BlackBerry

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 10 September 2014

“Boleh minta pin BB?” tanya Rena. Lagi-lagi masalah itu! Rasanya sudah ribuan kali semua menanyakan tentang pin BB. Hhh… padahal kan, aku enggak punya BlackBerry! Aku menggeleng dan berlalu. Semua temanku, termasuk Rena bertanya-tanya ada apa denganku. Aku hanya tersenyum dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.

Sore yang indah. Mentari yang tadinya bulat, kini dengan perlahan-lahan menghilang di ufuk barat. Aku duduk diam disinari warna kemerahan yang memancar kian redup. Uhh… kesal rasanya sama Mama Papa. Kapan sih, aku bisa mendapatkan BlackBerry?!

Aku melempar batu kerikil. Batu itu kian menjauh dan menjauh… seperti impianku yang tidak pernah terkabul. Menurutku.

“Kenapa sih, aku selalu sengsara? Setahuku, Dania selalu beruntung di banding aku.” Keluhku membandingkan diriku dengan adikku, Dania. Tapi kenyataan selalu berkata jujur. Aku memang lebih sengsara dari Dania. Entah mengapa.

Langit kian redup. Aku tak bisa terus di sini, pikirku. Aku segera berdiri dan berjalan pulang ke rumah dalam bayang-bayang dan angan-angan yang tak pernah terwujud itu.

“Dari mana sih? Tumben sore baru pulang. Biasanya jam dua kamu sudah pulang.” Tanya Mama.
“Aku pulang sore atau siang atau malam bukan urusan Mama.” Jawabku kasar.
“Kamu kenapa sih?” tanya Mama pada akhirnya. Aku pun menceritakan masalahku yang selama ini aku simpan sendiri. Tentang Handphone yang sudah sejak dulu kuinginkan. Handphone yang menurutku hanya angan-angan yang tidak pernah terwujud.

“Kamu marah ya, sama Papa dan Mama?” tanya Mama. Aku hanya tertunduk dan memandang seragam yang belum sempat kuganti.

“Kalau kamu marah kamu boleh beli handphone itu. Yang kamu inginkan itu. Supaya tidak menjadi angan-angan saja.” Ujar Mama. Aku tahu itu dikatakan dengan berat hati.

“Aku minta maaf Ma. Sebetulnya aku hanya tidak ingin diejek anak yang ketinggalan jaman sama teman-teman. Aku malu karena tidak punya BB. Aku malu.” Jawabku. Mama berbalik dan tersenyum kepadaku. Ia mengelus rambutku dan memelukku pada akhirnya.

“Hal yang paling penting dalam dirimu adalah dapat mensyukuri semuanya. Apa pun yang ada, kamu perlu bersyukur. Kamu anak yang baik kan? Jadi jangan mudah terobsesi dengan teman-temanmu. Mama tahu kok, kamu ingin sekali handphone itu. Tapi, Mama tidak punya uang buat belikan untuk kamu. Kamu bersyukur masih memiliki Handphone. Walau bukan yang kamu ingini. Tapi masih lumayan dari pada tak memiliki sama sekali bukan?” jelas Mama panjang lebar.

“Terima kasih Mama.” Aku masuk ke pelukannya dan merasakan kasih sayang seorang ibu yang mendalam.

“Mama sayang kamu Megan.” Jawab Mama.

Selesai.

Cerpen Karangan: Priskila Pramana
Facebook: Priskila Pramana
Hai, aku Priskila Pramana. Usia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SDK Terang Bangsa. Hai salam kenal!

Cerpen BlackBerry merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Air Surga (Part 1)

Oleh:
Pagi hari sebelum berangkat, bayi berumur empat bulan itu memberinya kado muntahan susu di jas kerjanya. Pembantunya memberi kado sarapan roti yang gosong. Sopir taksi yang lamban mengadoinya absen

Roti Untuk Peri

Oleh:
Musim dingin tiba di Seal Cottage, sebuah desa kecil yang dikelilingi bukit-bukit tinggi menjulang. Butiran-butiran salju turun perlahan di tengah udara yang dingin. Danau kecil yang membeku terlihat berkilauan

Kaila dan Naila

Oleh:
Kaila Nadhifa dan Naila Khadifa namanya. Yap, Naila dan Kaila. Meski mereka kembar IDENTIK, tapi SIFATNYA sangatlah beda! Ups, ralat. Kecuali satu, TOMBOI. Ya, mereka sangat lah tomboi. Tapi

Kisah Mawar Melati

Oleh:
Mereka bergenggaman tangan kuat-kuat. Seolah tak ingin dipisahkan. “Kak Mawar kamu harus kuat. Tarik napas lagi. Keluarkan lagi!!” teriak Melati di tengah-tengah usaha kakaknya melahirkan. Ya. Hari ini Bunga

Salah Siapa

Oleh:
Bangunan berdinding putih, lantai putih dengan tirainya yang berwarna hijau, itulah tempatku bekerja saat ini. Setiap hari rintihan orang sakit telah biasa ku dengar. Aku bidan tetap di sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “BlackBerry”

  1. Ariel Kristant says:

    wah keren ceritanya..

  2. jannisa putricia thurky says:

    aku mau kasih saran boleh enggak dik.
    – cerita nya bikin 2 part jadi tambah seru
    – terakhirnya ceritanya mamaku punya uang dan akhirnya aku bisa beli lebih dari blacberry seperti Ipone gitu.

  3. Yudi surya says:

    Kalo uang nya di beliin Iphone

    beli beras sama bahan makanan yang lain gimana ? 😀
    Hayooo ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *