Bukan Ayah Idola

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

Rasanya aku malas sekali untuk ke luar dari kamar. Semenjak kejadian tadi, hatiku sedikit terluka. Aku memilih untuk menuliskan perasaanku ke dalam sebuah buku diary bersampul ungu di hadapanku. Ini semua tentang ayah. Aku kesal sekali dengan ayah. Ayah memiliki sifat yang keras bak seorang tentara. Ayah juga memiliki sifat yang egois dan tidak mau mengalah. Selain itu, ayah juga memiliki harga diri yang cukup tinggi. Kata ibu, “Ayah itu gengsian. Nggak mau mengalah. Kalau pun salah, Bapak tetap saja bersikukuh.”

Terkadang aku heran. Teman-temanku memiliki ayah yang sangat menyenangkan. Seperti Uli contohnya. Uli adalah sahabatku dari sekolah dasar yang kini bersekolah di jakarta. Ia pindah sejak kelas 3 SD dan berjanji untuk menemuiku kembali. Aku ingat. Dulu, aku sangat mengidolakan ayah Uli. Saat aku main ke rumah Uli, ayahnya menyambutku dengan ramah. Lalu beliau mengajakku untuk mengobrol mengenai aktivitasku dan Uli selama di sekolah. Sesekali ayah Uli terlihat bersenda gurau dengan Uli dan membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh pemandangan yang sangat membuatku iri pada saat itu. Sedangkan aku? Tak pernah sekali pun ayah bercanda denganku. Menjemputku di sekolah seperti ayah Uli, membelikanku mainan baru seperti ayah Uli, dan masih banyak lagi keunggulan ayah Uli dibandingkan dengan ayahku.

Berkali-kali ibu membesarkan hatiku, “sabar ya. Ayahmu memang seperti itu wataknya. Kamu harus mengerti ya? Sabar ya.” ucapan ibu yang lembut membuatku tenang. Namun, lama-lama aku tidak tahan lagi dengan ayah. Aku bahkan sempat berniat untuk pergi dari rumah karena sudah tidak kuat lagi harus seperti ini. Ayah memang tidak pernah melakukan suatu kekerasan fisik kepadaku. Tapi secara psikis, hatiku sudah sangat sering tersayat oleh ucapannya.

Saat aku sedang mandi misalnya, ayah menanyakan sesuatu hal. Namun aku tidak bisa mendengarnya karena suara keran kamar mandi yang cukup keras. Akhirnya ku matikan keran itu dan menjawab beliau, “ada apa, Yah?”
Ayah malah menjawab dengan ketus, “apa, apa. Sudah mandi aja sana.”

Aku terdiam selama beberapa detik di kamar mandi. Terdengar sayup-sayup suara ibu membelaku, “dia kan lagi mandi, Pak. Nggak bisa lihatlah barang apa yang dibawa Bapak.” Aku merasa seperti anak yang tidak tahu mengenai apa pun. Aku bahkan merasa seperti anak yang sangat lamban karena tidak bisa dengan super cepat melaksanakan perintah ayah. Parahnya lagi adalah, aku bahkan sempat merasa bahwa aku sepertinya bukan anak ayah karena ayah tidak pernah sekali pun terlihat menyayangi diriku.

Namun, setelah ku pikir kembali, ayah memang berbeda. Ayah tidak seperti ayah teman temanku. Ayah menyayangiku dengan caranya. Cara yang tidak ku suka, namun yang terbaik bagi ayah yang berwatak seperti itu. Aku adalah pecinta kucing. Sudah lama sekali aku menginginkan kucing untuk ku pelihara. Tiba-tiba sepulang sekolah, aku mendapati kucing persia berbulu lebat berwarna putih berada di pangkuan ayah. “Ini Ayah beli kucing di tetangga. Harganya cukup murah dibandingkan beli di pet shop.”

Ayah juga pernah menghiburku dengan caranya yang tidak biasa. Pernah suatu kali, aku ingin menyusul ibuku ke malang naik travel. Namun travel itu tak kunjung datang, bahkan melebihi jam yang seharusnya sudah disepakati. Dengan geram, ayah menelepon pihak travel dan dengan tegasnya menuntut tanggung jawab dan pelayanan travel. Ia juga pernah menemaniku mengurus surat izin mengemudikan motor dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore sampai ayah kelelahan dan telat makan. Padahal ayah harus makan secara teratur karena diabetes yang diidapnya.

Ku baca lagi tulisan yang telah ku buat ini. Sejujurnya aku menyesal telah menuliskannya. Tapi tak apa. Tulisan ini akan mengingatkanku ketika aku kesal lagi sama ayah. Ya, mengingatkan aku bahwa sebenarnya ayah juga mencintai dan menyayangiku, seperti ayah Uli dan ayah teman-temanku. Hanya saja ayah memiliki cara tersendiri untuk memperlihatkannya. Dan aku harus pandai membaca makna dari sikap ayah yang tersirat, walaupun terkadang ucapan beliau cukup menyakitkan saat didengar.

“Ra, Ayah beli nasi goreng. Cepat makan. Nanti kalau kamu sakit, mahal obatnya. Papa nggak punya uang. Dan jangan di kamar terus.” Suara ayah seperti biasa. Tegas, keras, dan ketus. Aku terdiam lagi. Kemudian ku tersenyum. Ku tutup buku diaryku dan menyimpannya di laci meja belajarku. “iya, Yah. Aku segera datang.”

Cerpen Karangan: Putri Aisya Pahlawani
Facebook: Putri Aisya P

Cerpen Bukan Ayah Idola merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ryan, Aku Mencintaimu

Oleh:
Sulit ku mengartikan rasa ini. Padahal terlihat jelas di mataku saat semua terlukis jelas di hadapanku. Kau tebarkan beribu kata-kata indah untuk dia… dia… dan mereka… Mungkin aku adalah

10 Tahun Lalu (Part 1)

Oleh:
Hari itu senin, hari pertamaku memakai seragam putih biru, aku berdiri cukup lama di depan cermin, aku tersenyum bangga setelah 6 tahun memakai seragam merah putih akhirnya berganti juga.

Cinta Tak Bersatu

Oleh:
Disaat kecil, aku sama seperti layaknya anak kecil lainnya. Aku seorang yang periang, seorang yang selalu tertawa, belum mempunyai beban hidup dan aku menjalani keseharianku dengan bahagia. Pada saat

Cintaku Tidak Sia Sia

Oleh:
Seperti biasa, rutinitasku setiap hari adalah berangkat pagi-pagi sekali untuk melakukan ritual pagiku di sebuah loker milik seseorang. Seseorang yang telah berhasil membuatku begitu tergila-gila padanya, meskipun aku tak

Aku Bukan Gadis Menjijikan!

Oleh:
Sebuah logam bulat tak bersalah menghampiri gadis itu. 1 2 3 4 bahkan 10 banyaknya kini berada di antara gadis itu. perlahan dia mengangkat kepalanya, melihat sekelilinginya. benar-benar ramai,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *