Bertumpu Pada Diri Sendiri Atau Orang Lain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 July 2017

Erinda memperhatikan ayahnya yang sedang mengeluarkan kata-kata. Gadis itu memperhatikan sang ayah, memahami kata per kata yang ayahnya ucapkan. “Hidup itu bertumpu pada dirimu sendiri!” ucap ayah erinda dengan suara pelannya namun disertai dengan tekanan. “Benar yah, tapi apa salahku jika aku meminta kakak membantu mengisi tugasku?” Tanya erinda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Erinda, gadis yang duduk di bangku kelas X di salah satu SMA di kota angin Majalengka. Erinda itu berbeda dengan anisa, kakak kembarnya. Tugas dari sekolahnya selalu ia limpahkan pada kakaknya, jika kakaknya tidak ingin membantu ia akan berkata “aku bodoh, berbeda denganmu. Aku hanya meminta bantuan, tolonglah kak!” Itu membuat hati anisa luluh seketika jika erinda berkata kalau mereka berbeda.

Ibu nina sedang berkata-kata pada suaminya. “Semua orang berbeda, tak ada yang akan baik-baik saja bila terus dibandingkan!” ucap ibu nina, ibu dari erinda dan anisa. “Benar, tapi aku hanya khawatir perbedaan sebenarnya malah membuat erinda terbebani” jawab suaminya.

Erinda sedang memandangi nilai rapornya. “Bukankah aku dan kak anisa kembar, tapi mengapa kami berbeda.. dia rangking satu, sedangkan aku masuk sepuluh besar pun tidak” Dia berkata sendiri. Bibirnya bergetar menahan tangisan yang telah membuat matanya beraca-kaca. “Benar bukan yah, jiga kakak tak lagi menjadi tumpuanku, dampaknya akan seperti ini” Ucapnya kemudian.

Seseorang membuka perlahan pintu kamar erinda yang terbuat dari kayu. Dia menggerakkan pintu itu selembut-lembutnya agar tak timbul suara. “Inilah yang ayah takutkan, kau kaget dengan kenyataan berbeda yang ada pada dirimu dan kakakmu jika kamu terus bertumpu padanya” ucapnya yang memandang gadis yang tengah berdiri menghadap jendela. Dia menutup pintunya secara perlahan pula, agar anak gadisnya tak bisa mendengar suara yang timbul dari pintu itu.

“Kau anak yang baik, sama seperti kakakmu. Kau juga anak shalehah sama seperti kakakmu” ucap ibu nina yang mengusap kepala anak gadisnya yang tengah menangis di tepi ranjang. Ibu nina sangat berharap kalau anak keduanya itu tak merasa berbeda dengan kakaknya. Erinda hanya diam, tak bisa menghentikan tangisan yang membuat matanya sembab. “Tapi aku tak pintar seperti kakak bu” balasnya kemudian yang menengok ke arah ibunya.

“Sudahlah dek, ini hanya soal rangking kau tak perlu khawatir tentang masa depanmu…” ucap anisa yang mengusap pipi adiknya yang tak kunjung kering. “Aku selalu bertumpu padamu kak, jadi ketika kau tak membantu tak ada namaku yang tertulis” jawab erinda yang merendahkan nada tangisnya. “Ayolah dek, kau bisa memperbaikinya.. kau hanya perlu belajar lebih giat lagi” jawab anisa yang merangkul adiknya. “Ya kak, aku mulai berfikir hal yang sama dengan ayah” ucap erinda kemudian yang memiringkan kepalanya menuju pundak kakaknya. Sedikitnya rasa sesal Dan kesal yang mumuncak ada pada diri erinda mulai berkurang.

Erinda benar-benar salah, dia terus bertumpu pada kakaknya sejak SD hingga SMP. Dikandung di rahim yang sama dan pada waktu bersamaan tak membuat erinda mempunyai kecerdasan yang sama seperti anisa. Sehingga ibunya memustuskan untuk anisa sekolah setahun lebih dulu dari erinda agar bisa membantu adiknya.

Benar yang pak wildan katakan, kalau erinda tak harus disuapi sepanjang hidupnya. Dia akan sukses dengan dirinya, tanpa anisa pun. Semenjak erinda mengerti apa yang ayahnya katakan dari dulu itu benar, dia mulai menurutinya. Walau tak lagi menadapat rangking seperti anisa, tapi satu bidang telah ia mampu untuk menumbuhkannya. Erinda tak merindukan nilainya yang selalu bagus, karena itu semua adalah berkat kakaknya yang selalu memberitahu tentang tugasnya, bahkan pernah beberapa kali mewakili ujian erinda hanya untuk sekedar mendapat nilai yang bagus.

Semuanya kini telah baik-baik saja, hidup erinda tak lagi bertumpu pada saudara kembarnya, dia memilih bertumpu pada dirinya sendiri

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Bertumpu Pada Diri Sendiri Atau Orang Lain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bodoh

Oleh:
Hidup ini memang dipenuhi kebodohan. Orang yang merasa dirinya pandai, dialah yang sebetulnya orang bodoh. Pagi ini misa berangkat ke kampus dengan wajah lesu. Tadi sebelum berangkat ke kampus

Romantic Love From SulTeng

Oleh:
Aku sedang berjalan di antara kerumunan siswa-siswa lain yang ingin mengetahui bahwa mereka lulus atau tidak. Tahun ini aku sudah akan lulus dari sekolah menengah pertama. Dan saat ini

Anugerah Dari Hujan

Oleh:
Hujan. Siapa sih yang gak tau salah satu siklus alam ini? Dari dulu hingga sekarang hujan akan selalu ada. Tentang akibat dari hujan, pastilah banjir di mana-mana. Genangan air

Aku Menyayangimu Kak (Part 2)

Oleh:
Kak Nico basah kuyup pulang sekolah hari ini karena kehujanan. Andai ia tidak bermain lebih dulu bersama teman-temannya pasti ia bisa pulang tanpa kehujanan. Ia melepar dengan asal sepatu

Suffering

Oleh:
Malam berbalut mendung menjadi saksi buta sebuah perjalanan sesosok gadis kecil yang masih setia berjalan di atas trotoar jalanan tanpa alas kakinya.. Gadis yang mungkin masih berusia 10 tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *