Bintang Yang Terpisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 March 2018

Di salah satu SMA swasta, tampak seorang siswa masih membawa tas gendong sedikit berlari memasuki kelas menghampiri temannya yang sedang duduk di sebuah bangku. Siswa itu bernama Tyo.

“Nindra! Aku kemaren sore roh wong seng mirip banget sama kamu neng kafe.” ucap Tyo dengan logatnya yang medok bahasa Jawa. Temannya itu bernama Nindra, atau lebih lengkapnya Bintang Nindra Adiwijaya.
“Mosok sih Yo? Enek wong seng mirip banget sama aku?” tanya Nindra sama dengan medoknya Tyo saat berbicara.
“Opo kamu punya sodara kembar?”.
“Setauku enggak Yo.” terang Nindra.

Ketika pulang sekolah, tampak Nindra yang bukan merupakan anak orang kaya, tengah menyeberangi jalan raya yang tampak cukup padat penghuni. Hampir saja tubuhnya tersentuh oleh sebuah mobil berwarna merah. Untung si pengemudi tidak telat menginjak rem. Nindra masih terdiam terkejut akibat kejadian itu. Sedangkan si pengemudi, ke luar dengan ekspresi terheran-heran melihat Nindra. Begitupun dengan Nindra setelah melihat wajah si pengemudi yang begitu mirip bahkan hampir sama dengan wajahnya. Mereka seperti bercermin. Hanya saja terdapat tahi lalat di dekat telinga Nindra.
“Kok sama?” tanya wanita itu dengan nada tidak medok, tidak seperti Nindra yang begitu medok dengan bahasa Jawa.

Akhirnya, wanita itu bersedia mengantarkan Nindra pulang karena penasaran dengan kemiripan wajah mereka.

“Nama lo siapa?” tanya wanita itu.
“Nindra, mbak.”.
“Lengkapnya?” tanyanya lagi.
“Bintang Nindra Adiwijaya.”.

“Kok sama ya? Gue Bintang Nindri Adiwijaya. Apa kita sodara?”.
“Saya ndak tau mbak. Wong dari kecil, saya cuma tinggal sama ibuk saya. Dari kecil, saya ndak pernah tau ke mana ayah saya.”.
“Kalo gue cuma tinggal sama bokap. Selama ini, gue enggak pernah ngerasain kasih sayang dari nyokap. Eh, gue punya ide.” ucap Nindri.

Sesampainya di depan rumah Nindra, ide itu pun telah dijalankan. Ide dari Nindri yang menginginkan mereka bertukar posisi. Nindra jadi Nindri, dan Nindri jadi Nindra. Mereka juga telah bertukar penampilan. Semuanya bertujuan agar Nindri merasakan kasih sayang seorang ibu, dan Nindra merasakan kasih sayang seorang ayah.

“Tapi mbak, saya ndak bisa nyetir mobil.” ucap Nindra.
“Jangan panggil mbak! Panggil aja Nindri. Entar gue telepon supir biar jemput lo dan bawa mobil ini. Oh iya, lo juga harus terbiasa ngomong pake lo gue, medoknya jangan keliatan. Oke?”. Nindra tersenyum.

Semenjak hari itu, mereka bertukar posisi. Orang terdekat mereka sempat curiga mengenai perubahan sikap yang terjadi di antara mereka, dan perubahan lainnya menurut orang-orang yang mengenal Nindra maupun Nindri sangat aneh. Nindra yang tak terbiasa memanggil papa Nindri dengan sebutan “papa”, Nindra yang tak hafal bahkan tak mengenal siapa saja teman-teman Nindri, juga masih dengan medoknya meski ia telah berusaha menjadi Nindri. Sedangkan Nindri yang tak terbiasa memanggil ibu Nindra dengan sebutan “ibu”, Nindri yang tak kenal dengan Tyo sahabat Nindra dan teman-teman lainnya, juga tak terbiasa dengan medoknya bahasa Jawa seperti keluarga Nindra dan beberapa teman Nindra.

Hari ini adalah hari Minggu. Tampak Nindra tengah berkecimpung di dunia dapur. Ia memang terbiasa bangun pagi, entah itu hari libur atau bukan. Nindra yang memakai celemek terlihat sedang memasak sesuatu. Sedangkan pak Adiwijaya papa Nindri berjalan menghampirinya.
“Sejak kapan kamu bisa masak? Biasanya kamu lebih pilih delivery.” ucap pak Adiwijaya.
“Aku… belajar dari buku pa.”. Bohong. Padahal, ia belajar dari bu Vira ibunya sewaktu kecil.

Selesai memasak, pak Adiwijaya mencoba masakan Nindra, dan ia memujinya. Nindra tersenyum. Selang beberapa lama kemudian, Hp yang waktu itu dibelikan Nindri untuk Nindra berdering kencang. Tertera nama Nindri di layarnya. Meski telah sedikit menjauh, namun tetap saja pak Adiwijaya bisa mendengarnya.

“Halo Nin, ono opo? Opo Nin? Ibuk kecelakaan? Yo wes, aku segera ke sana.” ucap Nindra. Pak Adiwijaya bingung sebab anaknya bisa berbahasa Jawa.
“Kok kamu bisa bahasa Jawa? Ibuk itu siapa?” tanya pak Adiwijaya bertubi-tubi.
“Saya akan jelaskan semuanya. Tapi tolong antarkan saya ke rumah sakit sekarang!”.

Sesampainya di rumah sakit, pak Adiwijaya tambah heran melihat anaknya ada dua. Nindri terkejut melihat papanya. Hingga akhirnya terbongkarlah semuanya. Terbongkar sandiwara Nindra dan Nindri, terbongkar pula fakta bahwa pak Adiwijaya pernah memiliki hubungan dengan bu Vira, hubungan suami istri namun berpisah ketika Nindra dan Nindri masih berumur satu tahun. Nindra adalah kakak dari Nindri yang lahir 5 menit lebih dulu daripada Nindri.

Mereka tampak begitu khawatir dengan keadaan bu Vira yang juga belum siuman semenjak kecelakaan. Sampai akhirnya dokter ke luar, memberitahu tidak ada luka serius dan bu Vira telah siuman. Mereka pun masuk ke ruangan. Pipi Nindra maupun Nindri telah basah oleh air mata. Ibu si kembar itu terkejut melihat kedua anaknya dan pak Adiwijaya. Sepertinya pak Adiwijaya telah membuat luka yang masih begitu membekas dalam hati bu Vira. Pak Adiwijaya meminta maaf karena telah meninggalkan bu Vira dan Nindra, juga telah memisahkan mereka dengan Nindri karena suatu alasan pada waktu itu. Air mata bu Vira menetes mengingat kejadian pahit tersebut. Namun pada akhirnya, pintu maaf bu Vira terbuka untuk pak Adiwijaya. Mereka pun senang. Rencananya, mereka akan memulai semuanya dari awal lagi, kembali menjadi keluarga yang utuh.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

Cerpen Bintang Yang Terpisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Alasan

Oleh:
Namaku Stella Aurini. Semenjak aku masuk SMP, aku gemar sekali mengamati ekspresi orang lain. Memperhatikan ekspresi mereka dan membuat catatan atas ekspresi tersebut. Sebagai panduan, aku juga membeli beberapa

The Story of JHS

Oleh:
Di rumah Sang fajar sudah menampakan cahayanya. Jam weker pun berbunyi dengan kerasnya di kamar gadis tomboy itu. Krrriiinnggg. Membuat Dinta kaget dan langsung terbangun dari tidurnya. Setelah mematikan

Dreams in Love (Part 1)

Oleh:
Suasana gedung-gedung yang cukup sepi dengan jumlah orang yang tidak terlalu banyak. Di salah satu sudutnya berdiri seorang gadis cantik jelita, ramah, pendiam, murah senyum, dan baik hati. Yah,

Demam Pembawa Cinta

Oleh:
Demam tinggi datang menghampiriku lagi. Mama-papaku panik melihat keadaanku. “Bintang, kamu tidak apa-apa?” tanya papa. Aku hanya tarik selimut menutupi mukaku. Papa meraba keningku. Dan bukan main suhu panas

Pelukan Tajam

Oleh:
Pagi ini kulingkari tanggal dan bulan yang sama sebagai tanda aku tidak akan pernah melupakanmu, diiringi hujan deras pagi ini membuatku malas untuk pergi ke sekolah, ditambah lagi sungguh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *