Biarkan Aku Bermain Bola

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 May 2016

Aku bernama Putra Alfizar. Panggil saja putra. Aku duduk di kelas 2 SMP. Aku sangat hobi bermain sepak bola hingga aku ikut ekstrakulikuler futsal di sekolahku. Namun aku ikut tanpa diketahui oleh kedua orangtuaku. Hal ini disebabkan aku dilarang untuk bermain bola oleh ayahku. Alasannya adalah ayahku ingin menjadikan aku sebagai penerus cita-cita ayahku yaitu sebagai polisi. Pada suatu hari, aku baru saja pulang dari berlatih main bola. Pada saat itu ayahku sedang berada di teras tengah menunggu kepulanganku.

“Aduh, Ayah ada di teras lagi.” Ucapku dalam hati. “Assalamualaikum.” Ucapku.
“Waalaikumsalam. Dari mana kamu?” Tanya ayahku.
“Dari rumah temen Yah.” Jawabku.
“Bener dari rumah temen?” Tanya ayah dengan sedikit sinis.
“Bener.” Jawabku lagi.

“Kalau dari rumah temen, kenapa tadi Ayah lihat kamu berada di sekolah?” Tanya ayah sedikit mendesak.
“Aduh, bikin alesan apa lagi ya.” Ucap batinku. “Itu.. Anu.” Ucapku sedikit gugup.
“Anu apa?” Tanya ayahku.
“Anu ngerjain tugas kelompok.” Jawabku deg-degan.
“Masa ngerjain tugas kelompok sambil main bola.” Ucap ayahku yang membuat aku semakin panik.

“Jangan-jangan tadi Ayah lihat lagi aku latihan main bola. Aduh gimana ya? Jujur aja deh.” Ucap batinku.
“Oke.. Jujur, aku abis latihan main bola.” Seruku.
“Sudah Ayah duga. Kamu telah melanggar peraturan Ayah!!” Gertak ayah sambil terbangun dari duduknya.
“Iya, Yah aku tahu. Tapi aku tak bisa meninggalkan sepak bola.” Jawabku.
“Kenapa?!!” Tanya ayahku.
“Karena sepak bola telah mendarah daging denganku. Dan sepak bola juga sudah menjadi cita-citaku.” Jawabku dengan rasa takut.
“Ayah mau kamu menjadi seorang polisi bukan pemain sepak bola!!” Amarah ayahku mulai keluar hingga membuat aku panik. Di saat itu juga ibuku ke luar dari rumah.

“Ini ada apa sih ribut-ribut?” Tanya ibuku.
“Ini anakmu ini sudah melanggar peraturanku. Ayah melihat dia bermain bola di sekolahnya.” Jelas ayahku.
“Emang apa salahnya kalau dia bermain bola?” Tanya ibuku.
“Kan Ibu tahu. Ayah tidak ingin si Putra menjadi pesepak bola, melainkan menjadi seorang polisi.” Jelas ayahku lagi.
“Putra cepat masuk, setelah itu mandi.” Ucap ibuku.
“Iya Bu.” Jawabku.

“Ayah jangan marah-marah begitu dong.” Ucap ibuku.
“Memang kenapa?” Tanya ayahku.
“Malu sama tetangga.” Jawab ibuku.
“Biarkan saja, biar si Putra tahu bagaimana rasanya malu.” Jawab ayahku.
Lalu ayahku langsung masuk ke dalam rumah.

Keesokan harinya.
“Yah, Bu Putra berangkat sekolah dulu ya.” Ucapku.
“Iya hati-hati.” Jawab kedua orang tuaku.
Sesampainya di sekolah
“Putra.” Teriak Ferdi dari kejauhan. Aku pun langsung menghampirinya.
“Kenapa Fer?” Tanyaku.
“Gak ada apa-apa. Aku cuma mau kasih tahu nanti siang sepulang sekolah ada pertandingan semi final olimpiade futsal antar sekolah. Kamu bisa ikut kan?” Ucapnya.
“Iya.. Insya Allah aku ikut.” Jawabku.

Aku pun langsung pergi ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Setelah pulang sekolah aku pun ke lapangan untuk bertanding. Namun aku berpikir, “Bagaimana kalau Ayahku tahu?” Namun aku tak menghiraukan itu. Tak lama kemudian pertandingan pun dimulai. Sekitar 25 menit babak pertama berlangsung. Namun, aku tidak bisa berkonsentrasi penuh karena takut ketahuan oleh ayahku. Ternyata di rumah, kedua orangtuaku sedang mengkhawatirkanku.

“Bu, si Putra ke mana? Kok jam segini belum pulang.” Ucap ayahku.
“Gak tahu Yah.” Jawab ibuku.
“Ya udah entar kalau pulang kasih tahu Ayah ya. Ayah mau ke pasar dulu.” Pamit ayahku.
“Iya Yah. Hati-hati.” Jawab ibuku.
Seperti yang ku khawatirkan, ternyata ayahku melewati lapangan tempatku bertanding.

“Mas, ini ada apa ya rame-rame?” Tanya ayahku.
“Ada pertandingan semi final olimpiade futsal antar sekolah.” Jawab salah seorang penonton.
“Permisi.” Ucap ayahku sambil melangkah ke depan. “Oh, ternyata kau ikut juga, awas kau Putra.” Ucap ayahku dalam hati.
Ayahku langsung meninggalkan lapangan dan kembali ke rumah.
“Ke pasar kok cepet banget Yah.” Ucap ibuku karena heran.
“Gak jadi.” Jawab ayahku.
Setelah pertandingan selesai, aku pun segera bergegas menuju rumah dengan hati ragu-ragu.

“Assalamualaikum.” Ucapku.
“Waalaikumsallam.” Jawab kedua orang tuaku.
“Putra, kamu sudah berani melawan Ayah ya!” Ucap ayahku sembari menjewer kupingku.
“A..a..ampun Yah.” Ucap ku terbata-bata.
“Untuk hukumannya kamu Ayah kurung di gudang selama tiga hari.” Ucap ayahku.
“Yah, jangan Yah. Dia masih terlalu muda.” Seru ibuku.
Brak! suara terdengar ketika aku dilempar dan menghantam tumpukan kardus. Dan seketika itu pula pintu ditutup dan dikunci.

“Yah, udah Yah. Lepasin Putra.” Ucap ibuku.
“Ibu ini gimana sih? Kok malah membela Putra yang sudah jelas melanggar peraturan.” Tanya ayahku.
“Aku kasihan Yah. Melihat di–” Ucapan ibuku terpotong.
“Ahh.. Sudah biarkan saja dia!” Seru ayahku. Ayahku pun langsung meninggalkan ibu.
“Putra, kamu tidak apa-apa?” Tanya ibuku dari luar pintu.
“Gak apa-apa Bu.” Jawabku.
“Terus gimana nih Bu? Besok aku ada pertandingan futsal, final lagi. Gimana nih Bu?” Ucapku.
“Tunggu ya. Ibu cari jalan ke luar dulu.” Ujar ibuku.

Ibuku terus mencari jalan ke luar agar aku bisa bebas dari gudang. Hingga keesokan harinya, ketika ayah akan pergi ke suatu tempat, ayah menitipkan kuncinya ke ibu. Pada saat itulah ibu membukakan pintu gudang.
“Bu, Ayah mau pergi dulu. Jaga rumah dengan baik ya.” Pesan ayahku.
“Iya Yah.” Jawab ibuku.
“Nah kesempatan nih buat ngebebasin Putra dari gudang.” Ucap batin ibuku.

Tak perlu waktu lama untuk membuka pintu gudang. Dan saat itu juga aku bersiap-siap untuk pergi ke tempat pertandingan. Pertandingan ini juga pertandingan yang spesial karena pertandingan ini disiarkan di TV secara langsung. Setelah sarapan, aku pun langsung pergi meninggalkan rumah. Tapi apa daya ayahku kembali lagi. Aku pun panik. Namun ibu berkata, “Cepat keluar lewat pintu belakang.” Aku pun nurut saja.

“Ibu, kenapa pintu gudang terbuka?” Tanya ayahku. Namun ibu diam saja.
“Pasti Ibu melepaskan anak itu. Iya kan?” Seru ayahku.
“Ahh.. Sial!” Kesal ayahku.

Di perjalanan aku bingung ingin ke tempat pertandingan naik apa. Sedangkan aku sudah telat. Pertandingan kali ini buka di lapangan. Melainkan di Gelora Olah Raga. Seketika itu juga ada mobil bak lewat. Dan aku memberhentikannya.

“Bang, bang. Berhenti bang.” Seruku.
“Iya dek kenapa?” Tanya sopir mobil bak tersebut.
“Abang mau ke mana?” Tanyaku.
“Mau ke GOR.. Nganterin aqua buat para pemain futsal.” Jawabnya.
“Kebetulan bang saya juga mau ke sana.” Ucapku.
“Ya udah ayo bareng.” Ujar sopir mobil bak.
“Iya bang.” Jawabku dengan perasaan senang.

Di GOR
“Duh.. Mana sih si Putra?” Ucap pelatihku.
“Tunggu aja sebentar lagi juga datang.” Jawab Ferdi.
“Pertandingan akan segera dimulai. Dipersilahkan kedua tim untuk memasuki lapangan.” Ucap panitia.
“Pak pelatih, gimana nih? Putra belum datang.” Ucap Ferdi resah.
“Ya sudah, cepat kamu ke lapangan saja semoga Putra datang tepat waktu.” Jawab pelatih.

Di samping itu, aku yang tengah terburu-buru langsung mengganti pakaian di ruang ganti. Perlu waktu cukup lama karena aku harus memakai sepatu.
“Ke mana pemain satu lagi?” Tanya wasit.
“Belum datang Pak.” Jawab Ferdi.
“Pak tolong hitung mundur sepuluh detik, jika pemain belum datang juga, maka tim Putra akan dinyatakan kalah.” Ucap Wasit.
“Oke.” Jawab panitia.

“Kita hitung sepuluh detik, jika pemain dari tim Putra belum datang maka akan dinyatakan kalah, sepuluh, sembilan, delapan, tujuh,….” Ucap panitia.
“Ok udah siap semuanya.” ucapku. Aku pun langsung berlari menuju lapangan.
“Tiga, dua.” ucap panitia.
“Tunggu!!!” Seruku.
“Ya.. Sepertinya sudah datang orang yang kami tunggu-tunggu. Silakan dimulai.” Ucap Panitia.
Pertandingan pun dimulai. Dan semua pemain berusaha sekuat mungkin.

“Yah, coba lihat deh.” Ucap ibuku.
“Apaan?” Tanya ayahku.
“Itu anak kita Putra masuk TV.” Seru ibuku.
“Masih aja tuh anak nekat main bola.” Ucap ayahku.
“Biarin lah Yah.” Ucap ibuku. “Ya udah sini nonton aja.” Ucap ibuku lagi.

Prittt, pritt suara peluit panjang mulai terdengar pertanda pertandingan telah selesai. Tak lama kemudian, panitia mengumumkan siapa pemenang pertandingan final olimpiade futsal antar sekolah. “Kita sudah sampai di penghujung acara yaitu dimana kita akan mengetahui siapa pemenangnya. Dan pemenangnya adalah Tim Putra!! Silakan pemain dari tim Putra untuk mengambil hadiah dan pialanya!!” Seru panitia. “Yeeaahhh.” Teriak suporter dari sekolahku kegirangan. Setelah kami mendapat hadiah dan piala, kami pun kembali ke rumah masing-masing. Saat itu aku membawa pulang pialanya. Sebenarnya pialanya untuk sekolah. Tapi aku mendapat 1 piala lagi dengan bertuliskan pemain paling hebat di olimpiade. Sesampainya di rumah.

“Assalamualaikum.” Ucapku.
“Waalaikumsalam.” Saut kedua orang tuaku.
“Ayah, Ibu.. Aku menang olimpiade terus dapat piala lagi.” Ucapku senang.
“Selamat Nak, Ibu bangga sama kamu.” Ucap ibuku. Namun di sisi lain ayahku merasa sangat marah. Ayahku pun menghampiriku.
“Coba sini lihat pialanya.” Pinta ayahku. Aku pun menurutinya.

Prang! sontak aku dan ibuku kaget.

“Ayah, kenapa dibanting pialanya?” Tanyaku kaget.
“Ayah tidak suka kalau kamu menerima piala, apalagi piala yang berhubungan dengan main futsal ataupun bola.” Bentak ayahku. Setelah kejadian itu, aku mulai berhenti bermain bola. Untuk menggantinya aku membantu ibu di warung. Di suatu saat, aku sedang ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tiba-tiba datang banyak orang. Sepertinya orang tersebut berasal dari salah satu media cetak.

“Pak mau tanya rumah anak yang bernama Putra Alfizar di mana ya?” Tanya seseorang dari mereka.
“Saya Ayahnya, kenapa?” Tanya ayahku.
“Begini, kami dari produser salah satu media cetak. Kami ingin meliput Putra Alfizar yang memenangkan lomba olimpiade kemarin.” Jelasnya.
“Meliput?” Ayahku heran.
“Sebentar saya panggil dulu anaknya.” Ucap ayahku.
“Putra, Putra!!” Teriak ayahku.
“Kenapa Yah?” Tanyaku.
“Itu, ada produser media cetak mau meliput kamu.” Jawab ayahku.
“Produser Media cetak?” Aku merasa heran.
Setelah bertemu dengan orang dari media cetak, aku kembali ke dalam rumah. Di dalam rumah aku sempat punya firasat bahwa aku akan menjadi terkenal.

“Putra!” Panggil ayahku.
“Iya Yah, kenapa?” Jawabku sambil mengambil air minum.
“Ayah merasa bangga sama kamu, selain menjadi juara, kamu juga diliput oleh media cetak. Dan Ayah minta maaf kalau Ayah pernah kasar sama kamu.” Ucap ayahku.
“Ngga apa-apa Yah.” Jawabku singkat.
“Dan sebagai gantinya Ayah memperbolehkan kamu bermain bola.” Ucap ayah.
“Bener Yah?” Tanyaku dengan perasaan senang.
“Iya.” Jawab ayahku.
Setelah itu aku berpelukan dengan ayahku. Dan setelah kejadian itu aku mempunyai tekad dan cita-cita menjadi seorang pemain bola yang profesional.

TAMAT

Cerpen Karangan: Wildan Musthofa
Facebook: Wildan Musthofa

Cerpen Biarkan Aku Bermain Bola merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fall in You (Part 2)

Oleh:
“Fay, ayo nyari kayu bakar” Panggil Fito “Mmm, Fayra nyari kayu bakar sama gue” Ucap Kak Dimas tiba-tiba. Maksudnya, aku akan mencari kayu bakar bersama dia? Oh, sudah pasti

Love Me?

Oleh:
Namanya Riza, anak kelas X-3 di SMA Harapan Bangsa. Cowok paling cool dan ganteng, meskipun masih kelas X namun pesonanya mengalahkan pesona kakak kelas. Dia paling sering dibicarakan oleh

Ombak Di Masa Lalu (Part 1)

Oleh:
– Pertama Kali Desiran angin menghantam raga sekaligus jiwa ini, tepat di senja sore sekitar jam 5 di hari sabtu, aku yang mengantar Soffi pulang ke rumahnya sehabis berjalan-jalan

Baper Tingkat Dewa

Oleh:
Berawal dari gue nemenin sahabat gue, Ema, ke tempat pacarnya, Setiawan untuk yang pertama kalinya. Gue dateng ke sana tujuannya cuma nemenin Ema. Ehh, gak taunya di sana ada

Gadis Kecilmu

Oleh:
Mama aku rindu. Perasaan itu aku rasakan seumur hidup aku, allah lebih sayang mama sehingga beliau dipanggil begitu cepat, meninggalkan aku dan ayahku. Sejak aku berumur 5 bulan mama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *