Biarkan Aku dan Jalanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 October 2018

Waktu kelahiran putri ke dua kak Kiya dari pernikahan kedua kak Kiya. Fahimalah yang ada di sisi kak Kiya. Karena yang saat itu ada di rumah hanya Fahima dan kak Kiya. Seperti biasa Fahima menggambar di kamar atas dan ditemani kak Kiya

Selama di rumah sakit Fahima selalu menunggu di sebelah kakak kesayangannya itu. Setelah waktu sore semua orang berkumpulan, mulai datang kakak ipar, umi abi, lalu disusul kak Balqis. Mereka bercakap seru sedang Fahima hanya diam di sofa sambil menggambar.

Suatu hari Fahima yang merasa bosan dan pergilah Fahima ke taman belakang karena banyak kucing di sana. Berjalan melewati lorong lorong hingga tibalah Fahima di ujung lorong. Terdapat satu kamar umum, Sriwijaya nama ruangan tersebut. Fahima melewati ruang sriwijaya karena berbatasan langsung dengan taman belakang. Dari kejauhan Fahima melihat ada pasien baru datang dan ditempatkan di ruangan sriwijaya yang sepertinya tak asing dengan wajah pasien baru itu. Wajah yang berlumur darah belum sempat dibersihkan. Juga bukan wajah orang lokal. Itulah yang dilihat Fahima, sempat terhenti karena melihatnya, dan tak sengaja pun pria itu melihat ke arah Fahima.
Berniat untuk memastikan, Fahima mengeluarkan suara batuk “ehm”. Sejenak terdiam dalam lamunan
“untuk apa juga aku seperti ini, gak mungkin itu dia. Mikir apa sih aku ini”
kemudian ia berlalu dari ruangan itu menuju taman. Nampak seorang adik kecil dengan beberapa anak kucing dan satu induk kucing, Fahima duduk di dekat adik kecil itu dan ikut memberi minum untuk anak kucing.

Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari dalam ruangan Sriwijaya. Terlihat seorang suster yang menanyai setiap perempuan yang ada di rungan itu. Fahima yang sedari tadi bersama anak kucing dan adik kecil, tak jarang candaan pun keluar dari mulut Fahima. Sedang di dalam ruang Sriwijaya sibuk mencari perempuan yang dimaksud si pasien. Hingga akhirnya perempuan terakhir di sekitar ruang adalah Fahima, dipanggilah Fahima oleh salah seorang perawat. Fahima mengiyakan permintaan suster itu, berlalulah Fahima menemui pasien itu. Seorang pria bule berambut pirang dan berkulit coklat gelap akibat sinar matahari. Dari kejauhan Fahima dan pasien itu saling menatap,

Suster menanyai “apa ini wanita itu?”
“bukan!” jawab pria itu ketus
“ya sudah” Fahima sambil melangkah menjauh satu langkah
“iya itu sus yang aku cari” kata pria itu
Benar yang dilihat Fahima saat itu adalah Airic, teman Fahima saat di Bali untuk melihat pagelaran seni lukis kala itu bersama Tari dan Jelita.
“how’s life?” Airic memulai percakapan
“i’m ok. how about u?”
“what did u think?”
“not ok”
“please temani aku, aku sendiri di sini” pinta Airic
“oke, tapi setelah aku nemui kak Kiya aku baru ke kamu, it’s ok for u?”
“oke Fahim, janji ya?”

Setiap usai menemui kakaknya, Fahima menjaga dan menemani Airic. Mereka saling becanda dengan pasien lain yang juga satu ruangan dengan Airic. Setiap menjenguk Airic, Fahima selalu membawakan makanan atau sekedar camilan untuk Airic maupun pasien lain dan keluarganya. Kurang lebih tiga hari telah berlalu. Kondisi Airic semkain membaik. Sedang kak Kiya sudah keluar rumah sakit sejak sehari yang lalu. Abi mulai curiga Fahima yang sering menghabiskan waktu di kamar, kini sering berada di luar rumah.

Pagi nanti pukul 9.00 am Airic sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, Fahima yang sedang membatu Airic merapikan pakaian tiba-tiba ada kak Balqis datang dan mengatakan bahwa ponakan tersayang Fahima jatuh sakit. Sontak saja Fahima pamit pulang pada Airic dan menyuruhnya untuk menemuinya di pintu masuk desa.

Tak disangka, sesampainya Fahima di rumah ternyata ada persiapan pesta pertunangan oerjodohan kak Balqis, hanya terdiam di depan pintu tak menyangka. Padahal Fahima sangat khawatir dengan kondisi keponakan tersayangnya. Dalam diam, Umi menghampiri Fahima lalu menyuruhnya membersihkan tubuh dan memakai baju yang telah disiapkan.

Datanglah keluarga pria yang ternyata itu pria yang di kagumi Fahima dan sekarang ada di hadapan Fahima yang akan dijodohkan dengan kak Balqis. Kaget tak karuan bercampur aduk rasa hati Fahima saat melihat kenyataan pahit itu.

“kenapa kau melihat laki-laki itu dengan begitu?” tanya kakak ipar menggoda,
“ini tak adil. Kenapa selalu kak Balqis, selalu kak Balqis mendapatkan segalanya. Apa aku tak pantas dengan laki-laki yang seperti itu. Apa aku hanya pantas dengan laki-laki brandal saja? Abi… kenapa abi hanya sayang sama kak Balqis” batin Fahima sambil melihat ke arah laki-laki itu.
“sudahlah Fahima, kamu jangan berharap lebih. Berkacalah, kamu akan dapat jodoh yang sama sepertimu” tambah kakak iparnya
Sedangkan Fahima hanya diam sambil menoleh ke arah kakak iparnya itu.

Tiba-tiba ada abdi keluarga menghampiri Fahima
“mba Fahima, ada pria bule mencari mba”
“di mana bu?”
“ada di gerbang depan”
Fahima pergi untuk menemui pria bule itu.

“kamu tidak menepati janjimu. aku sudah menunggumu, tapi kamu tak datang”
“iya maaf, aku lupa…, sudahlah ini bukan waktu yang tepat. Kamu pergi ke desa Pungging sebrang perkebunan kelapa ini. Temui sahabatku namaya Tari dan Jelita, nanti aku susul kamu. Tapi aku tak tau kapan”. pesan Fahima kepada Airic
“tapi Fahim… ”
“sudahlah pergi cepat, pasti aku akan menemuimui”.
Airic pun pergi ke tempat yang dimaksud Fahima

Sebulan telah berlalu, tibalah giliran perjodohan Fahima. Meski seringkali Fahima menolak untuk dijodohkan, karena Fahima masih belum bisa menghilangkan perasaannya pada laki-laki yang kini menjadi suami kak Balqis. Waktu semakin menghimpit Fahima. Saat itu Fahima yang sudah berdandan rapi dengan mengenakan hijab dan pakaian serba putih dihari perjodohannya itu.

Fahima yang tak menginginkan perjodohan itu memutuskan untuk meninggalkan rumah. Tujuan Fahima hanya satu yaitu pergi ke rumah gubug yang kecil milik Tari dan Jelita

Tari yang sedang membersihkan halaman terkejut dengan kehadiran seorang perempuan menggunakan pakaian putih lusuh, meski lusuh tampak wajah manis yang sepertianya ia kenal.
“Tari, kenapa kamu bengong?”
Tari hanya terdiam sambil melihat dari atas ke bawah
“ini aku Fahima, aku tak punya banyak waktu. mana Jelita?”
“ada di dalam”
“Airic?”
“si bule maksudmu? Ada di dalam. sepertinya dia sangat merindukanmu. Sudah dua hari ini dia susah sekali disuruh makan”

Tari menunjukkan keberadaan Airic yang sedang bersandar di atas tempat tidur kayu. Fahima hanya melihat ke arah Airic dengan rasa bersalah. Tak membuang waktu Fahima langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti. Tari yang sudah menunggu di depan kamar mandi dan Jelita di dalam rumah mempersiapkan baju untuk Fahima, setelah berganti pakaian Fahima menemui Airic. Senang bukan kepalang Airic bertemu dengan Fahima. Dipeluknya erat Fahima oleh Airic.

Keesokan harinya Kakak ipar mencari Fahima di tempat sahabatnya Tari dan Jelita. Dari dalam rumah Fahima melihat kedatangan mobil jeep warna hitam milik kakak iparnya. Tak membuang waktu Fahima keluar lewat pintu belakang bersama Airic, Tari, dan Jelita menuju hutan.

Empat hari telah berlalu. Kondisi Fahima tak baik, sepertinya ia mengalami demam. Sesampainya di kota mereka melihat poster wajah Fahima. Semua yang khawatir akan keadaan Fahima mereka langsung menuju tempat praktek dokter terdekat. Namun Fahima melarang karena ia tau pasti dokterpun mengenali wajah Fahima. Yang akhirnya akan dihubungkan dengan keluarganya di desa. Untuk menghindari itu Airic memberi saran kepada Tari untuk pergi ke apotek membeli obat demam. Tari pun melakukan saran Airic, ia pergi ke apotek terdekat. Setelah meminum obatnya, bukan membaik malah semakin parah. Fahima dalam kondisi sakit memutuskan untuk menelepon abi di desa menggunakan telepon umum.

Agar tak menarik perhatian banyak orang, Fahima yang ditemani Airic menuju telepon umum itu. Ia masukkan koin 500 ke dalamnya. Ia masukkan nomor rumah.
“Asslamau’alaikum Abi, ini Fahima”
Setelah mendengar kata Fahima langsung kakak ipar meminta Abi untuk meloudspeaker.
“aku tau pasti kakak ipar juga ada. Aku juga tau yang memasang poster itu pun kakak. Kak, aku minta kakak membuat pernyataan bahwa aku sudah pulang” terdengar suaran Fahima yang kesakitan meski jelas artikulasinya.
“kenapa aku harus menuruti katamu, kau pasti akan mudah kabur kalau aku copot poster itu”
“kak, aku sakit. Kalau aku nunggu kalian jangankan besok sebentar lagi aku sudah tiada”
“kalau kau mau ke dokter, ya ke dokter saja. Malah enak gak bakal keluar uang kau dik.”
“ya sudah kalau aku kembali tinggal nama itu karna kakak. Bilangkan saja buat semua selamat tinggal”
Umi yang tau betul watak keras Fahima dan meminta agar menuruti kata Fahima

Sejam kemudian ada siaran pernyataan bahwa Fahima sudah pulang dan poster itu sudah tidak berlaku lagi.
“bukakah kamu Fahima, katanya sudah diketemukan tapi kok ada di sini” tanya dokter itu sambil memeriksa kondisi Fahima
“iya dok, sudah kemarin. ini tadi ada barang yang perlu dibeli. Eh di jalan malah sakit” jawab Fahima
“oh iya ini resep yang perlu kalian tebus” kata doker kepada Tari

Tari dan Jelita pergi untuk menebus obat, sedangkan Airic menemani Fahima. Usai menebus obat pergilah Fahima dan kawan-kawan, kira-kira pukul 2 siang mereka pergi.
Dengan uang seadanya mereka melanjutkan perjalanan menuju pulau Bali, di sana mereka akan menemui teman Airic.

Hampir enam bulan mereka berada di Pulau Bali. Tari dan Jelita bekerja sebagai pelayan di sebuah restourant milik kerabat Airic yang menikahi gadis Bali, sedangkan Fahima melukis dan mendesain baju dan bekera di sebuah butik lokal. Dan Airic menjadi fotografer alam tak jarang Airic memoto gaun rancangan Fahima. Lalu mengirim ke beberapa ajang fashionshow.

Tiga kemudian, sampailah di puncak kesuksesan Fahima, Fahima yang saat itu mengadakan pameran gaun tunggalnya di New York. Fahima yang saat itu berada di belakang panggung dikejutkan dengan kedatangan keluarganya. Umi yang sangat merindui putrinya itu langsung memeluk Fahima dengan erat.

“pulanglah nak, abi tak akan memaksakanmu lagi dalam perjodohan. Kamu boleh memilih siapa yang tepat untukmu” abi meminta
“umi, bangga melihatmu dapat menggapai cita-citamu ini nak, umi sayang, umi rindu. pulanglah bersama kami” pinta umi
“iya umi, abi. Fahima akan pulang, bersama calon suami Fahima. Bolehkan abi?” Fahima menoleh kepada Airic
Abi yang terharu dan mengiyakan permintaan Fahima dan merestui. Sedangkan Airic hanya terdiam tak percaya dengan yang dikatakan Fahima. Tiga bulan kemudian pernikahan Fahima dan Airic berlangsung di kampung halaman Fahima.

Cerpen Karangan: Fanisar Pradini (Fd)

Cerpen Biarkan Aku dan Jalanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku Sayang Mama

Oleh:
Namaku Tashya, umurku 15 tahun. Aku tinggal berdua bersama Mama. Papa dan Mama sudah bercerai 10 tahun yang lalu, aku ikut mama dan Maya (adikku) ikut Papa. *Ketika pulang

Penantian Itu Rasa Sakit

Oleh:
MALAM kembali menyapaku, menyapa aku yang lagi-lagi disini merasakan jemariku saling berkejaran. Ini rutinitasku, yah setidaknya aku lebih mempercayai benda mati tak bernyawa ini untuk menyimpan rahasia kecil yang

Halaman Baru Yang Meliputi Hujan

Oleh:
Matahari kian meninggi. Tidak terasa hari sudah beranjak, sekarang pukul 07:00 WIB membantu banyak pekerja di bumi yang semakin meningkat. Di antara ribuan serta milyaran orang yang memiliki masalah,

Ibu

Oleh:
Namaku Yesi Aliani Kristiani. Aku hanya memiliki Ibu sejak kelas 3 SD, semenjak Ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil setelah bermabuk-mabukan dengan teman-temannya. Sejak kecelakaan itu juga Ibu merawat, menjaga

Kak Alex, I Miss You

Oleh:
Aku harus melawan rasa ini dalam hatiku. Rasa yang bertolak belakang dengan pikiranku. Rasa rinduku hilang seketika setelah aku pulang ke daerah asalku. Aku bertemu dengan orangtua dan kedua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *