Bintangku Hilang Satu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 4 July 2019

Dulu aku mempunyai dua bintang di hidupku. Tapi, kini satu bintangku telah pergi membawa separuh nafasku. Sekarang aku hanya mempunyai satu bintang dalam hidupku. Ia selalu bersinar terang dalam hidupku dan membawa sejuta kebahagiaan untukku.

Namaku Raina, aku anak bungsu dari lima bersaudara. Hidupku sangat sederhana semua yang aku punyai serba pas-pasan. Tapi, dibalik semua itu aku sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengirimkan dua bintang dalam hidupku yaitu Mama dan Papaku. Beliau adalah orangtua yang sangat luar biasa untukku.
Kedua bintangku selalu tampak bersinar terang dalam hidupku. Bahkan terangnya sinar bintangku mampu mengalahkan sejuta bintang di langit yang selalu tampak indah berkilau di malam hari.

Di bulan Ramadhan, tepatnya 8 tahun yang lalu. Aku melihat salah satu bintangku merintih kesakitan. Ia tak henti-hentinya merintih kesakitan sambil menahan tangisnya dan memegang bagian tubuhnya yang tak henti-hentinya menusuk disekujur tubuhnya. Bintangku tak bersinar terang kala itu, kilaunya meredup bahkan senyum indahnya tak tampak lagi di hari itu.

“Pa, apa yang harus aku lakukan biar rasa sakit itu tak terasa lagi ditubuh papa?” tanyaku.
Papa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum palsu untuk menyembunyikan rasa sakitnya itu.
Lagi.. lagi dan lagi.. hati ini tak tega melihat papa merintih kesakitan seperti itu. Bintangku tak seindah hari yang lalu, senyumnya kian memudar ditutupi dengan rintihan itu.
“Ya.. Allah apa yang harus aku lakukan biar aku bisa melihat bintangku bersinar terang kembali.” Bisikku dalam hati.

Mama pun datang menghampiriku. Ia menyadarkanku dari lamunanku. Ia selalu bersikap tenang di depanku meskipun raut wajahnya tampak panik sekali saat itu. Bahkan ia menyembunyikan kekhwatirannya seakan-akan ia yakin tak akan terjadi apa-apa terhadap papa.
Tapi, hati ini masih tak bisa tenang melihat kondisi papa yang semakin hari semakin melemah. Tubuh gempal yang selalu menjadi tempat ternyaman untukku bersandar kini menjadi lunglai seakan-akan sudah tak kuat lagi untuk menompang raganya. Senyum manis yang selalu aku lihat disetiap hariku kini tak tampak lagi dari wajah gantengnya. Bahkan bintang-bintangku yang dulunya selalu ceria dan bersinar terang kini ia mulai perlahan-lahan meredupkan kilau cahayanya.
Berjuta tanya yang timbul dari pemikiranku yang saat itu masih berusia belasan tahun. Hal buruk yang tak seharusnya aku pikirkan bahkan sempat terlintas berkeliaran di pemikiranku yang masih dangkal ini.
“Aku tak ingin salah satu bingtangku pergi? Aku yakin bahwa bintangku akan bersinar terang kembali? Aku tak ingin hal itu terjadi secepat ini dalam hidupku ya allah sembuhkanlah bintangku kembali…” ujarku dalam doa.

Aku pun tak ingin berputus asa secepat itu, seiring berjalannya waktu papa dirawat di rumah sakit. Aku terus berusaha mendoakannya agar papa lekas sembuh dari sakitnya, karena apa yang tejadi dalam hidup ini aku serahkan semuanya kepada Allah SWT. Hanya keajaiban dari diri-Nya lah yang mampu membuat bintangku berkilau kembali.

Hari pun telah berlalu. Hampir satu minggu papa dirawat di rumah sakit kondisi papa pun semakin hari semakin melemah. Kini, bintangku mulai redup kilaunya. Bahkan sudah lama sekali aku tak melihat lagi sinarnya kembali ada seperti hari-hari yang lalu. Ia mulai perlahan-lahan ingin pergi jauh dariku dan meninggalkan aku di sini.

Menjelang pagi hari, tepatnya dihari senin. Bintangku semakin tak tampak lagi kilaunya. Ia mulai perlahan-lahan menghilang seolah-olah ia sudah tak mampu lagi menyinari setiap malamku. Hatiku pun sedih. Bintangku telah merobek semua perasaanku pagi itu. Ia meninggalkanku tanpa bertanya terlebih dahulu apakah aku sudah siap atau belum.

Kini, hatiku mulai porak poranda, awan pun tak secerah hari kemarin. Ia tampak gelap seolah-olah ia tahu isi hatiku saat itu. Awan ikut menangis mengiringi kepergian bintangku. Dan tangisan pun mulai membasahi seluruh bagian pipiku. Aku masih tak percayai bahwa bintangku telah pergi secepat ini.

“Sabar ya Raina, kamu harus kuat menghadapi semua cobaan ini.” Ujar temanku
Aku hanya menganggukan kepalaku sambil sesekali melihat wajah bintangku yang kini telah terbujur kaku. Sungguh cobaan ini sangat berat untuk aku lalui. Aku hanya anak belasan tahun yang masih haus akan kasih sayang dari orangtua. Aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan selepas kejadian ini menerpaku. Berjuta keraguan selalu muncul di benakku.

Namun seiring berjalannya waktu keraguan itu pun kini kian memudar. Aku tak boleh larut dalam kesedihanku yang tak kunjung usai ini. Aku masih mempunyai satu bintang yang selalu tampak bersinar terang mengisi hari-hariku, yaitu Mamaku. Mama adalah satu-satunya bintang yang aku punyai saat ini. Kilau cahayanya sungguh terang sekali. Bahkan kilau cahaya bintangku ini mampu menerangi hatiku yang gelap dimasa lalu.

“Ma, terimakasih untuk semua pengorbanan mama terhadapku. Aku sungguh beruntung mempunyai orangtua seperti papa dan mama. Kalian bagaikan bintang yang nyata sehingga aku merasakan ada surga yang indah di dalam rumah ini.” Ujarku sambil tersenyum.
“Mama justru bangga sama kamu dan keempat kakakmu. Kalian sungguh luar biasa bagi mama dan papa. Kalian mau saling menolong dikala salah satu dari kalian berlima sedang membutuhkan bantuan. Tetaplah jadi seperti ini untuk selamanya ya, Nak.” Jawab mamaku.
Suasana haru pun terjadi di sore itu. Tak terasa enam tahun telah berlalu, akhirnya aku mampu melewati masa sedihku bersama satu bintangku dan keempat bulanku yang tetap setia menerangi hidupku. Bintangku ini sungguh luar biasa, meski ia tak berdampingan lagi dengan bintangnya tapi bintangku ini tetap kuat melewati hari-harinya dengan cahaya kilaunya yang terang sekali.

Mama adalah bintang yang nyata dalam hidupku dan keempat saudaraku adalah bulan yang nyata yang selalu setia mengiringin langkahku. Bukan hanya sekedar bintang dan bulan saja mereka bagi hidupku bahkan mama serta keempat saudaraku bagaikan malaikat tak bersayap yang selalu ada setiap aku membutuhkannya.

Surga indah ini sungguh terlihat nyata di dalam rumahku. Bahkan aku merasakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya dibandingkan apapun. Mama, Papa dan keempat saudaraku adalah keindahan yang paling indah yang Allah berikan untukku. Berkat mereka akhirnya aku pun mampu menyelesaikan kuliahku. Perjuangan yang sungguh luar biasa ini membuat aku akan terus semangat memberikan hal yang terbaik untuk mereka. Aku tak ingin mereka menjadi sedih. Aku ingin sekali melihat cahaya bintang dan bulanku tetap bersinar terang meski tanpa satu bintangku lagi yang telah hilang.

“Ma, andai ya diacara wisuda ini papa masih ada pasti suasananya akan semakin ramai ya.” Ujarku yang menyesalkan ketiadaan papa disini.
“Ini semua kan sudah takdir dari Allah. Meskipun papa tidak ada di sini tapi mama yakin pasti papa melihat dari sana, Dek.” Jawab mama
“Iya ma, aku yakin kok pasti papa bahagia lihat aku sekarang sudah wisuda ya. Dan aku juga senang banget karena salah satu keinginan papa untuk melihat foto kelima anaknya wisuda sebentar lagi aku terwujud.” Aku pun memeluk mama
“Yaudah, sekarang kamu jangan sedih lagi ya. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untukmu dan keluarga kita jadi kamu harus tersenyum bahagia ketika sebentar lagi kamu akan dinyatakan lulus menjadi seorang sarjana.” Ujar mama sambil tersenyum.

Kakiku pun begitu semangat untuk memasuki ruangan acara wisudaku. Senyum semeringa terpancar dari pipiku yang merona ini. Hatiku pun mulai bergetar cepat. Rasanya aku masih tak mempercayai hal ini.
Dulu, ketika aku tahu bahwa papa telah meninggalkanku untuk selamanya. Aku masih tak yakin untuk meneruskan kuliahku. Tapi, berkat mama dan keempat saudaraku akhirnya apa yang aku ragukan dulu kini akan segera terwujudkan. Sungguh keajaiban yang luar biasa bisa sampai ketitik seperti ini.

Aku tak akan pernah mengkhianati bintang dan bulanku. Bintang ini akan selalu ada di hatiku. Bahkan bulan ini juga akan selalu setia menjadi teman hidupku. Meskipun kini cahayanya telah hilang satu tapi rasa sayang dari mereka akan selalu menyatukan kilaunya dalam hidupku.

Mama, Papa dan keempat saudaraku. Kalian harus percaya bahwa tak ada hal yang lebih indah lagi selain keberadaan kalian dalam hidupku. Kalianlah surga yang nyata yang aku punyai. Andaikan hidupku tanpa adanya kalian mungkin aku tak akan bisa setegar ini untuk menghadapi setiap cobaan yang datang padaku. Mama dengarkanlah puisi sederhana ini untukmu. Aku akan selalu menjadi orang yang paling setia untuk selalu mendoakanmu bahkan mendoakan seluruh keluargaku. Tetaplah jadi bintang dalam hidupku yang mampu menghadirkan surga terindah di dalam rumah kita yang sederhana ini.

Mama..
Dimanapun… kapanpun… sedari dulu dan sampai nantipun.
Kaulah tempatku mengadu, mencari restu, dan menemani masa-masa sulitku.
Mama..
Terimakasihku tak akan cukup untuk membalas semua ketulusan hatimu.
Hanya doa dariku yang sanggup tuk jadi penyanding jasamu untukku.
Mama..
I Love you…

Cerpen Karangan: Rahmah Juwita Edy
Seorang guru freelance yang menyukai dunia cerpen dan seorang penikmat senja yang selalu meluangkan waktu untuk melihat senja.
FB: Rahmah Juwita Edy

Cerpen Bintangku Hilang Satu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cucu yang Menyesal (Part 2)

Oleh:
“Loh Jal kok kamu jam segini sudah bangun?” “I.. Iya Kek, tadi Jali kebangun sendiri, terus Jali gak bisa tidur lagi,” “Oalah. Salat Tahajud aja yuk,” ajak kakek. “Apa

Si Miskin Dundai

Oleh:
Abah Si Miskin Dundai duduk di beranda gubuk reot tengah Negeri Bengkulu. Deburan ombak sayup terdengar membisik telinga, seakan mengirim pesan kias singkat. “Wahai Abah Si Miskin Dundai, hantamlah

I Just Want To Say Sorry

Oleh:
Kuamati lekat-lekat wajah itu. Mungkin hanya beberapa detik yang tersisa untukku berada disampingnya. Sorot matanya mulai meredup. Sepertinya aku harus mengatakannya sekarang. Kata-kata yang telah lama kupendam dan membuatku

Hadiah Natal Buat Mama

Oleh:
“Ma, sinterklas itu memang ada ya?” “Iya, sayang. Sinterklas datang untuk membagi bagi hadiah kepada anak-anak yang baik pada orangtuanya” “Kalau gitu aku akan jadi anak yang baik supaya

Cucu yang Menyesal (Part 1)

Oleh:
Gubuk tua, kumuh, dan hampir tidak layak pakai. Di sanalah aku dan kakek tinggal. Aku terpaksa tinggal bersama kakek karena orang yang aku hormati meninggalkanku saat aku berusia 1

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *