Buah Hati Kecilku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Romantis, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 September 2018

Kami sudah menikah sekitar 4 tahun, dan aku mengandung buah hati kami yang sudah berjalan 6 bulan. Banyak hal suamiku siapkan untuk kelahiran anakku ini, “aduuuuh …” lirihku menahan kesakitan, entah kenapa perutku merasakan sakit begitu dahsyat tak seperti biasanya. “kenapa? kau kenapa?” ucap suamiku berlari menghampiriku “perutku .. sa .. kit” jawabku dengan menahan rasa sakit, “tahan, aku akan membawamu pergi ke Rumah Sakit terdekat” ucap suamiku lalu membawaku ke Rumah Sakit.

Tak lama aku diperiksa oleh bidan, tak kusangka aku telah keguguran air mataku menangis tak terhentikan, aku sangat tak mengerti mengapa aku bisa keguguran?. “Pak, semoga anda diberikan ketabahan untuk semua ini, istri anda keguguran” ucap bidan pada suamiku yang ada di sampingku “maafkan aku sayang, aku tak bisa menjaga buah hati kita” ucapku dengan tangisan yang tiada henti, “tidak apa-apa, Tuhan akan memberikan yang terbaik” ucap suamiku yang aku tau bahwa ia sangat kecewa dengan ini, lalu ia membawaku pulang dan menidurkan aku di ranjang, tanpa sepatah katapun untuk mengajakku berbicara.

Besoknya, “kau tak sarapan?” ucapku “tidak, hari ini aku pulang siang” jawabnya “baiklah, aku antarkan” ucapku mengikutinya, “kau marah denganku?” ucapku “aku tak marah” jawabnya. Tanganku diraihnya “aku yakin kita akan diberikan anugerah yang paling sempurna untuk kita, yakinlah Tuhan akan berkehendak yang lebih baik” ucap suamiku dengan nada halus, diciumnya keningku “jaga dirimu baik-baik jangan lupa, nanti siang sholat zhuhur bersama dan setelah itu kita jalan-jalan” ucap suamiku “iya” ucapku dengan tersenyum, ia pergi lalu berlalu.

Memang benar, pada siang suamiku benar-benar pulang. “benarkan aku udah pulang sayang” ucapnya sambil memelukku dari belakang, “iya, aku tau kau pulang” ujarku “hahaha, mana kau tau kalau aku pulang jam begini?” ucapnya dengan manja, “sayang, udah cepet mandi katanya mau jamaah bareng?” ujarku dengan lembut, “ya sayang” jawabnya lalu mencium pipi kiriku, “kau ini ya, masih aja kayak gitu?” ucapku dengan ketawa cekikikan “karena aku cinta kamu” teriaknya di atas, aku hanya tersenyum.

“Selesai, ayo berangkat” ucapnya yang memandangku dari atas sampai bawah, “kok belum siap-siap?” tanyanya, “ya, aku Cuma mau pakai ini. Paling nggak akan jauh-jauh benar kan?” ucapku “tapi ..” ucapnya yang penuh kebingungan, “apa sayang?” ujarku menghampirinya, “tak apalah sekarang ayo berangkat” ujar suamiku dengan senyuman, kuraih tangannya dan pergi ke suatu tempat yang lama pernah kita ke sana, ya taman yang jauh dari rumah kami. Di sana aku mengenal suamiku dan juga ia “Masih ingatkah bagaimana kamu mengejarku saat aku mengambil suratmu?” ujar suamiku dengan sejuta senyuman, “aku harap kamu tak membayangkan sesuatu tentang kita dulu” ucapku “mana mungkin sayang aku bisa lupa, ini cerita dimana aku dan kamu menjadi suatu keluarga” ujarnya sambil tidur di pangkuanku, “ah, kau ini mengingatkanku saat kita membicarakan bulan madu di bawah bulan menikmati bersama sama bintang hehehe” ujarku dengan tertawa cekikikan, “oh itu, kau masih ingat. Saat itu aku ketiduran di sana” ucapnya sambil menatapku malu, “kau kan terbiasa tidur dimana-mana hahahaha” ujarku “ah, kau ini ada-ada saja” jawab malunya.

Seketika keadaan hening, disana banyak orang membawa buah hatinya untuk jalan-jalan. Tak terasa air mataku terjatuh “kau kenapa? mengapa kau menangis?” tanya suamiku sambil bangun untuk duduk di depanku “ma ma maafkan aku, aku tak bisa membahagiakanmu seperti mereka” ujarku dengan penuh tangis “mengapa kau menangis, aku sudah bahagia kau ada di sisiku, meski kita tak punya si kecil” ujar suamiku yang berusaha menenangkanku, tapi air mataku masih meneteskan “ma ma maaf” ujarku yang tak sanggup menahan semua air mataku, “aku tak akan membencimu bahkan menuntutmu atas yang terjadi, ini adalah cobaan dan kehendak Tuhan” ujarnya sambil mengusap air mataku, air mataku seketika berhenti lalu ku dipeluknya “jangan menangis lagi ya sayang, udahlah jangan kamu pikirin” ucapnya, aku hanya menjawab “iya”.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, “hujan” ujar suamiku yang mentapku, seprtinya ia menghawatirkanku “iya hujan” balasku aku duduk terdiam hingga hujan benar-benar membasahiku, aku masih teringat dimana saat aku masih hamil aku ingin berlari serta mengajak anakku untuk hujan-hujan, “kau melamun tentang apa?” ujarnya membuyarkan lamunanku, “tidak, aku tidak melamunkan sesuatu sayang” ucapku dengan tersenyum, “aku harap kau tak memikirkan itu lagi” ucapnya sambil mengajakku pergi, ia mengulurkan tangannya lalu kutarik tangannya hingga ia menumpuk di atasku. “Aku sayang kamu, dan juga calon bayi itu” ujarku dengan menatapnya serius, suasana hening tak ada kata-kata yang disampaikan suamiku untukku. “Aku sangat tau, kamu memang pintar menyembunyikan segala rasa di hatimu, tapi aku tak dapat kau bohongi dengan yang satu ini” tambahku, suamiku melihatku dengan rasa yang sangat sedih, lalu ia berdiri “hujan saja tak akan keberatan menurunkan airnya untuk bumi, mengapa aku tak rella melepaskan calon bayi kita itu” ucap suamiku yang tak ingin menatapku “berarti kau tak sayang dengan calon bayi itu?” tanyaku “aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangimu, aku tau calon bayi itu hanya titipan yang terindah untuk kita, tapi Tuhan berkehendak yang lain, ia mengambil calon bayi itu dan aku yakin Tuhan akan memberikan yang lebih terindah dari pada itu” ucap suamiku yang membuatku tenang.

“Ayo kita pergi dari sini, dari pada kau basah kuyup” ujar suamiku, “kita berteduh di mana?” tanyaku sambil menghampirinya, “di cafe depan itu sayang, ayo” ajaknya sambil meraih dan menggandengku. Aku berteduh di cafe itu “kau ingin minum coffe apa?” tanya suamiku, “coffe cocolatos” ujarku sambil melihat daftar menu “oh, aku akan segera kembali” izinnya padaku. Tak lama suamiku datang, “sayang, setelah ini kita ke bidan sebentar ya” tawarannya, “baiklah” ujarku. Coffe pesanan kami sudah di berikan, di atas coffe ada tulisan “LOVE YOU” “apa ini? kau yang membuat ini?” tanyaku sambil meliriknya, “hehehe, iya tapi kau tak marahkan?” tanyanya kembali kepadaku “tak, aku suka semua kejutanmu” ucapku “benarkah? kapan kau suka dengan caraku yang lebay ini?” tanyanya keheranan denganku “ah kau ini, aku suka sama kamu berarti aku suka semua yang kau lakukan, meski ini terlihat buruk” ejekku lalu menggeser secangkir coffeku di ujung meja, “huft … pasti kau tak suka, tak apalah biar aku pesan lagi” ucapnya lalu berdiri “eh, kenapa kau pesan lagi? kan aku sudah bilang aku suka meski terlalu buruk, dan karena aku menerima kekuranganmu” ujarku sambil mengambil coffeku tadi. “Lalu, kau suka dengan caraku ini” ujarnya lalu kembali ke kursinya “ya, aku suka” ujarku dengan tersenyum lalu aku minum coffe itu, “tumben banget” ejek suamiku “hehehe, itu semua hanya kamu” gombalku.

“Ini sudah sore, ayo kita pulang kan kita mau ke bidan” ajaknya, “baiklah” ujarku dengan senyum ramah. Aku dan suamiku menuju ke bidan entah apa yang dilakukannya, “dok, aku harap ia cepat bisa punya anak” ujar suamiku yang mengagetkanku, “oh Tuhan, ternyata ia ingin mempunyai si kecil” ujar dalam hatiku, “tak bisa harus segera seperti ini pak, butuh waktu untuk memulihkan istri bapak kan baru saja keguguran” jelas dokter, “harus menunggu sampai kapan lagi” teriak suamiku, yang membuat air mataku menetes. “baiklah, ini obat untuk memulihkan kandungannya” ujar bidan memberikan banyak obat untukku, “semoga berhasil pak” tambahnya. Aku dan suamiku pulang, tidak ada sepatah katapun seperti awal aku keguguran, keheningan ini mulai berlanjut hari ke hari.

8 BULAN KEMUDIAN
Matahari mulai menyinari lorong-lorong cendela kamarku, suamiku sudah tiada di ranjang “di manakah dia?” ucapku keheranan, “mengapa aku terasa mual-mual? apakah aku hamil?” ucap dalam hati, aku berlari menuju kamar mandi dan teringat tespack ku di atas cendela kamar mandi “coba ku tes” lirihku, ku lihat hasilnya positif. “sayang, kau di mana sekarang?” teriakku “apa?” jawabnya yang ada di belakang rumah, “sayang, aku hamil” ucapku dengan bahagia dan memeluknya, “benarkah?” ucapnya yang tak percaya “iya, aku hamil” ujarku penuh kegirangan. “Aku sudah menyangkanya itu, kau sungguh istri yang sempurna” ujarnya sambil memelukku erat, “Terima kasih Tuhan” ujarnya “aku minta jagalah kecil kita ini ya” tambahnya sambil mencium keningku, hari telah berganti bulan telah bergnti tahun telah berganti, hati kami berdua telah di isi oleh Vicka Aprillia Zuniafi ya benar, itu adalah anak kami yang sekarang sudah tumbuh dan menginjak ke Taman Kanak-kanak, tak ada hentinya menyayanginya setiap waktu aku selalu memberikan sedikit pelajaran agama, untuk memberikan bekalnya nanti.

“Pa, aku besok akan libur sekolah” ujar Vicka dengan suara lembutnya “lalu?” ujar suamiku “hehehe, janjinya jalan-jalan pa?” ucapnya “hm, janji yang mana sayang?” ujar suamiku sambil mengingat-ingat, “kau lupa dengan janjimu, dan padahal kau masih mengingatnya?” ujarku sambil mengelus rambut Vicka, “oh, papa ingat jalan-jalan ke ..” ujarnya tanpa melanjutkannya “ke ..” ujarku sambil meliriknya, “hm?” kebingungan terlihat jelas di matanya dan wajahnya, “hahahaha, kita besok akan pergi ke pantai” ucap suamiku sambil melahap cemilannya, “baiklah pa, aku akan bangun lebih awal dari pada mama dan papa” ujarnya dengan tersenyum, “kau ini, setidaknya lebih teliti apa yang dibawa besok?” ujar suamiku, “aku akan bawa baju dan celana karena aku mau renang, dan aku akan bawa banyak cemilan untuk makan nanti di sana trus apa lagi?” ujar Vicka dengan raut wajah yang kebingungan, “hahahaha, besok mama yang akan urus tentang semuanya” ujarku untuk menghilangkan rasa kebingungannya, “ih ma, nggak ah akan aku siapin ini kan hari pertama aku jalan-jalan dan dimana hari besok adalah hari pertama ke pantai?” ucap Vicka dengan wajah memohon padaku, “ya ya, silahkan aja tapi inget jangan banyak-banyak” ujarku dengan tertawa terbahak-bahak, “biar aja, kan Vicka mau kemah ke sana nanti kita pulang” ejek suamiku “ya papa, jahat” teriak Vicka dengan wajah kesal, “ya udah maaf, papa Cuma bercanda” ucap suamiku “hm!!” sinis Vicka yang masih marah, “besok gak jadi kalau gitu” tegas suamiku “pa …” teriak Vicka, “ya udah makanya jangan marah, senyum dulu dong” bujuk suamiku, aku hanya tertawa dengan prilaku Vicka saat itu, lalu Vicka tertawa terbahak-bahak melihatku dan papanya tertawa. “Udah, udah, sekarang ayo kita tidur sudah jam 2 ayo sayang” ajakku pada Vicka “ya” ujarnya sambil berlari menuju kamar, aku dan suamiku hanya tersenyum melihatnya.

Kebesokkannya, aku dan keluargaku mulai berangkat. Kini terlihat wajah anakku mulai bahagia “let’s go!!” teriak suamiku sambil menggendong anakku “yaaa…” teriak Vicka “aku kejar” teriakku sambil menghampirinya, “pa lari mama ngejar” teriak kegirangan Vicka “siap tuan putri” ujar suamiku sambil berlari, aku tetap mengejarnya. Sesampai di montor aku dan keluargaku siap berangkat menuju pantai, dengan melaju dengan pelan-pelan bisik Vicka di telingaku “ma, papa hari ini akan liburkan nggak kerjakan, aku mau lihat matahari tergelam di pantai kata temen sekelasku Siska indah banget kemarin papanya motret gambar itu.” nadanya yang sangat serius terlihat dari cara bicaranya yang mulutnya maju dan matanya sipit, “ya iya, tanya dong sama papa ntar sore kerja lagi apa nggak” “pa papa Vicka boleh tanya gak?” “ya, tanya apa?” “ntar sore papa kerja nggak?” “nggak kok, eh kerja” “lho pa” Vicka memandangku dengan kesal “papa bohong” ucapku “pa gimana sih” “apa” “ntar kerja” Papa Vicka menganggukan kepala.

Saat di perjalanan suamiku hilang kendali, “Ma, loncat dari montor sekarang!!” teriak suamiku, “kenapa?” “loncat sekarang bawa Vicka sekalian cepat” Semakin tinggi kecepatan montor yang kami naiki aku dan Vicka loncat dari montor itu, suamiku membanting setirnya sehingga kakinya terberet luka, “pa..” tangisan dari Vicka “Vicka ada bus di belakangmu!!” Vicka menghadap kebelakangnya “mama..” teriakku seketinya jantung ini berhenti berdetak, “aaaaa….” teriaknya, sangatelah nyata bagiku melihat anakku terlindas dan ada di bawah bus sekarang itu. “Vicka!!” teriak suamiku, seketika suamiku terserempet oleh montor.

Suara ambulan datang membawa anakku serta suamiku dan aku tak bisa menahan air mata ini sampai di RS, “dok, selamatkan mereka” “baik bu, kami akan usaha dengan semaksimal kami” “oh Tuhan berilah hambamu kekuatan”. Tak lama kemudian, “maaf, mereka sudah tak tertolong” “apa dok” “maafkan kami, kami turut berduka” “aaaa..” lariku menghampiri mereka “Vicka anakku, kenapa kamu tega ninggalin mama kayak begini nak, mama sendiri nak. Vicka jawab mama nak, Vicka” air mataku seketika turun dengan derasnya “Suamiku kenapa hidup kita seperti ini, aku harus bagaimana? aku harus apa tanpamu di sini, jawab aku! kamu masih hidupkan jawab pertanyaanku” tiada dayaku melihat mereka dengan keadaan ini, “aku harus apa? tanpa kalian aku tak punya siapa-siapa?” teriakku dengan penuh tangisan. “Maaf, mayatnya mau dibawa mbak” “mbak mereka belum mati”
“ma, Vicka nggak akan kemana-mana kok, Vicka sama papa di sini selalu ada untuk mama. Mama jangan takut kehilangan kami, Vicka sama papa hanya bermalam kok di sana. Mama jangan sedih ya”
“Vickaaaa… aku sayang kalian” air mataku terhenti, nafasku tak beraturan “Vicka .. Suamiku .. Mama akan menghampiri kalian berdua di sana” mataku terpejam seketika.

Cerpen Karangan: Dita Artika Muailiya
Blog / Facebook: Taa Chocolatos

Cerpen Buah Hati Kecilku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menjebak Pencuri Mangga

Oleh:
Entah ide apa yang ada akan dilakukan Roni. Saat ini, ia sangat kesal dengan ulah pencuri mangga. Meskipun sudah diberi pagar berduri, pencuri masih tetap nekat “membersihkan” pohon mangga

Mengapa Aku Berbeda

Oleh:
Hari-hari yang kulalui semenjak menginjak bangku Tsanwiyah lumayan menyibukkan. Tugas demi tugas yang harus kuselesaikan di setiap pertemuan. Tak jarang aku memiliki waktu untuk sekedar holiday. Bahkan untuk sarapan

Sebuah Pertemuan

Oleh:
Ya Tuhan, kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku tak bisa seperti mereka yang bisa asyik bermain sedangkan aku tidak?” Ujar Andi saat beristirahat di bawah pohon setelah seharian mengorek-orek

Tak Seorang Pun

Oleh:
“Genaa..!! Sudah jam berapa ini?” Teriakan Ibu membangunkanku di pagi hari yang dingin. Langsung ku bangkit dari kasurku yang agak berantakan dengan sprei sedikit terlepas. Dengan perasaan agak kesal

In Memorian, Rain

Oleh:
Konon, di dalam deras suara air hujan terdapat melodi lagu yang indah. Lagu yang hanya dapat terdengar oleh orang yang sedang merasakan rindu. Mungkin itu benar, saat hujan mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *