Bunga Terbuang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 August 2017

Sejenak kuhela nafas, sangat terdengar nafasku yang terengah-engah. Kulihat lagi kedepan, ternyata dia sudah sangat jauh. Ingin terus kukejar dia, tapi kakiku tak sanggup, luka ini belum sembuh penuh. Angkot, taksi, ojek, ke mana mereka saat ku sedang membutuhkan mereka. Aku lelah, aku duduk di pinggir jalan, ku tak malu, karena jalan ini kosong, jalan perumahanku.

Aku menyerah. Ku Berjalan kembali pulang ke rumah. Kakiku gemetar, air mata ini masih mengalir, tak bisa kutahan. Kertas yang semula mulus kini lusuh dan basah tercampur keringat dari tanganku. Baru kusadari, aku berlari sangat jauh, mungkin rekor lari terjauh sepanjang hidupku. Tak kusangka beliau tega meninggalkanku sendiri, ya.. hanya aku sendiri tanpa saudara yang dititipinya. Aku tahu kehidupan kami memang sulit, namun ku tak percaya dia meninggalkanku. Ini sangat tidak mungkin. Kami hidup hanya berdua, bersembunyi, berpinda-pindah. Sudah tujuh kota kujejaki selama hidupku tujuh belas tahun ini. Aku tak tau alasan pasti bunda melalukan ini. Tapi satu yang kutahu, bunda menghindari keluarga ayah.

Bunda pernah berkata padaku “maaf, kita harus pindah lagi, bukannya bunda tak suka di sini, tapi ini buat kebaikanmu”. Selalu alasan untuk kebaikanku. Hidup bersama bunda sudah sangat baik untukku, aku tak perlu alasan lain. Ayahku sudah meninggal saat aku berumur delapan tahun, yang kutahu ayah terkena penyakit yang mematikan. Namun, aku dan bunda tidak ikut proses pemakamam. Alasan bunda saat itu adalah takut aku bersedih, jadi keluarga ayahku yang mengurusnya. Kuterima selalu Alasan yang dibuat bunda, karena aku percaya padanya.

Saat itu aku berumur 12 tahun. Pernah suatu hari saat bunda pergi bekerja, ku masuk ke kamar bunda, kugeledah semua barang bunda. Kutemukan beberapa dokumen dan foto pernikahan bunda dengan ayah. Foto itu foto keluarga tapi ku tak melihat satu pun foto keluarga ayah. Hanya ada foto om riki, sahabat ayah. Kubuka dokumen-dokumen itu, ada berbagai dokumen, namun sekilas ada dokumen yang menarik perhatianku, di situ dituliskan kontrak perjanjian, kubaca berisi tentang syarat-syarat kontrak yang aneh. Salah satunya berisi “dalam usia 11 tahun, anak dari dwiki wijaya akan berganti hak asuhnya oleh keluarga wijaya” lelaki yang disebut di sini adalah ayahku dan berkas lain adalah surat cerai. Aku tak mengerti maksud dari berkas tersebut, jadi kutinggalkan dan merapihkan lagi kamar bunda.
Saat aku berusia 15 tahun aku baru ingat tentang dokumen itu. Namun, saat ingin kulihat lagi, dokumen itu tidak ada, mungkin bunda menyimpannya di tempat yang tak kuketahui.

Hingga kemaren sore, kudapati dua orang wanita berkunjung ke rumah kami, ternyata mereka nenek dan bibi anis, kulihat bunda kaget bukan kepalang, mukanya merah, wajahnya sedikit takut, dan kakinya bergetar. namun ia tetap mempersilahkan mereka masuk, kusambut mereka dengan hangat. Belum selesai ku menyapa mereka, bunda menyuruhku pergi ke toko kue, bunda menyuruhku dengan nada terbata-bata dan keras, jadi aku tak berani membantahnya. Aku langsung pergi ke toko kue, kupilihkan kue yang paling enak di sana.

Aku pulang dengan berlenggang senang karena akhirnya ada keluarga yang berkunjung ke rumah kami namun aku tersandung dan membuat kakiku terluka. Saat sudah sampai di rumah aku tak melihat nenek dan bibi anis, hanya ada bunda dengan wajah suram di sana, kata bunda nenek buru-buru pulang karena ada acara, bunda juga bilang bahwa nenek akan memberikan kado ulang tahunku besok. Aku sangat senang dan aku memeluk bunda, bunda pun memelukku sangat erat dan beliau tersenyum padaku, namun ada beberapa tetes air mata yang mengalir di wajahnya.

Semalam bunda ingin tidur denganku, kupersilahkan saja. Namun tengah malam saat ku terbangun, bunda tak ada di sampingku, mungkin bunda pindah tidur karena kasur ini memang tak nyaman digunakan berdua. Aku pun tidur lagi.

Pagi harinya kudapati kue dan kado ulang tahun di kamarku, ini cukup aneh namun aku senang. Aku langsung keluar kamar mencari bunda untuk mengucapkan terimakasih, namun saat aku masuk ke kamar bunda yang kulihat hanyalah kamar kosong dengan lemari terbuka tak ada isi. Lalu aku mendengar suara taksi pergi. Entah kenapa aku malah masuk ke kamarku dan langsung membuka kado dari bunda. Kudapati surat dan syal di sana. Kubaca surat itu.

“selamat ulang tahun yang ke-17 putri bunda tersayang, maafkan bunda gak sempet nemenin ulang tahun kamu mulai dari sekarang. Ini hadiah terakhir dari bunda, bunda mau pergi buat kebaikan kamu, bunda mau kamu dapet segala yang terbaik yang bunda gak bisa kasih ke kamu, maafin bunda nak, selalu jaga kesehatan kamu ya sayang, bunda sayang banget sama juli”

Tak sadar langkah kakiku sudah sampai di rumahku, aku melihat ada bibi anis dan nenek di sana. Nenek berkata ikutlah dengan kami, namun hatiku berkata bunda pergi karena nenek. Aku meninggalkan nenek yang berdiri di depan gerbang dan masuk ke kamarku untuk menangis, mungkin dalam waktu yang lama.

Tamat.

Cerpen Karangan: Ari Wijayanti
Blog / Facebook: jayantislamet.blogspot.co.id / facebook.com/wijayantiarii
cewek yang pendiem, lahirnya di lampung tepatnya tahun 1998, sukanya baca komik, cerpen, nonton film, apalagi drama korea, sama anime. yang tau film bagus, kabar-kabar yak 🙂

Cerpen Bunga Terbuang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesan Tak Berjudul

Oleh:
Malam ini bintang terlihat indah, mereka begitu berkilauan. Rasanya sayang untuk dilewatkan ditambah ayah sedang di rumah malam ini. “Anak ayah ini, kenapa seneng banget sama bintang sih?” Tanya

Khayal Sendja

Oleh:
Aku memandang senyum itu. Senyum lemah yang dia berikan hanya kepadaku, demi membuatku tenang menghadapi segalanya, atau mungkin juga untuk menenangkan dirinya sendiri dari kenyataan pahit dunia yang harus

Maafkan Kakak Dik

Oleh:
Nesya adalah seorang anak perempuan ia anak bungsu yang sering disuruh suruh oleh kakaknya Nasya. Semenjak ayah dan ibunya meninggal mereka tinggal berdua dan Nesya selalu diperlakukan tidak baik

Tidak Harus ke Jepang

Oleh:
Malam yang gelap, dan dingin yang menusuk tulang, aku masih di teras rumah sambil berdiam diri, itulah yang kulakukan. Aku Algi Farry, duduk di bangku kelas 1 di salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bunga Terbuang”

  1. andhika says:

    apa nilai dari cerpen itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *