Berbagi Itu Indah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 29 January 2016

“Temen-temen.. lihat nih…” Ody memasuki kelas sambil mendongakkan kepala. Dengan sengaja ia menghentak-hentakkan sepatu barunya, “papaku baru beli sepatu. Ini belinya pake dollar gitu deh, kemaren belinya di Australi..” Ody menunjuk ke sepatu berkilatnya. Teman-teman sekelas serentak mengerubunginya.
“Wah.. harganya berapa, Dy?” tanya Friska, yang selalu tak mau kalah dengan Ody. “Gak tahu, Ka. Tapi yang jelas mahal dong, yah..” Ody merapikan rambut yang diberi krim milik papanya. Semua anak kelas 4-A SD Maharaja mengerubungi Ody. Bosan, Ody lalu pergi ke luar. Ia melihat satu orang siswa yang duduk di bangku panjang sambil membaca buku. Ody makin penasaran melihat siswa itu.

“Duh, kok dia diam aja sih? Kok beda sama yang lain semuanya pada ngerubungi aku?” tanya Ody dalam hati. Matanya mencari-cari kesempatan untuk melihat seseorang yang sedang asyik sendiri di bangku pelataran kelas. Ody mengenalinya, namanya Fatih. Siswa kelas 4-B yang pendiam namun selalu juara kelas. Ia hanya sesekali berbicara. Tapi ya gitu, kata yang ke luar dari mulutnya hanya satu kalimat saja, membuat ia tidak memiliki terlalu banyak teman.

Ody kemudian menghampirinya, “Hai.. assalamualaikum..” sapanya.
“Waalaikumsalam.. hai juga,” balasnya.
“Lagi ngapain?” tanya Ody. Fatih menggeleng, “nggak ada, cuma lagi baca bukunya Enyd Blyton aja.. bagus deh,” ia menawari bukunya ke Ody.
“Aku gak suka baca yang begituan, abisnya gak ngerti sama kalimatnya..” tolaknya, “aku suka buku yang ada gambarnya,”
“Aku ada buku cerita bergambar. Nanti aku kasih ke kamu, yah?” ujar Fatih. Ody mengernyit, “ngasih? Seriusan nih?” Ody bertanya heran. Teman-teman yang lain biasanya hanya meminjamkan, tetapi yang ini..

“Iya, aku mau ngasih ke kamu, soalnya buku di rumahku udah banyak banget. Hehehe…”
Tak perlu waktu lebih lama, Ody sudah langsung akrab dengan Fatih. Mereka banyak mengobrol hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Bel tanda masuk pun berbunyi.
“Udah masuk nih, aku mau ke kelas dulu ya,” pamit Ody.
“Iya, entar kita ketemu lagi ya pas istirahat..” Fatih mengingatkan.

Penjelasan Bu Mila mengenai sejarah Indonesia kurang menarik perhatian Ody. Entah sudah berapa kali ia menguap karena Ody memang kurang menyukai IPS. Sesekali terdengar teman-temannya cekikikan melihat mata Ody yang tinggal lima watt. Sesekali juga kepala Ody terantuk meja. Tapi Ody tetap berusaha konsentrasi, berharap bel pulang segera berbunyi. Perut Ody sudah dari tadi minta diisi makanan. Allah mengabulkan doa Ody.

Beberapa saat kemudian, bel pulang berbunyi. Siang ini matahari cukup terik. Ody berjalan ke luar kelas sambil mengelap keringatnya, menunggu Mang Karyo yang belum datang menjemput. Setelah beberapa saat, tampak mobil yang dikendarai Mang Karyo berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Ody membuka pintu mobil, namun matanya masih tertuju pada seseorang. Ia melihat Fatih sedang berjalan sendirian menuju pintu gerbang.

“Fatih!!” teriaknya, lalu menghampiri siswa berambut cepa itu.
“Iya, ada apa, Dy?”
“Pulang bareng aku, yuk..” ajak Ody. Ia sendiri merasa aneh. Belum pernah ia sebaik ini pada teman-teman sekelasnya, tapi pada Fatih ia merasa berbeda. Fatih sudah ia anggap seperti saudara sendiri. “Ng.. nggak usah aku bisa pulang sendiri kok,” tolak Fatih.
“Tapi kan rumah kamu jauh, terus gak dijemput, lagi. Udah bareng aja yuk, kan rumah kita searah?” jelas Ody.
“Tapi nanti ngerepotin..” Ody tertawa, “nggak kok… ayo…” Ody menarik tangan Fatih.

Di perjalanan, Fatih banyak tertawa mendengar guyonan Ody. Ternyata Ody orangnya asyik. Ia supel dan ramah. Hanya satu kekurangan Ody yang kurang disukai Fatih. Sambil tersenyum menanggapi ocehan Ody, tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya. Mobil pun berhenti di persimpangan lampu merah. Fatih melihat ada seorang kakek sepuh yang berjualan koran. Fatih membuka jendela mobil lalu memanggil kakek itu.

“Beli korannya ya, Kek..” ujar Fatih. Ia mengambil sebuah koran dan memberi uang dua puluh ribu ke Kakek tersebut.
“Ini kembaliannya, Nak..”
“Gak usah, Kek.. ambil untuk Kakek aja..” tolak Fatih secara halus.
Mata Kakek itu berkaca-kaca, “ma.. makasih, Nak.. semoga Allah SWT mengabulkan semua doamu ya, Nak..”
“Aamiin..” Fatih mengamini kata-kata kakek tersebut. Lampu berubah menjadi hijau. Mobil berjalan lagi.

“Tih, kamu kok ngasih duit banyak banget ke Kakek itu?” protes Ody. Fatih tersenyum menjelaskan, “ya gak apa-apa kan kalau kita niatnya sedekah?”
“Iya sih, tapi kan Kakek itu kerja?” tanya Ody lagi. Ia penasaran dengan sikap Fatih yang lain dengan anak-anak pada umumnya.
“Kata Mamaku, sedekah itu bikin kita tambah murah rezeki. Terus, kalau kita mau sedekah, harus ibarat tangan. Kalau tangan kanan ngasih, tangan kiri gak boleh tahu..” jelas Fatih.
“Maksudnya apa, Tih?”tanya Ody, semakin bingung.
“kalau kita mau sedekah bakalan bagus kalau gak ada yang tahu kecuali kita sama Allah,”

“Oh…” Ody terpana pada penjelasan Fatih, “terus kalau gak ada yang tahu gak asyik dong, Tih? Apa gunanya kita sedekah kalau gitu?”
“Hmm…” Fatih berpikir sejenak, “soalnya kalau ada yang tahu entar dikirain kita caper! Hehehe…”
Fatih tertawa, Ody juga ikut tertawa. Hari ini Ody bahagia, ada satu pelajaran berharga yang ia dapat dari sahabat barunya. “Oiya, rumah kamu di blok mana, Tih?” tanya Ody, ketika mobil memasuki kompleks perumahan Bumi Pertiwi, tempat tinggal Fatih. “Rumahku di blok C. Lurus aja entar belok kiri, rumahku juga di sebelah kiri,”

Dan tak lama kemudian mobil berhenti tepat di depan rumah bercat biru. Fatih membuka pintu, “makasih ya, Dy.. Assalamualaikum,” pamitnya sambil menutup kembali pintu mobil kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Ody lagi-lagi terpana melihat Fatih yang selalu bersyukur meski rumahnya lebih kecil daripada rumah Ody.
“Makasih, Tih… udah ngasih aku pelajaran berharga hari ini,” gumam Ody dalam hati, kemudian menutup kaca jendela sebelum mobil melaju kembali menuju rumahnya.

Akhirnya Ody tiba di rumah. Usai salat Zuhur dan makan siang, Ody berlari melihat kalender. Tiga hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Ia belum pernah sama sekali merayakan ulang tahun bersama teman-teman. Kalaupun ada, itu hanya sekedar makan siang bersama di rumah. Kali ini Ody ingin sesuatu yang berbeda. Ia menghampiri Mama yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.

“Ma, hari Minggu besok kan Ody ulang tahun yah?”
“Oh iya ya? Wah.. anak Mama udah gede yah sekarang..” mama merangkul Ody duduk di pangkuannya.
“kalau gitu boleh dong, Ody minta ke Mama?”
“Boleh, ajak aja teman-teman makan siang di sini, kayak biasa yah..”

“Hmm.. bukan itu, Ma..” protes Ody sambil cemberut. Ia memasang wajah bete. “Terus apa, sayang?”
“Hmm.. Ody pengen ngerayain ulang tahun di restoran! Kayak yang di tivi-tivi gitu… boleh ya Ma? Mama cantik deh..” rayu Ody. Ia teringat tayangan infotainment beberapa hari lalu tentang seorang artis merayakan ulang tahun anaknya di sebuah restoran. Ody pun ingin seperti itu. Lagi pula ia terbiasa merayu orangtuanya bila menginginkan sesuatu. Kalau sudah begitu, Papa dan Mama akan selalu mengabulkan permintaannya.

“Tapi kalau Mama gak salah, Papa udah berencana ngerayain ulang tahun Ody di manaaaa gitu, Mama juga gak inget…” ujar mama. “Oh ya? Di mana, Ma? Restoran mana? Asyiiikkkkkkk… besok Ody undang temen-temen yang banyak yah, Ma? Hehehe…” Ody melonjak kegirangan.
“Tapi Oapa pesen yang diundang sahabat deketnya Ody aja, gak boleh banyak-banyak,” ralat mama.
“Yah, Mama…” Ody memanyunkan bibir, “gak seru, ah…” Ody melangkah gontai menuju kamarnya.

Di kamarnya, Ody tak sengaja melihat ponsel mama yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur.
“Hmm.. mungkin tadi Mama tiduran di sini, terus lupa naruh hp..” gumam Ody dalam hati. Sejenak Ody merenung, “tunggu.. aku ada ide..” Tanpa menunggu lama, Ody sengaja memencet nomor ponsel papa. Ia ingin menanyakan apa rencana Papa untuk dirinya. Tapi Ody kecewa setelah selesai menelepon. Papa sedang rapat, nanti Papa telepon lagi.

Hari Minggu yang cerah. Ody sekeluarga bersiap-siap menuju ke suatu tempat yang masih dirahasiakan. Papa dan Mama bersemangat menaruh bingkisan di bagasi mobil. Sementara itu, Ody kurang puas. Sesekali ia melirik Fatih di sampingnya. Sepulang sekolah kemarin, Ody mengajak Fatih menginap di rumahnya. Ya, ia hanya mengajak Fatih saja untuk merayakan ulang tahunnya yang kesembilan. Di dalam hati, Ody masih bertanya-tanya, “Papa mau ngajak ke mana sih?”

Dengan malas-malasan Ody masuk mobil sambil cemberut. Setelah semuanya siap, Papa mengemudi. Lima belas menit kemudian, Papa memutar mobil memasuki sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Papa berhenti di sebuah rumah kecil dengan papan nama ‘Panti asuhan bayi dan Balita’ di depannya. Panti itu lebih mirip rumah kecil biasa dibandingkan panti lain yang biasa Ody lihat. Ody terenyuh, “Ya Allah.. kayak gini ya, tempat tinggal mereka?” ia tertunduk. Fatih, Ody bersama kedua orangtuanya masuk ke panti itu. Papa berbincang sebentar dengan salah seorang pengurus panti. Kemudian, mereka masuk ke sebuah ruangan tempat anak-anak berkumpul.

Di ruangan itu, terdapat belasan balita yang asyik bermain di ranjangnya masing-masing. Pandangan Ody tertuju pada salah seorang balita yang terus menangis. Kulitnya putih bersih, matanya sipit. Tapi tampak berebut kasih sayang dengan pengasuh panti yang hanya tiga orang. Ody menghampirinya, “Adek kenapa? Kok nangis terus? Jangan nangis ya…” bujuk Ody sambil mengusap punggung adik kecil itu. Seketika si kecil tertawa, memperlihatkan giginya yang belum semuanya tumbuh. Tangannya menggapai-gapai, seperti ingin digendong Ody.

“Hm… Kakak gak bisa gendong adek, mendingan kita main di luar yuk,” Ody memegangi tangan balita itu dan mengajaknya ke luar. Di luar, ada sebuah ayunan kecil dan di sanalah mereka duduk bersama. Fatih mengikuti Ody. Ia ikut menghibur adik barunya. Fatih juga membacakan cerita dari sebuah buku cerita bergambar yang dibawanya.
Kedua orangtua Ody mengikuti dari belakang. Ody berujar, “Ma.. Pa.. Ody mau punya adek..” Mama dan Papa terkejut, begitu pula Fatih. Papa tampak ingin menjelaskan sesuatu, tapi dipotong Ody, “jadiin Kiki adeknya Ody ya, Pa?” tanya Ody sambil merangkul balita yang ternyata bernama Kiki.

“Tapi beneran nih? Entar nyesel loh gak jadi anak tunggal lagi.. eh, hehe..” celetuk Fatih.
Ody tersenyum, “Nggak kok, Tih. Justru aku kepengen punya Adik baru, biar di rumah tambah rame. Boleh ya, Pa?” tanya Ody lagi. Papa dan Mama saling pandang lagi, kemudian mengangguk. “Boleh dong, apa sih yang nggak buat anak tersayang Papa…” jawab Papa. Seketika Ody senang. “Makasih Pa, Ma…” kemudian Ody melirik Fatih yang masih asyik dengan bukunya, “makasih ya sobat..” Fatih menutup buku, “sama-sama, friend…”
Langit biru cerah sama cerahnya dengan hati Ody saat ini. Ulang tahun yang amat istimewa, terlebih lagi hari ini resmi sudah ia menjadi seorang kakak.

TAMAT

Cerpen Karangan: Cyintia Kumalasari
Blog: cyintiakumalasari.blogspot.com

Cerpen Berbagi Itu Indah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


All About Dad

Oleh: ,
25 desember 2014 tidak pernah terbayangkan bagiku menjadi goresan sejarah yang sangat perih bercampur pedih untuk keluargaku terutama aku… Pernahkahkau merasa bumi berhenti berputar… Tapi kau tetap harus bernafas…

Warisan Duka

Oleh:
Malam pekat tanpa rembulan, mendung hitam menggantung di langit senja sejak tadi. Hujan seperti tercurah dari langit. Hatiku seperti mendung itu, sedari tadi aku menahan sesak di dalam dada

Air Mata Hasna (Part 2)

Oleh:
Sesampai di rumah sakit, suster juga langsung membawakan adiknya ke dalam ruang ugd. Hasna juga ikut berlari sambil berdoa dalam hati. Agar apa yang dialami adiknya itu tidak membahayakan

Finally, I Know

Oleh:
Perkenalkan namaku Margaretha Putri Shilla. Teman-teman bisa memanggilku Putri. Di usiaku yang ke 12 tahun ini, aku hidup dengan kesendirian tanpa teman. Kedua orangtuaku melarangku untuk bersekolah di sekolah

Berawal Dari Buku Misterius

Oleh:
Aku menangis histeris. Aku sangat sedih. Aku menyesal tak menjadi adik yang baik pada kakakku, Angel. Namaku Angelia, kami saudara kembar. Kak Angel meninggal karena tumor otak. Itu yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *