Biarkan Ku Kenang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 October 2013

“mah, aku berangkat dulu ya” ucap ku sambil mencium tangan mama ku
“iya nak, belajar yang rajin ya” balasnya halus sambil tersenyum
Aku mulai menaiki mobil avanza milik papa ku, yang sedari tadi menunggu di dalam mobil
“daaah mama” ucap ku saat sudah berada di dalam mobil sambil terus mengibaskan-ibaskan tangan-tangan ku ke arah mama ku yang masih berdiri di depan pintu sambil mengiringi kepergian ku #alah lebbay
“pa, nanti anterin aku ke toko buku ya” ucap ku memecah keheningan
“ke toko buku? maaf dek papa nanti ada meeting, sama mama aja ya!” ucap papa tampa menoleh ke arah ku.
“papa gak sayang sama aku, papa lebih sayang sama pekerjaan” gerutu ku dalam hati, wajah ku yang tadinya ceria kini mendung (walah tanda air bah mau dateng nih, bapak bapak ibu-ibu aku belum dapet jodoh nieh)
“Adek kenapa?” tanya orang yang tak lain adalah papa
Aku hanya menggeleng sambil terus memandangi aktifitas orang orang dari kaca bening mobil milik papa ku.

“teeet.. tettt” bunyi bel sekolah berbunyi hampir bersamaan dengan kedatangan ku
“pagi non” ucap orang yang tak lain adalah pak boim, dia bekerja sebagai tukang sapu di sekolah ku.
“pagi, pak, saya masuk dulu ya” ucap ku sambil bergegas masuk kelas
“semoga aja bu vina belum masuk kelas” batin ku

Sesampainya di kelas, pemandangan riuh piruh yang kudapat
“syukur lah bu. vina belum datang” batin ku sambil duduk di samping sahabat ku
Kenalkan namanya angel, dia sahabat ku yang selalu menjadi tong sampah semua curhatan, dan dia yang menjadi penceramah yang memberiku nasihat-nasihat dan dia yang menjadi penghibur ku dikala sedih.
“hei bell” sapanya kepadaku diiringi dengan senyum yang khas yang selalu ku temui setiap pagi.
“iya, ngel” balas ku sambil mengambil novel milik ustad felix siauw judulnya #UdahPutusinAja dari dalam tas batik yang kubeli kemarin yang pasti nya gak ditemani sama papa.

Seharian selama pelajaran berlangsung entah mengapa aku terus memikirkan mama, aku khawatir gerangan apa yang akan terjadi, ku harap ia akan baik baik saja. sepulang sekolah seperti biasa aku di jemput sama sopirku. Selama perjalan entah pak rahman terus cemberut tak seperti biasanya.
“Mungkin ia sedang patah hati kali ya (wallah ngawur)” pikir ku sambil sesekali ketawa cekikikan.
“non, udah sampe” ucap nya membuatku terkejut.
“iya makasih pak” ucap ku yang kemudian turun dari mobil.
“mama… aku pulang” ucap ku sambil melepaskan tas ku dan beranjak pergi ke dapur menghampiri mama, namun apa yang ku dapat.

“Untuk bella sayang, mama sekarang ada di surga. Jangan nangis ya, jangan susul papa ke pemakaman”
From papa

Butiran air mata mulai mengalir amat deras dari dua mata ku.
“kenapa mama, kenapa gak papa aja?” ucapku dalam hati sambil terus bertanya tanya
Aku segera berlari ke pos pak rahman. “pak… bapak kapan mama meninggal? kenapa bapak gak ngasih tau saya?, pak. Papa mana?” ucap ku panjang tak terputus putus..
“non yang sabar ya.. tadi setelah nyonya masuk rumah, asmannya kambuh. Tadi sempet dibawa ke rumah sakit tapi nyonya udah keburu meninggal, dan tuan fadel tadi masih di pemakaman” ucapnya
“ya udah pak anterin saya ke pemakaman” kataku sambil meyela air dari kedua mata ku
“baik, non” ucap nya sambil naik kedalam mobil

Aku tak tinggal diam aku langsung masuk mobil, dan tak lama kemudian pak rahman mulai melaju dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di pemakaman yang sepi aku hanya melihat papa ku seorang diri
Aku dan pak rahman segera mendekatinya.
“papa… papa..” ucap ku memanggil papa ku.
Namun aku tak mendapat jawaban apapun.. pak rahman segera mengangkat badan papa.. dannn…
“ASTAGFIRULLAH… PAPAAA… PAAAPAAA” reflek aku berteriak melihat perut papah berdarah… dengan pisau yang masih berada di perutnya..
“apa mungkin papa…” fikir ku dalam hati..
Pak rahman segera memeriksa denyut jantung papa.
“non.. papa masih hidup” kata pak rahman yang segera membopong papa ke dalam mobil
Tangis ku semakin tak beraturan…

Pak rahman segera melesat pergi kerumah sakit.
Di dalam mobil aku hanya bisa menangis berharap papa masih hidup.
Sesampainya di di rumah sakit papa segera di bawa masuk untuk diperiksa lebih lanjut, dan aku sama pak rahman menunggu di luar. Tak beberapa lama kemudian pak dokter keluar dari kamar papa.
“permisi pak, maaf kami sudah berusaha maksimal namun bapak itu banyak kehabisan darah, maafkan kami” ucap nya sambil membuka masker.
“paman taufik” ucap ku kaget
“bella sabar ya..” ucap nya
Segera ku peluk erat seorang dokter yang ternyata adalah paman ku.

Rencana nya setelah aku kehilangan dua orang tua ku aku bakal tinggal sama paman taufik di samarinda. Sebelum aku berangkat ke samarinda aku menyempatkan diri datang ke pemakaman papa mama ku..
Ku pandangi 2 gundukan tanah yang masih baru, ku taburi dengan bunga.. bunga dan ku sirami dengan sebotol air. Tak lupa ku berdoa untuk mereka berdoa.
“papa mama aku gak bakal ngelupain kalian berdua, aku sayang kalian berdua” ucap ku yang tak lama kemudian pergi dari kompleks pemakaman

Cerpen Karangan: Afifah Atthahirah
Facebook: Afifah Atthahirah & Afifah Aththiroh
kenalin nama ku Afifah atthahirah, lahir di singaraja 20 nofember 1998, kini aku sekolah di SMA MUHAMMADIYAH 2 SINGARAJA. aku duduk di kelas X.

Cerpen Biarkan Ku Kenang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah

Oleh:
Hujan dan bulan. Rumah selalu jadi tempat untuk menepi. Namun kini hanya ada atap dan ruang yang sunyi. Tempat yang mengerikan. Aku hanya tau sedikit kebahagiaan di dunia ini

My Last Best Friend

Oleh:
Bersahabat bukanlah hal yang mudah seperti apa yang kita bayangkan. Kenapa? Karena, satu sama lain harus saling menjaga perasaan dan kebersamaan di antara mereka. Namaku Angelia Vaira, dan aku

Lampu Ajaib

Oleh:
Suatu hari ada sebuah Keluarga bahagia, dan memiliki satu orang anak yang bernama Gendis. Gendis remaja pun sangat cantik namun karena suatu kecelakaan, Gendis harus merelakan kakinya di amputasi

Harta yang Paling Berharga

Oleh:
Malam ini. Detik ini. Aku sedang menatapi sebuah benda yang tengah kugenggam. Sembari duduk manis di sisi ranjang tidurku. Semakin dalam ku memandangi benda ini, tiba-tiba saja terlukis seberkas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Biarkan Ku Kenang”

  1. Arie says:

    Lumayan.
    Tp critanya sprt bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *