Buku Diary Dari Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 May 2017

Dengan mata tersayut sayut tanganku tak hentinya merangkai kata demi kata yang kutulis kedalam buku diaryku yang hampir rampung. masih teringat dengan jelas ketika pertama kali aku mendapatkan buku ini, saat itu ibu memberikannya padaku bersamaan dengan sebuah kue yang bertuliskan “Selamat ulang tahun Agung Pendi” di atasnya. Karena hari itu adalah hari ulang tahunku yang ke 17 tahun, kemudian perlahan kutiup semua lilin yang menyala di atas kue ulang tahunku sambil memohon supaya tuhan selalu memanjangkan umurku dan juga keluargaku.

“Hem.. gak kerasa ya anak ibu ternyata sudah besar, Semoga Allah selalu memberikanmu kesehatan” ucap ibu
“Oh, iya ibu hampir lupa, ini hadiah untukmu maaf ibu belum sempat membungkusnya dengan kertas kado” sambungnya sembari mengulurkan sebuah buku yang penuh dengan halaman kosong di dalamnya. Aku heran kenapa ibu memberiku buku tersebut padahal aku tidak suka mencatat apalagi membaca. Tapi aku tetap menerimanya walaupun aku bingung harus kuapakan nantinya buku itu mengingat kebiasaanku yang malas mencatat.
“Terimakasih bu atas hadiahnya, tapi.. aku masih bingung kok ibu memberiku buku kosong setebal ini” ucapku kepada ibu.
“Umur kamu kan sudah 17 tahun jadi ibu pikir hadiah seperti ini cocok untukmu, ibu harap kamu mau mengisi tiap lembar buku diary itu sampai rampung” ucap ibu yang seakan memaksaku untuk mengisi buku yang tebalnya membuatku semakin malas mencatat. Hingga disuatu pagi, tepatnya 1 bulan setelah hari ulang tahunku ibu menghampiriku yang kala itu ingin berangkat ke sekolah.

“Nak.. kalau boleh ibu tau, apa kamu sudah mengisi buku diary dari ibu?” Tanya ibu kapadaku dengan nada rendah yang hampir mirip dengan orang yang sedang sakit.
“Buku? Oh.. buku itu ya bu, hmm.. anu.. maaf ya bu agung lupa bukunya masih kosong dan masih agung simpan dalam laci meja” jawabku yang kembali teringat akan buku itu.
“Oh ya sudah, tapi ibu harap hari esok nanti ketika ibu bertanya lagi kamu sudah mengisinya setidaknya beberapa kalimat saja” sambung ibu
“Iya bu, maafin agung ya bu agung beneran lupa. Oh iya perasaan dari tadi aku lihat muka ibu kok sedikit pucat apa ibu sekarang sedang sakit” tanyaku sembari memegangi tangannya. Namun ibu hanya tersenyum kepadaku seakan ingin menyembunyikan muka pucatnya dariku. “Ya sudah bu kalau gitu agung berangkat sekolah dulu ya” ucapku sembari mencium tangannya. Di dalam kelas aku terus teringat ucapan ibu pagi tadi yang membuatku merasa tak enak karena sudah melupakan buku diary yang diberikanya padaku padahal ibu berharap aku mengisinya namun aku malah mengabaikannya.

Suara bel pulang sekolah pun terdengar, aku langsung bergegas pulang mengendarai sepeda kesayanganku dengan rasa lapar yang kurasakan aku terus mengayuh pedal sepedaku hingga tak terasa aku sudah sampai di depan rumah tercinta yang terlihat sepi saat itu.
“Assalamualaikum, Bu.. agung pulang” teriaku dari depan pintu sembari membuka sepatu yang kupakai.
“Kok gak ada jawaban ya dari dalam rumah, ibu ke mana sih?” sambungku dalam hati penasaraan. Dengan rasa penasaran kucari ke dalam rumah bahkan sampai dapur sekalipun namun aku tidak bisa menjumpainya, hingga terdengar teriakan dari luar rumah memanggil-manggil namaku.
“Gung… Agung..” teriak seseorang dari luar rumah.
“Iya tunggu sebentar” jawabku kepadanya.
“Tidak salah lagi itu pasti ibu” sambungku dalam hati.

Setelah kujumpai ternyata dia bi suci tetangga sebelahku dia meceritakan kepadaku kenapa saat itu ibu tidak ada di rumah, seketika tubuhku terasa lemas bahkan gemetar setelah mendengar cerita bi suci dan pada saat itu pula aku langsung mengambil sepedaku. Kukayuh pedal sepedaku dengan sangat cepat menuju suatu tempat yang bi suci beritahukan.
“Ini tidak mungkin terjadi bi suci pasti berbohong padaku” ucapku dalam hati sembari terus mengayuh sepedaku.

Sesampainya di situ kulihat bangunan besar dengan banyak kaca di setiap temboknya lalu tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalamnya, bau obat langsung tercium di setiap celah tembok yang aku lewati bahkan suara teriakan orang kesakitan ikut menemani setiap langkahku mencari keberadaan ibu. Hingga akhirnya dari kejauhan kulihat bapak sedang berdiri cemas di depan pintu yang bertuliskan “Ruang ICU” namun sesaat sebelum aku menghampirinya seseorang dengan pakaian hijau yang hampir menutupi seluruh tubuhnya keluar dari dalam ruang tersebut dan menghampiri bapak.
“Bagaimana dok keadaan istri saya” ucap bapak dengan raut wajah cemas. Namun kulihat dokter itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ia tak lagi bisa berbuat apa-apa. Terlihat bapak menyandarkan kepalanya ke pintu ruang ICU dan air mata pun mulai memenuhi kedua matanya seakan tak percaya dengan keputusan dokter, Sesaat air mataku juga mulai ikut mengalir karena aku cukup dewasa untuk mengerti apa yang terjadi pada saat itu, aku berlari keluar dari situ dan kembali ke rumah dengan suasana hati yang sangat hancur.

Sesampainya di kamar aku langsung mengambil buku diary dari ibu yang selama ini aku abaikan, entah kenapa tangan yang semula malas mencatat dengan sendirinya mulai menulis beberapa kalimat bersamaan dengan air mata yang terus menetes disetiap kata yang aku tulis. Sejak hari itu dan sampai sekarang aku mulai memanfaatkan waktu luangku untuk mengisi tiap lembar buku diary dari ibu yang masih kosong, walaupun sebenarnya aku tau sudah sangat terlambat jika kuberikan kepadanya sekarang karena hari itu merupakan hari terakhirku mendengar suara ibu yang kini telah pergi meninggalkanku untuk selamanya setelah ia berjuang melawan penyakit kanker yang selama ini disembunyikan dariku. Mungkin hanya sebuah penyesalan yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini, andai saja aku tahu jika saat itu dia sedang berjuang melawan penyakit kangker dan juga harapannya agar aku dapat merampungkan buku diary yang ia berikan itu adalah permintaan terakhir darinya akan kurampungkan secepatnya agar bisa kutunjukan padanya langsung namun selayaknya nasi yang telah menjadi bubur semua tak lagi bisa terulang.

Hingga tak terasa sudah 8 bulan ibu meninggalkanku dan tepat dihari ini pula dia sedang berulang tahun karena itulah akan kuhadiahkan kembai buku diary yang dulu ia berikan kepadaku, buku yang saat itu selalu aku abaikan sampai berdebu di dalam laci meja kini telah menjadi buku yang sangat berarti dalam hidupku karena di dalamnya berisi tentang semua kenangan yang kutulis ketika masih bersamamu ibu baik itu canda, tawa, tangis, bahkan rindu semuanya tersimpan dalam bentuk tulisan yang kucatat di dalam buku diary ini, di halaman terakhir ini khusus aku tuliskan “Selamat ulang tahun untukmu ibu :’) aku disini selalu merindukanmu semoga kau selalu bahagia di surga sana, tidak ada kata yang cocok untukmu dariku selain kata maaf karena telah mengecewakanmu bahkan dihari hari terakhirmu”. Dengan tersenyum hatiku berkata “terimakasih telah memberiku buku diary ini bu, tiada hadiah terbaik selain hadiah darimu dan hari ini juga akan kuhadiahkan kembali untukmu buku diary darimu yang kini telah kurampungkan” ucapku dalam hati sembari menutup buku diary yang sudah kurampungkan tersebut…

Cerpen Karangan: Agung Pendi
Facebook: Agung Pendi

Cerpen Buku Diary Dari Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kaca Mata Kuda

Oleh:
Angin sepoi menghidangkan asa baru di tengah hiruk pikuk suatu pola. Orang perorangan memperjuangkan kehendak melangkahi karma. Kejengkelan membludak mendesak keluar di tengah sesakan kios toko di pasar seni

Misteri Surat Selia

Oleh:
Hai, namaku Naifa Aqilah. Selia Zarine adalah sahabat karibku. Sejak kecil, kami sudah bersahabat. Belum lama ini, kami berdua bertengkar. Yaah, aku memeng sering memprotesnya, terkadang ia merasa kesal

Zaky

Oleh:
“Hei dia kembali!!” “Benarkah?” Seorang pria tiba di sekolah dengan wajah wibawa serta seragam rapinya. Desky, sang ketua osis telah kembali. Pintu gerbang telah dibukanya. Dan ia berjalan melewati

Ibu Tanpa Asa

Oleh:
Terik matahari membakar bumi, rasanya seluruh energi panas sang surya tumpah ke planet ini, apapun itu ia seperti tidak merasa kepanasan apalagi kelelahan, ia sibuk menaruh barang dagangannya ke

Testpack

Oleh:
Astagfirullah, hatiku berdebar hebat. Tanganku gemetar kencang. Keringat dinginku mulai menyembul dari balik pori-pori. Inikah yang Kak Wina sembunyikan tadi siang? Di tempat tersembunyi di pojok meja belajarnya. Yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *