Bulan Berbicara Kepadaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Rindu
Lolos moderasi pada: 9 September 2021

“Hai bulan, aku ingin curhat! Aku kangen banget sama Bunda, aku selalu berdo’a untuk bunda selesai sholat. Aku ingin melihat bunda lagi… Aku masih ingin dipangkuan bunda…” Ujarku yang langsung duduk di teras rumah sesudah sholat Isya dan menangis.
Aku memandangi langit yang penuh taburan bintang yang kadang berwarna merah, kuning, hijau dan biru itu.

“Sabar Candra, kalau kamu nangis, nanti bundamu juga akan menangis…” Tiba-tiba datang suara yang tak tau dari mana asalnya itu. Tak ada siapa-siapa selain aku diluar sini. Akupun ketakutan.
“Si…siapa itu?”

“Lho, Candra, kamu kenapa menangis nak? Sudah selesai sholat belum”
Tiba-tiba ayah datang. Rasa takutku menjadi hilang.
“Eh, ayah, aku udah selesai sholat kok. Aku juga gak menangis…” ucapku berbohong. Kalau aku menangis karena kangen bunda, ayah pasti juga ikut menangis, karena Ia juga merindukan bunda. Kalau bisa kalian melihat, sekarang saja air mata ayahku tiba-tiba berlinang.

“Yaudah, sekarang ayo masuk. Diluar dingin banget… ayah udah siapin makan malam…” ajak ayah.
“Baik Yah.”

Di dalam rumah…
“Hmm… Yah, tadi diluar aku bicara sama bulan lho.” Ujarku.
“Berarti kamu rindu sama seseorang, ya?” Tanya ayah tiba-tiba.
“Lho, kenapa memangnya yah?”

“Jaman dahulu, ada yang mengatakan, ‘jika seseorang sedang berbicara dengan bulan, dan jika bulan menjawab, maka seseorang tadi yang merindukan salah satu kerabatnya, berarti bulan yang bebicara itu adalah kerabat yang dirindukan seseorang tersebut.’ Begitu ceritanya…” jawab ayah penjang lebar.

Seketika aku kaget, berarti bulan yang bebicara sama aku tadi adalah…. BUNDA?

The end

Cerpen Karangan: Gavriella Maharani
Blog / Facebook: Gavriella M.
Ig: @hani_gm27

Cerpen Bulan Berbicara Kepadaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Memeluk Duka Dua Wanita

Oleh:
Aku masih ingat saat keluargaku pindah ke kampung tanah tosora pada tahun 1985. Saat itu, aku berumur 9 bulan. Sebelumnya, keluargaku hidup dalam gubuk di kampung bersebelahan yang tak

Hadiah Terakhir

Oleh:
Sejak aku berumur 8 tahun ayahku meninggal dunia dan sejak saat itu juga aku dibesarkan oleh ibu seorang diri. Namaku Refiska Ayu biasa aku biasa dipanggil Fiska, kata ibuku

Mom, I’ve Never Miss You More

Oleh:
Aku kadang benci memiliki seorang Ibu, yang seharusnya aku hormati. Tapi kadang aku munafik, aku jelas menyayanginya. Ibu. Aku benci menyebutnya begitu. Ibu itu seharusnya sempurna di kedua sudut

Petualangan 5 Sahabat di Abad Pertengahan

Oleh:
Di sebuah negeri yang jauh, hiduplah 5 sahabat yang sangat akrab, mereka adalah niki, nara, halisa, viani dan moris. Pada suatu hari mereka sedang mencari buku di perpustakaan kota,

Kereta

Oleh:
Cahaya entah kembali Kusentuh aksara hidup Untuk tertatih melangkah Memangku kertas lusuh. Memang siapa sempurna Tapi tinta telah memutih Tak bisa tetesskan air mata Meski hati tersakiti Harapku tenggelam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *