Beliau Itu Ibuku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 August 2013

Namaku Zee. Aku adalah anak tunggal. Aku sendiri adalah seorang pelajar SMA di Jakarta. Ayahku sudah 2 tahun meninggal, disebabkan oleh serangan jantung. Saat ini aku hanya tinggal bersama ibu. Ibuku adalah seorang pedagang sayuran. Setiap hari ibu menjual dagangannya ke sekitar rumah kami, terkadang ibu menjual ke luar dari daerah tempat kami tinggal. Ibu berjuang demi mencukupi keuangan untuk kami berdua. Semenjak kepergian ayah, aku dan ibu sama-sama berjuang untuk hidup.

Pagi ini aku akan berangkat ke sekolah sedangkan ibu akan berjualan. Aku dan ibu berjalan bersama menuju ke depan gang.

Setelah sampai di gang…
Aku: “ibu, aku berangkat ke sekolah dulu ya. Ibu hati-hati di jalan” ucapku sambil cium tangan ibu
Ibu: “iya nak. Kamu juga hati-hati di jalan. Tengok kanan-kiri apabila akan menyebrang” ibu mengelus kepala Zee
Aku: “iya ibuku sayang” aku tersenyum
Ibu: “ya sudah. Sekarang kamu berangkat, nanti telat kalau kelamaan” ucap ibu
Aku pergi meninggalkan ibu. Dan ibu sendiri akan berjalan membawa gerobak dagangannya menuju ke sekolah SD. Di sana ibu-ibu sudah ramai untuk menanti kedatangan ibuku. Ya, mereka adalah langganan ibuku. Mereka percaya dengan dagangan ibuku. Selain sayurannya segar, ibuku juga ramah dalam melayani.

Aku yang sudah sampai di sekolah langsung menuju ke kelas. Di dalam kelas aku sedang menunggu guru. Tepat pukul 07:00 Wib, guru kami barulah datang. Dan langsung saja memberi bahan mata pelajaran hari ini.
1 jam sudah pelajaran, waktunya untuk istirahat. Kalau istirahat, aku dan teman-teman ke luar sekolah. Saat aku sedang membeli makanan, tanpa disengaja aku melihat ibuku sedang berjualan. Aku tak menyangka kalau ibu ada di depan sekolahku. Aku yang sudah melihat ibu, lalu berlari menuju ke arahnya. Aku tidaklah malu dengan pekerjaan ibuku. Karena bagiku apabila halal kenapa tidak?

Setelah aku berlari menghampirinya, aku lalu memanggil ibu
Aku: “ibu…!” teriak aku memanggil ibu
Ibu: “Zee, kamu ngapain ke sini. Bukannya kamu sedang sekolah?” tanya ibu yang sedang melayani pembeli
Aku: “aku sedang istirahat. Aku tidak sengaja melihat ibu. Aku ingin membantu ibu berjualan” ucapku sambil membantu
Ibu: “ibu bisa sendiri nak. Sudah kamu kembali ke sekolah” pinta ibu yang melarangku untuk membantunya
Aku: “tapi bu…? aku ingin membantu ibu. Aku tidak ingin ibu lelah” aku memohon kepadanya
Ibu: “tidak usah. Ibu bisa sendiri. Sekarang waktunya kamu untuk menuntut ilmu. Sudah sekarang kamu kembali ke sekolah” ibu menyuruhku untuk kembali
Aku: “iya bu… kalau ada apa-apa, ibu panggil saja aku di sekolah” aku salaman sama ibu
Ibu: “insya allah tidak ada apa-apa” ucap ibu meyakinkan

Aku lalu pergi meninggalkan ibu dan menuju ke sekolah. Di dalam sekolah, teman-temanku sudah menungguku. Saat aku dan teman-teman akan ke kelas, salah satu temanku menanyakan soal perempuan tua yang aku hampiri tadi.
Azel: “Zee, ibu-ibu yang berjualan sayuran tadi siapa? kamu kenal dengannya sehingga kamu membantunya?” Azel penasaran
Aku: “oh, ibu tadi adalah ibuku. Dia berjualan sayuran setiap pagi untuk membiayai aku sekolah” jawabku santai tanpa ada rasa malu
Azel: “oh, ibu kamu. Tetapi apa kamu tidak malu?” tanyanya yang penasaran lagi
Aku: “untuk apa malu. Dia itu orang yang melahirkan aku. Aku tidak malu dengan pekerjaannya. Menurutku, kalau pekerjaan itu halal, kenapa tidak? coba deh kamu pikir” jawabku yang menjelaskan
Azel: *berpikir sejenak dengan ucapanku. “iya ya.. kenapa kita harus malu. Seharusnya kita membantu. Benar juga kamu Zee. Selama ini aku hanya mengamburkan uang orangtuaku dan aku tidak pernah menghargai pekerjaan mereka. Aku malu Zee dengan sikapku ini. *memeluk Zee. ” terima kasih ya Zee. Kamu sudah mengajariku tentang menghargai seorang ibu
Aku: *mengelus punggung Azel. “iya Azel sama-sama” ucap ku

Aku dan Azel kembali menuju ke dalam kelas. Di dalam kelas aku dan Azel masih membicarakan tentang kehidupan kami.

Note: Janganlah kita malu dengan wajah, tubuh dan pekerjaan seorang ibu. Ibu adalah seorang wanita yang telah berjuang melahirkan kita, antara hidup dan mati. Ibu juga banyak mengajarkan kita tentang kehidupan. Ibu juga yang tertatih-tatih membimbing kita. Hargailah seorang ibu sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Bersyukurlah kita karena masih ada ibu yang mau membimbing kita. Mingkin tanpanya kita tak ada.

Cerpen Karangan: Putri Setiowati
Facebook: Puputchubby Buletsbuletz Ajjah

Cerpen Beliau Itu Ibuku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku, Ibu

Oleh:
Kehidupan ini memang tidak akan seutuhnya sempurna, begitu pula dengan sifat seseorang ada yang berhati malaikat dan berhati setan. Dan di sini aku adalah seseorang yang berhati setan. “Rik,

Hujan Turun Perlahan

Oleh:
Namaku Renata, aku adalah seorang ratu mimpi yang ingin tetap singgah pada dunia khayalku dan tak ingin kembali pada dunia nyata. Kehidupan nyata tak seperti kehidupan dalam mimpi. Yang

Past Is To Forget As Future Is To Dream

Oleh:
Terlihat seorang perempuan duduk di bawah sebuah pohong ridang. Termenung, mengingat masa lalu yang ia miliki. Ingatan tersebut seolah melintas kembali di pikirannya. Masa lalu yang benar-benar berharap untuk

Rahasia Sebuah Peristiwa

Oleh:
Sungawi sangat sedih, meratapi nasibnya menjadi orang miskin. Sungawi ingin sekali bekerja di salah satu pabrik atau perusahaan, namun ia hanya bisa berangan-angan karena ia hanya tamat SMP. Prestasi

Sang Juara

Oleh:
Sore itu gerimis sudah turun, Sis gelisah karena Jim, anak semata wayangnya belum juga pulang. Di dinding jam menunjukkan pukul tiga sore. Biasanya jam dua sudah sampai di rumah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *