Berarti Kah Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 August 2013

Malam ini begitu indah, namun tak seindah hidup yang kujalani. Hanya satu hal yang ku inginkan, dan aku harap sebelum aku mati aku bisa mewujudkan impian ku itu.
Mama: Viraaa, (memanggil dengan nada keras),
Vira yang mendengar teriakan mamanya, segera keluar dengan setengah berlari.
Mama: Dari mana saja vira, dipanggil tak menyahut, mama harus teriak baru kamu keluar? Kamu sengaja ya
Vira: maaf ma, vira lagi mengerjakan tugas
Vita yang mendengar ibunya marah-marah langsung keluar kamar, dia malah mengompori ibunya sehingga ibunya semakin marah.
Vita: kenapa lagi sih mah, pasti ini anak buat ulah lagi ya (mendorong dengan kasarnya hingga Vira terjatuh) sudah mah, kasih hukuman aja, kalau didiemin gini terus nanti makin kurang ajar.
Vira: ampun mah, vira bener tidak mendengar
Mama: (menyeret paksa Vira ke kamar mandi) kamu memang anak yang tak tau terima kasih, tak tau dï untung, dasar anak sial, (mengguyur vira dengan air) setiap kali marah selalu saja mamanya mengucapkan itu.
Vira: ampun mah, ampun dingin mah, dingin.
Vita: sukurin kamu, terus mah jangan kasih ampun
Mama: ayo vit kita tinggallin dia disini, dan kamu jangan keluar sampai besok pagi, kalau kamu melanggar hukuman kamu akan mama tambah.
Vira: mah jangan kurung vira, dingin mah, gelap, vira takut.

Begitulah kehidupan Vira, hampir setiap hari ia disiksa, padahal ia tak pernah melakukan kesalahan, namun selalu saja dia salah di mata mamanya. Untungnya ia masih punya Vito kakak laki-lakinya yang sayang padanya, namun vito jarang sekali di rumah, bila ada Vito pasti vira selalu dibela & jika ada Vito ia tak akan membiarkan Vira diperlakukan kasar. Berbeda dengan Vita kakak perempuan vira, Vita sangat membenci vira sama seperti mamanya, yang entah kenapa sangat membenci dirinya.

Suatu hari timbul niat jahat mamanya ingin melenyapkan Vira untuk selama-lamanya, esok paginya ia melaksanakan niat itu, tak seperti biasanya pagi ini mamanya bersikap baik pada Vira, seisi rumah bingung, karena tak biasanya mamanya bersikap seperti ini, dan sekarang untuk pertama kalinya Vira di ajak jalan.
Vito: tumben banget mama hari ini? suasana rumah seperti ini vito bahagia banget mah
Mama: tumben apa? Memangnya mama ga boleh baik sama anak-anak mama, mama sekarang sadar kalau selama ini mama sudahh terlalu jahat pada vira, dan sekarang mama mau merubah semuanya. Maafin mama ya vir.

Tanpa ada yang mencurigai perubahan sikap mamanya, ternyata ada maksud tersembunyi dibalik itu semua.

Dan pagi itu, Vira bahagia sekali, semoga mamanya seperti ini untuk selamanya bukan pagi ini saja. Setelah sarapan pagi vira dan mamanya pergi.

Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kencangnya,
Vira: mah vira takut, jangan terlalu kencang
Mama: ga usah panggil mama-mama, kamu pikir aku beneran baik sama kamu, aku hanya ingin membawa kamu pergi dari hidup kami semua.
Vira: vira tau kok mah, tapi vira sampai kapan pun ga akan pernah benci sama mama, buat vira mama itu mama yang terbaik yang pernah vira punya. Dan vira janji gak akan tinggalin mama
Mama: gak usah sok baik, sampai kapan pun kamu gak akan pernah saya anggap sebagai anak saya, karena kamu hanya membawa petaka di hidup saya.

Saking kencangnya mobil itu melaju, sampai-sampai tak menyadari ada sebuah truck yang melintas. Tanpa bisa dihindari lagi mobil dan truck tersebut bertabrakan. Supir truck tersebut meninggal saat itu juga, sementara mama dan Vira kondisinya kritis. Mereka semua segera dilarikan ke Rumah Sakit untuk segera ditangani.

Beberapa hari kemudian, masa kritis Vira terlewatkan, akhirnya ia sadarkan diri, namun ibunya tak menunjukan kondisi membaik. Dokter mengatakan kemungkinan selamat sangat kecil terkecuali ada pendonor jantung, dan saat ini pihak rumah sakit tidak ada persediaan jantung.

Kondisi Vira semakin membaik, namun penglihatannya mengalami sedikit masalah. Dokter mengatakan matanya harus dioperasi, karena saraf matanya mengalami kerusakan yang fatal, kemungkinan matanya akan buta permanen dan operasi pun tak menjamin dia bisa melihat.

Vira bersikeras tak mau dioperasi, karena baginya, dioperasi atau tidak sama saja, tetap saja tak menjanjikan dia bisa melihat. Ka Vito sudah mencoba meyakinkanya untuk mencoba operasi, karena apa salahnya mencoba namun tetap saja Vira tak mau.

Vira sengaja tak mau dioperasi, karena baginya keselamatan mamanya lebih penting dan ia rela memberikan jantungnya pada mamanya, tapi dokter menolak kemauannya dengan keras.
Vira: dok, vira mohon dokter ambil saja jantung Vira, Vira siap menerima segala resikonya.
Dokter: sekali pun nyawa kamu? Tapi saya tak bisa melakukanya
Vira: ya saya siap dok,
Dokter: saya tetap tidak akan melakukan itu, karena itu sama saja saya telah membunuh satu nyawa.
Vira: saya mohon dok, izinkan saya melakukan satu hal berguna, banyak yang membutuhkan mama dok, keselamatan mama sangat penting dok.
Dokter: tapi apapun alasannya saya tetap tidak bisa
Vira: saya akan berterima kasih sekali jika dokter mau mengabulkan permintaan saya, paling tidak sebelum saya benar-benar harus pergi
Dokter: tapi saat ini kamu tidak dalam keadaan sakit, kamu masih bisa hidup lebih lama
Vira: kita tak pernah tau dok, kapan waktu kita, jadi saya mohon dengan sangat dok (bangun lalu bersujud di bawah kaki dokter), saya mohon dok.
Sungguh terharu dirinya melihat ketulusan seorang anak yang begitu rela berkorban, sekalipun ia harus mempertaruhkan nyawanya, Tak tega ia melihat Vira yang terus merengek akhirnya ia menyetujuinya. Dengan perjanjian yang hanya mereka dan Tuhan yang mengetahuinya. Walau sebenarnya sangat berat bagi Dokter andi untuk benar-benar melakukan yang Vira minta. Ia terus membujuk agar Vira membatalkan niatnya tersebut.

Siang itu Vira terlihat lain sekali, siang itu ia tak mau kak vito menjauh darinya, ia tak mau melepaskan pelukan kak Vito.
Vito: kamu kenapa sih vira sayang? Kok hari ini kayanya beda banget
Vira: gak ka, vita cuma pengen dipeluk sama kakak aja, Vira takut kalau suatu saat Vira ga bisa peluk kakak kaya gini
Vito: ngomong apa sih kamu Vir, kakak tu akan selalu sayang kamu dan selalu ada buat kamu, kamu jangan nangis dong, kok jadi sedih sih sayang?
Vira: ka, Vira sayang banget sama kakak, Vira gak mau lihat ka Vito sedih
Vito: ya sayang, kakak juga sayang banget sama Vira, kakak gak akan ninggalin Vira, kakak akan selalu nemenin Vira,
Vira: makasih ya kak, kaka baik banget, tapi vira boleh minta satu permintaan gak?
Vito: apapun yang Vira minta kakak akan selalu nurutin.
Vira: Seandainya Vira gak bisa nemenin kaka lagi, Vira mau kakak gak boleh nangis atau sedih, kakak harus selalu senyum janji ya
Vito: ngomong apaan sih Vir, kaya orang mau pergi jauh aja, sudah deh jangan ngomong yang aneh-aneh. Sesaat suasana hening, tak ada yang berbicara hanya mata dan hati mereka yang berbicara.

Kesepakatan antara Vira dan Dokter Andi sebentar lagi akan segera dilaksanakan, tanpa rasa ragu ataupun takut di hati Vira. Dokter sudah berapa kali meminta agar vira memikirkan lagi, dan menyuruh Vira untuk tidak melakukan itu, namun tetap saja Vira bersikeras dengan kemauannya. Akhirnya dokter menyerah, operasi pun dilakukan, namun hanya pihak rumah sakit dan dia yang mengetahuinya, Vira tak ingin ada seorang pun yang mengetahui ini, Vito pun sama sekali tak mengetahui apa yang telah Vira lakukan. Operasi tersebut berhasil, beberapa jam kemudian mamanya pun sadar.

Semua keluarga begitu bahagia, karena bagi mereka sungguh keajaiban. Ternyata setelah sadar dari koma pun sikap mamanya tetap tidak berubah pada Vira, malah ia menanyakan apakah vira sudah meninggal. Begitu marah vito mendengar apa yang diucapkan mamanya. Vito pun langsung berlari keluar dengan Emosi.

Namun langkahnya terhenti karena mendengar pembicaraan antara dokter Andi dan suster Ana. Betapa terkejutnya ia setelah mengetahui ternyata mamanya sadar berkat pengorbanan vira, Vira rela memberikan jantungnya, tanpa memikirkan nyawanya. Bahkan mungkin bisa dibilang ia rela mati demi seorang ibu yang sama sekali tak pernah menganggap Vira itu ada.

Tak mampu ia menahan kakinya, untuk tidak menemui dokter andi untuk bertanya kebenaran yang baru saja ia dengar. Ternyata semua yang ia dengar itu benar, dan sebelum operasi dilakukan Vira menulis surat untuk orang-orang yang sangat ia sayangi, karena katanya ia takut tak sempat mengucapkan jika ia sangat menyayangi keluarganya dan sangat berterima kasih pada tuhan pernah merasakan yang namanya punya keluarga. Dan sekarang kondisi vira dalam keadaan yang sangat buruk, entah sampai kapan ia akan bertahan. Tanpa menunda waktu ia langsung mendatangi Vira.
Vito: Vira sayang, apa yang sudah kamu lakukan, kamu bodoh Vir, sangat bodoh. Kenapa kamu harus berkorban seperti ini. Bangun Vir, kakak gak mau kehilangan kamu. Ia terus berbicara dengan Vira, tanpa ada sahutan darinya.

Setelah sedikit tenang, ia membuka surat yang dokter titipkan padanya. Surat untuknya, mamanya dan Bi ijah pembantunya.

Dear kaka Vito

Kakak aku yang paling ganteng, baik, dan paling aku sayang. Jika kakak membaca surat ini mungkin Vira sudah tak mampu berbicara dengan kaka atau mungkin sudah tak berada di dunia ini, Satu hal yang harus kakak tau, sayang ku pada kakak akan selalu aku bawa bahkan sampai aku mati. Kakak jangan sedih ya, senyum dong.

Kak, mungkin aku ini bodoh, sangat bodoh. Pasti itu yang ada dalam pikiran kaka, dan mungkin pikiran semuanya bukan hanya kakak. tapi vita gak ngerasa bodoh, justru sangat bangga bisa melakukan satu hal sebelum vira pergi.
Kak, Vira mohon jangan benci Vira. Maafin vira kak. Vira ga mau kaka benci sama Vira, di dunia ini hanya kaka satu-satunya orang yang sayang banget dengan Vira, jadi Vira mohon jangan benci Vira. Dan jangan salahin mama ya, ini juga bukan salah mama ini semua kemauan Vira. Janji sama Vira ya, jangan lagi ada kebencian atau kemarahan.
Kak makasih banget untuk semua yang kakak kasih, kakak ngajarin banyak hal pada Vira. Vira cuma bisa bilang makasih kak.

Jangan sedih ya kak, kakak ga boleh nangis. Vira gak mau liat kakak sedih. Vira sayang kakak.

Salam sayang

Vira

Butiran air mata semakin mengalir dengan derasnya tanpa bisa dibendung, antara terharu, sedih dan marah bercampur jadi satu. Dibukanya surat untuk mamanya, sangat singkat tak seperti surat untuknya.

Untuk mama

Ma, maafin Vira sudah sering bikin mama kesal, tapi Vira sayang banget sama mama. Vira bahagia banget pernah jadi bagian dalam hidup mama, love you mah, Vira selalu sayang mama

Vira

Dibukanya lagi surat untuk pembantunya bi ijah.

Bi ijah, maafin Vira pergi ga bilang-bilang, Vira sayang bibi.

Bi makasih ya, untuk semuanya, bibi itu lebih dari seorang ibu bagi Vira, kasih sayang yang bibi berikan tak akan pernah bisa Vira membalasnya.

Maaf bi Vira sering ngerepotin bibi, hehehe bibi jangan sedih ya, kalau Vira gak ada, jangan kangen, hehehe Vira sering niat bantu bibi malah ngerusakin semuanya. Tapi bibi gak pernah marah atau pun ngomong kasar seperti mama, andai saja mama bisa sekali saja peluk vira dan bisa kaya bibi sayang Vira, sekali saja pasti vira akan jadi orang yang paling bahagia sedunia. Tapi bibi selalu menguatkan hati vira, makasih bi.

Bibi, Vira mau kasih tau satu hal, tapi bibi jangan bilang siapa-siapa. Bi, mama mau nyelakain vira, tapi vira gak akan benci kok. Seperti yang sering bibi bilang, suatu saat mama akan berubah sikap, karena kejahatan harus dilawan dengan kebaikan. Semangat Vira, Vira gadis kuat, gak boleh nyerah, harus selalu senyum.

Bi, nanti Vira gak bisa bantu bibi, masak dan nyuci lagi, gak bisa buatin nasi goreng lagi tiap pagi, tapi dengan waktu yang Tuhan berikan ke Vira itu lebih dari cukup bi, melihat keluarga ku bisa tersenyum, bisa makan dengan lahapnya vira sangat bahagia.

Bibi gak boleh nangis ya, bibi harus selalu senyum kan bibi yang selalu ajarin Vira buat selalu tersenyum walaupun itu pahit. Vira sayang banget sama bibi. Bibi gak marah kan kalau vira anggep bibi sebagai mama vira. Karena dari bibi lah Vira merasakan yang namanya belaian seorang ibu, vira merasa damai banget dalam pelukan bibi. Cuma makasih bi, Vira ga bisa lakukan banyak hal untuk bibi. Bahkan pergi pun Vita ga sempat pamit sama bibi.

Love you so much bi emmuuchhh, vira selalu sayang bibi

Salam sayang
Vira

Tak sanggup mengucapkan kata-kata apapun, Vito hanya bisa menangis sejadi-jadinya dan berteriak Viraaaaa.

Dengan sangatt marah ia menemui mamanya,

Vito: mah, mama pernah gak sih sedikit saja peduli dengan Vira. Mama tau kesadaran mama ini berkat siapa, berkat anak yang selalu mama benci. Anak yang ingin mama celakai, tapi tidak berhasil, malah mama ikut jadi korban.
Mama: ngomong apa kamu vit, sampai kapan pun mama akan selalu benci dia
Vito: mah, mama itu memang ibu yang gak punya hati, gak punya perasaan salah besar vito anggap mama sebagai ibu terbaik, hati mama itu bagaikan… tak dilanjutkan kata-katanya, mah… Serigala saja sayang sama anaknya mah.
Mama: vito, kamu berani ngomong kasar sama mama, cuma ngebelain anak kaya dia.
Vito tak tau harus ngomong apa lagi, karena selalu ada saja jawaban ibunya, yang menunjukan kebencian yang mendalam.
Vito: sekarang mama baca surat ini. Baca mah, setelah mama baca terserah apa maunya mama.

Kenapa mama diam, kenapa nangis mah, percuma.
Apa sekarang masih bilang dia bawa sial buat mama, sementara dia rela ngorbanin nyawanya demi mama. Apa sekarang mama masih benci dia, apa sekarang
Mama: cukup vit, cukup.. Mama tau mama salah, tolong antarkan mama menemui vira.
Vito: buat apa mah, untuk nyakitin hati Vira lagi, untuk marahin dia lagi
Mama: mama mau minta maaf Vit, mama sudah terlalu banyak salah. Vit mama mohon sebelum semua terlambat.

Dengan derai tangis, mereka semua berkumpul di tempat Vira, mamanya memeluk erat Vira, berharap vira segera sadar
Mama: ampuni mama Vir, jangan benci mama, tolong jangan benci mama. Vira kasih mama kesempatam mama sekali saja, sadar vir, mama sayang kamu. Kenapa kamu lakukan ini, harusnya kamu benci mama Vir. Bangun sayang.

Air mata vira, ikutan mengalir, sungguh keajaiban vira bisa membuka matanya. Betapa bahagia semuanya melihat vira sudah sadar,

Vira: dengan penuh senyum dan suara terbata-bata ia mengatakan vira sayang kalian semua, Vira juga gak pernah benci sama mama,
Mama: Vira, makasih ya kamu memang anak yang sangat baik, maafin mama kamu harus sembuh ya.
Vira: makasih ma, mama sudah mau peluk Vira, Vira ngerasa bahagia banget, sekarang impian Vira sudah kewujud.

Semua diam, hanya isakan tangis yang terdengar. Lalu Vira membuka suara.
Semuanya, Vira boleh minta satu permintaan, hanya anggukan dari mereka semua tanpa ada yang berbicara

Vira: jangan ada yang nangis ya, Vira pengen liat senyum kalian semua, makasih ya untuk semuanya, dan sekarang Vira bisa pergi dengan tenang, Vira mau pergi ke tempat yang indah banget, Vira bahagia disana, tak merasakan sakit sedikitpun. Vira sayang kalian semua.

Tepat pukul 12:00 di hari ultah Vira yang ke 15, dia menghembus kan nafas terahir dalam pelukan mamanya. Yang tersisa hanya penyesalan sang mama.

Cerpen Karangan: Riska Maulinda
Namaku Riska Maulinda. Dirumah aku dipanggil icha. Aku lahir tanggal 15 Juli 1994. Aku baru saja menyelasaikan Sekolah SMa tahun 2012. Lulus SMA aku tidak melanjutkan kuliah. Mungkin mencoba menulis bisa jadi pekerjaan aku sekarang

Cerpen Berarti Kah Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yah, Stay Here Or Kill Me!

Oleh:
“Buk” Tas sengaja kulempar ke atas kasur. “Kalau tahu kayak gini ngapain juga gue dateng ke kampus, udah bermacet-macet ria dosen malah gak masuk, Ya Tuhan” Dengusku kasar. Kubanting

Perpisahan Terakhir

Oleh:
Endi adalah seorang anak yang berumur 19 tahun dan ia tinggal di desa. Ia terlahir dari keluarga yang dibilang kurang mampu. Ketika masih berumur 18 tahun ia masih memiliki

Deja Vu

Oleh:
Hujan menangis. Seperti itulah aku memikirkan hujan kali ini. Derasnya menumpah tepat beberapa detik setelah aku dan orang-orang menguburkan diriku dalam liang yang tanahnya kini menjadi becek dan berair.

Rindu di Tepi Langit

Oleh:
hufh… badanku seluruhnya rontok, dari atas sampai jempol kaki. mungkin perlu disiram dan diberi pupuk kali y? hehehehhe, yayaya, aku baru saja menyelesaikan studi masterku di bumi east java

Namira

Oleh:
Plak…!, suara tamparan itu masih terngiang di telinga Namira, di sela sela sedu tangisnya di malam itu, ya.. orang tua mereka sedang bertengkar, bahkan mungkin ketika ia telah tertidur,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Berarti Kah Aku”

  1. aisyah handini says:

    Cerpen nya bagus… Sangat menyentuh hati… Kenapa ngga di buku-in jadi KKPK

  2. Nurma says:

    cerpen nya bgus bget.. smpe nangis dibuatnya…
    kren2..

  3. wiwit says:

    terharu. ;(

  4. jessica says:

    Nagis bertubi-tubi tapi keren banget

  5. najla albats (najla) says:

    Ya ampun aku terharu membaca cerita ini aku terinspirasi terima kasih banget ya cerpennya pokoknya aku ngerasain sekarang aku punya pribadi yang kuat

  6. Angelica Tifanny says:

    Aku nangis bacanya. Menginspirai ya

  7. Bidadarias aulia azmi says:

    Cerpen nya bagus banget…
    Siapa yang mau membaca siap-siap tisu nih…!!
    Keren ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *