Berkorban Demi Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 April 2018

Dialah Silva, anak yang setelah lahir lalu tunanetra. Dia hanya tinggal bersama Kak Salva (kakaknya) dan Bi Eci (pembantunya). Sebenarnya ada ayahnya, tapi dia tak sering ke rumah karena malas bertemu Silva, hanya sebulan sekali. Dia tidak terlihat menyayangi Silva, setiap bertemu dengannya dia selalu berbicara dengan ketus. Perilakunya diikuti oleh Kak Salva. Tapi apa daya, Silva si anak bungsu dan cacat itu hanya dapat membiarkannya.

“Non, bangun… sudah jam setengah enam…” kata Bi Eci dengan lembut.
“Iya Bi,” Silva mulai bangun. Tak ada bedanya tidur dan tidak. Dunianya hanya terlihat gelap.

“Kasian deh, kalo gak ada Bi Eci pasti kamu tetap tidur tuh!” Kak Salva meledeknya tapi tidak dihiraukan.
“Sudah Non, tak baik mengejek begitu. Dia kan adikmu…” Bi Eci menasihati.
“Adik? Memangnya adikku buta seperti itu? Enggak deh!” sanggah Kak Salva.

Hati kecil Silva serasa diiris-iris. Bahkan Kak Salva tak menerima dirinya sebagai adiknya. Begitu pula dengan ayahnya. Tapi Silva tetap sayang mereka.

Bi Eci hanya membiarkannya dan membantu Silva mempersiapkan hari sekolahnya. Hingga waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh, dia diantarkan. Tapi Kak Salva mencegah mereka.

“Tunggu Bi!” teriaknya.
“Kenapa Non?”
“Bibi gak nganterin aku? Malah nganterin orang itu?”
“Non Salva kan bisa naik sepeda sendiri.”
“Iya tapi aku maunya diantar!” teriak Kak Salva dengan manja sekaligus ketus.
“I… iya non. Sebentar…”
“Bi, gimana dengan aku…?” tanya Silva lirih.
“Ssst… nanti Non Salva marah lho. Kamu tunggu sebentar ya.” Bi Eci berbisik pelan, sangat pelan.

Bi Eci meninggalkan Silva sendirian. Dia dan Kak Salva menuju ke garasi untuk mengambil sepeda. Silva hanya menunggu sambil berjalan ke kursi dengan sedikit hafalannya tentang ruang ini.

Entah sudah berapa menit, lalu Bi Eci kembali.
“Non… ayo kita pergi…”
“Iya Bi.”

Setelah sampai di sekolah, Silva bertemu teman-temannya. Mereka kelas VI. Dia tak dapat melihat wajah mereka tapi dapat mengenalinya melalui suaranya. Hanya dia yang tunanetra di kelas ini. Ini adalah sekolah inklusi, sekolah yang menerima anak reglar dan berkebutuhan khusus sekaligus. Di sekolah ini beban pikirannya terasa sedikit terusir karena dia punya teman meskipun hanya beberapa.

Pulang sekolah Silva hanya berjalan kaki karena Bi Eci terlambat menjemput. Dia sudah menunggunya selama beberapa jam. Jarak yang jauh ini cukup menyulitkan perjalannannya, apalagi dengan mata tertutup.

Tiba-tiba dia mendengar percakapan beberapa orang anak SMP kelas VII. Kemudian dia bersembunyi di balik dinding. Untung saja tubuhnya kecil. Dia sengaja menguping pembicaraan mereka. Ada suara yang dikenalnya.

“Tak salah lagi, Kak Salva. Tapi aku menghirup aroma asap rok*k di sini. Sepertinya dari mereka, tapi yang benar saja? Tak mungkin kakakku melakukannya.” gumam Silva yang masi curiga.

“Sore-sore gini enak ya makan-makan di sini.” kata seorang temannya kakak.
“Iya, apalagi sambil merok*k.” sahut Kak Salva.

“Aku tak percaya ini. Dia perok*k!” pekik hati Silva, karena dia tak boleh berucap nanti ketahuan.

“Eh beli rok*k lagi yuk.” kata teman kakak yang lain.
“Ayo!!!” sahut mereka serempak.

Setelah mereka pergi, Bi Eci heran melihat Silva di balik dinding.
“Non, kenapa di sini?”
“Eh, anu Bi, gak papa kok.”
“Kenapa?”
“Enggak kok Bi…”

Walau bingung, heran, dan curiga Bi Eci tetap mengantarkan Silva seperti biasa. Sesampainya di rumah…

“Eci, ke mana aja kamu?” tanya Ayah di depan pintu rumah.
“Saya menjemput Non Silva, Tuan…”
“Ya sudah! Bukakan pintu ini!” Ayah berteriak dengan tatapan tajam, ke arah Silva.
“Iya Tuan.”
Kemudian Ayah berbisik, “Dan jangan sampai kau jemput Silva lagi. Mengerti?”
Dengan lesu Bi Eci mengangguk.

“Ayah…” seru Kak Salva yang baru pulang sekolah.
“Eh Salva, gimana hari sekolah kamu?”
“Baik Yah, tadi aku ada tugas kelompok sama teman-teman.” Kak Salva berbohong.

Silva semakin tak percaya. “Tugas kelompok? Bukannya tadi cuma merok*k ya?” pikirnya. Tapi dia tak mau mengungkapkannya. Dia tak mau ikut campur.

Bi Eci ingat akan Silva tadi. Lalu dia menarik tangan Silva ke kamar.
“Non, tadi kamu bikin cemas aja. Sebenarnya ada apa sih? Cerita dong sama Bibi…”
“Eng… gak kenapa-napa kok Bi. Tenang aja…”
“Beneran? Nanti kamu menyesal lho gak bilang sama Bibi.”

Hari-hari pun berlalu. Hingga Kak Salva mengikuti lomba olimpiade.
“Bi, anterin aku!” perintah Kak Salva.
“Iya Non, Bibi antarkan Silva dulu…”
“Stop! Awas kalo nganterin Silva, aku bilangin ke Ayah!”
“Tapi kan sekolahnya Silva dekat, paling cuma 2 menit habis itu dia naik bis. Tempat lombamu itu kan jauh. Kalo Bibi anterin kamu, Silva bisa telat dong.”
“Gak! Anterin aku aja!”

Seperti biasa, Silva hanya dibiarkan. Setiap hari selalu terlambat ke sekolah. Hingga akhirnya…
“Silva! Kenapa kamu sering terlambat?” tanya Bu Guru dengan sedikit marah.
“Kakak diantarkan duluan Bu.”
Bu Guru tau, Silva hanya tinggal bersama kakaknya dan pembantunya. Ia merasa kasihan lalu mempersilahkan murid itu duduk kembali.

Sepulang sekolah…
“Bi Eci! Bi! Sini!” Kak Salva memanggil.
“Iya Non.”
“Lama sekali, 5 menit baru sampai!”
“Maaf Nona, apa yang bisa Bibi bantu?”
“Jadi gini Bi. 3 hari lagi aku ulang tahun, Bibi harus menata ruang tamu serapi mungkin. Teman-temanku mau datang. Ingat! Jangan sampai Silva muncul. Karena kamarnya juga dipakai.”
“Lho, temanmu berapa banyak?”
“Banyak banget lah, pokoknya ruang tamu sama kamar Silva harus Bibi beresin!”
“Lalu Silva di mana? Di kamarmu?”
“Jangan! Masukkan saja dia ke gudang.”
“Kamu gak kasihan sama dia Non?”
“Aku gak papa kok Bi, Kak.” sahut Silva yang tiba-tiba muncul.
“Kakak? Aku bukan kakakmu lagi!”

Bi Eci mulai mendekorasi ruangan. Untuk beberapa hari ini, Silva tidur di kamar Bi Eci. Tapi pada saat hari ulang tahun Kak Salva, ayahnya datang. Pesta meriah itu dirayakan oleh Kak Salva, ayahnya, dan teman-teman sekelas Kak Salva.

Sementara itu Bi Eci dikunci di kamarnya karena tidak boleh keluar oleh Kak Salva. Bi Eci hanya dikunci selama pesta berlangsung. Karena Kak Salva dan Ayah benci Silva, mereka sengaja mengunci Silva di gudang.

Sebelum itu…
“Kak Salva, Ayah, peluk aku ya…”
“Iya deh,” Ayah sengaja pasrah.
Mereka berdua memeluk Silva dengan terpaksa.

Silva segera didorong ke gudang dan pintunya dikunci. Lalu kuncinya dibuang ke tempat sampah.

Setelah pesta selesai dan Bi Eci keluar dari kamarnya, mereka sangat senang. Saking riangnya mereka melupakan Silva. Bahkan Bi Eci juga, karena diiming-imingi kado yang bagus dan gratis. Kak Salva sendiri sudah mendapat kado yang sangat banyak, sebagian dibagikan kepada tetangga-tetangganya.

“Selamat ulang tahun Non Salva, semoga panjang umur, sehat selalu, dan lebih sayang sama keluarga…” ucap Bi Eci sangat bahagia.
“Ini hadiah dari Ayah, Nak. Kamu adalah satu-satunya anak yang ayah sayangi.” kata Ayah sambil memberikan kado yang besar.

Mendengar ucapan Ayah, Bi Eci teringat Silva. Dia bergegas berlari menuju gudang.
“Lho, mana kuncinya? Tuan! Nona!” jerit Bi Eci yang kebingungan seperti orang tersesat.
“Kenapa Bi?” Kak Salva bertanya dengan panik.
“Kuncinya hilang Non…”
“Urus saja sendiri. Kamu kan yang aku suurh menjaga Silva?” bentak Ayah.
“Ayo Yah, kita pergi saja.”

Lalu Bi Eci teringat kunci cadangan. Dia berlari secepat mungkin ke kamarnya. Setelah menemukan kunci itu, segeralah ia membuka pintu gudang. Gudang itu pengap dan berdebu.
“Syukurlah ada kunci cadangan.” gumamnya.

“Ya ampun! Non Silva!” jerit Bi Eci setelah melihat tubuh seorang anak pingsan, itulah Silva.
“Tuan! Non Salva! Lihat ini…” pekiknya lagi.
Ayah dan Kak Salva berlari tergopoh-gopoh.
“Kenapa Bi?” tanya Kak Salva tak peduli.
“Lihat ini, dia harus dibawa ke rumah sakit!”

Mereka segera ke Rumah Sakit Nasional. Di sana Silva diperiksa secara intensif.
“Maafkan kami Tuan, kami tak dapat menolongnya.” ucap dokter dengan sangat lirih sampai hampir tak terdengar.
“Dia kenapa Dok?” tanya Ayah.
“Dia sangat rentan terhadap asap rok*k. Sepertinya dia sudah menghirup asap rok*k dan dia juga kekurangan oksigen. Mungkin karena terkunci.” dokter itu menjelaskan.
“Lalu bagaimana Dok?” tanya Kak Salva. Dia sudah mulai cemas.
“Kami sudah berbuat sebisa mungkin, tapi takdir berkata lain.”
“Ya sudah ikhlaskan saja…” ucap Bi Eci disertai tangisannya.

Silva dimakamkan di tempat yang layak. Banyak sekali tetangga yang berduka dan melayatinya. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing, termasuk keluarga korban.

“Maaf Tuan, saya lupa. Ada pesan dari Non Silva. Ini untuk Tuan dan ini untuk Non Salva. Saya menemukannya di gudang kemarin.” kata Bi Eci sambil memberikan dua buah kotak.
“Terima kasih, sekarang Anda boleh melanjutkan pekerjaan.”
“Saya permisi Tuan.”

Ayah pun memanggil Kak Salva dan memberikan kotak yang tertulis ‘Kakakku Tersayang, Kak Salva’. Kak Salva hanya menerimanya dengan lesu.

Ayah pun membuka kotak itu. Ada kado kecil dan sepucuk surat. Surat itu dibaca.

“Salam manis untuk Ayah,
Ayah, maafkan aku yang telah membuatmu benci. Ibu meninggal dunia gara-gara aku lahir ke dunia ini. Aku juga dilahirkan tanpa penglihatan, lalu apa gunaku sebagai anak? Tapi aku tetap sayang Ayah. Oya, ada kado kecil yang kuberikan, meskipun ini bukan hari ulang tahun Ayah. Semoga Ayah menyukainya dan bisa mengenang masa lalu kita yang bahagia. Maafkan anakmu ini Ayah…
Dari putrimu, Silva”

Ayah langsung menitikkan air matanya setelah membaca surat itu. Lalu ia membuka kadonya. Ada beberapa foto. Foto pertama yaitu saat Silva lahir dan digendong Ayah bersama Kak Salva yang berusia 1 tahun. Foto lainnya tentang masa kanak-kanak ketika mereka bermain bersama, dulu.

Di saat yang sama, Kak Salva juga membuka kotaknya. Terlihatlah sebuah kalung permata, pada batu permata itu terukir tulisan ‘Salva & Silva’. Tak sabar lagi Kak Salva membaca isi surat itu.

“Salam sayang kepada Kakak.
Kak Salva, Mungkin Kakak kecewa punya adik buta seperti aku. Sebenarnya Kakak yang terlahir tunanetra, dan saat aku lahir Ayah memberikan sepasang mataku pada Kakak, Ayah sendiri yang bilang padaku dulu. Aku sangat senang Kakak bahagia, meskipun aku tidak bahagia. Aku sangat sayang Kakak. Dan aku harap Kakak berhenti merok*k. Aku tidak mengatakannya pada Ayah dan Bi Eci. Itu rahasia Kakak kan? Oiya, aku memberikan sesuatu untuk Kakak. Semoga hadiah kecil itu bisa berarti untuk Kakak sebagai kenangan. I love you Kak Salva…
Dari adikmu yang mengecewakan, Silva”

Setetes demi setetes air mata mulai berjatuhan di mata Kak Salva. Dia menggenggam kalung itu kuat-kuat seraya berkata, “Maafkan kakakmu ini Silva. Aku telah melupakanmu. Padahal kamulah yang paling menyayangiku. Semoga kau bahagia di sana…”

Ternyata Bi Eci juga mendapat surat. Ini isinya.

“Salam untuk Bi Eci.
Terima kasih telah mengasuh Silva dan membesarkan Silva dengan penuh kasih sayang. Bi Eci telah membimbing Silva supaya bekerja agar menghasilkan uang. Bi Eci tau kan? Silva jadi pemijat saat itu. Hasilnya tidak sia-sia. Silva bisa beli hadiah dari uang itu. Maaf aku tidak sempat membelinya untuk Bibi. Karena saat itu ulang tahun Kakak hampir dimulai. Aku tau, sejahat-jahatnya mereka, mereka pasti sayang Silva.
Dari Non Silva.”

Mereka semua merasa kesepian. Mereka kehilangan Silva. Terlebih Kak Salva, dialah yang paling menyesal. Maka setiap hari, dia mendatangi makam Silva. Kak Salva memberikan bunga terindahnya ke makam itu dan berkata, “Sekali lagi maafkan Kakak, tolong maafkan Kakak…” suaranya serak karena disertai tangisan dan penyesalan yang amat mendalam.

Cerpen Karangan: Nia Kasih

Cerpen Berkorban Demi Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangis di Malam Takbiran

Oleh:
Aku meninggalkan bangku sekolah sejak berumur 13 tahun karena orangtuaku tidak sanggup lagi membiayaiku untuk bersekolah, padahal aku berharap bahwa aku bisa melanjutkan sekolah sampai ke tingkat SMA. Aku

Pekikan di Malam Itu

Oleh:
Di luar hujan sangat lebat, bunyi angin meraung-raung Suara pekikan malam itu sungguh mengejutkan masyarakat komplek kampung baru, sungai geringging. Suara pekikan itu sangat keras sehingga membangunkan masyarakat kampung

Masa Kecilku

Oleh:
Hi, namaku Eli kurniawati teman-temanku biasa memanggilku Eli. Sekarang usiaku sudah 17 tahun, apa kalian pernah berfikir bahwa masa kecil adalah masa yang paling indah dan menyenangkan? Mungkin tidak

Scorned Live

Oleh:
“Aira! Bangun Nak, nanti Kamu telat ke sekolah.” Teriak Ibuku seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar mencoba membangunkanku. Aku pun membuka mataku seiring dengan berhentinya ketukan di pintu. Ku gesekan jemari

Air Terjun

Oleh:
Banyak hal yang tak bisa kita sangka akan terjadi di masa depan. Hal atau kejadian yang jauh dari angan dan harapan, dan kini aku telah membuktikan betapa sang pencipta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Berkorban Demi Kakak”

  1. Malika Sekar R. says:

    Aku suka ceritanya. Makasih ya.

  2. Angelica Tifanny Nathalie says:

    Aku sampai nangis. Thx ya ceritanya , Nia Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *