Bintang Kecil (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 August 2015

Ia melihat polisi keluar masuk dari dalam rumah Reyhan. Ada seseorang keluar dari rumah Reyhan dengan tangan diborgol dan didampingi polisi di sampingnya. Tirsya terkejut melihat sosok kedua yang keluar dari rumah minimalis itu.

Jantungnya seperti berhenti beberapa detik melihat kejadian barusan. Reyhan yang memakai baju kaos putih bertuliskan ReySya dan memakai celana pendek keluar dari rumah dengan tangan diborgol dan didampingi oleh polisi. Tirsya berlari mendekati Reyhan yang tertunduk malu menatap gadis di depannya.

“apa yang lo lakuin?! jawab Rey!!” suara Tirsya terdengar berat dan keras di telinga Reyhan.

Reyhan membisikkan sesuatu kepada polisi yang mendampinginya, polisi itu melepaskan borgol dari tangan Reyhan. Reyhan memeluk erat Tirsya hingga menangis tersedu-sedu.

“maafin gue Sya maafin gue…” Reyhan menangis tersedu-sedu memeluk erat Tirsya.

Tirsya menangis sejadi-jadinya dalam pelukkan Reyhan, ia bingung apa yang terjadi pada sahabatnya itu kenapa polisi membawanya pergi.

“kenapa mereka mau membawa lo pergi Rey?!”

Reyhan masih terus menangis memeluk gadis mungil di dekapannya, batinnya terasa perih meninggalkan Tirsya ini hal yang beberapa waktu ia takutkan terpisah oleh seseorang yang menjadi separuh jiwanya tidak pernah ia bayangkan bahwa pelampiasannya dengan barang terlarang itu berakhir menyedihkan seperti ini. Andai waktu bisa terulang.

“tunggu gue sampai gue kembali Sya. janji sama gue.” Reyhan memegang kedua pipi Tirsya yang basah oleh air matanya.

Tirsya terus memeluknya erat tak ingin melepaskan dekapan itu rasanya ia tak akan sanggup merelakan polisi itu membawanya pergi dari sisinya. Apa yang akan terjadi bila dia tanpa Reyhan. Polisi tidak bisa menunggu terlalu lama pelukkan mereka harus terlepas tangan Reyhan harus diborgol, polisi membawa Reyhan kedalam mobil.

Reyhan terus memandangi Tirsya yang menangis meronta-ronta dalam dekapan kedua orangtuanya. Mobil polisi itu berjalan meninggalkan Tirsya, Tirsya melepaskan pelukkan kedua orangtuanya ia berlari secepat mungkin untuk mengejar mobil itu.

“Reyhan!!Jangan tinggalin gue!!” Tirsya terus mengejar mobil itu dengan secepat yang ia bisa dengan air mata yang mengalir tak habis-habisnya.
“tolong jangan bawa Rey dari gue!! jangan!! Rey lo janji untuk selalu bersama–sama sama gue!! mana janji elo Rey mana!!” teriaknya.

Reyhan memandang dari balik kaca belakang mobil ia ingin sekali mendekap sekali lagi Tirsya. Ia melihat Tirsya terjatuh, sontak ia ingin keluar dari mobil tapi ia menyadari bahwa ia sedang menuju rumahnya sekarang yaitu penjara.

Reyhan terus memandang Tirsya yang terduduk menangis di tengah jalan menangis meronta-ronta semakin membuat Reyhan tercabik-cabik hatinya melihat bintang kecilnya menangis memohon untuk ia tidak pergi.

***

Tirsya memejamkan kedua matanya yang masih basah oleh air mata ia berharap saat ia membuka matanya ini hanyalah sebuah mimpi. Tirsya melakukannya berulang-ulang tetapi semua tidak berhasil semua adalah nyata semua bukan sekedar ilusi semata. Tirsya tidak tahu bakal dibawa kemana Reyhan oleh polisi itu.

Tirsya tidak menemukan sosok Hendrik sudirjoe syahputro di sekitar rumah minimalis itu. Tidak kasihankah dia terhadap Reyhan? Tak khawatirkah dia kepada putra satu-satunya? Kemanakah dia saat Reyhan membutuhkan dekapannya?

Lambat laun semua Tirsya jalani tanpa Reyhan di sisinya, pada awalnya ia tidak sanggup untuk menjalani hidup tanpa sahabatnya itu tapi Tirsya yakin bahwa Reyhan akan segera kembali ke sisinya.

Tirsya sekarang sudah menjadi gadis dewasa, Tirsya sudah beranjak menjadi seorang mahasiswa di salah satu politeknik negeri. Kalung pemberian Reyhan tidak pernah ia lepaskan dari lehernya, ia berjanji tak akan pernah melepaskannya hingga Reyhan benear-benar kembali kepadanya.

Pagi itu Tirsya terduduk di teras rumahnya ia melihat pemandangan yang sangat menyakitkan baginya, rumah di depannya bertuliskan, “DIJUAL” banyak tukang keluar masuk ke dalam rumah minimalis itu tatkala mengejutkan ada seorang ibu paruh baya memandori tukang-tukang itu untuk hati-hati membawa barang-barangnya yang akan dipindahkan ke dalam mobil pick up. Tirsya segera keluar dan mendekti ibu paruh baya itu.

“maaf, bu” Tirsya menepuk pundaknya lembut.
“iya?” wanita paruh baya itu menoleh dan mengejutkan Tirsya.
“tante Indah?!” Tirsya sontak memeluk ibu Reyhan erat dan menangis di pelukkannya.

Indah kembali memeluk gadis di depannya, ia tidak memungkiri bahwa ia sangat merindukan gadis mungil ini dialah yang bersama-sama menghabiskan waktu bersama putranya, jauh sebelum anaknnya mendekam di penjara sekarang ini.

“apakah rumah ini benar-benar ingin dijual, Tan?” tanya Tirsya penasaran.
“ya Sya Tante dan Om bertekad menjual rumah ini, untuk sementara ini Om dan Tante akan memulai hidup baru dan membenahi semuanya di Jerman, semua Tante dan Om lakukan untuk Rey, kami akan bersatu demi Rey,” suara Indah begitu berat untuk menceritakannya.

Tirsya mengeluarkan kotak mungil berpita merah muda dari dalam tasnya dan memberikannya kepada wanita di depannya.

“apa ini, Sya?”
“ini hadiah untuk Tante dari Reyhan, Reyhan menitipkan ini 2 tahun yang lalu sehari sebelum tante meninggalkan rumah,”

Indah memandang kotak mungil di depannya dan membuka pelan pita yang menghiasinya. Mata berkaca saat melihat kalung putih bergandul bintang di dalam bulan, Indah tak dapat menahan tangisnya.

“Reyhan bilang aku harus ngasih ini ke Tante saat Reyhan benar-benar jauh dari pandangan Tante.”
Indah menangis tersedu-sedu, memeluk erat gadis mungil di depannya Indah tidak tahu bahwa ia sangat dicintai putranya. Tirsya pun ikut tenggelam dalam tangisan.

“Reyhan pernah bilang sama Tirsya dia ingin sekali mempunyai keluarga idamannya seperti waktu ia kecil, semua kasih sayang bertebaran dis ekelilingnya, Tan”. ucap Tirsya dengan terus menangis tersedu-sedu.
“motif bintang itu adalah Tante, dan bulan yang melingkarinya itu dalah Reyhan. Reyhan ingin menjadi bulan yang melingkari bintang agar bisa menjaga bintang di dalamnya yaitu Tante,”

Indah tak kuat mendengar semua pernyataan Tirsya barusan batinnya tersobek-sobek, selama ini ia hanya mementingkan keegoisannya tapi tak pernah mementingkan hati kecil putranya yang sangat tulus mencintainya.

Nasi sudah menjadi bubur tidak boleh ada yang harus ia sesali, sekarang yang terpenting baginya adalah menunggu putranya kembali keluar dari penjara yang sangat kejam itu.

“Sabarlah sayang, Mama dan Papa akan terus menunggumu. Kamu akan menemukan sebuah kebahagiaan kamu yang selama ini hilang. Kebahagiaan yang kamu inginkan. Mama janji Rey.Mama janji.”

***

Reyhan memandang langit di halaman musala di tempat ia sekarang berada. Menatap langit malam yang jarang ia temukan di sini, ia memanfaatkan momen ini dengan baik matanya mencari bintang kecil yang selalu bersandar di samping bintang besar. Matanya sontak menemukan kedua bintang itu, mata Reyhan berkaca-kaca ia merindukan Tirsya, sangat merindukannya.

“Aku akan kembali tunggu aku, Sya. Ma, Pa tunggu aku kembali. Sya, tidak lama lagi aku akan keluar dari tempat menyeramkan ini dan aku berjanji akan menjadikan kita seperti bintang itu akan kembali bersama-sama selamanya.”

Bintang kecil, di langit yang biru amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan menari jauh tinggi ke tempat kau berada …

Sudah 2 tahun hidup Tirsya tanpa Reyhan, untuk mencarinya pun sekarang sulit kedua orangtuanya sudah berada di Jerman untuk memperbaiki keadaan keluarga mereka.

Tirsya mengayun tubuhnya di ayunan itu, sesekali ia memejamkan matanya untuk menikmati angin yang segar pagi itu. Handphone-nya berbunyi ia sibuk merogoh saku celananya. Dan ia terkejut ada seseorang menutup matanya, seseorang itu melepaskan kedua mata Tirsya. Tirsya terkejut sudah banyak bunga mawar putih di depannya, ia terkejut tiba-tiba muncul sekumpulan bunga mawar dari balik tubuhnya.

Ia menoleh dan ia menangis tersedu-sedu kakinya tak dapat digerakkan, laki-laki di hadapannya tersenyum renyah dan memeluknya erat.

“gue kangen lo Sya, kangen” suara itu terdengar di telinga Tirsya semakin membuat Tirsya memeluk erat kembali tubuh laki-laki di hadapannya.
“lo jahat banget ninggalin gue selama itu, jahat!” Tirsya menangis dalam pelukkan laki-laki itu.

Reyhan melepaskan pelukkannya dan memegang kedua pipinya mendekatkan wajahnya yang berjarak beberapa senti dari wajah Tirsya.

“tapi janji gue untuk kembali, gue tepatin kan?”

Tirsya tersenyum bahagia ia memeluk lagi Reyhan hingga Reyhan merasakan ada seseorang kecuali kedua orangtuanya yang sangat menantikannya kembali ia bersyukur memeliki orang-orang yang sangat mencintainya dan menyayanginya tulus. Tirsya jail mencubit perut Reyhan hingga Reyhan menjerit kesakitan.

“lain kali jangan begini ya?” Tirsya menunjukkan kelingking mungilnya, Reyhan membalas dengan menyambut kelingking Tirsya dengan kelingkingnya.

Reyhan memandangi gadis di depannya dari atas hingga ke bawah, ia masih mengagumi sosok bintang kecil di hadapannya yang sekarang sudah menjadi wanita yang sangat cantik dan dewasa pasti sekarang akan banyak laki-laki yang mendekati Tirsya. Entahlah ia hanya memikirkan apa yang ada dalam pikirannya. Reyhan melihat wajah Tirsya tersenyum lagi seperti dulu tidak ada kesedihan seperti saat ia dibawa ke dalam mobil polisi 2 tahun yang lalu.

“entahlah Sya, sekarang kamu menjadi wanita yang dewasa dan menarik laki-laki untuk mendekatimu kamu sangat cantik sekarang,”
“memang sejak dulu aku seperti ini,”

Reyhan tertawa dengan pernyataan yang baru keluar dari bibir Tirsya si bintang kecilnya. Reyhan ingin menjalani hidupnya dari awal lagi, memiliki lagi keluarga yang ia idamkan dan kembali dalam pelukkan sahabat tercintanya yaitu Tirsya Amanda si bintang kecil yang sangat Reyhan sayangi. Bagi Reyhan semua perjalanan yang pahit dahulu menjadikan pelajaran berharga untuknya baginya sekarang ia kembali pada orang-orang yang ia sayangi.

SELESAI

Cerpen Karangan: Rima Puspita Rani
Facebook: rimapuspita90[-at-]yahoo.com

Nama Saya Rima Puspita Rani , sekarang saya duduk dibangku kelas XII IPS di SMAN 5 Bandar Lampung. Sejak saya mulai bisa membaca saya hobi sekali membaca cerpen , koran hingga novel. Semenjak saya suka membaca saya terdorong untuk mencoba menulis beberapa cerpen ini cerpen pertama yang saya upload. Saya harap pembaca suka dengan karya saya.

Cerpen Bintang Kecil (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Sementara

Oleh:
Aku berlari mengejarnya, sosok laki-laki yang kini mulai menghilang dari penglihatanku. Aku benci perpisahan, apalagi berpisah dengannya. Sekuat apapun aku berusaha berlari, semakin ia jauh dari genggamanku. Sedih, aku

Senja Abu Abu

Oleh:
Suatu pagi di sekolah para siswa berlarian menuju kelas masing masing. Akan tetapi, perempuan berambut warna warni itu justru sedang berjalan santai menuju lobi. Dengan wajah dan tubuh yang

Aku Tidak Mencintamu

Oleh:
Hembusan angin memberikan pesan berbisik, pesan itu lewat begitu saja di telinga pemuda SMA itu sedang asyik berjalan seraya mendengarkan musik di headset kecilnya dan matanya dimanjakan oleh pemandangan

Tercipta Untukmu

Oleh:
“Teng… Teng… Teng…” bel tanda istirahat di SMA 1 Harapan Bangsa telah berbunyi “Alhamdulilah akhirnya istirahat juga” kataku Aku pun segera membereskan buku-bukuku ke dalam tas dan lalu bergegas

Hari Sial

Oleh:
Pagi-pagi Olivia bangun terlambat karena semalam habis chattingan sama Reyna sampai jam dua malam, entah apa yang mereka bicarakan. “Oliv bangun!” teriak Mama dari lantai bawah yang membuat rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Bintang Kecil (Part 2)”

  1. amy says:

    Gue seneng banget dg cerita yg loe karang,
    Sampai netes air mata gue, terus berkarier
    Jgan berhenti utk berbakat, walau ada sdikit
    Kekurangan, menurut gue, Udah tertutup dg
    Keindahan ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *