya sikapnya di depan Arman. Sikap yang dipalsukan. Kenapa aku harus hidup dengan wanita seperti itu. Entah apa yang akan terjadi dengan hidup mereka jika Allah benar-benar telah mengambilku. Akankah ia mempertanyakan aku mengenai kewajibanku sebagai seorang ibu. Ya Allah, Engkau Maha Tahu bagaimana aku berjuang untuk menyadarkan Arman, agar ia tahu siapa istrinya.

Andaikan aku bisa memilih, aku ingin segera pergi di kehidupan yang baru. Ibu, kenapa aku tiba-tiba sangat merindukanmu. Maafkan aku ibu. Apakah kerinduan ini pertanda bahwa aku akan segera pergi meninggalkan dunia ini. Kehidupan yang aku rasakan begitu kejam. Apa yang harus aku lakukan sebelum aku pergi. Bagaimana dengan keluarga Arman. Apakah dia sanggup menjalani harinya nanti, jika ia mengetahui apa yang sudah Anita lakukan terhadapnya.
Semua kerja kerasnya hanyalah sia-sia. Aku tak kuasa melawannya. Mereka begitu keras akan pendapatnya masing-masing. Aku disini hanyalah orang yang tak berarti apa-apa bagi mereka. Masa tua yang bahagia tak pernah aku dapatkan. Masa tua yang indah hanyalah khayalan tak tergapai oleh tanganku. Rangkul aku dalam Tangan-Mu. Aku ingin kembali padaMu.

Semua telah aku lakukan demi hidup yang baik untuk keluarga mu, Arman. Mungkin, suatu saat kamu akan tahu apa yang diperbuat oleh istrimu. Biarkan ibu yang pergi. Ibu tak kuasa melihat kelakuan dan sikapnya yang selalu menyakiti hati dan perasaan ibu. Semua kasih sayang yang ibu berikan padamu, sudah cukup ibu rasakan balasannya. Ibu tak akan menuntut lagi darimu. Ibu ingin hidup tenang dalah haribaan Sang Ilahi. Ibu akan selalu berdo’a demi hidup yang baik bagi anak dan juga istrimu.

Kini, aku telah pergi. Tak apalah sakit dan getirnya belenggu cinta anak-anakku. Biarkan Tuhan yang membalasnya. Tapi, aku tetap tak kuasa jika melihat kalian tersiksa lantaran sikap kalian terhadapku. Aku akan memaafkan kalian. Semoga, apa yang tersembunyi akan terungkap kebenarannya.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin

Cerpen Belenggu Cinta Anakku dan Anak Mantu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pintu Negeri Atas Awan (Part 2)

Oleh:
Aku beranjak meninggalkan tempat ini dan berjalan menuju homestay. Hari ini, sudahi saja sampai disini. Aku membuka pintu kamar, dan ternyata Pras belum tidur. “Besok kita ke Prau lagi

Pengorbananku

Oleh:
Malam ini bulan bersinar terang menampakkan cahaya nya ke berbagai penjuru dunia. Namun, terangnya bulan itu kini tak seterang keadaanku. Aku hanya bisa terduduk di atas rerumputan dan memandangi

300 Detik

Oleh:
Gara-gara sebuah Nostalgia pesawat Hercules yang dulu Clara tumpangi, Mama dan Papa jadi meninggal. Ya, nostalgia itu yang selalu menghantui jiwa Clara tiap pagi, malam pun begitu. Clara mencoba

Krisan Putih

Oleh:
Iqbaal baru saja keluar dari ruang operasi. Ini adalah operasi ketiga yang sudah ditangani iqbaal. Dia melepas masker dan jas operasinya, mengambil jas kerjanya dan langsung menuju kantor. Setelah

Mama dan Aku

Oleh:
Rani nur adwiya sari begitulah nama lengkap ku. tapi di lingkungan ku aku biasa dipanggil Nur. namun kisah hidupku tak seindah nama pemberian orang tuaku. awalnya hidupku cukup sempurna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *