Bros Bos

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 19 March 2018

Mayang sedang duduk dan membaca majalah fashion di ruang tamu saat kakaknya pulang. Kakaknya masuk ke rumah dengan ponsel di telinganya, masih terus bicara saat ia duduk di kursi di sebelah Mayang.

“Iya bu, brosnya ada pada saya. Iya. Hari senin akan saya bawa ke kantor. Iya, bu. Iya. Selamat sore”
Setelah kakaknya mematikan ponsel, barulah Mayang bertanya, “Bros apa, kak?”
“Tadi saat acara gathering, bu Sofie salah makan. Dia muntah-muntah, jilbabnya kena dan jadi kotor. Untungnya Mbak Lela membawa jilbab dagangannya, jadi jilbab bu Sofie bisa diganti. Tapi karena setelah itu bu Sofie cepat-cepat dibawa pulang, brosnya tertinggal di wastafel toilet perempuan. Waktu bu Sofie sadar, dia langsung nelepon kakak. Untung brosnya belum diambil orang.” Jelas kakaknya seraya melepas sepatu heels-nya.
“Brosnya seperti apa? Lihat, dong.” Pinta Mayang.

Kakaknya mengeluarkan sebuah bros dari tas tangannya. Ukurannya lumayan besar, dengan sisi berwarna keemasan yang meliuk-liuk seperti ukiran pada kayu, dan batu hiasan berwarna merah cemerlang di tengahnya.
“Wuiihh… brosnya bagus banget!” seru Mayang. “Pinjam dong. Besok aku mau jalan sama temen-temenku.”
“Huss! Barang orang lain kok seenaknya mau dipakai pergi, tidak boleh!” kata kakak tegas.
“yah… kak. Aku cuma mau pinjam sebentar, boleh ya…” Rayu Mayang.
“Ini barang titipan, Mayang. Bukan punya kita.”
“Nggak akan hilang kok!”
“Bukan itu inti masalahnya.” Kata kakak, “Pokoknya tidak boleh. Titik.”

Esok hari mendapati Mayang mondar-mandir di kamarnya. Ia ada janji untuk bertemu dengan teman-temannya, dan aksesoris yang ingin dipakai justru tidak ada di tempat penyimpanannya. Mayang membuka-buka lemari dan laci mejanya, mengangkat dan menggeser barang di sana, jilbabnya yang baru setengah jadi terurai di depannya.
“Aduh… bros mawarku ke mana, ya…?” gumam Mayang. “Terakhir pakai hari Kamis deh.. kutaruh di mana, ya?”

Beberapa lama ia mencari-cari bros kesayangannya. Di laci, lemari, bahkan kolong tempat tidur, namun brosnya tetap tidak terlihat. Mayang menghela nafas panjang. Sepertinya ia harus merombak ulang penampilannya. Saat ia mau melepas jilbab yang terpasang di kepalanya, terbesit pikiran dalam benaknya.
“Pinjam bros punya kakak saja. Seingatku ada yang warnanya cocok, deh.”

Mayang segera menuju kamar kakaknya. Di meja rias kakaknya, ada sebuah kotak tempat kakaknya menaruh bros dan aksesoris. Mayang membuka kotak itu.
“Eh, ini kan bros bosnya kakak.” Ucap Mayang saat ia menyadari keberadaan bros batu merah di atas tumpukan aksesoris kakaknya. Mayang mengambil bros itu dan mengangkatnya, mengamati cahaya yang terpantul pada batu hiasan bros.
Brosnya berat juga, jelas bukan terbuat dari bahan plastik, pikir Mayang, Brosnya cantik. Warna batunya sama seperti bros mawarku. Pasti pas juga untuk jilbab yang kupakai sekarang. Tapi kakak bilang tidak boleh dipakai…
Ah, kakak juga sedang tidak ada, kupakai saja! Nanti juga pas kakak pulang aku sudah di rumah.

Malamnya, Mayang sedang bermain game di komputer di kamarnya saat kakaknya menyeruak masuk.
“Mayang! Bros bu Sofie mana? Ibu bilang tadi kamu pakai untuk pergi ke bioskop?!” Seru keras kakak.
Aduh, gawat nih. Pikir Mayang
“Eh, I, iya, maaf. Tapi cuma kupinjam sebentar, kok. Sudah kukembalikan.” Kata Mayang.
“Mana? Brosnya tidak ada di meja kakak!”
“Hah? Aduh… tadi kutaruh di mana, ya…?” Gumam Mayang seraya memandang ke seluruh penjuru kamarnya, berharap menemukan bros tersebut tergeletak di suatu tempat.

“Mayang!” Suara kakak sudah mencapai histeris.
“Iya, iya! Tidak usah teriak, nanti juga ketemu.” Kata Mayang. Kemudian ia menambahkan, “Toh cuma bros, kalau hilang tinggal diganti. Harganya juga paling mahal cuma 100 ribu..”
“Apa? Mayang, bros milik bu Sofie itu hiasannya batu mulia asli! Harganya hampir mencapai satu juta!”
“HAH?!”
Mayang begitu terkejut dan seketika itu pingsan.

Mayang terbangun beberapa saat kemudian degan aroma minyak kayu putih di hidungnya. Kemudian ia bersama dengan ibu dan kakaknya mencari bros yang hilang ke seluruh bagian rumah. Setelah sekitar 1 jam mencari, ibu menemukan bros milik bu Sofie di sofa depan, tertutup oleh bantal. Bukan hanya itu, bros mawar milik Mayang juga ada di situ, terselip di antara dudukan dan sandaran sofa. Barulah Mayang teringat bahwa ketika ia pulang, ia sempat merenggangkan kaki di ruang tamu. Dan karena cuaca luar sangat panas, ia seketika itu melepas jilbabnya, beserta peniti, jarum pentul dan brosnya. Hal yang sama juga terjadi pada bros mawarnya.

Setelah itu, Mayang harus menerima omelan dari ibu dan kakaknya. Ia diingatkan tentang kepercayaan, dosa dan ganti rugi. Dalam hati Mayang bertekad untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik dan lebih mendengarkan kata-kata keluarganya.
Dia benar-benar kapok.

Cerpen Karangan: Nina Ruliana
Blog: otakuneesan.blogspot.com

Cerpen Bros Bos merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Fasya

Oleh:
Pada awalnya aku tak pernah memperhatikannya, gadis kecil berambut panjang yang selalu mencuri-curi pandanganku. Tiap kali aku bertatapan mata dengannya dia selalu memalingkan pandangannya seolah-olah tidak melihat ke arahku.

Akulah Pendekar Hidupmu

Oleh:
“hendi… Bangun udah adzan subuh cepat ke mushola…”, hal yang hampir tiap hari terdengar oleh telingaku… Mungkin sudah menjadi alarm bergerak bagiku… Tiada lain itulah ibuku, yang selalu lagi

Introvert

Oleh:
Dosenku baru membagi tugas kelompok untuk makalah tentang Permasalahan seputar Lingkungan Sosial. Aku cukup terkejut dengan siapa aku harus bekerjasama, yaitu dengan cewek paling pendiam di kelas. Aku sama

Liburan di Yogyakarta

Oleh:
Sinar mentari telah cukup tinggi untuk dapat mengintip menembus jendela kamar Senna. Ia terbangun dari tidur dan bergegas bangkit dari ranjang. Raut muka bahagia terpancar menyapa liburan kali ini.

Tears Of Melody

Oleh:
Ketika sang rembulan malu menampakan wujudnya dikala itu, disaat seorang anak manusia tengah menangis dan berdoa di sebuah istana kecil di tengah malam yang teramat mencekat dalam aungan binatang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *