Broken

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 November 2021

Ini cerita tentang betapa bisingnya setiap hari di rumahku.

Suara piring yang pecah, hantaman ke dinding yang kuat dan teriakan keras dari dua orang yang sedang bertengkar, memperdebatkan sesuatu yang sebenarnya bisa dibicarakan secara pelan-pelan.

“bodoh, begitu saja tidak becus, bagaimana bisa aku bertahan dengan perempuan bodoh sepertimu.” ucap ayah sambil berteriak keras kepada ibu, lalu ibu menjawabnya dengan teriakan “kalau begitu akhiri saja pernikahan ini, jangan selalu mengancam seakan kamu pria yang paling hebat dan tampan, kamu sangat menjijikan”.

Dug.. dug.. dug, begitu keras suara detak jantungku, sampai bisa kudengar dengan jelas, hatiku sakit, rasanya sangat sesak dan aku ingin sekali berteriak.

Dalam keadaan duduk di atas sajadah dan masih memakai mukena, aku menangis sambil mengangkat kedua tanganku dan berdoa.
“Ya allah, apakah ini proses dari pendewasaan?, ini belum waktunya menjadi dewasa, aku masih ingin banyak tertawa dan bercerita tentang hari-hari bahagia, tapi engkau malah menciptakan perang antara ibu dan ayah, duniaku hancur, begitu juga hatiku, kuatkanlah aku, aku lelah menjadi orang yang lemah, semoga engkau meringankan beban di pikiranku ya allah.”

Aku tertidur dalam keadaan menangis di atas sajadah.
Tuhan, kini aku akan berusaha menjadi lebih dewasa, meski seharusnya dewasa tumbuh seiring berjalannya waktu, bukan karena terpaksa dewasa karena keadaan.

Cerpen Karangan: Nadya Dwi Oktaviani
Blog / Facebook: Nado
Aku nadya, anak SMKN 2 kab. tangerang, hobi pura-pura bahagia hahaha

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Broken merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rinduku Pada Pelangi

Oleh:
“O, Tuhanku”, akan kuceritakan apa yang membuatku merasakan rindu pada pelangi selama ini. Dengarlah aku karena sesungguhnya engkau Maha mendengar setiap keluh kesah hambaMu. Di ujung musim hujan, dimana

Ambisi Berakhir Lari

Oleh:
Berantakan. Semua yang ada di depanku berantakan. Diri ini tak kuasa lagi menguak kesendirian yang memilukan. Cukup! Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Semuanya terasa mimpi. Delusi yang nyata.

Kenangan Terakhir

Oleh:
Namaku Bila, aku adalah anak sematawayang. Ya, aku senang sekali menjadi anak sematawayang karena aku dapat bermanja-manja dengan kedua orangtuaku. Orangtuaku pun selalu memenuhi keinginanku, sangat bersyukurlah aku dengan

Rhyme In Peace Ibu

Oleh:
Dia terbaring lemah tak berdaya di bilik kecil yang terbuat dari bambu. Dulu dia begitu kuat, tak ada satupun keluhannya tentang kahidupan. Namun kini perempuan separuh baya ini mengalami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *