Bolehkah Aku Berandai?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 January 2018

Kyla kembali diam saat gurunya bertanya, dia hanya menenggelamkan wajahnya malu.
“Kei gak usah takut sama ibu, bilang aja ada apa” kata bu Rifa, Kyla sedikit melirik wanita paruh baya di depannya.
“Gak papa bu, Kyla permisi” Kyla berdiri dari duduknya “soal rapornya.. nanti Kyla minta supir buat ambil”

“Tapi Kei.. ibu harus berbicara sama orangtua kamu, paling enggak mamah kamu.” Kekeuh bu Rifa, Kyla menelan ludahnya susah payah.
“Mamah Kei..” Kyla diam beberapa detik sebelum mendongkak dan menatap bu Refa sambil tersenyum “Nanti kalau ada waktu Kyla minta mamah datang ke sini bu” lanjutnya.
Bu Refa menghela nafas lalu mengangguk “ya sudah kembali ke kelas” kata bu Refa. Kyla tanpa menunggu lagi langsung berlari kecil keluar dari ruang guru.

Mingyu yang melihat Kyla baru keluar dari ruang guru buru buru menghalangi langkah Kyla yang terkesan buru buru “Kei.. stop” Mingyu merentangkan tangannya di depan Kyla “Eh..” Mingyu melotot saat melihat mata Kyla yang basah.
“Gyu lagi gak mood untuk..”
“Kenapa? Bu Refa nanya yang macem macem lagi?” Tanya Mingyu.
Kyla hanya diam sebentar lalu membuang muka “Ya itu salah aku juga gak ngambil rapor tepat waktu” jawab Kyla.

Minggu meringis menatap sahabatnya, dia tau pasti apa yang dimaksud Kyla.
“Mereka terlalu sibuk Kei.. jadi jangan salah sangka dulu-”
“Memangnya mereka sesibuk apa?! Sampai masalah kayak gini aja gak ada yang bisa datang” potong Kyla cepat “Gyu memang mamah malu punya anak kaya aku?” Tanya Kyla pelan tapi menuntut.

Mingyu diam “Um..” Mingyu menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal “Mending kita ke kantin aja gimana? gak enak kan ngobrol di tengah jalan gini” kata Mingyu. Kyla mengangguk lemah, dan akhirnya mereka berjalan beriringan ke kantin.

Setelah Mingyu memesan dua porsi bento, dia kembali ke meja dan duduk di depan Kyla yang sedang sibuk meminum teh manisnya.
“Kei” panggil Mingyu, Kyla tidak menjawab tapi Mingyu yakin dia mendengarkan “Maksud mamah kamu bukan gitu kok, kamu kan juara 1 di sekolah. Di sekolah Kei.. susah jadi juara 1” kata Mingyu.
“Kyla.. mereka kerja kan buat bikin kamu bahagia, liat kamu sekarang.. apa apa gak kekurangan, apa apa tinggal menjentikkan jari tring.. langsung ada di depan mata” Mingyu menjentikan jarinya sambil tersenyum “positif thinking aja lah”
“Gyu.. bukan kaya gitu” masih menunduk Kyla berbicara “Mereka memang kerja dengan iming iming kebahagiaan buat anak anaknya. Tapi ini udah berlebihan Gyu.. mereka udah lupa sama tujuan awal mereka” Kyla tersenyum miris sambil menatap sahabatnya “sekarang.. ka Jimin aja aku gak tau dia ada dimana”

Laki laki berambut hitam kelam di depan Kyla hanya diam, di dalam hati dia meringis melihat keadaan sahabatnya yang semakin hari semakin tertekan.

“Broken heart gak ada apa apanya daripada broken home, Gyu” ucap Kyla menatap Mingyu dengan senyum khasnya.

Mingyu yang merasa bingung harus berbuat apa akhirnya mengangkat sendoknya dan mulai memakan bento yang tadi dia diamkan “Ya udah soal orangtua nanti lagi, makan dulu kamu semakin kurus Kei”

Kyla tersenyum dan mulai makan bentonya juga, pikirannya terbang ke mana mana.

Disela sela makan Kyla melirik Mingyu “Gyu” panggilnya.
Laki laki itu mendongak sedikit “apa?” Tanyanya dengan mulut penuh makanan “kenapa?”
“Nanti pulang sekolah, anter beli baju boleh?” Kyla menatap Mingyu penuh harap, Mingyu menelan makanannya sampai habis sebelum menjawab.
“Ke manapun kamu mau pergi aku anter kok”

“Kalau ke surga?” Tanya Kyla lagi sambil terkekeh.
“Ya ikut lah siapa yang enggak mau ke surga. Kalau ke neraka baru nolak” balas Mingyu.
“Emang yakin masuk surga?” Tanya Kyla lagi.
Mingyu tampak berfikir lalu menatap Kyla “Tuhannya baik, akunya belum. Tapi mungkin kalau Tuhan izinin mungkin bisa” jawab Mingyu. Kyla malah tertawa, Mingyu ikut tersenyum melihat wajah sahabatnya kembali seperti semula.

Pulang sekolah, sesuai janji Mingyu sudah menunggu Kyla di depan motornya.

“Hey Gyu” sapa Jun, Mingyu menengok dan tersenyum kepada kaka kelasnya.
“Hey kak” sapa Mingyu balik “mau pulang?”
“Iya nih.. nunggu siapa? Yuna?” Tanya Jun sambil naik ke motornya yang terparkir di sebelah motor Mingyu.
“Yuna kan lagi pergi sama keluarganya” jawab Mingyu “Kyla”

Jun membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ lalu memakai helm full facenya, laki laki keturunan Cina itu membuka kaca helmnya “Kalau gitu duluan ya”
“Ok kak.. hati hati” Mingyu mengangkat tangannya, Jun mengangguk dan menjalankan motornya. Bertepatan setelah Jun pergi, Kyla berlari kecil ke arah Mingyu.

“Hey” sapa Kyla, nafasnya terengah.
“Siap nona?” Mingyu menyodorkan sebuah helm, Kyla langsung menerimanya “ke mana kita hari ini nona?” Tanya Mingyu berlagak seperti Pa Hasan, supir pribadi Kyla.
Setelah memakai helm dan duduk di motor Mingyu, Kyla menjawab “ke mana aja deh.. mall boleh”
“Oke berangkat” Mingyu menjalankan motornya, membelah jalanan kota yang lenggang karena ini bukan jam macet.

Kyla meremas seragam Mingyu, angin yang berhembus membuat rambutnya berterbangan terbawa angin.

Setelah 35 menit Mingyu memarkir motornya di parkiran mall, Kyla turun dan membuka helmnya. “Gyu ayo cepetan” gerutu Kyla, Mingyu melirik perempuan yang sedang membenarkan rambutnya kesal.
“Sabar nona aku harus menjaga motor dulu” balas Mingyu yang sedang mengunci motornya. Mingyu berdiri lalu jalan mendekat ke arah Kyla “silahkan nona”

Tanpa menunggu lagi Kyla langsung masuk ke mall. Dia masuk ke toko toko yang menurutnya menarik, dan mengambil semua barang yang dia mau. Kyla bukan tipe orang yang banyak menimang nimang, walau barang itu tidak berguna tapi bisa membuat Kyla tertarik kenapa tidak? Lagipula uang Kyla tidak akan habis.

Mingyu menggeleng melihat sifat sahabatnya yang gila belanja, wajar memang kalau Kyla seperti ini karena dia terngiang ucapan Kyla ‘setidaknya kalau orangtua aku gak bisa bikin aku seneng, belanja mungkin bisa’ jadi Mingyu lebih memilih diam dan mengikut saja.

“Tolong ukuran 39” kata Kyla kepada pelayan toko, wanita berseragam itu mengangguk lalu pergi mengambil pesanan Kyla. Selama menunggu Kyla berkeliling toko ber-merk itu sambil melihat barang barang lain. Mingyu sedang ke toilet, jadi Kyla tidak berjalan jauh jauh takut takut Mingyu bingung mencarinya.

“Tapi tidak apa apa, ini saja sudah cukup”

“Tidak apa apa beli saja, ini tidak akan membuatku langsung bangkrut”
Kyla menyerngit, suara yang dia dengar tadi terdengar tidak asing di telinganya.
“Terimakasih pak..”
“Untuk Sendi apa yang engga”

Kyla menengok, matanya hampir melonjak keluar saat melihat pria paruh baya dan wanita ber-rok pendek yang sedang membelakanginya. Dia hapal betul siapa laki laki itu walau dengan posisi membelakanginya.
“Pah..” gumam Kyla. Tanpa dia sadari kakinya bergerak lebih cepat daripada otaknya.
“Papah” panggil Kyla, pria yang dia panggil ‘papah’ tadi berbalik.

Hati Kyla mencelos, itu benar papahnya. Kyla melirik wanita dengan lipstik merah darah dan pakaian minim di sebelah papahnya.
“Pah.. mamah ke mana?” Tanya Kyla, pandangannya sudah kabur tetutup air mata.
Papahnya yang tadinya tersenyum hangat berubah menjadi tegang saat mendengar ucapan Kyla “Kyla ingat, dia mamah kamu Kei” Roni menunjuk perempuan disebelahnya.

“Halo Kei” sapa perempuan itu, Kyla menatap perempuan itu tajam.
“Pah.. mamah Kyla gak akan berubah sampai kapanpun. Pah.. dia bukan perempuan baik baik” tunjuk Kyla ke perempuan itu.
“Kyla jaga omongan kamu, kapan papah pernah ngajarin kamu kayak gini” wajah Roni mulai serius.

“Kapan?” Tanya Kyla sambil terkekeh “Tanpa papah sadari.. papah yang ngajarin Kyla kaya gini. Papah yang ngajarin Kyla bersikap kaya gini, jangan salahin Kyla pah.”
“Dan papah harus tau, sampai Kyla mati Kyla gak bakal sudi manggil perempuan di sebelah papah ini dengan sebutan ‘ibu’ papah tau kenapa?” dada Kyla naik turun menahan amarah “Karena perempuan ini rendahan, yang dengan gak tau malunya masuk ke rumah tangga orang dan hancurin semuanya”

“Jaga omongan kamu ya Kyla!” bentak papahnya, untung toko ini jarang didatangi pembeli karena harganya, jadi tidak ada yang melihat mereka.

Kyla tersenyum “Papah.. Kyla kangen papah yang dulu”
“Papah masih sama kaya dulu sayang” wajah Roni melembut “papah gak berubah”
“Kalau papah gak berubah papah gak bakal sama wanita sialan ini pah!”

Plak
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kyla, Kyla langsung memegang pipinya yang terasa panas.

“Astaga.. Roni jangan seperti itu, dia anakmu”
“Dia sudah kurang ajar, sekali sekali harus dikasih pelajaran”

Kyla menahan sakit di pipinya, dia kembali menatap ayahnya “Pah.. sekarang buktiin ke Kyla kalau papah gak berubah”
“Papah sadar apa yang papah lakuin?” Tanya Kyla.

“Papah dulu bentak Kyla aja gak pernah pah.. kenapa papah bisa tampar Kyla kaya gini?!”
“Papah salah Kyla apa pah sampai papah sama mamah cerai”
“Papah udah bosen sama Kyla yang manja?”
“Pah maafin Kyla sula gak nurut sama papah, dan suka minta ini itu sama papah”

“Kyla juga mewakili ka Jimin minta maaf sama papah”
“Kyla janji gak bakal dapet nilai jelek lagi”
“Kyla janji gak bakal minta ini itu lagi ke papah..”
“Kyla janji..” Kyla menghapus air matanya kasar “Kyla janji bakal habisin makan Kyla..”

“Kyla kangen papah yang dulu.. yang bakal bela belain makan malam bareng sama mamah sama ka Jimin walau papah cape”
“Kyla kangen mamah sama papah liburan ke pantai, dengan Kyla dan ka Jimin yang foto foto di pohon kepala”
“Apa papah sadar betapa cepat waktu merubah segalanya?”
“Pah..” Kyla menunduk dalam, dia tidak bisa menahan tangisannya lagi.

“Kyla maafin papah”

“Kyla selalu maafin papah, tapi papah cuman bilang maaf sebatas mulut aja pah. Bukan maksud Kyla membangkang tapi papah sendiri yang buat Kyla membangkang!” Bentak Kyla.
“Terus apa mau kamu? Memangnya semua barang yang kamu beli itu uang siapa? Hasil keringat siapa?” Papahnya malah ikut naik pitam.

“Uang papah, semuanya uang papah. Uang mamah! Dan secara gak langsung papah beli kebahagiaan Kyla pakai uang!”
“Kyla gak butuh uang yang banyak pah, tapi.. Kyla cuman ingin kita kaya dulu lagi sama mamah, ka Jimin”

“Jangan berharap sesuatu yang gak mungkin Kei” balas papahnya.

Kyla meringis pelan mendengar perkataan manusia yang dia sebut ‘papah’. Tanpa mengatakan apa apa lagi Kyla berbalik dan pergi meninggalkan toko tersebut, sebelumnya dia beradu pandang dengan Mingyu yang daritadi diam di belakangnya.

“Ayo Gyu.. kita pulang” kata Kyla, Mingyu tidak berkata apa apa lagi dan hanya menurut.
“Tapi Gyu, aku lapar. Kalau makan dulu..”
“Iya makan dulu gak apa apa” balas Mingyu cepat, Kyla mengangguk. Akhirnya mereka berbelok ke restaurant italia favorit Kyla.

Dari memesan sampai makan Kyla sama sekali tidak bersuara dan Mingyu juga tidak berusaha untuk mengibur, dia berfikir biar saja Kyla diam toh nanti juga dia akan cerita juga.

Selesai makan Kyla mengeluarkan handphonennya dan menuliskan beberapa kata di handphone keluaran terbaru itu.

“Gyu.. yang tadi jangan sampai ada yang tau ya” setelah memasukan handphonennya kembali, Kyla menatap Mingyu.
“Iya lah Kei.. santai kalau sama aku mah”
“Aku malu sama kamu, keliatannya keluarga aku sampah ya” Kyla tersenyum miris.
Mingyu menggeleng “engga kok Kei.. lagian ada keluarga yang lebih parah kok” Mingyu menggaruk hidungnya “Santai aja”

Kyla terkekeh “Mingyu.. terimakasih udah mau temenan sama anak rusak kaya aku” ucap Kyla tiba tiba.
“Ya ampun Kei kamu rusak apanya? Kei dengerin ya” Mingyu menumpu dagunya dengan tangan di atas meja “Semuanya bisa kamu perbaiki kok”
“Kalau semua orang mendukung, liat kan tadi. Ini” Kyla menunjuk pipi putihnya yang berubah jadi merah karena tamparan ayahnya “Ini bukti kalau sekeras apapun aku mencoba, pasti gagal juga”

“Tapi kan Kei..”
“Gyu, gak banyak yang aku ingin” potong Kyla, Mingyu menutup mulut membiarkan orang di depannya berbicara “Aku gak ingin nilai bagus, mobil mewah, rumah besar, atau apapun yang orang lain pengen.”
“Cuman satu yang aku andai andaikan di setiap doa aku” tatapan Kyla menerawang “Bisa makan malam sama papah, mamah, ka Jimin kaya dulu. Itu aja Gyu, makan malam keluarga”

Mingyu terhenyak, sesakit itukah Kyla? Semenderita itukah sahabatnya ini? Mingyu dengan ragu mengusap pundak Kyla, seolah olah memberikan kekuatan disetiap elusannya.

Tapi berbanding terbalik, Kyla malah menjatuhkan kepalanya di meja dan mulai menangis. Air mata yang sejak tadi dia tahan tumpah, Mingyu menatap sekeliling dan sedikit membungkuk meminta maaf kepada pelanggan yang lain yang menatap mejanya aneh.

“Kei sudahlah gak usah nangis, nanti dikira orang orang aku apa apain kamu” kata Mingyu.
“Mingyu.. perempuan sialan itu apa cantiknya?!” Tanya Kyla samar karena masih menenggelamkan wajahnya “Dia pakai sihir apa sampai papah mau ninggalin mamah buat wanita murahan kaya dia yang cuman pengen uang papah”
“Kei..” Mingyu menepuk nepuk punda Kyla “Udah Kei..”

Masih dengan airmata yang membanjiri wajahnya Kyla mengangkat kepalanya “Mingyu apa harus aku pergi?”
Mingyu melotot “Yak!” Bentak Mingyu “Kamu mikir apa?! Boleh kamu sedih tapi jangan mikir yang macan macam kaya gitu”
“Tapi Gyu.. aku udah gak berguna”
“Kyla harusnya kamu gak kaya gini. Harusnya kamu gak usah nangis dan tunjukin ke papah kamu kalau kamu bisa hidup tanpa dia”

“Nyatanya gak bisa Gyu, aku gak bisa hidup tanpa papah, aku gak bisa hidup tanpa kasih sayang dan manjaan papah”
“Maka dari itu, tujukin kalau kamu bukan anak manja papah lagi, tunjukin kalau kamu bisa hidup baik tanpa papah kamu. Biar papah kamu menyesal, atau paling tidak terhenyak melihat anaknya bisa”

Kyla termenung sebentar, detik kemudian dia menatap Mingyu dalam “memangnya apa yang bisa di banggain dari anak kaya aku Gyu?” Tanya Kyla.

Mingyu memijat pelipisnya frustasi “Ayolah Kei.. kamu juara satu sekolah, kamu itu berprestasi, kamu cantik banyak yang suka sama kamu”

“Mingyu sekeras apapun kamu berusaha menghibur, gak bakal aku dengar. Karena aku udah tuli” Kyla tersenyum “Terimakasih Gyu, setidaknya dari kecil kamu sudah jadi yang terbaik buat aku”
“Kei.. kita sahabat sudah sejak bayi, jangan ragu ragu sama aku. Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu” balas Mingyu seadanya, percuma juga dia menghibur Kyla kalau Kyla sendiri sudah menutup hati dan telinganya.

Kyla tersenyum miris “Gyu biar aku nanti pulang sama Pa Hasan, kamu pulang duluan aja”
“Aku tungguin sampai Pa Hasan datang” balas Mingyu, Mingyu tidak sebodoh itu. Bisa saja Kyla melakukan sesuatu yang tidak terduga kan?

Kyla menunduk, pikirannya blank sekarang. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, mungkin ada satu. Satu satunya hal yang bisa dia lakukan adalah meneruskan hidupnya yang sudah tidak tahu lagi kelanjutannya.
Ayahnya yang menikah lagi, mamahnya yang pindah ke Jeoang, dan kaka laki lakinya yang sampai detik ini belum diketahui keberadaannya. Kyla hanya hidup dengan pembantu pembantunya ditambah Pa Hasan, supirnya.

Terkadang sebagai anak sudah melakukan apapun yang orangtuanya mau, tapi mereka tidak tau. Mereka, orangtua, tidak tahu kalau peran mereka juga penting untuk kehidupan anak anaknya. Dukungan orangtua itu sangat penting, dan anak yang kurang mendapat dukungan akan merasa segala sesuatu yang dia lakukan berat.
Anak yang tidak mendapat dukungan dari siapapun merasa kalau apapun yang mereka lakukan adalah bodoh, karena tidak ada yang mau menapresiasi hasil mereka.

Bukan maksud Kyla menuntut orangtuanya untuk mengerti, tapi apa Kyla salah ingin orangtuanya akur seperti dulu?
Kalau diberi kesempatan, bolehkah Kyla menyuarakan permintaannya kepada Tuhan? Tuhan sudah baik, tapi dia belum, tadi dia mohon sekali ini saja agar Tuhan mengabulkan permintaannya.

Kyla hanya ingin waktu berputar walau hanya beberapa jam saja, dia ingin kembali ke masa dimana keluarganya masih utuh dan tentram, penuh canda tawa. Dia ingin kembali ke masa masa dimana saat bangun tidur dia bisa mencium wangi masakan mamahnya dan makan malam bersama. Dia ingin sekali memutar waktu dan mengingatnya lekat lekat di memorinya.

Tuhan, apakah salah kalau aku punya keluarga yang cacat?

Cerpen Karangan: Randita Arni

Cerpen Bolehkah Aku Berandai? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Kehidupan Cece

Oleh:
Namanya cece dia adalah seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana, usianya baru 14 tahun, cece mempunyai seorang sahabat yang bernama nita, nita adalah sahabat cece dari smp, mereka

Bintang Persahabatan

Oleh:
“Mai… Ada satu hal yang belum kamu tau…” Ujar Fifhin “Oh ya? Apa itu, Fhin?” Tanya Mai “Hmm.. Kalo aku gak ada.. Kamu tetap mandang bintang kan?” Ujarnya “Ish..

Thank’s Mom

Oleh:
Semua orang pernah dimarahi oleh mamanya. Namun, berbeda denganku. Mama memarahiku bukan karena aku melakukan kesalahan. Namun karena aku melakukan suatu kebiasaan yang begitu aku senangi. Menulis. Mama tak

Adakah Kebahagiaan Untukku?

Oleh:
Malam ini ku merenungi malam yang sunyi, kutatap bintang di langit dengan cahaya rembulan yang selalu membuat hati ini tenang sambil ku berbisik, Apakah bintang-bintang selalu bahagia? Semakin lama,

She’s My Best Friend Forever

Oleh:
Hari selasa itu aku melihat Hira diantar kakaknya ke sekolah. Ia terlihat masih sangat pucat setelah 1 hari tak masuk sekolah karena sakit. Sahabat karibku yang genius itu memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bolehkah Aku Berandai?”

  1. dinbel says:

    Kerenssss, goood job untuk pengarang yg udah berhasil membuat cerita yang sungguh2 mengharukan & menyayat hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *