Biola Callis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Sore ini begitu dingin. Tergengar gemuruh air hujan, juga tercium aroma khas debu yang basah. Saat itu juga, menetes darah dari jari telunjuk Callis yang tergores senar biolanya yang patah. Permainan biolanya-pun ia hentikan. Dia hanya terdiam melihat jari telunjuknya yang terus menerus mengeluarkan darah segarnya. Tak berapa lama, dia meneteskan air matanya, dan dia hanya bergumam “Ayah, kenapa ayah tak kunjung menjemputku? Sudah lama aku menunggu. Menunggu untuk bertemu dengan ibu.”

Callis, gadis berusia 13 tahun yang dihidupi ayahnya dengan keadaan ekonomi yang terbatas, tidak membuatnya patah semangat untuk membuat ayahnya bangga. Dengan bermodal sebuah biola tua milik ayahnya, dia belajar dengan sungguh-sungguh untuk dapat memainkannya. Dalam hitungan beberapa mingggu dia dapat memainkan biola itu dengan terampil. Dan. hasil belajarnya itu bukan tidak membuahkan hasil. Setiap sore ia mengamen di alun-alun kota untuk membiayai sekolahnya, menghidupi dirinya juga ayahnya yang tak mampu lagi bekerja. Pundi-pundi rupiah-pun ia dapatkan. Namun, uang itu tidak dapat lagi untuk membayar sewa rumah dan biaya sekolah Callis. Sehingga, ayahnya pun memaksakan diri untuk bekerja. atau mungkin lebih tepatnya untuk pergi. Pergi tanpa sepengetahuan Callis. “Callis, ayah akan pergi, pergi untuk bekerja. Dan pergi untuk mencari ibu-mu. Jika ayah sudah menemukan ibu-mu, ayah akan menjemputmu disini, Di gudang ini. Ayah janji untuk segera kembali menjemput-mu Nak.”

Ibu Callis meninggal saat melahirkannya. tapi ayah Callis tidak pernah bercerita jika ibunya telah mati. beliau hanya bercerita jika ibunya pergi. pergi untuk bekerja.

Darahnya masih bertetesan mambasahi lantai gudang yang kotor dan kumuh. sudah 2 hari ia terdiam di gudang itu, tanpa makan. ia hanya minum, minum air hujan yang jatuh dari atap gudang yang berlubang. tak tahan ia rasa laparnya. akhirnya ia keluar dari gudang itu. dan berjalan menyusuri jalan yang sunyi sambil membawa biolanya, juga darah dari telujuknya masih menetes dengan volume yang lebih kecil. Ia lelah berjalan. berjalan yang tak berarti. Akhirnya dia menghentikan langkahnya, dan dia kembali memainkan biolanya walau dengan 3 senar. tak berapa lama, terdengar langkah yang semakin dekat menuju Callis. ternyata gadis dengan payung bermotif bunga itu adalah Khella, teman SD Callis.
“Callis, kamu ngapain disini? kamu sendirian? tangan kamu berdarah.. kamu ke rumah aku aja yuk!”
“Khella? iya, aku sendirian, aku lagi nungguin ayahku, ayahku bilang dia mau jemput aku saat dia ketemu sama ibu aku.”
“Kamu udah nunggu berapa lama? terus.. kamu kok kelihatan lebih kurus?”
“Udah 2 hari.”
“2 hari? tanpa makan?”
Callis hanya menjawab dengan anggukan.
“Lebih baik kamu ikut aku. kita ke rumah aku! aku nggak tega liat kamu kayak gini Cal.”
“Tapi kalau ayah aku jemput gimana?”
“Dia pasti nunggu kamu! ikut aku ya! kalau gini terus, kamu bisa mati kelaperan!”

Akhirnya, Callis mengiyakan ajakan Khella. 4 hari sudah Callis tinggal dengan Khella. tapi, hari ini Callis merasakan firasat yang aneh, benar saja. malam Ini, Callis mengigau.
“Ayah, apa itu ayah?”
“Apa ayah datang untuk menjemputku?”
“Ayah, apa itu ibu?”
“Ayah, kita akan pergi kemana?”
“Ibu, apa selama ini ibu tinggal disini?”
“Ibu, tempat apa ini? indah sekali?”

“Callis..Callis.!” ucap Khella membangunkan Callis
“Khel, apa aku mengigau?”
“Sepertinya iya!, kamu mimpi apa?”
“Aku mimpi, ayah dan ibuku menjemput aku! sebaiknya, aku harus ke gudang sekarang! siapa tau, ayah dan ibuku ada di sana!”
“Call, ayah kamu udah nggak ada!” tegas Khella
“Maksud kamu apa sih?”
“Turun yuk! kamu harus lihat sendiri!”

“Ya, rekan Sarah. kami melaporkan dari TKP, bahwa telah di temukan jasad seorang pria yang telah diduga terperosok ke dalam jurang sedalam 12 meter. pria tersebut di ketahui bernama Surya Purnama sekian laporan dari kami.”
Melihat berita itu, Callis berlari ke luar rumah menuju gudang terakhir kali ia bercengkrama dengan ayahnya. tak di duga, saat ia berlari, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Callis yang terkejut hanya bisa berteriak, dan seketika ia terjatuh dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah. Callis juga tewas di tempat.
rupanya ia memang di jemput oleh Yang Maha Esa untuk bertemu dengan ayah dan ibunya di surga.

Melihat kejadian itu, Khella hanya bisa duduk dan menangis sambil membawa biola milik Callis yang di ambilnya dari tangan Callis yang sudah tak bernyawa.

Cerpen Karangan: Finda
Blog: prastida.blogspot.com
Facebook: http://www.facebook.com/fynda.prastida

Cerpen Biola Callis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Yang Turun Sepanjang Hari

Oleh:
“Aku percaya hujan yang turun akan selalu membawa ingatan, juga perihal rindu yang datang dari masa lalu.” Koran Pagi: “Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik

Lingkunganku Masa Depanku

Oleh:
Lidya adalah murid yang sekolah di SD Pertiwi, Kota Jakarta. Sekarang Lidya kelas 3 SD. Lidya adalah anak yang sangat cinta terhadap kebersihan, baik di sekolah, di rumah dan

Sebuah Pengorbanan

Oleh:
Arti sahabat: Saat dia termenung dalam kesedihan, aku ada dan ikut dalam kesedihannya. Saat dia gembira, aku tertawa bersamanya. Saat dia bingung, aku selalu membantunya. Tapi apa yang dia

Biarkan Aku Bahagia di Pelukan Tuhan

Oleh:
“Bruukk” tiba-tiba tubuhku terkulai lemah di depan kelas, setelah itu aku tidak sadar sama sesekali. “Nila… nilaa… aku mendengar seseorang memanggil namaku, aku membuka mataku perlahan. Aku melihat teman-temanku

Cemara Kecil Untuk Ibu

Oleh:
Aku memandang ibu dengan gelisah. Beliau terbaring lemas di ranjang kamar tidur sembari sesekali terbatuk kecil. Sekarang giliran aku memandang bapak penuh harapan. Mata ayah sayu, dan terlihat merah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *