Believe With Your Life

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 May 2016

Ketika matahari telah menampakkan diri, berbagi cerita bersama awan yang membiru. Mencoba melukis hari yang sempat menjadi misteri. Aku tidak tahu, entah apa yang akan aku lakukan kali ini. Aku hanya mengikuti langkah kakiku yang akan membawaku ke mana. Setelah turun dari mobil dan pergi dari hadapan ayah, sebenarnya ekspresi mukaku menunjukkan jika aku tidak ingin menuruti keinginannya. Tapi, hati seorang ayah terkadang tidak seketika peka. Aku masih berjalan, menyusuri jalan kecil yang akan membawaku ke suatu tempat. Dengan surat-surat dokumen di tanganku dan tas kecil yang aku gendong. Kebanyakan orang, jika mereka datang dengan penampilan sepertiku, pastilah mempunyai sebuah harapan yang besar. Tapi, tidak denganku. Seakan hidupku hanyalah seperti air yang tidak tahu sebenarnya apa tujuanku hidup. Ketika langkah kakiku terhenti di sebuah ruangan, di mana ruangan ini yang mestinya menjadi awal mimpiku. Tanpa perasaan dag-dig-dug der, aku langsung mengetuk pintu dan masuk.

“Bagaimana, apa kamu diterima?” sahut ayahku dengan sumbringahnya ketika aku baru hadir di hadapannya. Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepala.
“Apa maksudmu? Kau tidak diterima? Bagaimana bisa?” katanya lagi. Aku hanya diam. Membiarkan ayah terus berkata. Aku sungguh tidak menginginkan hal seperti ini. “Ini tidak bisa dibiarkan! Kau ini anak yang cerdas. Seharusnya kau diterima di universitas ini!” tegas ayah dengan sedikit emosi.
Saat ayah akan pergi dariku, aku langsung menarik tangannya. Ayah menoleh ke arahku. “Tidak, Ayah. Ini bukan salah dari pihak universitas. Tapi ini salahku.” Ketusku yang tidak langsung melanjutkan maksud dari perkataanku.

Ayah terlihat mengernyitkan dahi, seolah tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. “Iya, Ayah. Aku tidak memilih fakultas apa yang aku inginkan, karena hal inilah aku tidak masuk.” Sambungku apa adanya. Sejenak, ayah terdiam dan saat ayah akan meninggalkanku lagi, aku segera mencegahnya kembali. “Aku mohon, Ayah. Jangan pernah paksa aku untuk menuruti apa yang Ayah inginkan. Apa Ayah lupa? Saat aku pernah meminta Ayah dan Mama untuk kembali bersama lagi? Apa Ayah menurutinya?” ucapku tanpa ada rasa marah padanya.

Ayah hanya memandangku, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Kemudian ayah segera masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkanku begitu saja. Aku tidak berusaha untuk mengejarnya, biarlah ayah pergi. Aku tahu, ayah pun butuh waktu untuk memahami semua ini. Setelah kejadian hari itu, hubunganku dengan ayah tetap berjalan baik-baik saja. Meski ayah sekarang lebih sering mendiamkan diriku, mungkin ini adalah bentuk dari kekecewaan seorang ayah pada anaknya. Dimana beliau menginginkan anaknya berhasil, sementara anaknya tidak berusaha sedikit pun. Ya, aku paham itu, Ayah.

Aku pun tidak tahu kenapa seumpama hidupku ini tidak begitu menarik. Apakah ini karena diriku yang tidak pandai memberi warna dalam hidup? Atau apa? Entahlah. Apakah ada yang bisa menjelaskan semua ini? Dalam pikiranku, tidak ada satu bintang pun yang ingin ku raih. Dan juga tidak ada satu pun kupu-kupu malam yang ingin aku terbangi. Saat itu, ketika senja mulai memancarkan semburat cahayanya. Menggantikan kemilau biru di angkasa, berubah menjadi jingga kemerahannya yang anggun. Kakiku terus melangkah, membawa diriku untuk terus menikmati setiap melankoli lagu yang dimainkan oleh gesekan daun dan ranting saat tertiup angin. Setiap ada kerikil atau batu kecil di depan kakiku, aku langsung menendangnya. Dan entah ke mana kerikil itu terhempas.

Brak!

“Aduhh,” rintihku setelah diriku terjatuh karena ditabrak sesuatu.
“Eeee, maaf-maaf.” Kata seseorang seraya membungkukkan diri di hadapanku. Aku segera bangkit. Syukurlah, tidak ada luka lecet sekecil apapun di tubuhku.
“Sekali lagi, maaf.” Ujarnya lagi. Lalu dia kembali ke sepedanya. Aku coba untuk memperhatikannya, dia sepertinya kerepotan. Pikirku. Aku segera mendekat untuk membantunya. Dengan cekatan, aku ambil satu per satu kertas yang berserakan di jalan.

“Ini kertasmu,” kataku seraya memberikan beberapa lembar kertas padanya. Dia memandangku sejenak, lalu tersenyum. “Terima kasih. Seharusnya kau tak usah membantuku, karena aku telah membuatmu terjatuh. Maaf ya.”
Aku mengangguk dan membalas senyumnya. “Iya tidak apa-apa. Lagi pula, tidak ada luka di tubuhku.” Dia hanya mengangguk dan tersenyum lagi kepadaku. Saat dia akan menaiki sepedanya, “Maaf, kalau aku boleh tahu, apa kau mau mendaftar ke universitas?” kataku. Dia hanya menggelengkan kepala. “Kalau begitu, apa isi dari kertas itu?” timpalku. Mendengar itu, dia langsung memandangku. Mungkinkah pertanyaanku salah?

“Apa kau benar-benar ingin tahu?”
Aku ragu, tapi akhirnya aku mengiyakannya. Aku anggukan kepala. Dia tersenyum padaku, dan …

“Oh, jadi ini alasanmu. Kau ingin membebaskan anak itu?” ketusku.
Dia mengangguk sembari terus mendorong sepedanya. Bersama dengan langkah kami menyusuri jalan kecil ini.
“Kenapa kau begitu tertarik dengan anak itu? Apa dia saudaramu?” tanyaku lagi.

Dia menggelengkan kepala, seraya tersenyum kecil padaku. “Tidak. Aku hanya ingin masa remaja anak itu tidak sia-sia. Karena sebenarnya anak itu tidak bersalah. Tapi karena kasus ini sudah ditutup, maka tidak ada tindakan lebih lanjut lagi.” Aku mengangguk saat mendengar perkataannya. Entah, tiba-tiba ada hasrat penasaranku akan anak itu. “A-a-apa aku bisa ikut denganmu, bertemu dengan anak itu?” ujarku. Dia kembali memandangku, sebelum akhirnya dia mengangguk dan tersenyum kembali. Setelah sekian pertanyaan dia ajukan kepada anak laki-laki itu, kini aku mulai menanyakan sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya.

“Maaf, kau mungkin belum mengenalku. Perkenalkan namaku Sabrina Sharma Khan. Kau bisa memanggilku Sharma.” Kataku. Dan anak laki-laki yang aku tahu bernama Riszhwan, hanya diam seraya menundukkan kepalanya. “Oke, aku ingin tahu. Bagaimana ceritamu sehingga kau bisa dipenjara? Apa kau mau menceritakannya padaku?”
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar langkah kaki orang yang berlalu lalang di tempat ini. Sesekali aku melirik ke arah jam, sudah cukup lama aku menunggu jawabannya. Tetapi dia tidak berkata apa pun juga. “Baiklah kalau kau tidak mau menceritakannya. Tidak apa-apa.”

“Aku juga tidak tahu, kesalahan apa yang aku lakukan. Tapi setahuku, ini bukan salahku. Aku ingin kembali bersama orangtuaku, aku ingin pulang.” Ujarnya yang langsung terisak. Aku hanya diam, mendengarkan setiap perkataannya dengan seksama. Dengan perlahan, dia mulai menceritakan semuanya kepadaku dan juga temanku, Hilma. Aku mengangguk, memahami apa yang dimaksudnya. Hilma juga merekam pembicaraannya untuk dijadikan bukti dalam persidangan nanti.

“Aku mohon, Kak. Aku ingin kembali pada orangtuaku. Ibuku sedang sakit, aku tidak tahu bagaimana kondisinya. Meskipun aku anak orang miskin, bukan berarti aku melakukan hal ini sebagai tanda masa keremajaanku. Aku mohon, bantu aku.” Katanya mengakhiri ceritanya. Aku terdiam. Entah apa yang harus aku perbuat. Aku sendiri bukan siapa-siapa dan tidak berhak untuk menyelesaikan kasusnya.
“Aku akan membantumu.” Sahut Hilma. Seketika, aku dan anak itu langsung menoleh ke arah Hilma. Tatapannya yang tajam, membuktikan jika niat baiknya sudah matang.

Setelah mendengar semua ceritanya, Hilma sudah matang dengan tekadnya. Bahwa dia akan membantu anak itu, entah bagaimana caranya. Selama seseorang yang akan dibelanya nanti, di persidangan adalah pihak yang benar dan sudah seharusnya dibela. Aku tidak tahu, aku tidak mempunyai presepsi sama dengannya. Namun aku salut dengannya, di dunia remajanya yang indah ini dia tidak begitu tertarik dengan sesuatu yang remaja lain menganggapnya trend. Justru dengan susah payah dia ingin mengembalikkan dunia remaja orang lain semampunya.

“Apa kau yakin jika kasus ini akan selesai dan kau menang?” tanyaku padanya.
“Bismillah. Aku hanya menyerahkan semuanya kepada-Nya. Kalah atau menang itu tidak penting. Yang terpenting, selagi kita bisa membuat orang lain mengambil jalan hidup yang benar itu adalah sebuah kemenangan yang jauh lebih hebat.” Ucapnya. Langkahku terhenti setelah mendengar perkataannya. Oh sungguh, ketika aku tidak yakin dengan hidupku. Ketika aku tidak ada pandangan tentang bagaimana hidupku, justru ada orang lain yang begitu semangat dalam menjalani hidupnya. Hanya untuk seorang anak yang ingin kembali pada orangtuanya.

“Hei, kenapa kau diam saja? Ayo!” teriaknya.
Aku tersentak dari lamunanku, segera aku berlari untuk menghampirinya.
“Baiklah, Sharma. Terima kasih untuk hari ini. Oh ya, besok aku minta bantuanmu.” Ketusnya.
“Bantuan apa?” kataku dengan sedikit mengernyitkan dahi.
“Jadilah saksi dalam kasus ini.”
“Apa? Aku?” aku tersentak, ini tidak mungkin. Dia mengangguk yakin di hadapanku. “Ta tapi aku tidak bisa menjadi saksi.” Timpalku yang masih kaget dibuatnya.

“Bisa. Kalau saja satu butir padi bisa tumbuh menjadi satu karung beras, maka kau pun bisa melakukan ini. Cobalah yakin dengan kemampuanmu. Jika kau belum tahu apa yang sebenarnya kau bisa, cobalah tanyakan ini pada hatimu. Jangan biarkan masa remajamu membinasakan semua mimpimu. Kalau saja penduduk Indonesia ini sepertimu, apakah mungkin dapat dikatakan layak menjadi generasi penerus bangsa?” Aku masih terdiam. Dia memegang pundakku. “Percaya dengan hidupmu.” Sambungnya seraya tersenyum padaku. Kemudian dia segera pergi dari hadapanku. Sedangkan aku, aku masih terpaku. Setelah mendengar kata-katanya.

Baiklah, jika aku tidak menginginkan satu pun bintang untukku raih, ataupun satu kupu-kupu malam yang ingin aku terbangi. Maka setidaknya akan aku ambil satu bulan untuk orang lain. Semua telah duduk di tempatnya masing-masing. Termasuk aku, Hilma, dan Riszhwan. Dengan pakaian khasnya, tidak ada sedikit pun rasa takut yang Hilma tunjukkan. Dia berperilaku sebagaimana mestinya. Sedangkan Riszhwan, mungkin dalam hatinya sedang berdoa akan kebebasannya. Sementara diriku, beberapa kali aku meneguk ludah. Ketika mataku berkeliling melihat semua orang yang ada di sini.

Semuanya begitu asing. Dan pikiranku sedang tidak bisa diajak berkompromi, entah apa yang harus aku katakan untuk membela Riszhwan nanti. Satu per satu acara dimulai, aku masih diam. Sementara keringat telah mengucur di sekujur tubuhku. Rasanya ruangan ini begitu panas untukku. Jika saja aku yang hanya sebagai saksi merasa seperti ini. Lantas bagaimanakah dengan dua orang yang terlihat tenang di mataku itu? Sepanjang berjalannya persidangan ini, aku hanya berdoa. Semoga Allah melancarkan semuanya. Hilma menyenggolku. Memintaku untuk berdiri dan memulai berbicara. Apa? Apa yang harus aku katakan? Dengan pikiran yang belum tertata, dengan susunan kata yang belum aku rapikan, serta dengan keringat yang membasahi diriku, aku beranikan untuk sekedar berdiri. Mataku berkeliling, sesaat sebelum aku mulai berbicara. Ya Allah, bantu aku. Aku yakin, Kau selalu bersamaku.

“Seseorang pernah berkata padaku. Apabila seseorang tidak mempunyai kasih sayang di hatinya, dan tidak yakin dengan hidupnya. Maka dia akan hancur. Dan apabila ada kasih sayang di hatinya dan yakin dengan hidupnya. Maka sesungguhnya dialah pemenang yang hebat. Karena, bukan nark*ba ataupun se*s, musuh terbesar kita. Tapi hawa nafsu yang lebih dulu harus kita perangi.”

Semua diam. Aku melihat ke sekelilingku. Aku pun langsung terdiam dan kembali pada kursiku. Perlahan, satu per satu suara tepuk tangan mulai terdengar. Hingga akhirnya semua orang bertepuk tangan, suaranya memenuhi ruangan pengadilan ini. Selebihnya pengadilan ini berjalan dengan lancar, hingga aku ingin mendengar bagaimana kabar baiknya nanti. Seketika, Riszhwan langsung bersujud syukur. Setelah hakim menyatakan jika memang Riszhwan tidak bersalah. Aku merasa sangat bahagia. Begitu juga dengan Hilma. Terlihat di matanya, air mata yang telah menitik. Hilma memandangku, tersenyum padaku persis ketika pertama kali aku berjumpa dengannya.

“Terima kasih.” Katanya seraya menjabat tanganku. Aku berjalan, ada segenggam kebahagiaan yang akan aku bawa pulang hari ini. Meski air mata terus saja menitik dari mataku. Tapi ini adalah air mata kebahagiaan, air mata kesejukan. Tidak akan aku seka, sampai air mata ini menjadi embun di hatiku. Saat, pandanganku melihat sesuatu. Langkahku langsung terhenti. “Ayah?” kataku lirih. Aku langsung berlari untuk menghampirinya. “Ayah datang?” kataku. Ayah mengangguk. “Untukku?” tambahku. Ayah kembali mengangguk. Aku langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukan ayah. Ayah membelai kepalaku dengan lembut.

Ayah melepas pelukanku. “Sekarang Ayah tidak akan memaksamu untuk menjadi apa yang Ayah inginkan. Ayah sudah bangga memilikimu. Karena di saat kebanyakan anak-anak seusaimu mendapat musibah yang bisa mengubah hidupmu, kau justru berhasil untuk tidak menjadi sebagian dari itu. Inilah duniamu yang sesungguhnya, sayang.” Ucap ayahku seraya menghapus bulir bening yang masih menetes membasahi pipiku. Aku tersenyum dan mencium punggung tangan ayah, “Aku menyayangimu Ayah.” Kataku dengan sepenuh hati. Ayah tersenyum padaku. Selebihnya, aku dan ayah berjalan bersama. Aku menggenggam erat tangan ayah.

Banyak pengalaman yang aku dapatkan hari itu. Sekarang aku telah menjadi mahasiswa fakultas Psikologi. Ya, aku sengaja tidak mengambil sama seperti Hilma. Karena aku punya kepercayaan sendiri dalam hidupku. Aku berharap, dengan jadinya aku seorang Psikolog nanti, aku bisa mengarahkan setiap generasi muda untuk tidak melupakan masa remajanya. Dimana masa remajanya itu indah tanpa ada sentuhan nark*ba ataupun goresan keburukan yang lain.

“Hidup itu akan indah, jika kita bisa menghargainya. Percaya dengan hidupmu.” -Sabrina Sharma Khan.

Cerpen Karangan: Anna Jihan Oktiana
BloFacebook: Anna Jihan Oktiana

Cerpen Believe With Your Life merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kolak Pelangi dan Sholat Dhuha

Oleh:
Ramadhan pasti identik dengan pasar dadakan. Di antara kerumunan pedagang yang jumlahnya puluhan itu, terlihat seorang gadis bersama ibunya sedang berjualan kolak. Namanya Aisyah. Sekarang Aisyah dan ibunya menjadi

Pengorbanan Ella

Oleh:
Namanya Ella, ia memiliki Ibu dan Ayah yang lengkap. Sampai pada akhirnya Ibu Ella meninggal dunia karena ada sebuah kecelakaan yang menimpanya. Akhirnya Ayah Ella menikah lagi dengan seorang

Ketikan Hidup Langit

Oleh:
Kembali menekan tuts keybord. Hari sudah larut malam. Tapi hati masih saja memikirkan keadaan di rumah. Entah Puri atau Dio. Bagimana keadaan mereka sekarang mebuat nya gusar hingga waktu

Adikku Sayang

Oleh:
“Ah..” ucapku geram melihat buku ceritaku dirobek-robek oleh adikku, Erita. “Ada apa sayang?” bunda menghampiriku dan Erita. “Ini Bun, buku Kakak dirobek-robek sama Erita,” aku segera berlari ke kamar

Dia

Oleh:
Sejujurnya aku ingin mengatakan apa yang saat ini aku rasakan. Apa yang harus kulakukan ketika diri ini merasakan rasa cinta yang dalam kepada seseorang. Yaitu kakak kelasku yang bernama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *