Boneka Beruang Besar Kakek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Di sebuah rumah yang sederhana tinggallah seorang Kakek tua dan seorang anak perempuan yang sangat pemalas, anak itu bernama Putri. Ibu dan Ayah Putri sudah meninggal dunia sejak ia masih balita karena kecelakaan. Kakek yang dulu pernah bekerja di sebuah pabrik Roti harus meninggalkan pekerjaan tersebut karena umurnya yang sudah tua. Kakek sudah tidak mempunyai keluarga lagi, ia hanya memiliki seorang cucu perempuan yang sangat ia sayangi. Sekarang kakek hanya bekerja di rumah untuk menafkahi dirinya dan putri cucunya, beliau membuka usaha sol sepatu di depan rumahnya. Sehari-hari Putri hanya bermain di luar rumah bersama teman-temannya, ia tidak pernah membantu kakek mengerjakan pekerjaan rumah. Saat ini Putri duduk di kelas VI SD, tetapi Putri sama sekali tidak merasa iba kepada Kakeknya yang setiap hari harus bekerja untuk membiayai sekolahnya. Putri selalu ke sekolah, tetapi tidak pernah belajar di rumah. Putri sangat nakal di sekolah, ia tidak pernah membuat PR. Putri senang sekali menyontek pekerjaan temannya, kakek pun pernah dipanggil oleh Guru Putri karena sering membuat kesalahan di sekolah. Putri salah satu anak yang tidak disukai oleh teman-temannya maupun guru-gurunya, karena sifatnya yang nakal dan sering mengganggu teman serta melawan kepada guru.

Suatu hari ketika sepulang sekolah Putri diajak bermain ke rumah salah satu teman barunya. Kebetulan orangtuanya sedang tidak ada di rumah. Nama teman barunya itu Nuri, Nuri adalah teman sebangku Putri pindahan dari Jakarta. Putri tidak pernah menganggu Nuri, karena Putri sering dibantu oleh Nuri ketika ujian. Putri melihat banyak sekali mainan disana, saat sedang asik bermain tiba-tiba Putri masuk ke dalam kamar Nuri lalu melihat ada salah satu boneka beruang yang sangat besar. Putri sangat menginginkan boneka tersebut, tetapi Nuri tidak mau meminjamkannya kepada Putri karena Boneka itu adalah hadiah ulang tahun dari mamanya. Dengan wajah marah, Putri menyandang tasnya lalu bergegas pulang ke rumah. Di sepanjang jalan Putri Nampak kesal dan berlari sangat kencang untuk sampai ke rumahnya.

Lalu sesampainya di rumah Putri langsung berkata kepada Kakeknya. “Kek, Putri minta uang”. Tutur Putri kepada kakeknya yang sedang menjahit sepatu langganannya. “kamu mau beli apa nak?” jawab kakek sambil meletakkan sepatu yang sedang dijahitnya. “Putri mau beli boneka beruang besar seperti punya teman putri”. “Tapi kan harga boneka besar itu mahal sekali nak? kakek tidak punya uang sebanyak itu” Jawab kakek dengan wajah sedih. “Ah.. Kakek ini pelit sekali, tidak pernah memberikan apa yang Putri minta, pokoknya Putri mau dibelikan sekarang juga, kalau tidak Putri tidak mau sekolah”. Desak Putri kepada kakeknya. Putri pun meninggalkan Kakek yang terdiam karena ucapan cucunya, lalu tanpa berpikir panjang akhirnya Kakek pergi ke rumah salah satu tetangganya yang baru ia kenal beberapa minggu yang lalu, Kakek merasa hanya tetangga itulah yang mau membantunya, karena tidak tahu lagi hendak meminta pertolongan kepada siapa.

Sesampainya di rumah tetangga tersebut, kakek mengetuk pintu dengan suara yang sangat pelan, tetapi belum ada seorang pun yang menyaut atau membukakan pintu. Setelah beberapa kali kakek mengetuk pintu rumah itu, akhirnya datanglah seorang anak perempuan dari belakang kakek, lalu anak itu menghampiri Kakek yang sudah lama berdiri di depan pintu rumah tersebut, dan ternyata ia adalah anak dari tetangga kakek. “Kek, mau mencari siapa? Tanya anak itu”, hmm… kakek mau mencari ibumu nak. Apa dia ada di rumah?” Tanya kakek. “Ibu sudah beberapa hari ini pergi ke rumah saudaranya di kampung kek”, tutur anak itu lagi, “oh begitu, ya sudah nak.. Kakek pamit dulu, terimakasih ya. “Iya kek”, jawab anak itu lagi. Kakek pun pulang dengan wajah yang semakin sedih, karena ia tidak bisa mendapatkan uang.

Kakek berjalan menuju rumah dengan wajah kecewa, sesampainya di rumah kakek melihat pintu kamar Putri tertutup rapat. Itu tandanya cucunya tersebut mengurung diri dan tidak mau keluar menemuinya. Kakek yang sudah letih pun duduk dan merenung sambil memikirkan ke mana ia akan meminjam uang untuk membeli boneka yang diminta oleh cucunya tersebut. Tetapi tidak lama kemudian Putri pun keluar dari kamarnya, dan menghampiri kakeknya “Mana kek bonekanya?” kata Putri yang masih mendesak. “kakek sudah berusaha meminjam uang kepada tetangga nak, tetapi mereka sedang tidak ada di rumah. Kakek haus sekali, tolong ambilkan kakek minum nak.” Minta kakek pada cucunya. “ambil saja sendiri kek, putri mau pergi, putri malas tinggal bersama kakek, kakek tidak sayang sama putri”. Kakek pun menghela nafas panjang lalu pergi ke dapur untuk mengambil seteguk air.

Hari pun sudah sore, kakek yang sedang melanjutkan jahitannya merenung seorang diri mengingat perkataan cucunya yang sangat menyayat hatinya. Kakek tidak pernah memarahi Putri, walaupun Putri tidak pernah membantunya, tidak pernah mau jika disuruh olehnya, tetapi kakek tetap menyayangi Putri. Kakek sudah berjanji kepada Almarhum ayah dan Almarhumah ibu Putri untuk menjaga cucunya itu dengan sepenuh hati, walau sekarang ia sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Tidak lama kemudian kakek didatangi oleh seorang Ibu-ibu, “assalamu’alaikum” ujar ibu itu, “walaikumsalam” jawab kakek. Ketika kakek menoleh ke arah ibu tersebut ternyata yang datang ialah tetangga kakek, ia baru pulang dari kampung. “kakek tadi mencari saya ya ke rumah?” “iya nak, saya tadi siang kesana, tetapi kamu tidak ada di rumah” Jawab kakek. “maaf kek, sudah 3 hari saya di kampung kek, ini baru pulang, tadi anak saya langsung bilang kalau kakek mencari saya, memangnya ada apa ya kek?” Tanya ibu itu. “hm.. kakek ingin meminjam uang nak, cucu kakek ingin sekali boneka beruang besar, kasihan dia.” “Kakek…, kakek… saya kira ada apa”. Sambil tersenyum ibu itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli boneka beruang besar tersebut. Kakek pun tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada ibu itu karena sudah mau meminjamkan uang kepadanya.

Di tangan kakek sudah ada boneka yang diminta oleh cucunya, kakek menunggu kedatangan putri dengan hati yang bahagia. Hari mulai senja, tetapi Putri belum juga pulang, kakekpun mulai khawatir. Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda dengan tergesa-gesa menghampiri kakek, dan ternyata firasat kakek benar adanya, pemuda itu memberi tahu beliau bahwa cucunya “Putri” sekarang berada di rumah pak RT karena ketahuan mencuri di rumah tetangga. Kakek langsung kaget dan bergegas ke sana, kakek tetap menggendong boneka beruang yang akan diberikan kepada cucunya tersebut. Karena tidak kuasa menahan hati melihat cucunya yang sedang dikerumuni warga, tiba-tiba kakek jatuh pingsan di depan pagar Pak RT. Semua warga menoleh ke arah kakek tua yang malang tersebut, lalu bersama-sama mengangkat beliau ke dalam rumah Pak RT. Putri yang sudah terlanjur mencuri itu tiba-tiba terdiam dan meneteskan air mata, karena melihat kakeknya terjatuh sambil memeluk boneka beruang yang ia minta dengan memaksa dan membentak kakek. Putri juga ikut menghampiri kakeknya, putri diminta untuk duduk di depan kakek sambil memijit tangan kakeknya oleh seorang ibu-ibu di sana. Putri memegang tangan kakeknya yang sudah keriput sambil menatap wajah kakek yang masih belum sadar dengan mata yang berkaca-kaca, semua orang yang berada di sana menatap putri dengan muka marah. Tetapi ibu yang meminta putri untuk memijat tangan kakeknya tersebut mengusap kepala putri, ibu itu pun berkata “Nak.. sayangilah kakekmu, seperti ia yang sangat menyayangimu, ia mau berkorban untukmu, sedangkan kamu hanya membuat kakekmu semakin sedih dengan sikap buruk yang kamu kerjakan. Kamu tau nak, boneka yang kamu curi itu milik siapa?” tutur ibu itu, putri langsung kaget dan menoleh ke arah ibu yang berbicara kepadanya tersebut. Tetapi putri hanya diam tanpa menjawab apa-apa. Lalu ibu itu menatap putri dengan tersenyum dan berkata “boneka yang ingin kamu curi itu punya anak ibu, itu adalah kado ulangtahun dari ibu untuknya, nuri adalah anak ibu, teman sebangkumu kan nak? Dan kakekmu sudah ibu anggap seperti orangtua sendiri. Kamu tahu nak dari mana kakekmu mendapatkan uang untuk membelikan boneka beruang yang cukup mahal harganya ini? Beliau rela meminjam uang kepada ibu hanya untuk memenuhi keinginanmu. Dan sekarang lihatlah, semua orang menyaksikan perilakumu yang tidak baik, sementara kakekmu yang sudah tua ini terbaring lemah karena seharian dia berjalan untuk mencari uang pinjaman agar kamu bahagia.” tutur ibu itu dengan penuh kelembutan. Dengan rasa penyesalan putri pun menangis sangat kencang, ia menyesali perbuatannya yang sangatlah buruk.

Tak lama kemudian mata kakek pun berkedip dan tangan kakek mulai bergerak, putri yang sedang memegang tangan kakeknya itu mencium tangan kakek dan mencium pipi kakek yang sudah keriput dan kering itu, lalu dengan wajah yang sangat terpukul akhirnya putri meminta maaf kepada kakeknya. Putri pun berkata kepada kakek sambil meletakkan tangan kakek ke pipinya, “kek.. buka mata kakek, Putri tidak mau terjadi apa-apa sama kakek, Putri berjanji sama kakek tidak akan malas lagi, tidak nakal lagi, Putri mau menjaga kakek seperti kakek menjaga putri. Putri juga berjanji akan belajar dengan baik, putri tidak akan membuat kakek repot lagi untuk datang ke sekolah menghadap Guru lagi karena ulah putri” tutur putri sambil meneteskan air matanya. Kakek yang sedang terbaring pun membuka matanya dan membalas ucapan cucunya itu dengan sebuah senyuman, lalu memberikan boneka beruang itu kepada cucu yang sangat ia sayangi tersebut, putri berterimakasih kepada kakek karena akhirnya ia bisa mendapatkan boneka yang sangat ia inginkan itu, tetapi dengan mata yang berkaca-kaca putri berkata kepada kakeknya “Kek, boneka beruang ini buat kakek saja ya, putri tidak mau boneka, putri hanya mau kakek. Karena putri menyayangi kakek.” Tutur putri sambil memberikan boneka beruang besar itu kepada kakeknya

Cerpen Karangan: Nike Resti

Cerpen Boneka Beruang Besar Kakek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Spesial

Oleh:
Yuhanis Abdullah. Remaja perempuan yang sebulan lalu menginjak 18 tahun. Sweet eighteen!! Kamis minggu lalu menyelesaikan ujian nasional. Rasa melayang di udara ketika ke luar dari ruang kelas yang

Raysa

Oleh:
Raysa adalah seorang gadis kota yang hidup serba berkecukupan. Ayah Raysa seorang Direktur di perusahaan swasta Indonesia, maka dari itu Raysa tidak pernah merasa kekurangan, apapun yang dia inginkan

Aku dan Keegoisanku

Oleh:
“Aku hanya ingin berdiri saja disini, jangan ganggu aku!.” Kalimat itu aku berikan untuk Kak Gee yang setengah jam yang lalu mengajakku beranjak pergi dari tempat ini, tempat yang

Loe Itu Pelanginya

Oleh:
Malam sudah larut tapi Clarisa masih disibukkan dengan Cucian piringnya, Walaupun sebenarnya Pembantu di Keluarga Clarisa ada kurang lebih 10 orang tapi dia tetap aja kekeuh buat bisa nyuci

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Boneka Beruang Besar Kakek”

  1. ardy says:

    saya suka sekali sama website ini, karena ceritanya yang lengkap dan cocok buat penghantar tidur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *