Bloody Wounds

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 10 September 2018

Di sebuah perkampungan kecil, tempat dimana Aryan dan ibunya tinggal dalam sebuah rumah tak layak huni. Aryan, anak lelaki berusia 15 tahun yang tak pernah mendapat kehidupan dan pendidikan yang cukup. Aryan tak pernah tau bagaimana sosok ayahnya. Yang ia tau, ibunya pernah bercerita bahwa ayahnya tinggal di kota. Ayah Aryan bernama Abdan, seorang pemilik toko sepatu.

Sebuah bencana menyerang perkampungan itu. Bencana manusia. Sekelompok orang mendatangi kampung tersebut. Manusia-manusia dengan muka sangar, macam tak kenal ampun, memporak-porandakan kampung kecil itu, membuatnya begitu cepat disegani masyarakat. Terjadi pemberontakan, tapi justru membuat nyawa-nyawa tak berdosa melayang begitu saja. Mereka merampas apa yang ada, termasuk isi rumah dan nyawa ibu Aryan karena melakukan perlawanan. Aryan ketakutan, dan hanya bisa bersembunyi di kolong meja makan.

Aryan hidup sebatang kara, bekerja sebagai kuli bangunan di kampung sebelah. Aryan tampak melakukan perbincangan dengan temannya bernama Ruman yang terpaut usia 10 tahun lebih muda dari Aryan.
“Di kota itu banyak orang jahat, kamu masih kecil Yan. Emang kamu tau alamat ayahmu?” tanya Ruman.
“Tau. Aku menemukan alamat serta foto ayah dalam laci kamar ibu. Abang kan bisa beladiri, ajari aku lah bang!”.
“Tapi itu udah lama.”.
“Ayolah!”.
“Ya udah.”.

Bertahun-tahun Aryan berguru pada Ruman. Semakin menginjak usia dewasa, beladiri Aryan pun semakin terlatih. Rencananya, Aryan akan pergi ke kota didampingi oleh Ruman. Mereka menumpang pada bak sebuah mobil berisi sayuran yang akan dibawa ke kota. Mereka akan melewati perjalanan yang begitu melelahkan.

Masih terlelap dalam tidur, mobil terhenti tiba-tiba. Ini belum sampai tujuan. Aryan dan Ruman pun terbangun mendadak. Empat orang pemuda menghadang mobil itu di tengah jalan, merampas apa yang ada, hingga membuat sopirnya terbunuh. Mereka tak bisa merampas dengan mudah, selama masih ada Aryan dan Ruman. Satu dari pemuda itu mengeluarkan senjata tajam berupa pisau dan berhasil membuat Ruman terluka parah. Sayuran pun tak rupa sayuran, ludes terinjak dan tercincang. Aryan berusaha menolong Ruman. Namun Ruman menghembuskan nafas terakhir, membuat Aryan terpaksa melanjutkan perjalanan seorang diri.

Sesampainya di kota, Aryan naik ojek untuk mencari alamat itu. Di tengah perjalanan, Aryan memaksa tukang ojek perempuan yang diketahui bernama Jihan itu berhenti tiba-tiba. Aryan melihat seorang preman tengah malak di pasar. Ia ingat bahwa preman itu adalah satu dari orang yang membunuh ibunya. Aryan menghajarnya dalam waktu singkat. Sialnya, preman itu tak seorang diri. Ada sekitar 10 orang preman yang siap membantu. Aryan berlari mendatangi Jihan yang masih menunggu. Ia memaksa menyetir. Preman-preman itu tetap mengejar memakai motor-motor bersuara keras. Sial, jalan buntu! Ia terpaksa menghadapi preman-preman itu. Berhasil, meski babak belur dan terluka. Jihan berusaha mengobatinya.

Jihan mengajak Aryan pulang, sebab siang telah menjelma malam. Aryan tidur di kursi panjang depan rumah Jihan. Aryan mendengar sesuatu. Seseorang ingin membawanya paksa, Aryan memberontak. Namun akhirnya, Aryan pingsan setelah dipukul cukup keras oleh seseorang. Jihan yang mendengarnya, berusaha mengikutinya.

Di markas komplotan preman-preman tadi siang. Si bos yang penasaran, ingin bertemu dengan Aryan. Aryan dibangunkan paksa setelah diikat di kursi. Dengan sombongnya, bos bernama Jerry itu memperlakukan Aryan semena-mena. Jihan mengalihkan perhatian dengan membuat suara yang begitu gaduh dan semuanya ke luar. Jihan masuk menyelamatkan Aryan. Sebelum berhasil ke luar, Jerry dan anak buahnya telah kembali. Mereka menyerang Aryan dan Jihan. Jihan berusaha membeladiri dengan apapun yang ia bisa. Satu-persatu preman-preman itu mulai tumbang. Tubuh Aryan yang penuh darah dengan berbagai macam luka, masih harus menghadapi Jerry yang juga tampak terluka. Mereka sering jatuh dan bangkit lagi. Sampai Jerry hampir berhasil membunuh Aryan namun dikacaukan oleh Jihan. Jerry berbalik menyerang Jihan. Sebelum Jerry akan memukul Jihan, Aryan bangkit kembali dan memukul Jerry terlebih dahulu sampai membuat Jerry benar-benar jatuh tak dapat bangkit lagi.

Di sebuah kamar rumah sakit, tampak Aryan yang sudah lumayan membaik, tengah asyik mengobrol dengan Jihan. Tiba-tiba, sepasang suami istri memasuki kamar itu. Orangtua Jerry.
“Kamu sudah membunuh anak saya. Saya tidak terima.”.
“Anak? Saya rasa impas. Anda sudah mengajarkan pada anak Anda untuk membuat saya kehilangan ibu saya. Dan sekarang, saya membuat Anda kehilangan anak Anda.”.
“Apa maksud kamu?”.
“Anda tidak akan lupa dengan perempuan bernama Sarah.”.
“Aryan anakku?”.
“Saya tidak punya ayah sejak saya lahir. Ayah saya udah gak ada.”.
“Maafkan ayah nak, ayah menyesal. Kamu bisa tinggal sama ayah.”. Aryan menolak mentah-mentah permintaan ayahnya itu. Ia tetap pada keputusannya akan kembali ke kampung, karena merasa pencarian yang ia lakukan selama ini sia-sia. Tak lupa, ia sangat berterimakasih pada Jihan yang telah banyak membantunya.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Blog / Facebook: Elfa Ria Puspita

Cerpen Bloody Wounds merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir dan Impian

Oleh:
Saat ini sang surya masih sanggup memancarkan sinarnya di ufuk timur. Jam wekerku menunjukkan pukul 16.16 WIB. Aku sedang duduk di teras ditemani laptop mungilku, segelas orange juice, dan

Gempa Sawit

Oleh:
“kring kring kring” Seperti biasa, Ghina pergi ke pasar menaiki sepeda kesayangannya. Jarak rumah Ghina yang berada di Desa Sawit ke pasar terdekat yaitu Pasar Pengging adalah sekitar kurang

Layang Layang Koin Si Akbar

Oleh:
Anginnya sepoi-sepoi kala itu, namun wajah seorang anak yang mempunyai pipi tembem nampak pucat kusam, entah apa yang dipikir Akbar kala itu, ternyata tak jauh dari situ pula matanya

My Special Day

Oleh:
Awan hitam masih menaungi langit kota Bandung, gemericik air hujan dan gelegar halilintar membuatku semakin bergidik ngeri. Di cuaca seburuk ini aku masih berdiam di halte depan sekolah. ku

Rania

Oleh:
Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya Aksara sudah pulang ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *