Benarkah Kak?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 25 December 2013

Di tepi hati nan lara, terusik kata tajam yang menusuk, layaknya angin mencekam yang menembus pori-pori jiwa. Walau usia semuda pucuk daun teh, angin yang merajam tetap dirasa, bahkan mungkin lebih terasa sengit. Tak hanya usia, bahkan mungkin nalarnya belum setinggi langit dan seluas samudra yang membentang, menyamai angan orang-orang yang tak lagi terbuai kasih dan menelusuri hidup dengan langkah tanggung jawab lebih. Yang dalam pikirnya lebih mendominasi porsi sangka buruknya dibandingkan prasangka baiknya.

Gambaran gadis kecil memang selalu penuh dengan warna hidup sederhana, makanya Aina gadis kecil yang lucu, dengan kepolosan tutur kata dan tingkahnya, lukis wajah yang cantik dengan keharuman parasnya saat orang lain memandang, dan terlebih keteduhan keluarga yang senantiasa menaburkan kasih sayang yang tak terhingga. Kasih Sang Pencipta tak berhenti, semua memang berjalan menyusuri garisnya, garis yang dipahat di masa yang sangat jauh di belakang. Kecakapannya yang lebih dibanding anak usia di atasnya, membuat dia dikenal juga sebagai gadis kecil yang memiliki kemampuan lebih dari sisi akademisnya. Namun seperti halnya jodoh, dikala ada kelebihan pasti kan diiringi pula puzzle kekurangannya, sungguh lirih karena dia dikata kurang dalam sikapnya.

Bukan karena sentuh didikan dari keluarga, atau kurangnya uluran pendidikan dari sekolah, namun gadis kecil berumur 5 tahun yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak itu, dapat dikatakan telah menunjukkan kebenaran dari sebuah istilah bahwa buah jatuh tak kan jauh dari pohonnya, dia telah mewarisi tempramen tinggi dari sang Ayah. Hingga membuat segala perkataannya yang tak pernah berniat untuk menusuk hati, terkesan seperti orang yang sedang meluap-luap terkena kobaran sang jago merah. Karena nada tingginya itu, apabila terdengar dari celah koklea di telinga para anak-anak seusianya, bagaikan ribuan jarum yang ditaburkan di atas lunaknya hati, hingga terasa perih menusuk dan membekaskan luka. Maka tak kan heran jika mereka menjadi kecil nyali, hingga mengerutkan kulit dahinya dan kemudian ujarkan kata bahwa Aina adalah teman yang jahat.

Suatu ketika, di hari yang biasa, mentari setia menyapa walau teriknya bukan kepalang, namun entah angin saat itu sungguh menyentuh, entah karena keluhnya terhadap terik mentari hingga buatnya merindu sandaran tempat berteduh, atau memang karena dia merasa baik hingga bersenandung merdu. Dengan syahdu Aina menikmati hari itu, sembari menyusuri langkah menuju rumah temannya, tak lain tak bukan tentunya untuk meramaikan hatinya, yang mana tanpa mereka sekejap hatinya selalu merasa jenuh dan hampa.

Di penghujung jalan dia sudah merasa sangat gembira, bagaikan saat mendapatkan uang jajan dari mamanya. Hingga dengan semangat dia bergegas menyingkat langkahnya. Ternyata di teras rumah memang ibunya Nanis nampak telah menjemur pakaian.
“Bu de, mbak Nanisnya ada?”, tanya manja Aina pada ibunya Nanis tuk memulai kata.
“Iya ada Aina, tapi masih makan siang dulu, kan baru pulang sekolah. Kalau Aina sendiri sudah makan siang belum?”, jawab ibunya Nanis penuh perhatian.
“Tentu saja sudah Bu de, nanti kalau belum, aku pasti tidak dibolehin main sama Mama”, jawab Aina sambil jalan menghampiri Nanis.

Tiba setelah Nanis selesai makan siang, mereka berdua langsung mulai bermain dalam dunia imajinasinya. Biarkan apa yang di angan terbang bersama angin, dan mengalir menyusuri arus yang tak pasti. Namun kan tetap kuasai hati, walau jiwa telah terbuai pilu. Karena masa yang memihak, yaitu teman-teman yang memang sudah usai belajar dari sekolah, yang mana di sana tak jarang juga mengundang ketegangan perasaan, sampai kan tiba klimaks jiwa terasa begitu penat. Sehingga saat ini adalah jalan emas yang layak untuk ditelusuri. Mereka turut tergerus dalam suasana, hingga membuat haru sungguh menyentuh, seperti dedaunan yang gugur mengudara, dan tiba masa kan tersapu sang angin, dikala dunia penuh canda tawa anak-anak, canda tanpa dusta, dan tawa satu makna, kebahagiaan. Lara kan terlupa, dan damai selalu terasa.

Namun seperti halnya orang dewasa, disaat bertemu dalam satu waktu, kan tiba saatnya pula ada suatu perselisihan. Aina telah mengalami saat itu, karena saling berebut mainan dengan teman mambuat mereka bertengkar, adu mulut dan perang ego tuk dapat memenangkan mainan itu pun memuncak. Hingga akhirnya salah satu di antara mereka ada yang menangis, yaitu Andin. Karena kesal, Aina seperti kebakaran jenggot, dia menyalahkan sumbu kemarahannya pada teman yang membuat Andin menangis. Sama sekali tak ada niat tuk menusukkan kata, ataupun menyayatkan luka, namun tetap saja karena hati kecil yang lugu saling berhadapan, maka tak ada yang merasakan hal yang lainnya, apalagi menyadari sisi kebaikan dari Aina itu sendiri. Sungguh bukan makna hati yang tajam, namun karena nada tingginya yang tak sama seperti teman-temannya, membuat mereka enggan untuk lanjut bermain, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Suasana menyepi, silih berganti daun berguguran, sekejap tersapu angin semilir, senandung satu dua tetes sumber air dengan pasrah mengiringi. Hati Aina dipenuhi dengan sejuta tanya, hingga urung niatnya tuk menanti sang mentari tepat segaris dengan kepalanya. Dengan wajah yang ditekuk dan hati yang menggerutu, Aina beranjak pulang.

Sesampai langkahya di rumah, dituangkanlah semua lara yang berkecamuk dalam sanubarinya. “Aina tidak mau lagi bermain sama Mbak Nanis, Mbak Andin, dan teman-teman yang lainnya. Semuanya nakal, dan benci sama Aina”, keluh Aina sambil menagis dan memeluk Mamanya. “Lho kenapa nak, Aina dipukul ta sama Mbak Andin atau teman-teman yang lain?”, tanya sang Mama sambil membelai rambut Aina sembari meredam tangisnya. “Tidak Ma, aku cuma membela Mbak Andin tapi teman- teman malah marah dan pergi ninggalin Aina…”, dengan kata terbata-bata sendu lanjutnya dalam tangis. “Ooo, kalau begitu Aina tidak salah, dan teman-teman juga tidak salah nak. Kenapa, karena Aina baik telah membela Mbak Andin, dan kalau teman-teman mungkin mereka hanya kaget saja saat Aina membela Mbak Andin, karena tadi Aina marah kan saat bilangin teman-teman?”, Mama bertanya dengan halus sambil mengusap air mata Aina. “Iya Ma, habisnya Aina kesal karena teman-teman telah merebut mainannya Mbak Andin sampai Mbak Andin menangis”, jawab Aina dengan lirih. “o iya, makanya kata Mama tadi Aina nggak salah kan, malah Aina telah membuat Mama bangga, karena Aina baik telah membela temannya yang menangis, cuma tadi Aina sedikit salah karena mungkin tadi berlebihan kesalnya, makanya teman-teman tadi jadi kaget”, kata Mama dengan sabar tuk meredam kekesalan Aina. Hingga seperti ombak yang berlalu, seketika menghapus goresan luka dalam gemburnya hati, begitulah siraman kata-kata bijak yang terlontar dari sang Mama.

Detik berlalu, perlahan ombak mendayu sendu, sama halnya dengan kesal Aina yang sudah menepi entah terbawa arus ombak atau udara yang tanpa henti menerpa jiwa. Tak ada duri, tak ada lagi perih, karena Aina sang gadis kecil miliki dunia yang berarti, yaitu keluarga. Walau tak lengkap, karena sang ayah yang tinggal jauh untuk mengais rezeki, namun tetap terasa hangat. Mama, kakak, kakek, nenek, paman, bibi dan saudara sepupu lainnya setia menyelimuti Aina dengan penuh kasih sayang. Hangat kasih lengkap terasa, dunia pendidikan juga ditempuh membuat hidupnya semakin lengkap penuh warna.

Namun dalam sejuknya udara yang menembus celah jendela, memenuhi hamparan ruang sederhana, bersama cahaya kecil menelusuri lubang kecil atap yang mulai usang menemani canda gurau Aina dengan sang kakak yang duduk manis malawati waktu sembari membolak-balik setiap halaman buku dan dengan pena untuk telaah jendela dunia, sepintas rasa telah kembali menghampiri jiwa gadis kecil itu, yaitu hati yang merasa salah kepada teman-temannya. “Kak, Aina mau main ke rumahnya Mbak Nanis ya. Aina mau minta maaf sama teman-teman”, pamit Aina kepada kakaknya. “Oo iya dek bagus itu, adiknya kakak memang yang paling siip”, sanjung kakaknya Aina dengan bangga (sembari membelai dan merapikan rambut Aina). “Ya sudah kak, nanti bilangin Mama ya…!!”, pinta Aina dengan senyum manisnya. “Baiklah, tenang saja dek nanti kakak pasti bilang ke Mama”, saut kakanya Aina dengan tenang.

Setibanya, seperti angin yang saat itu menemani jiwanya, bersama debu yang terbawa dan menempel pada kulit sawo matangnya, waktu sangat tepat sekali karena Nanis dan teman-teman yang lainnya sedang bermain. Dengan riang Aina turut bergabung. Namun ingat sekali, bahwa awal dia ingin sekali minta maaf. Dia pun langsung memulai ucapnya dengan minta maaf kepada teman-temannya. “Teman-teman, Aina minta maaf ya karena kemarin sudah marah-marah sama kalian”, kata Aina sembari menjulurkan tangannya untuk meraih satu persatu tangan temannya. Dengan santai teman-temannya meraih tangan Aina, “iya Aina, Reno juga minta maaf ya”, ucap salah satu temannya, kemudian seakan dengan serentak teman-teman yang lain juga turut menjawab, “Iya Aina aku juga minta maaf ya”. Kemudian saling lempar senyum merajut masa yang mengalir begitu syahdu mengiringi saat-saat bermain mereka. Namun tak lama, celetuk kata sengit salah satu teman seketika merubah suasana hati Aina, “Aina teman yang jahat”. Namun dengan polosnya Aina menjawab, “Lho Mbak Nanis tidak boleh bicara begitu, kita kan teman, kata mama kalau bilang begitu nanti jadi temannya setan loh”. Kemudian Nanis tak menjawab sepatah katapun. Namun tak jadi pengaruh untuk teman-teman yang lain, mereka tetap lanjut untuk bermain.

Usai menikmati waktu dengan teman-temannya, di rumah Aina masih terngiang-ngiang denga ucapan temannya itu, menjadi rintik hujan yang tak kunjung reda. Mendorong lisan untuk mengutarakannya pada sang kakak, “Kak, benarkah kata temanku, dia bilang kalau aku itu teman yang jahat”, kata Aina sendu dengan memasang raut wajah yang masam. “Hemm, kata siapa dek…?”, saut kakak dengan nada bercanda. Aina menambahkan dua kerutan di dahinya, “O tidak, tidak, mungkin temannya Aina tadi cuma bercanda saja Dek, ingin ngibuli kamu maksudnya”, kata kakak dengan usaha untuk menenangkan Aina. “Tidak mungkin kak, tadi saja Mbak Nanis bilangnya nggak sambil ketawa kok”, jawab Aina serius. “O… iya iya, kalau begitu berarti tandanya benar kan ya yang diomongin Mbak Nanis. Tapi sebenarnya Aina tidak pernah berniat jahat kan sama teman-teman?”, saut kakak sambil mengutarakan tanya. “Tentu saja tidak lah kak, Aina kan sayang sama teman-teman Aina”, jawab Aina jujur. “Betul sekali. (sambil mengacungkan jempolnya), tapi kakak boleh kan memberikan saran untuk Aina, biar nanti kedepannya Aina bisa lebih baik”, lanjut kakak. “O iya tentu saja boleh kak, Aina nggak mau kalau dibilangi seperti itu”, pinta Aina mendesak. “O iya bagus sekali itu dek, Aina itu kalau bicara sama teman-teman nggak boleh keras-keras, maksudnya kayak orang yang lagi marah gitu dek, adek tau kan?. Yah seperti Mama kalau sedang marah itu, ngomongnya keras banget kan. Nah itulah yang membuat teman-teman bicara kayak gitu. Jadi adek nggak usah sedih, cuma besok tinggal kalau mau bicara sama teman hati-hati saja, yang tenang ok…”, bijak kakak sambil acungkan jempolnya lagi. “jadi begitu ya kak, ok kalau begitu, Aina akan lakukan apa yang kayak dikatakan kakak tadi. Karena Aina kan sayang sama teman-teman jadi aku nggak mau kalau mereka nggak mau main sama Aina”, jawab Aina dengan semangat.

Cerpen Karangan: Siti Muyasaroh
Facebook: Siti Muyasaroh

Cerpen Benarkah Kak? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tidak Mengerjakan PR

Oleh:
“Rafa, Yasmine, ayo bangun nanti telat ditinggal jemputan lhoo…” ayah memanggil namaku dan Rafa adikku, untuk segera bangun, dari tidurku yang nyenyak. Ayah menakut-nakutiku dengan cara bilang, ‘nanti ditinggal

Opera Tuhan

Oleh:
“Kesulitan hidup harus kita hadapi, bukan kita hindari dan lari. Karena selama nadi masih berdetak, pasti ada jalan ke luar dari semua kesulitan tersebut. Daripada kita selalu mengeluhkan masalah,

Aku Memilih Allah

Oleh:
Aku Sandra Allyson. Hidupku memang berkecukupan. Aku terlahir sebagai anak pengusaha dan penjual online yang sukses. Rumahku berwarna biru dua lantai, warna kesukaanku. Kata papah, karena aku anak tunggal.

Bumi Pertiwi (Part 1)

Oleh:
Penatnya Jakarta siang ini tak lantas membuat empat anak manusia yang dijuluki empat serangkai ini untuk berhenti menyelusuri hampir seluruh tempat yang ada di Jakarta. Saling bersahutannya suara klakson

Sepeda Kenangan Dari Ayah

Oleh:
KKKRRRRIIIINNGGG! KKRRRRRIIINGGGGG! Suara sepeda yang baru saja dibelikan ayahnya untuk Bima. Ya setelah sekian lama ayahnya menabung untuk kado ulang tahun anak tersayangnya itu. Dibanding dengan kakaknya ayah lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *