Bunga Seroja Dari Ibunda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Malam itu di sebuah desa yang mana semilir angin merasuk ke rumah-rumah. Semua orang karena terbawa suasana, menjadi terlena, tidur di dalam balutan hangatnya selimut dan lampu teplok rumah masing-masing. Akan tetapi tidak dengan keluarga bapak Azhar, keluarganya sedang dalam keadaan yang sangat mencekam. Istrinya, sedang berjuang melahirkan seorang anak yang telah lama dinanti. Dibantu oleh seorang dukun beranak yang sudah berpengalaman dalam masalah ibu melahirkan.
Pak Azhar hanya bisa membantu dengan menggenggam tangan istrinya. Ia cemas, terlihat sekali dari guratan wajah ibanya karena tak kuasa melihat keadaan istrinya yang menahan sakit karena melahirkan yang katanya sakitnya tak terperi. Selain itu istrinya sekarang sedang dalam keadaan antara hidup dan mati. Dalam hati ia hanya bisa berdoa. Semoga keluarganya masih bisa utuh dan menjadi tambah utuh dengan lahirnya anak yang selalu dinanti dengan selamat. Namun, apa dinyana. Tiba-tiba ayah terisak haru. Karena tangisnya, ia tidak bisa melanjutkan cerita yang biasa ia ceritakan kepadaku sebelum tidur. Aku sudah hampir terlelap, namun karena mendengar isak tangis ayah aku kembali terbangun dan mencoba menenangkannya.

Aku semenjak kecil adalah anak yang Piatu. Kata ayah, ibu meninggal ketika aku di lahirkan. Jadi sejak masih di momong aku selalu di urus oleh ayah seorang diri. Dengan sabar ia merawatku. Walau sekarang ia hanya seorang single parent, semua hal itu ia lakukan dengan sepenuh hati. Ayah tidak ingin menikah lagi. Dari semenjak ibu meninggal hingga sekarang. kalau ditanya masalah itu, pasti ayah hanya menjawab “Biar bisa terus bareng sama ibu nanti kalau di sorga”.

Walau harus sendiri, ia bisa menjadi madrasah pertama dalam untuk hidupku. Budi pekerti adalah pendidikan yang paling ia tekankan. Mulai dari doa sehari-hari, adab dalam berbicara, hingga memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kanan. Selain itu setiap malam ia selalu menyempatkan diri untuk menceritakan kisah-kisah yang penuh makna, yang terkadang dibarengi petuah-petuah bijaksana. Seringkali aku tertidur lebih dahulu, padahal ceritanya belum selesai.

Disaat aku tertidur pulas ayah biasanya ikut tidur. Namun hanya sebentar, ia kembali bangun lalu berwudhu. Kemudian ia melakukan ibadah di mihrab hingga menjelang subuh. Dan biasanya aku memergoki ayah ketika aku bangun karena ingin pergi ke kamar kecil. Kadang aku melihatnya sedang rukuk dan terkadang sedang sujud dengan khusuknya. Selain itu tak jarang juga aku melihatnya sedang asyik membaca al-Qur’an dengan suara yang menurutku merdu. Biasanya kalau sedang baca al-Qur’an ayah tahu kalau aku bangun, lalu ia memanggilku dan menyuruhku untuk tidur di pangkuannya.

“Ayah kok nggak tidur sih, kan Ayah capek abis kerja seharian,” tanyaku dengan penuh penasaran.
“Nggak kok, tadi Ayah udah tidur De, tapi karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan Ayah bangun lagi deh,” sambil mengusap-usap rambutku perlahan.
“Kerja, tapi aku nggak ngeliat Ayah kerja, yang aku lihat Ayah sembahyang,” tanyaku lagi.
“Hmm, bagi Ayah sembahyang itu kerja De, kerja untuk Tuhan yang udah ngasih kita nikmat banyak dan tak terhingga. Jadi Ayah pagi kerja buat kamu. Malam buat Allah.” Sembari menaruh al-Qur’an ke meja. Kemudian ia menyuruhku untuk kembali tidur di kamar, tapi karena aku tidak mau akhirnya aku tidur di mihrab, di samping Ayah yang sibuk dengan “pekerjaan”-nya.

Pagi menjelang, sebagaimana biasa rutinitas sehari-hari aku pergi ke sekolah diantar oleh ayah. Ia bonceng aku dengan sepeda ontel usangnya sampai ke depan gerbang sekolah. Setelah sampai di depan gerbang sekolah aku mencium tangannya kemudian ia memberikan aku uang saku sebesar 500 rupiah. Setelah itu, ayah pamit untuk pergi bekerja.
Di sekolah sebagaimana umumnya anak sekolah dasar. Aku bermain, belajar serta berasimilasi dengan teman-temanku. Sesuai dengan apa yang diajarkan ayah aku berusaha bergaul dengan sebaik mungkin. Berbicara seadanya, berperilaku serta berucap tidak sampai menyakiti orang lain. Sehingga aku di sekolah dikenal baik. Baik itu oleh teman-teman sejawat maupun guru-guru di sekolah.

“Berdiri!” Sontak semuanya berdiri.
“Semuanya jangan lupa ya mengerjakan PR yang Ibu berikan. Oh iya Zakaria kamu ikut Ibu ke kantor. Assalamualaikum Wr. Wb.” Ibu khodijah berpamitan. Namaku di panggil. Ah, pasti ada sesuatu.
”Walaikum salam Wr. Wb.” Serempak seluruh anak di kelas menjawab salam bu guru.

Aku keluar kelas paling belakang, sembari memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Aku berjalan agak gontai dan perlahan. Kulihat Bu Khodijah menunggu aku yang keluar ruang kelas paling belakang. Dengan lembut beliau merangkul pundakku dan berjalan mengikuti tempo langkahku yang agak lambat.
“Ada apa bu?” Tanyaku penasaran
“Ibu jawabnya di kantor saja ya, biar lebih enak ngomongnya,” jawabnya dengan senyum simpul.

Ketika sampai, Ibu Khodijah membuka pintu dan masuk ke kantor terlebih dahulu. Setelah itu baru aku menyusul masuk, akan tapi disaat aku hampir memasuki kantor. Aku terkejut, ternyata ayah sudah berada di dalam terbih dahulu bersama dengan kepala sekolah.

“Ayah, kalau seandainya jadi, berarti bisa-bisa aku nggak ketemu ayah dalam waktu yang lama dong”.
Apa yang ditentukan kepala sekolah serasa belum aku terima. Ayah memegang tanganku dan mengajak berjalan kaki pulang. Sepertinya ia tidak membawa sepeda.
“Terus lanjutan ceritanya gimana yah?” Sambungku. Ayah menggenggam tanganku lebih erat. Sebelumnya biasa saja. Tapi, karena omonganku terasa genggamannya semakin kuat. Kurasa dalam hatinya terbesit rasa khawatir berpisah denganku.
“Hmm, Zak. Mungkin sudah saatnya kamu berjuang untuk menjadi seperti ibumu.” Ayah berhenti, kemudian dia jongkok menghadapku.
“Berjuang menjadi apa yah?” Aku hanya bisa penasaran. Sebelumnya ayah tidak pernah bercerita hal ini. Bahkan dalam “dongeng” sebelum tidur pun tidak pernah disebut.
“Menjadi orang yang sholeh dan sukses dunia akherat,” dengan senyum simpul ayah pungkasi ucapannya. Lalu ia kembali menggandengku dan kembali berjalan.
“Dan mungkin ini jalan terbaik untuk kamu, karena hanya inilah jalan yang pas untuk menjadi seperti apa yang diharapkan ibumu. Mumpung ada beasiswa, kalau nggak sekarang kapan lagi,” sambung ayah dengan suaranya yang terdengar sangat berwibawa.
“Ayah sendirian dong di rumah,”
“Nggak apa-apa. Yang penting kamu harus sukses dulu. Jangan sampai kamu jadi seperti Ayah. Ayah ingin kamu jadi sumber yang mendorong ibu dan ayahmu ini masuk surga. Masalah ceritanya kamu lanjutkan ya jalan ceritanya dengan kisah perjalanan hidup yang akan kamu lalui. Angap beasiswa ini sebagai pintu kamu untuk sukses,”

Kulihat ayah mengusap air mata dengan lengan bajunya. Aku pun menangis. Tak kuasa aku mendengar harapannya yang sederhana tapi sangat bermakna.
Kemudian ayah kembali berhenti dan jongkok kembali di hadapanku. Di ciumnya kening serta pipiku. Setelah itu ia memelukku dengan erat. Terasa pelukan hangat darinya benar-benar membuat hariku bergetar. Punggungku terguncang-guncang. Ayah melepas pelukannya lalu mengusap kedua mataku.
“Persiapkan dirimu, harus sukses dan buat Ayah bangga”. Kini tangisku reda. Kami kembali berjalan. Dari kejauhan rumah kami sudah terlihat. Ayah tersenyum kepadaku. Aku hanya bisa membalas dengan anggukan kepala dan berharap semoga perjalananku ke pesantren bisa berjalan dengan lancar. Betah dan istiqomah sehingga di kemudian hari wasiat ibu dan harapan ayah bisa menjadi bunga Seroja yang mekar dan indah pada waktunya.
Di bawah langit di atas bumi
Untuk ayah yang telah tiada dan ibu yang selalu ada untukku

Cerpen Karangan: M Zahid Farhan
Blog: Muhzafar.blogspot.com
Santri Penulis yang masih aktif Mondok di Jawa Timur

Cerpen Bunga Seroja Dari Ibunda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Yang Terlambat

Oleh:
“Pergi!!! dasar orang tua tidak berguna! aku capek mengurus bapak yang bisanya Cuma tidur dan makan!”. Terngiang kata-kata itu setiap kali aku mengingat bapak. Membuat aku tak pernah berhenti

Kehadiran Yang Mengubah Segalanya

Oleh:
“Emil bangun…” teriak Mama Emil sambil menarik selimut yang menutupi Emil. “Udah jam segini kamu belum bangun! mau berangkat sekolah jam berapa kamu Mil, udah jam 06:00 lewat belum

Selamat Berbuka Kak Roby!

Oleh:
Bulan ramadhan kali ini sama seperti sebelumnya, jauh dari keluarga memang sangat tidak menyenangkan, apalagi di saat mengingat momen dimana kami sedang berbuka dan sahur bersama. Aku Hanna umurku

Tantangan Itu Pasti Ada

Oleh:
Hujan pun turun membasahi tubuhnya, dia bahkan tidak tahu apa yang dilakukan sekarang yang ia tahu hanyalah bagaimana bertahan hidup tanpa seorang ibu. Hujan pun turun begitu deras, ia

Angga, Si Anak ADHD

Oleh:
“Bunda aku lapar!” teriak Angga memekikkan telinga. Sudah menjadi kebiasaan Angga sejak umurnya 3 tahun hingga 8 tahun ini, sulit untuk diam, selau mengomel, dan bahkan merusak segala perabot

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *