Bidadari Penyelamat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 January 2016

Wajah mungil dan polos. Begitulah aku melihat seorang anak perempuan yang tengah tertidur lelap di depan pandanganku. Wajah putih belum ternoda hitamnya dosa, sungguh pemandangan yang tenangkan jiwa. Meski kehadirannya sempat tidak diinginkan oleh yang lainnya, namun aku percaya dia tetaplah sebuah anugerah. Tidak terasa sudah enam tahun kami telah bersama lewati suka dan duka, berbagi setiap tangis dan canda tawa.

Enam tahun lalu, sebuah noda hitam hiasi warna hidupku. Sebuah noda dimana sang waktu pun tidak akan mampu menghapusnya. Enam tahun lalu, sebuah tangan iblis menjamah setiap inchi bagian tubuhku. Sekeras apa pun aku melawan, hasilnya sama, aku tetap kalah oleh sang iblis hingga akhirnya sebuah kehidupan baru muncul dalam diriku. Tapi, iblis tetaplah iblis. Adakah iblis yang dengan senang hati bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan? Seperti itulah kenyataan yang harus aku hadapi.

“Dalam perutku, ada anakmu.” Bicaraku pelan dengan butir air mata hiasi wajahku.
“Maksudmu?” Tanya seorang laki-laki di hadapanku.
“Aku mengandung anakmu.”

Seketika keadaan berubah menjadi hening. Beberapa saat laki-laki yang aku kenal bernama Romi hanya mampu melihatku dengan mata terbuka sangat lebar selaras dengan kedua bibirnya. Aku sendiri pun tidak tahu harus bagaimana. Sebagian diriku merasa malu atas apa yang terjadi denganku sekarang. Namun sebagian diriku yang lain justru sebaliknya, ada perasaan senang karena aku mendapatkan apa yang wanita lain sangat inginkan. Sebuah amanah dari Sang Kuasa. Sejenak aku menarik napas dalam-dalam dan memikirkan apa yang akan aku katakan selanjutnya.

“Kamu harus tanggung jawab.” Pintaku lirih pada Romi.

Tidak ada reaksi apa pun darinya yang tengah duduk dengan menutup mukanya dengan kedua tangan kotor yang telah menjamah setiap bagian tubuhku.
“Rom.. Rom.. Romi.” dengan menggoyang tubuhnya aku terus memanggilnya, “kamu dengar kan?”
“Iya, aku dengar.” Akhirnya Romi pun berbicara dengan membuka kedua tangan yang menutup mukanya. “Maaf.. Aku harus pergi.”

Benar-benar hal yang tidak aku duga. Begitu mudahnya dia pergi tanpa mengatakan dia bersedia bertanggung jawab atau tidak. Untuk beberapa saat, aku pun hanya mampu terdiam dalam kesendirian. Hanya tangis yang mampu aku lukis dari wajahku. Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke rumah. Di jalan aku terus berpikir, akan seperti apa hidupku ini. Kenyataan ini sulit aku terima. Aku berharap ini semua mimpi dan akan berakhir saat aku terbangun nanti. Tapi bukan, ini terlalu nyata, bahkan sangat nyata. Ini adalah kenyataan bukan sekedar mimpi yang menjadi bunga tidurku.

Beberapa hari aku hanya berdiam diri di kamar. Aku terlalu malu untuk ke luar dari kamarku. Hingga akhirnya kedua orangtuaku masuk ke dalam kamarku. Seperti orangtua lainnya, pastilah mereka sangat khawatir dimana sang anak yang biasanya selalu ceria, kini hanya bisa menangis dalam kamar. “Kamu kenapa, Nak?” Ibu bertanya dengan kedua tangan memeluk tubuhku.

Jawaban apa yang harus aku keluarkan. Apakah ini saatnya untuk mereka tahu kenyataan yang terjadi? Apakah mereka siap menerima kenyataan ini? Atau haruskah aku tutupi kenyataan dengan kebohongan? Namun kebohongan seperti apa yang akan aku ceritakan? Banyak keraguan muncul di dalam benakku. “Nak.. Jawab pertanyaan Ibumu ini.” Suara Ibu pelan di telingaku. Entah apa yang terjadi, namun tanganku yang tadinya memeluk ibuku, kini memegang perutku. Seakan bayi yang ada dalam perutku ingin menunjukkan keberadaannya kepada kedua orangtuaku.

“Maksudmu?” Tanya ayahku yang dari tadi hanya diam dan melihat aku dan ibuku.
“Aku hamil.” Suaraku lirih namun cukup untuk membuat mereka mendengarnya.
“Apa maksudmu, Nak? Jangan bergurau dengan hal seperti itu.”
“Iya, yah. Aku hamil. Anakmu ini sedang hamil.” Jawabku.

Setelah kejadian itu, kini ayahku yang mengunci diri dalam kamarnya. Selama tiga hari ayahku sama sekali tidak ke luar dari kamarnya. Aku pun hanya mampu menangis di depan pintu kamarnya sambil memohon maaf. Melihat kejadian itu, ibuku hanya berkata. “Tidak ada bayi yang tidak suci. Setiap bayi yang dilahirkan itu suci.”

Tiga hari telah berlalu dan akhirnya ayahku ke luar dari kamarnya. Sesaat setelah beliau membuka pintu, aku langsung bersujud dan meminta maaf padanya. Kemudian ayahku pun berkata. “Anakmu harus mempunyai Ayah. Mintalah pertanggung jawaban dari laki-laki yang telah menghamilimu.”

Mendengar perkataan ayahku, dengan segera aku bergegas menemui Romi di rumahnya. Sesampainya di rumah Romi, aku langsung meminta pertanggung jawabannya. Tapi apa yang aku dapatkan bukanlah sesuatu yang manis. Aku harus memohon padanya, bahkan sampai harus memohon-mohon di depan pintu rumahnya. Hingga akhirnya, Ibunda Romi pun membuka pintu rumahnya dan menyuruhku untuk masuk.

Aku pun duduk di ruang tamu rumahnya ditemani oleh Ibunda Romi. Beberapa saat kami diam, hingga Ibunda Romi, mengatakan hal yang tidak seharusnya ke luar dari mulut seorang wanita apalagi seorang wanita yang telah mempunyai anak. “Mbak.. Bagaimana kalau saya antar ke Kreputan?” Tanya Ibunda Romi.

Aku sangat kaget mendengarnya. Aku tahu tempat itu. Tempat di mana wanita yang tidak menginginkan kandungannya. Tempat di mana banyak bayi-bayi tidak berdosa harus kembali ke surga tanpa pernah merasakan kehidupan di dunia. Mendengar hal tersebut, aku seperti mendapatkan kekuatan yang bahkan aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Tapi kekuatan itu membuatku dengan tegas dan jelas mengatakan.

“Maaf, Bu. Saya bisa membesarkan bayi ini sendirian!” Tidak lama aku pun meninggalkan rumah Romi. Saat di perjalanan pulang, aku pun membulatkan tekad untuk membesarkan bayi ini meski harus membesarkannya seorang diri. Jauh lebih baik daripada aku harus gugurkan bayi ini.

Waktu telah kian berlalu, kini usia kandunganku telah mencapai 4 bulan. Perutku pun kian membesar. Semakin memperlihatkan kepada orang-orang bahwa aku tengah hamil. Sejak kejadian di rumah Romi, aku memang bertekad untuk tetap menjaga dan merawat anakku, tanpa peduli aku harus merawatnya seorang diri. Tapi di suatu malam, sebuah kejutan datang ke rumahku. Romi dan kedua orangtuanya bersedia untuk bertanggung jawab dan sesegera mungkin melangsungkan pernikahan.

Tidak membutuhkan waktu lama untukku menjadi Nyonya Romi. Setelah pernikahan itu, kini aku tinggal di rumah Romi. Tapi semua tidak seperti apa yang aku pikirkan. Sebuah keluarga yang indah, harmonis dan penuh cinta kasih. Kenyataan berkata lain. Seakan kehadiranku tidak dianggap ada oleh keluarga mereka. Semakin lama aku muak dengan kenyataan ini. Hingga aku putuskan untuk kembali ke rumah orangtuaku.

Aku pun kembali ke rumah orangtuaku dan menjalani kehidupanku bersama keluargaku. Hari-hari aku lalui tanpa ada kabar apa pun dari suamiku. Namun aku sama sekali tidak peduli lagi dengannya karena sekarang bagiku yang lebih penting adalah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran seorang bidadari yang selama 9 bulan ini ada di dalam perutku. Suatu hari, aku mengalami pendarahan hebat. Seorang bidan dipanggil ke rumahku. Maklum saja, untuk berjalan aku sudah tidak sanggup. Aku hanya terbaring di kamar tidurku. Semakin lama rasa sakit ini semakin meyiksaku. Namun lagi dan lagi, sebuah kekuatan yang entah datang dari mana selalu menguatkanku.

“Mbak.. Ke rumah sakit yah?” Tanya sang bidan.
“Tidak, Bu. Aku tidak mau.” Tolakku pada sang bidan.
“Tapi kalau seperti ini terus, Ibu takut.”
“Takut apa, Bu? Ibu percaya kan sama aku?”
“Iya, baiklah. Kalau itu memang keinginanmu.”

Di dalam kamarku hanya ada aku dan sang bidan. Suamiku yang harusnya ada di sampingku, entah di mana sekarang. Sama sekali tidak ada kabar darinya. Sendiri aku berjuang dengan sebotol infuse menggantung di tembok kamarku. Menahan sakit yang semakin lama semakin melemahkanku. Hingga aku berpikir, seandainya hanya satu nyawa yang bisa diselamatkan, biarlah anakku yang selamat.

“Bu.. Aku sudah tidak kuat.” Kataku pada sang bidan.
“Tadi kamu kan yang bertanya pada Ibu kalau Ibu percaya sama kamu? Sekarang Ibu akan bertanya padamu. Kamu percaya kan sama Ibu?” Tanya sang bidan bermaksud menguatkanku.

Benar-benar perjuangan luar biasa yang harus dilakukan. Menahan rasa sakit. Menahan rasa perih di hati. Namun semua itu terbayar lunas saat aku mendengar tangisan seorang bayi mengisi ruang kamarku. Bidadari yang selama ini menguatkanku. Kini telah datang. Bahagia, haru, sedih, dan banyak perasaan lainnya bercampur menjadi satu. Tidak lama setelah kelahiran bidadariku, kenyataan pahit lain justru datang menghampiri untuk kesekian kali.

Seorang perempuan yang baru berumur 19 tahun harus duduk di meja pengadilan untuk sidang perceraiannya. Ya Tuhan.. Sungguh nikmat cobaanMu. Seorang suami yang tidak ada di sampingku di saat aku menghadapi masa-masa sulit. Kini dengan enaknya dia menggugat cerai diriku. Tapi itu bukan masalah untukku. Sesuai kata-kataku, meski aku harus membesarkan bidadari penyelamatku seorang diri, akan aku lakukan. Lebih baik aku hanya bersama bidadariku menjalani setiap waktu yang berlalu daripada aku harus habiskan hidupku dengan iblis yang hanya membawa penderitaan.

Lalu kini, enam tahun telah berlalu. Sang bidadari penyelamat yang tengah tertidur di hadapanku, telah tumbuh menjadi bidadari yang sangat cantik. Tidak seorang pun akan aku biarkan membawanya, tidak terkecuali dia, mantan suamiku.

Cerpen Karangan: Chandra Nur Afieluddin
Facebook: https://m.facebook.com/chandra.nurafieluddin

Cerpen Bidadari Penyelamat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keluarga Bahagia

Oleh:
Namaku Sania, nama lengkapku Sania Minata Ruani. Aku tinggal di kompleks perumahan Indah Purnama. Aku tinggal di sebuah rumah berukuran sedang, bersama dengan keluargaku. Ada Ayahku, Bundaku, Adikku dan

Liburan di Rumah Sakit

Oleh:
Hari ini kebahagianku bertambah. Mama menawariku wisata ke pantai Bali karena aku mendapatkan peringkat pertama di sekolahan. “Asyik, besok aku ke Bali jadi besok aku bisa bercerita ke teman-teman

Dear Papa dan Mama

Oleh:
Chelsea duduk manis sambil membaca buku. Chelsea membaca buku cerita rakyat. Dia tersenyum membaca buku itu. Buku yang sangat bermanfaat dan menyenangkan. “Non Chelsea, ayo makan siang dulu,” pinta

Bukit Angin

Oleh:
Bukit mungil itu berdiri di pinggir Desa Sunyi. Di punggungnya ilalang tumbuh dengan subur. Pohon besar yang tumbuh di sana tak sampai 20 batang. Belasan pohon jambu mente tersebar

Hari Pertama Pindah Sekolah

Oleh:
“Yana, ke kantin yuk?” “Eh, aku sudah bawa bekal” “Oh oke kalau gitu, kita ke kantin dulu ya” Aku mengangguk tersenyum. Ini hari pertama aku di sekolah baru, karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *