Bulan Penuh Berkah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 30 October 2017

Hafid duduk termenung di teras rumahnya. Ia sedang memikirkan tentang bulan Ramadhan. Menurut Hafid, kedatangan bulan Ramadhan tahun ini terasa begitu cepat. Namun, Hafid merasa, dirinya masih belum siap.

Melihat Hafid duduk termenung, Pak Irfan ayahnya, memanggilnya.
“Hafid, ayo ke sini, duduk dengan ayah.” Ajak Ayah.
“Iya Yah…” Jawab Hafid.

“Hafid, apa yang kamu pikirkan, kok kamu kelihatannya gelisah” Tanya pak Irfan dengan khawatir.
“Tidak kok Yah, Hafid hanya memikirkan tentang bulan Ramadhan. Hafid merasa belum siap dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini. Ayah tahu sendiri kan, sholat Hafid masih sering bolong-bolong. Selain itu, Hafid juga masih sering berbohong, dan malas membaca al-qur’an. Bukankah semua perbuatan tersebut dibenci Allah, apalagi saat bulan Ramadhan.” Kata Hafid menjelaskan.
“Oh… jadi itu yang Hafid pikirkan. Makanya, Hafid harus bisa meninggalkan semua perbuatan tercela tersebut. Agar nanti pada waktu bulan Ramadhan, semua dosa dan kesalahan Hafid diampuni oleh Allah.” Kata Pak Irfan menasihati.
Mendengar penjelasan ayahnya, hati Hafid menjadi semakin mantap. Ia pun semakin siap dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Pada pukul 03. 00, Bu Rani ibunya Hafid membangunkan Hafid untuk makan sahur. Setelah makan sahur, Hafid, Pak Irfan, dan Bu Rani segera menuju masjid untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Pada saat jam dinding menunjukkan pukul 05. 00, sholat shubuh berjamaah telah selesai. Hafid dan ayah ibunya pun segera pulang. Ketika sampai di rumah, Hafid menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Mulai dari belajar, menyapu halaman, sampai menyiram tanaman.

Pada saat hari semakin panas, Bu Rani memanggil Hafid.
“Hafid… sudah, ayo istirahat.” Ajak Bu Rani.
Maka, dengan langkah gontai, Hafid segera masuk ke kamarnya. Karena sangat kelelahan, Hafid sampai ketiduran hingga sore hari.

“Hafid, ayo bangun Nak, sudah sore. Kamu kan harus mengaji ke TPQ.” Kata Bu Rani mengingatkan.
“Astaghfirullah. Iya Bu, Hafid lupa.” Kata Hafid dengan terkejut.

Hafid pun bergegas mandi, ganti baju, dan segera berangkat ke TPQ. Setelah sampai di TPQ, Hafid mengaji al-qur’an dengan sangat tekun. Hingga tak terasa, hari sudah semakin gelap. Ustad Arifin pun segera memulangkan para santrinya.

Saat sampai di rumah, Hafid, Pak Irfan, dan Bu Rani sudah bersiap di meja makan. Dan, saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
“Allahuakbar-Allahuakbar” Kumandang adzan Maghrib pun menggema ke seluruh penjuru desa.
“Alhamdulillah…” Seru Hafid, Pak Irfan, dan Bu Rani dengan serentak.

Hafid pun merasa sangat bahagia. Bagi Hafid, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Karena, pada bulan Ramadhan segala amal sholeh pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Itulah yang membuat Hafid sangat bahagia dan bersemangat dalam menjalani hari-harinya pada bulan Ramadhan.

Cerpen Karangan: Hengky Fairuz Busthomy
Facebook: Hengky Fairuz Bustomy
Perkenalkan nama saya Hengky Fairuz Busthomy. Saya merupakan siswa SMPN 1 PURI. Saya bertempat tinggal di Dsn. Tegalsari Ds. Puri Mojokerto. aya memiliki hobi membaca dan menulis. Oleh karena itu saya berniat untuk terus mempublikasikan cerpen buatan saya di Cerpenmu.com. Demikian dari saya terima kasih atas perhatiannya.

Cerpen Bulan Penuh Berkah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luka di Hati

Oleh:
Jingga baru saja turun dari mobilnya, dengan anggunnya ia turun layaknya seorang putri dari sebuah kerajaan. Dia tampak cantik dengan gaun putih yang ia gunakan tapi sayangnya tidak akan

Akhir Sebuah Kebencian

Oleh:
Tangisku terus membasahi pipiku, lembaran tissue telah berserakan di lantai kamarku. “Aku membencimu! Sangat membencimu? Kau telah membunuh Ibuku? Kau pembunuh Ibuku!” hatiku terus berkata itu, tak henti-henti setelah

The Father

Oleh:
“kak… pesan beliau, ia ingin kau yang memandikannya!” suara lirih dengan isak tangis berdenging-denging di telinga Daffa, sesekali dalam lamunannya ia tampak kesal, marah, jengkel, dan ia pun mengacak-acak

Hati Seorang Ayah

Oleh:
Tengah tersandar dari lelah yang menguras semua tenaganya, juga tetesan peluh rela ia buang, bersama hari-hari yang dipenuhi sandaran doa di setiap langkahnya.. Begitulah ratapan hidup seorang lelaki tua

Shooting Stars

Oleh:
Merindu di tengah kegelisahan adalah hal yang paling menyakitkan. Terlebih bagiku -Ai. Aku rindu dengan masa-masaku dahulu. Masa ketika aku dapat tersenyum dan tertawa menghabiskan hari-hari bahagia bersama ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *