Bunga Merah Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Burung-burung berjajar rapi membentuk barisan yang abstrak. Bertengger di atas pohon yang merdu apabila sedang melambai. Suara siulannya bagai melodi yang indah. Mereka berjajar di taman menunggu si awan menghentikan tangisan putihnya.

Ana seorang gadis cilik sedang duduk termenung menunggu ibunya yang sudah lama tak kunjung pulang. Dia duduk sendirian di bawah pekatnya udara di bawah lampu taman. Senja mulai menerpa wajahnya. Dia memikirkan ibunya yang tak lama tak kunjung datang.

Gadis cilik itu berumur Sembilan tahun, dia tinggal di kota, dimana orang-orang menyebutnya kota yang tidak pernah tidur. Ana sendirian, sudah berjam-jam dia menunggu ibunya yang tak kunjung datang. Sejak tadi siang kira-kira.
Taman itu mulai lenggang, satu dua orang mulai meninggalkan taman, tak peduli ada seorang anak kecil duduk sendirian melihat kelabu. Ana tertunduk dan mulai meneteskan air mata. Dia ingin ibunya segera kembali.

Suara langkah terdengar menuju ke arah anak itu. Langkah itu semakin dekat dan dekat. Ana menoleh ke arah orang itu. Adalah seorang laki-laki yang dilihat gadis cilik itu. Orang itu berpakaian tuxedo rapi.
“Hai, kenapa kamu bersedih dik?”
“Ibuku.” sembari menangis.
“Ada apa dengan ibumu?”
“Pergi.”
“mungkin saat ini ibumu sedang menunggumu di rumah.”
“Tidak mungkin dia pasti akan kembali!”
“baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu ikut denganku, kita akan pergi jalan-jalan, setelah ibumu kembali pasti dia akan mencarimu di taman ini.”
“tapi, ibu bilang aku tidak boleh ikut dengan orang asing.”
“oh iya benar, namaku Robert aku adalah temanmu sekarang, maukah kamu ikut denganku?”
“baiklah.”

Setelah itu mereka pergi dari taman itu. Laki-laki itu mengajak Ana pergi mengitari kota dengan bus. Menghabiskan malam mereka dengan bersenang-senang.

Esok mulai datang, Ana terbangun di bangku taman yang sama. Dia tidak menyadari kalau dia selama ini sedang tertidur di taman. Dia melihat ibunya terbujur kaku di sebelahnya. Dia memeluk Ana dan menyelimutinya dengan sweater yang dimilikinya. Udara dingin dari salju menyebkan Ibu Ana hiportermia. Ana menangis karena orang yang dicintainya telah pergi.
Kasih ibu adalah kehangatan yang akan selalu diberikan bahkan saat ajal menjemputnya.

Cerpen Karangan: Indra

Cerpen Bunga Merah Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Not a Monster

Oleh:
Satu tetes air mata pria itu terjatuh. Rasanya menatap orang yang sangat kita cintai dari jauh adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi menatapnya sedang sendirian. Itu adalah hal yang

Di Balik Senja

Oleh:
Terkisah dari tempat termulia di seluruh semesta dinamakan Nirwana. Di antara hamparan keindahan sang Nirwana, tampak seorang Bidadari kecil sedang duduk dalam geming, sesekali pandangannya menoleh ke sana ke

Adik

Oleh:
“kenapa? apakah mama tidak lagi menyayangi Lina? tidak membutuhkan Lina?” isak gadis itu di balik rerumputan. Lina adalah anak tunggal, umurnya 9 tahun. Ya dia anak tunggal hingga hari

Tuhan Izinkan Dia Hidup

Oleh:
Masa muda masa yang penuh warna, derita, bahagia, dan juga penyesalan bercampur jadi satu. Begitu juga dengan masa mudaku, aku selalu berpikir seandainya saja aku tidak memilih jalan itu

Ibuku Tercinta

Oleh:
Jantungku berdetak lebih kencang, keringat dinginku bercucuran, air mataku tak henti hentinya mengalir. Aku merangkul lututku dengan kepala menunduk. Setega inikah orangtuaku? Apa mereka tak memikirkanku? Ah suara ayahku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *