Bukan Malaikat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 13 June 2017

Hari itu saat aku sedang istirahat tiba tiba terdengar suara isak tangis ibuku, segera aku menghampirinya dan seketika air mataku juga turut mengalir ketika kudengar kabar itu, kabar bahwa ayahku ditahan pihak kepolisian lantaran terjerat sebuah kasus.

Sebelumnya perkenalkan namaku Yuna, anak ke empat dari lima bersaudara. Sejak kecil bisa dikatakan aku cukup bahagia, bisa bermain bersama teman sepanjang hari, melakukan aktivitas yang kusuka, tak jarang ada teman yang usil menggangguku dan kuadukan kepada ibu, bukannya dibela malah aku yang dimarahi dan sejak saat itu aku tidak pernah mengadu lagi kepada ibu apabila ada teman yang usil menggangguku. Sejak kecil aku tidak pernah diajarkan untuk menjadi seorang yang manja, saat aku salah atau melawan ibu tak jarang aku mendapatkan perlakuan fisik darinya. Hari semakin berlalu, ibu melahirkan seorang gadis kecil yang usianya terpaut 13 tahun lebih muda dariku yang kuberi nama Lili, kukira aku takkan punya seorang adik lagi.

Hampir dua minggu sudah ayahku mendekam di balik jeruji besi, dan belakangan ini pula kondisi kesehatan ibuku semakin memburuk. Ibu mempunyai berbagai macam penyakit yang cukup serius namun meski begitu ia tidak pernah menyerah atas penyakit yang dideritanya, sesakit apapun ibu tetap bekerja. Kuakui ibuku adalah orang yang sangat pekerja keras, pintar membuat makanan dan sempurna di mataku meski cara ia mendidik anak anaknya terbilang keras. “Semalam ibu bermimpi ayahmu keluar dari penjara” ujar ibuku, aku hanya menatapnya dengan air mata yang ditahan.

Sorenya bersama abang adik dan keponakanku untuk pertama kali ibuku menjenguk ayahku sembari membawa kotak yang berisi makanan untuk ayah. Setelah sampai dan hendak turun dari atas sepeda motor ibuku terjatuh, dan tak lama setelah itu ibu tak bernapas lagi, ibu telah meninggal dan hari itu menjadi saat terakhir ibu berjumpa dengan ayah.

Dan benar seperti mimpi ibu, ayah keluar dari penjara tapi untuk sementara waktu. Saat itu aku baru lulus dari sekolah menengah pertama namun tidak melanjutkan pendidikanku karena aku harus mengurus adikku yang telah ditinggal ibu saat usianya baru satu tahun sebelas bulan.

Sejak ibu meninggalkan kami untuk selamanya, akulah yang menggantikan posisi ibu untuk adikku. Setiap hari aku memandikkannya, menyuapinya makan, memberinya minum dan saat tengah malam pun aku harus terbangun saat ia mengangis meminta susu. Dan sejak itu pula aku tidak mau membiarkannya tumbuh menjadi seorang yang manja terlebih lagi ia dari kecil sudah kehilangan seorang ibu. Aku mendidiknya dengan caraku, seperti ibu, aku juga mendidiknya dengan keras. Semua itu aku lakukan agar ia tidak menjadi seorang yang manja, terlebih lagi usiaku pada saat itu baru akan menginjak lima belas tahun, biasanya anak seusiaku sedang senang senangnya bermain dengan teman sebaya, jalan jalan, bergaul kesana kemari, namun itu tidak berlaku padaku karena aku telah diberikan tanggung jawab untuk mengurus adikku yang masih kecil. Ku sadar caraku memang kurang benar ketika ia salah aku selalu membentak dan tak jarang juga melakukan perlakuan fisik terhadapnya, namun ketidak benaran itu kulakukan agar ia tidak menjadi pribadi yang lemah meskipun selalu kusadari caraku sangat salah. Karena sejak kecil aku dididik dengan keras dan tidak pernah ada kata manja dalam hidupku, mungkin hal itulah yang menjadikanku seperti sekarang ini, menjadi pribadi yang tertutup, susah bergaul dengan orang lain bahkan untuk tersenyum pun aku masih harus belajar. Beberapa bulan berlalu tiba saatnya ayahku dibebaskan.

Hidup terasa begitu sangat sangat tidak sempurna setelah kepergian ibu. Sampai sekarang ini saat adikku telah menginjak usia enam tahun, caraku mendidiknya tidak berubah, semakin besar, semakin pula ia bertambah nakal, tidak mau mendengar perkataanku, selalu melawan dan hal itu sangat membuatku marah dan sakit hati. Mungkin tetangga sangat muak mendengar suaraku saat memarahi adikku dan entah apalah itu pendapat mereka tentangku, ayahku juga selalu turut memarahiku saat aku marah terhadap adikku, ia menganggap aku tidak pernah ikhlas mengurus adikku, ia menganggap aku sangat membencinya, ia mengganggap aku sangat tidak menginginkannya. Aku ingin berteriak sekeras mungkin untuk memberitahukan apa yang dipikirkannya ataupun orang lain itu sangat sangat sangat salah. Bagaimana mungkin aku bisa membencinya, ia yang sedari kecil bersamaku, ia yang sedari kecil kurawat bahkan tangan orang yang dianggap berhati binatang ini tidak pernah jijik untuk membersihkan bagian tubuhnya yang sangat kotor sekalipun, bagaimana mungkin. Ketika orang hanya menggunakan mata dan telinga mereka, aku punya hati untuk merasakan apa yang kualami dalam hidupku. Setiap orang mempunyai tingkat emosional yang berbeda beda, sifat yang berbeda beda. Tidak peduli apa yang dikatakan orang, apa yang dilihat orang, apa yang didengar orang, inilah aku, aku apa adanya seburuknya aku tetap apa adanya, sebaik sejahat apapun itu inilah aku, aku seorang biasa yang takkan pernah berhenti berbuat salah. Sampai nafas ini berhenti berhembus mungkin tidak ada orang lain yang lebih mencintainya selain almarhumah ibuku dan aku.

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tak luput dari kesalahan, yang tak luput dari kekurangan. Kita akan berhenti berkomentar sampai pada saat kita mengalami hal yang dialami orang tersebut. Dan seperti yang kita ketahui Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya, mungkin inilah takdirku, mungkin inilah karmaku saat dulu aku sering menyakiti hati ibu, dan sekarang inilah balasan untukku, aku telah merasakannya ibu. Kuharap Tuhan tiada pernah lelah untuk memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang yang baik. Dan tetap mencintai orangtuaku saudara saudaraku keluargaku meski sekalipun mereka membenci.

Dan satu yang paling kuinginkan, aku ingin adikku mendapatkan kebahagiaannya kelak, dan tidak menjadi seorang yang jahat seperti kakaknya ini.

Cerpen Karangan: Yumita Phang
Facebook: YumitaPhang (Na)
Bukan profesional 😀

Cerpen Bukan Malaikat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


All is Fair in Love and War

Oleh:
“Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menghela napas berat sebagaimana cintamu pergi? Hanya waktu yang bisa. Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menangis ketika cintamu musnah? Hanya waktu yang

Perjalanan

Oleh:
Jumat pagi pun tiba, merdunya panggilan Allah pada saat pagi itu. Suara ayam pun terdengar matahari pun muncul tanpa rasa malu memancarkan cahayanya. Perkenalkan namaku Asri navitri, aku gadis

Pernikahan Yang Memisahkan

Oleh:
Lalu apakah arti pernikahan itu? Apakah Ia laksana sebuah daun yang tertahan oleh ranting ketika menyusuri sungai? Yang kapanpun bisa lepas bila arus air sedang derasnya. Jika demikian maka

My Beloved Brother

Oleh:
Aku terlahir di dusun pegunungan yang jauh dari Kota. Hawa di sini begitu dingin, jika hari berganti malam rasa dingin itu seperti menusuk tulang kecilku. Aku memiliki seorang Adik

Kado Kecil Untuk Rima

Oleh:
Hari ini adalah hari ulang tahun keenam untuk Rima, seorang gadis kecil yang tak pernah bisa memilih dilahirkan oleh sepasang pemulung, yaitu pak Yanto dan bu Yati. Seperti di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *