Bella

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga, Cerpen Terjemahan
Lolos moderasi pada: 15 August 2016

Glaukoma.
Kata itu yang memenuhi otakku sedari tadi. Aku sedang di perjalanan menuju rumah, dengan tatapan kosong mengarah ke jalanan. Aku sedang di dalam bis. Sendirian. Dengan perasaan takut, kalut, ah semuanya hanya ingin membuatku menangis dan berteriak sekarang juga. Entah apa yang terjadi jika suatu hari nanti diagnosa dr. Anna benar tentang nasib kedua mataku ini. Aku tak tahu harus bagaimana, mungkin ini adalah takdir Tuhan yang diberikan padaku akibat perbuatan brengsek Ayahku. Mengapa semuanya terjadi ketika aku sedang berada di jalan hidup yang mulai teratur ini?
Aku berjalan menyusuri trotoar, sambil melamun bagaimana jika nanti penglihatanku benar-benar hilang. Hitam. Mungkin hanya itu yang dapat aku lihat jika Tuhan benar-benar mengambil penglihatanku ini. Aku menarik nafas dalam-dalam saat memasuki pintu utama rumahku. Hening. Aku hanya tinggal dengan kakakku, ia kakak terbaik di dunia ini. Ibuku meninggal 5 tahun yang lalu karena sakit parah lahir batinnya. Ia meninggal tanpa seorang suami yang mendampinginya.

“Bagaimana hasilnya Bells? Apa semuanya baik-baik saja? Kau terlihat menyeramkan!” gurau kakakku.
“Ya, aku akan buta dalam beberapa bulan. Tapi dr. Anna mengatakan mungkin aku masih dapat melihat dengan jangka waktu satu tahun. Doakan saja supaya pria brengsek itu mati dalam keadaan mata tercongkel.” ucapku datar, dan membuka pintu kamarku dengan kasar.
“Bells!!”

Girl you don’t know how I feel…
Hoaaaam ini pasti pukul 04.45, rasanya aku baru memejamkan mata ini beberapa menit saja. Menjadi seorang tenaga pengajar memang tidak semudah apa yang orang-orang katakan. Ini pekerjaan yang menantang. Aku harus mendidik anak-anak berumur rata-rata 9 tahun yang sangat menggemaskan. Mereka semua adalah tanggung jawabku. Aku beranjak dari tempat tidurku, menuju meja rias di sampingnya. Mematikan alarm “Heartbreaker” itu yang setiap paginya membuat kedua mataku terbuka. Cerminan diriku tergambar jelas di sebuah cermin hadiah ulang tahunku yang ke 17. Kakakku membelinya dari luar kota saat ia berkunjung kesana. Lalu aku mengikat rambutku, dan mengagumi betapa indahnya karya sang Maha Kuasa yang telah menciptakan rupa seperti ini.
“Bells, sarapanmu sudah siap!!” teriak kakakku dari dapur.
“Ya! Aku akan mandi! Jangan memberiku roti gosong seperti kemarin!” kami tertawa seraya aku memasuki kamar mandi.

Seperti biasanya, aku tidak langsung ke tempatku bekerja. Aku selalu mampir ke kedai kopi milik sahabatku, Tia. Pagi ini aku ditemani secangkir mocca hangat dan roti bagelen andalanku. Aku dan Tia bersahabat sejak kecil, ia adalah orang terpenting kedua setelah kakakku. Kami selalu bersama, kemana pun itu. Tapi saat ini ia sedang dekat dengan Dion, kakak kelas kami sewaktu SMA. Beruntungnya ia mendapat pria yang ia idamkan sedari dulu. Namun entah mengapa aku kurang setuju dengan hubungan mereka ini karena aku pernah melihat Dion sedang bersama seorang gadis berambut cokelat di taman kota. Aah mungkin gadis itu adiknya, entahlah.
“Hey! Bagaimana hasilnya?” Tia menghampiriku dengan celemek yang terikat di sekitar pinggangnya, bertuliskan It’s Tia’s Destiny itu nama kedai kopi ini. Konyol, bukan?
“Aku akan buta dalam beberapa bulan, mungkin setahun, mungkin juga esok aku akan buta. Entahlah.” Jawabku menahan tangis.
“Aku selalu mendoakan yang terbaik bagimu, apapun itu aku siap membantumu.”
“Hmm ya, aku harus mengajar sekarang. Rotimu hari ini terlalu manis! Yaa aku tahu kau sedang jatuh cinta haha” aku mengejeknya.

Aku terbangun mendengar alarmku berbunyi. Gelap. Itu yang aku lihat ketika membuka mataku. Lalu aku mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Namun nihil, tetap gelap. Aku hanya bisa pasrah, tak ada yang perlu kutangisi lagi mulai dari saat ini dan seterusnya. Aku bangkit dari tempat tidurku, mematikan alarm dan berjalan keluar kamar. Kakakku sedang membersihkan dapur, ini hari libur maka dari itu kami bangun siang dan tak pernah mandi hingga esok hari ketika kami akan berangkat kerja.

“Hey Bells, tolong ambilkan kemoceng.” kakakku menyuruhku untuk mengambilkannya kemoceng, sementara aku tak tahu dimana letak benda itu. Aku masih dan tetap berpura-pura melihat.
“Ya” dugg lututku membentur kursi, kakakku mulai curiga dengan tingkah lakuku.
“Bells, apa kau baik-baik saja? Jangan menakutiku karena ini tidak lucu! Kau tahu dimana kemoceng itu? Tepat di depanmu, tapi kau..”
“Aku buta.” tungkasku kilat. Kakakku menangis, lututku lemas. Seseorang, tolong bantu aku untuk menopang tubuhku karena rasanya aku akan ambruk. Perkiraan dr. Anna telah salah akan penglihatanku, ini hanya 3 bulan sejak aku memeriksakannya. Ia berbicara padaku bahwa aku masih dapat melihat dalam waktu 1 tahun, tapi nyatanya? Rencana Tuhan memang tak pernah bisa diprediksi, dan aku menganggapnya bahwa ini adalah yang terbaik. Ya, yang terbaik.

Aku sedang di kedai kopi milik Tia, sudah 2 tahun setelah aku kehilangan penglihatanku. Beruntungnya aku kehilangan penglihatan setelah aku bisa melihat keindahan alam ini yang tak tergantikan, dan aku sangat hafal jalan di seluruh kota ini. Di luar hujan sangat deras, aku memakai jaket tebal selutut, celana panjang tebal, dan sepatu sneakers. Aku menggerai rambutku yang hitam, panjangnya sudah melebihi pundakku.
“Bells!!” suara Tia berhasil membuat jantungku hampir keluar dari mulutku.
“Ya Tuhan! Apa kau gila? Bagaimana jika jantungku keluar dari mulutku dan aku mati di kedai ini?” ucapku kesal.
“Haha maaf Bells! Aku lihat kau sedang memikirkan sesuatu, ada apa?”
“Tidak, aku hanya memikirkan tentang masa depanku. Bagaimana hidupku kelak, apakah aku akan mendapatkan pria dewasa yang tampan, dan menerimaku apa adanya. Kau beruntung telah memiliki seorang pria seperti Dion, aku telah salah terhadapnya. Kupikir ia bukan pria yang baik, ternyata ia pria yang sangat baik.”
“Kau akan mendapatkannya sesegera mungkin, Bells. Kau cantik dan pintar, jangan jadikan kekuranganmu sebagai alat untuk merendahkan dirimu. Percayalah, setiap manusia diciptakan dengan pasangannya masing-masing.” kata-kata Tia menyadarkanku, dan ya saat ini aku percaya akan kata-katanya itu.
“Aku akan pulang, hujannya sudah tidak sederas tadi. Dah”
“Baiklah, hati-hati!”

Aku berjalan sendirian, memakai tongkat dengan lonceng kecil di ujungnya yang membelah kesunyian. Malu memang, tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini alat bantuku untuk melihat, kecuali ada seseorang yang setia mendampingiku. Ketika sudah sampai di depan rumah, aku mecium aroma sup kesukaanku. Hmm kakakku memang sangat mengerti bahwa aku sedang ingin makan sup.
“Aku pulang!!”
“Syukurlah Bells, akhirnya kau datang juga. Aku telah membuatkan sup ini untukmu, duduklah aku akan menyiapkannya untukmu.” itu suara dari mulut yang tak pernah ingin kudengar lagi. Aku menyumpahi diriku bahwa aku tidak ingin mendengar suara itu, tapi beruntungnya aku saat ini karena tidak melihat wajahnya. Ia adalah pria yang mengaku sebagai Ayahku, pria brengsek yang telah berselingkuh dengan asistennya saat aku masih berumur beberapa bulan. Aku berjalan menuju kamarku seolah tak ada siapapun di rumah ini, aku mengabaikannya untuk yang kesekian kalinya.
“Bells, 5 tahun telah cukup bagiku mendapat perlakuan seperti ini darimu! Aku tahu aku sangat brengsek di matamu, tapi tolong anggap aku ada! Aku ayahmu! Aku hanya ingin menjagamu seperti anakku, seperti keluarga lainnya!”
“Pergilah…”

Aku sedang di bis, dalam perjalanan menuju konser jazz tahunan. Biasanya aku pergi bersama Tia, namun kali ini tidak. Aku duduk di bangku belakang, sendirian.
“Kursi ini kosong? Boleh aku tempati?” suara pria tepat di telinga kiriku, suara yang lembut. Aku belum pernah mendengarnya.
“Y-ya, tentu.” jawabku salah tingkah. Aneh. Lalu keheningan terjadi di antara kami.
“Kau mau kemana?” tanyanya.
“Jazz Fest. Kau?”
“Benarkah? Haha kau duduk di bangku nomor berapa?”
“Ini, lihat saja.” Aku menunjukkan tiketku padanya.
“Apa kau bercanda? Kita duduk bersebelahan! Ini sebuah keberuntungan, bukan?” aku bisa mendengarnya tersenyum.
“Ya, mungkin.” aku ikut tersenyum.

Kami sedang berada di kedai kopi Tia, aku membawanya kesini setelah konser selesai. Kami membicarakan pekerjaan, hobi, film kesukaan, dan hal lainnya. Ia bekerja di sebuah perusahaan IT, keren bukan? Lalu ia mengantarku pulang, setelah sampai di depan rumah ia menolak masuk karena harus kembali mengurusi pekerjaannya yang menjemukan. Ia meminta nomor telepon rumahku, karena jujur saja aku tidak memiliki telepon genggam.
“Ya Tuhan, aku belum menanyakan namamu sedari tadi!” kami tertawa
“Bella, namaku Bella.”
“Bella? Bells? Bell?”
“Haha ya, apapun itu!!” lalu ia pamit dan meninggalkaknku dengan tawa renyahnya. Apa aku bermimpi? Ia berjanji akan meneleponku malam ini, semoga ia ingat akan janjinya itu.

Aku sedang makan malam dengan kakakku, ia menanyakanku siapa pria yang mengantarku pulang tadi sore, kata kakakku ia pria yang tampan, dan mirip seseorang tapi tak tahu siapa. Dasar kakakku.

Kriiiing…
Telepon rumah berbunyi, dengan sigap aku bangkit dari kursi dan mengangkat telepon itu.
“Hai, Bella disini.”
“Oh hei Bells, dimana kakakmu?” ternyata ini Tom. Kekasih kakakku. Lalu aku memberikannya pada kakakku dan masuk kamar, dia lupa akan janjinya itu. Semua pria memang sama, hanya mengumbar janji layaknya calon Presiden. Aku masuk kamar dan mulai memejamkan mataku, semoga mimpi indah Bells! Ia tidak akan pernah meneleponmu! Aku berbicara pada diriku sendiri.

Kriiiing…
Aku terbangun karena suara telepon sialan menganggu tidurku, ini pasti masih tengah malam karena aku bisa mendengar lolongan anjing dari sini. Aku meraba meja riasku, mencoba meraih telepon pararel yang dipasang disana.
“Hallo cantik, maaf telah menganggu tidurmu. Dan maaf aku baru meneleponmu.” suara seorang pria dari seberang sana membuat mataku terbuka.
“Ya ampun, jika itu bukan kau aku akan membunuhmu! Darimana saja kau? Mengapa tidak besok pagi saja?”
“Aku lebih suka menelepon tengah malam seperti ini, dan jujur saja ini kali pertama aku menelepon seorang wanita dan membangunkannya dari tidur indahnya.”
“Kau menggodaku!!” kami tertawa
“Bagaimana hari ini? Menyenangkan, bukan?”
“Ya, tapi mataku sangat berat. Bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja? Ya Tuhan, aku lupa tidak menanyakan namamu!”
“Aku Jace”
“Jace? Nama yang mudah kuingat. Baiklah Jace, selamat tidur! Terimakasih untuk telepon tengah malammu yang menjengkelkan!!”
“Haha ya, maafkan aku! Tidurlah”

4 bulan setelah aku mengenal Jace, ia mengundangku untuk makan malam bersama orang tuanya. Aku menerimanya, dan itu malam ini. Namun hari hujan lebat sejak pagi tadi, aku tidak yakin ia akan menjemputku karena ia belum meneleponku setelah tadi malam. Aku memutuskan untuk makan malam bersama kakakku, ia membuatkan sup kesukaanku. Lalu bel berbunyi, kakakku membukakannya.
“Ini Jace, Bells!” teriak kakakku yang membuatku tersedak. Aku menghampirinya.
“Aku kira kau membatalkannya, Jace” ucapku
“Tentu tidak, maaf telah membuatmu menunggu.” balasnya lembut
“Tidak apa, tunggu. Aku akan berganti pakaian.”

Kami sedang di perjalanan menuju rumahnya, rumah orangtuanya lebih tepatnya. Ini jauh dari rumahku, berada di pinggiran kota. Aroma pedesaan menyambutku. Jace mengatakan aku cantik malam ini. Aku memakai gaun selutut, stocking, dan sepatu yang serasi. Tak lupa jam tangan keberuntunganku. Kakakku yang mendandaniku, ia menjepit rambutku dengan jepit rambut peninggalan ibuku. Setelah sampai di pekarangan rumahnya, aku bisa mencium wangi bebungaan dari sini. Pasti ia memiliki taman yang luas, andai saja aku dapat melihatnya.

“Aku pulaaaang!!” teriak Jace ketika ia membukakan pintu untuku.
“Ini gadis cantik yang selalu kau ceritakan padaku? Ya Tuhan, dia memang sangat cantik Jace!!” itu ibunya. Tunggu. Jadi ia selalu menceritakan tentangku pada ibunya? Itu membuat pipiku panas.
“Cepat kemari Jace! Aku sudah menyiapkan makan malamnya!” suara seorang pria tua terdengar dari dalam sana, tapi itu seperti suara yang kukenal.
“Bells?” pria tua itu menyebut namaku.
“Siapa kau?” suaraku bergetar, rasanya aku ingin menangis dan lari dari tempat ini.
“Ayahmu”
Tubuhku hancur, bagaikan tertabrak subway. Rasanya aku tidak percaya akan semua ini. Jadi Jace, pria yang kuidamkan adalah anak hasil perselingkuhan ayahku dengan asistennya? Ya Tuhan, ini semua sungguh tidak masuk akal! Aku berlari meninggalkan rumah ini sekencang-kencangya dengan terhuyung-huyung. Tak tahu harus kemana. Hujan turut menangis menyaksikan cerita hidupku yang tak pernah kuduga. Memang benar, manusia hanya bisa merencanakan. Dan hanya Tuhan-lah yang menentukan.

Cerpen Karangan: Gea Febiana Ayu Nurfitri
Facebook: Gea Febiana Ayu Nurfitri
currently an English Education student, addicted to ice cream

Cerpen Bella merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir Dibalik Pengkhianatan

Oleh:
Malam ini Elsa duduk terdiam, di bawah malam tak berbintang. Ia mengharapkan hujan datang menemani hatinya yang sedang berduka. Ditemani sebuah buku diary hadiah ulang tahunnya yang ke 17,

Beautiful’s Waiting

Oleh:
Penantian memanglah buta Tapi, tak lebih buta dari cinta Dunia Terasa berputar Berjungkir balik tanpa henti Dan bergerak tanpa tujuan Satu kata yang pasti Penantian tanpa mata angin Terkadang

Kini Tugasku Telah Selesai (Part 2)

Oleh:
Bruukk, aku terjatuh.. motorku menabrak polisi tidur yang ada di jalanan.. motorku terseret dan kaki tanganku luka.. beruntung ada banyak warga menolongku.. mereka membantuku untuk berdiri, aku langsung naik

Sulitnya Jadi Anak Bungsu

Oleh:
“Hiks..hiks..” isak tangisan dari anak bungsu yang bernama Chalisa tapi panggil saja Lis, dia memang sering menangis mungkin bisa setiap hari. “Uh..uh..” amarah kedua Kakak Lis yang berisyarat agar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *