Berteman Sepi Menjadikanku Kuat Akan Keterpurukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 April 2017

Namaku Yanto. Aku tinggal di jawa tengah, sekarang umurku sudah 73 tahun. Kisah hidupku awalnya terlihat pilu namun semenjak aku mempunyai anak, hidupku sangatlah indah. Aku bersyukur memiliki putri cantik jelita.
Diriku juga sebenarnya adalah anak yatim piatu yang sejak awal masih kecil sudah tidak bisa merasakan hangatnya kasih sayang orangtua. Kehidupan orangtuaku dulunya sangat miskin, sehingga terpaksa membuangku di rumah yatim piatu. Mengingat cerita itu membuatku sedih.

Pada awalnya diriku seperti kebanyakan lajang-lajang lainnya. Pada umur 18 tahun, aku pernah mengencani seorang wanita cantik yang bekerja sebagai spg kosmetik yang bekerja di daerah kota metropolitan D.K.I jakarta. Usia hubungan kami cukup panjang, hingga sampai 4 tahun dalam masa pacaran.
Menjalani masa pacaran selama 4 tahun ternyata telah membuktikan bahwa wanita yang kucintai ternyata tidak layak untuk mendampingiku di masa tua nanti. Melihatnya bersama lelaki lain membuat hatiku hancur, apalagi melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Setelah berpisah dengannya cukup lama hingga menjelang umurku berkepala 3 alias sudah 30an. Selama itu pula aku selalu mengurung diriku untuk tidak terjebak dengan kisah percintaan lagi. Menjalani hari-hari yang begitu pasif rasanya membuatku selalu berpikir ternyata kesepian lebih menakutkan daripada kematian.

Suatu pagi ketika weekend seperti kegiatan biasaku untuk pergi lari pagi disaat itulah momen pengubah hidupku sepertinya telah tertulis dalam nasibku. Melihat sepasang suami istri sedang berjalan pagi bersama bayi mungilnya membuat mereka tampak sangat bahagia.
Membuatku bersemangat akhirnya kuputuskan untuk mengangkat seorang anak dari rumah yatim piatu. Dan akhirnya di hari itu juga aku kembali bereuni dengan suster-suster yang menjagaku sejak kecil. Sudah 20 tahun lamanya sejak aku keluar dari rumah yatim piatu itu.
Melihatku kembali membuat raut wajah suster-suster itu sangat bahagia. Setelah berbicara cukup lama kemudian aku pun ingin melihat anak-anak yang ada dalam rumah ini. Setelah berjalan mengitari seluruh ruangan yang ada, akhirnya aku berhenti di suatu ruangan yang akan mempertemukan aku dengan calon buah hatiku.

Mendengar cerita suster yang merawatnya air mata ini juga menetes. Bagaimana tidak, betapa sedihnya melihat kisah hidupnya sama seperti kisah hidupku, sejak bayi ia telah dibuang oleh orangtuanya. Hatiku tergerak untuk membawanya sebagai anakku, sangat sesuai dengan harapanku dengan jenis kelamin perempuan dan masih dibawah umur 5 tahun.
Parasnya cantik, kulitnya putih dan berlesung pipi, ia kunamakan christy. Rumahku yang sederhana sekarang sudah tidak sepi berkat kehadirannya. Meski dalam darahnya tidak mengalir darahku, namun bagiku ia adalah jantungku. Tidak ada yang lebih spesial sejak kehadirannya.

Sebelum tidurnya selalu ku bermain dengannya hingga kecapekan dan tertidur. Melihat ia tidur dengan wajah yang imut membuatku selalu mencium pipi dan keningnya sebelum diriku juga beranjak istirahat.

Hari-hari yang kulewati begitu bahagia bersama putri kecilku. Sepulang kerja ku selalu bermain dengannya dan di hari libur selalu kubawa ia jalan-jalan. Betapa bahagianya diriku ketika diriku iseng bertanya kepadanya.
“christy sedih tidak kalau papa meninggal?”
“meninggal itu apa pa?”
“disaat papa meninggal, christy tidak ada teman bermain lagi” sembari tersenyum
Christy merengek pelan “kenapa papa harus meninggal?”
“setiap manusia itu harus lahir dan meninggal sayang, itulah kehidupan kita.”
“aku tidak mau, aku ingin setiap hari bermain dengan papa” jawabnya terisak

Hari-hari berjalan dengan indahnya bersama putri manjaku. Hingga akhirnya ia berumur 23 tahun. Meski ia sudah berumur dewasa, namun perlakuanku kepadanya tetap mencerminkan ia adalah putri kecilku.
Berusia matang membuatnya sudah membuat pilihan untuk menikah dengan seorang pengusaha muda asal sumatra. Hal inilah yang membuatku takut untuk menghadapi kesendirian lagi.

Hari dimana ia menikah membuatku sedih bercampur bahagia, dimana ia akan melangsungkan pernikahan di tanggal 11 agustus dimana itu adalah tanggal kelahiranku. Ketika sedang melakukan jamuan teh acara pernikahan, mataku berkaca-kaca ketika mengkalungkan hadiah pernikahan untuk putri kecilku. Air mata harus tertahan tak boleh jatuh untuk menandakan betapa sayangnya diriku padanya.
Betapa bahagianya melihat ia memakai gaun pernikahan yang elegant ditambah di saat ia tersenyum selalu membuat hatiku merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dirangkai dengan kata-kata.

Sudah tiba saatnya ia melangkah keluar dari rumah kecilku dan merakit sebuah keluarga kecil dengan lelaki idamannya. Meski sesekali ia menelepon diriku dari kejauhan, tapi sangat tidak bisa menggantikan waktuku kala bermain bersamanya. Kehidupanku telah kembali seperti semula, berteman sepi dengan waktu.
Meski tidak takut akan pengeluaran yang ditanggung penuh oleh anakku. Tapi yang kubutuhkan adalah senyum manjanya ketika ia kugendong bermain di taman. Melihatnya bahagia bersama pasangannya sudah cukup untukku.

‘sayangilah suamimu layaknya kau menyayangiku, putriku’ ucapku terakhir sedang bertelepon dengannya. Kini sudah saatnya kuserahkan sisa hidupku untuk sang maha pencipta.

“Semoga kau selalu bahagia anakku.”

Cerpen Karangan: Awen Wu
Blog: awen-id.blogspot.com

Cerpen Berteman Sepi Menjadikanku Kuat Akan Keterpurukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Si Anak Yatim Memiliki Ayah

Oleh:
Bel istirahat berbunyi. Setiap penghuni kelas pergi keluar untuk melakukan kegiatan mereka; membeli makanan, memakan bekal atau hanya sekedar berjalan-jalan keliling sekolah mencari angin segar. “ke WC yuk!” ajak

Daisy Putih (Part 2)

Oleh:
Sudah seminggu lamanya semenjak hari pertama kedatangan Daisy ke rumah ini. Tapi kedua orangtuanya yang katanya akan menyusul tak kunjung tiba juga. Memang, waktu itu Daisy telah menjelaskan alasan

Pesan Terakhir

Oleh:
“Mentari mau kemana? Tolongin Bunda ya, antarin kue ke rumah bu Fahimah. Tau kan sayang?” “Aduh, suruh Tito aja ya Bun. Tari buru-buru ada les privat di kafe. Minta

The Father

Oleh:
“kak… pesan beliau, ia ingin kau yang memandikannya!” suara lirih dengan isak tangis berdenging-denging di telinga Daffa, sesekali dalam lamunannya ia tampak kesal, marah, jengkel, dan ia pun mengacak-acak

Bunda Kembalilah

Oleh:
Tidak terasa 14 hari berlalu. Masih ku ingat jelas bagaimana aku menangisi jenazah Ibuku yang tak berdaya. Masih teringat jelas perkataan terakhir yang beliau ucapkan. Beliau mengingatkanku untuk tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *