Burung Kertas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 September 2017

Pagi ini kembali kulihat kak Devan tengah membenahi motornya yang sudah usang terkoyak usia, hal itu terlihat dari beberapa bagian motor yang terbuat dari besi yang kini sudah berubah warna karena proses pengkaratan itu. “Motor aja yang diurusin, Laura enggak?” ujarku manja.

Ya, aku hanya tinggal berdua bersama kakak lelakiku, sementara ibu dan ayah berada di kampung lebih memilih mengurus sawah tinggalan dari mbah uti dan mbah kakung. Mereka berdua lebih nyaman akan suasana pedesaan yang katanya menyejukkan batin, ketimbang kota yang kata ibu tidak ada damai-damainya. Aku memutuskan ikut kakakku di Surabaya, kota metropolitan kedua setelah Jakarta tentunya. Di sini, aku bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Surabaya, walaupun negeri namun tidak terlalu terkenal namanya.

Aku anak bungsu dari dua bersaudara, dan perkenalkan kakak laki-lakiku tadi. Namanya Devan Rajendra Syailendra, kadang aku suka sekali memanggilnya Syailendra tapi kak Devan selalu memberengut kesal, katanya nama itu nama wayang dan itu sama saja mengatakan jika ia dari kalangan kuno itu. Padahal kan meski kuno, wayang warisan dunia bukan? Kenapa harus malu?

Aku sendiri bernama lengkap, Laura Srikandhi Syailendra, kata ibu namaku terinspirasi dari nama wayang dengan tokoh Srikandhi yang terkenal akan keberanian dan kegigihannya dalam menghadapi kerasnya hidup dan ibu sangat mengharapkan itu kepada anak perempuan satu-satunya ini. Oke, kurasa sudah cukup bentuk pengenalanku terhadap kalian, dan kita lihat sekarang kakakku tersayang ini tengah memamerkan senyum manisnya. Aih, sudah mirip aktor Korea saja!

“Siapa bilang kakak enggak ngurusin adik kakak yang paling manja ini? Kalau kakak enggak ngurusin, kakak enggak akan mungkin kan janji belikan Laura novel Merry Riana?” dan kekesalanku menguap begitu saja. Kak Devan langsung mencuci tangannya yang penuh akan oli itu, ia segera beranjak ke dalam kamarnya. Sementara, aku duduk menunggunya di kursi meja makan.

Tak lama, tangan hampaku sudah berisi dengan buku tebal berkisar halaman 300 lebih, ah.. sudah lama aku mendamba memiliki novel sebagus ini. “Loh, ini baru ya Kak?” tanyaku terkejut.
Dan dengan santainya, kak Devan hanya mengangkat kedua alisnya, wajar sih aku tak pernah mendapat buku baru karena sebelumnya buku-buku yang kini berjejer rapi di rak kamarku adalah buku bekas yang kak Devan dan ayah carikan mati-matian di tengkulak buku. Ya, bisa dibilang aku ini kolektor buku, dari sastra lama, sastra baru, roman, novel, cerpen, biografi semuanya nyaris aku punya.
“Hadiah karena kamu masuk 3 besar!” ujarnya dengan semangat, aku tersenyum kecut, seharusnya ini tak berlebihan begini. Kak Devan janjinya kan kalau aku menjadi bintang kelas?

“Kok sekarang cemberut? Kurang suka ya? Atau novelnya udah mainstream?” aku terbelalak kaget, dari mana kakakku yang jarang buka sosial media ini tahu istilah-istilah kekinian anak sekarang?
“Enak aja bilang karya orang mainstream, kakak harus lebih menghargai karya orang lain!” sungutku sebal, ia terkekeh pelan. “Oke, kakak salah! Kamu kenapa terobsesi banget sama karya Merry Riana?” tanyanya balik.
“Karena aku suka akan semangat seorang Merry Riana, siapa yang tidak tahu mengenai mimpi sejuta dolarnya? Seorang gadis yang merantau ke negeri seribu satu larangan itu? Dan aku harap, aku bisa seperti dia, memperjuangkan impianku sampai titik darah penghabisan!” dan kurasakan sebuah tangan kokoh mengusap kepalaku lembut.

“Pokoknya setelah gue lulus dari sini, gue bakal melanjutkan SMA di Singapura!” ujar Ade semangat, jika kalian bertanya tentang aktivitas yang kulakukan saat ini, maka kujawab aku tengah bercakap-cakap dengan teman sekolahku. Saat ini adalah jam-jam istirahat, jadi dari pada membuang uang jajanku untuk makanan mahal di kantin aku lebih suka menghibur diri dengan bersosialisasi dengan teman sebayaku.
“Ngapain ke sana De, mau jadi TKW ya?” sontak tawa mengucur deras dari bibir kami, kecuali Ade yang menanggapinya dengan sewot. Tadi yang menjawab adalah Lindu, dia memang perempuan lucu di kelas kami, badannya tambun, hobi makan cilok dan sempol, tak jarang ia jadi bahan lelucon di kelas kami, tapi Lindu enggak sedikitpun kesal ataupun tersinggung, malah ia juga sering membuat tingkah konyol dengan badan tambunnya itu.
“Terserah lo ya Lin, pokoknya kalau gue nanti sukses di sana, gue bakalan lupain kalian!” ujar Ade sombong, “jangan gitu De, Lindu kan cuman bercanda, lagian justru kami senang teman kami ada yang bisa keluar negeri” nah, kalau yang menimpali tadi itu Dona, lihat dia memang terlihat bijaksana di antara kami semua.
Ade mendengus kesal, sementara tatapannya jatuh ke arahku, bisa kulihat gadis berkaca mata tebal itu menatapku dengan menantang, seakan aku ini rival terberatnya. Ade memang begitu, sejak kelas satu hingga kelas tiga kami memang sering berkejar-kejaran rangking.

“Lo sendiri bakal sekolah di mana? Abang lo kan cuman montir biasa?” suaranya benar-benar nada mengejek, hampir saja aku naik pitam jika tidak Dona genggam tanganku. “Gue mau ngelanjutin di SMA 5 Surabaya emang kenapa, masalah buat lo?!” teman-temanku kaget sekali dengan aksen bicaraku yang lebih memilih menggunakan lo-gue dari pada aku-kamu. Ya, siapa yang mengawali perseteruan panas ini memangnya?
“APA?! Gak salah dengar nih? Rangking lo itu dibawah gue, sekolah kita termasuk kabupaten, kabupaten ke kota itu sulitnya minta ampun dan lo juga keluarga pas-pasan tapi mau ke SMA 5 Surabaya? HELO? Jangan mimpi deh lo!” aku tersenyum sinis memandanginya.
“Merry Riana pun pernah diremehkan seperti itu oleh teman lelakinya, tapi pada akhirnya ia bisa membuktikan itu semua!” ucapku tak gentar, “Laura.. Laura, gue tahu lo emang kutu buku, tapi lo juga harus ingat! Hidup dalam drama dan hidup di dunia nyata itu beda jauh, dan sepertinya lo harus segera sadar dari mimpi indah lo ini..” ucap Ade percaya diri, dengan itu ia melangkah pergi dari hadapan kami.

Hari yang kutunggu-tunggu tiba, akhirnya nilai nemku keluar, 35,00 menurutku nilai itu pas-pasan. Tidak cukup pasti untuk membuatku yakin diterima di sekolah favorit itu, dan lagi sekolahku termasuk wilayah kabupaten artinya sulit untuk masuk kota jika siswa itu tidak benar-benar pandai dan memiliki prestasi.

Dengan langkah gontai, aku memunguti data-data yang sudah kupersiapkan untuk mendaftar di sekolah baruku. Kak Devan sudah bersiap di depan, untuk pertama kalinya aku seorang Laura Srikandhi Syailendra meragu dan tidak percaya diri. Aku segera mengenyahkan segala pikiran buruk ini, bagaimana bisa kita meraih keberhasilan jika tidak dibarengi dengan sikap percaya diri yang harus selalu ada dalam diri individu, bukan?

Aku melangkah dengan pasti ke bangunan besar itu, tak kuhiraukan lagi puluhan pasang mata yang memandangku remeh karena seragam asing ini. Jika yang lain diantar dengan mobil, biarlah hanya aku yang diantar dengan vespa butut milik kak Devan, yang jelas aku merasa bangga, setidaknya ini uang halal kak Devan.

Sebelum aku memasuki ruangan untuk tes akademik, tangan itu menarik tubuhku lembut ke dalam pelukannya. Ditelusurinya, pipiku dengan jemari besarnya, “kamu bisa!” kalimat itu hampir membuatku menangis, namun dengan sigap tangannya menghapus air mata yang berdesir di kelopak mataku. “Kita emang dari kalangan susah dek, tapi jangan pernah kamu gentar akan hal itu! Suksesnya orang tidak berasal dari harta dan tahta seseorang” aku mengangguk paham, teringat kembali kedua wajah orangtuaku, mereka sudah berjuang untukku dan sudah saatnya aku membalas mereka dengan hal ini.

Ini sudah seminggu lebih sejak tes itu dilakukan, aku tahu pagi ini adalah penentuan dari tes itu. Jujur, aku tak mampu bangkit dari ranjang tidurku rasanya aku malas dan tidak ingin membuka situs online yang nantinya akan menampilkan hasil tesnya. Aku tidak percaya diri! Gedoran di pintu begitu terasa mengganggu di gendang telingaku, kurasa itu kak Devan mengingat dari tadi subuh ia terus ngotot mengajakku menuju ke warnet dekat rumah, memintaku untuk mengecek apa hasilnya. Lagian siapa lagi orang yang tinggal di rumah petak ini selain dia kan?

Akhirnya dengan malas aku membuka pintu, terpasanglah wajah ketus kakakku, ya walaupun dia laki-laki dia bisa saja bersikap seperti perempuan yang tengah kesal, sudah ketus cuek lagi. Tapi, aku tak bisa memungkiri jika ia begitu menyayangiku meski aku adik yang manja dan banyak menuntut terhadapnya. Tanpa berkata apapun, ia segera menarikku keluar dari kamarku, langsung meletakkan tubuhku pada boncengan vespanya.

Nama peserta: Laura Srikandhi Syailendra
Peringkat: 20 dari 375 siswa

Air mata langsung meleleh begitu saja dari mataku, bukan, bukan ini bukan tangisan kedukaan melainkan aku bahagia, bangga pada diriku sendiri, meski hasilnya sedikit melenceng dari ambisiku, tapi aku sudah cukup bahagia, setidaknya aku diterima dan posisi peringkatku tidak mencapai angka ratusan lebih. Kurasakan jemari kak Devan menoel pipiku gemas, aku memandangnya dengan berpura-pura kesal, bagaimana bisa ia mengganggu kebahagiaan adiknya disaat seperti ini?

Vespa yang kutumpangi bersama kak Devan berhenti di tanah lapang yang tak jauh dari sekolah lamaku, ia membawaku duduk di tanah lapang itu. Tanpa berkata, ia mengeluarkan kertas origami dari saku celananya. Memberikanku beberapa lembar kertas berbentuk segi empat itu.
“Kamu masih ingat, waktu kecil kita suka membuat burung kertas!” ujarnya tersenyum bahagia, kupandangi wajah tampannya yang kini ditumbuhi rambut-rambut halus pada dagunya. Kini, kakak lelakiku makin dewasa, sudah merasakan kerasnya kehidupan luar.

Setelah beberapa menit saling berkutat pada aktivitas masing-masing, kakak mengajakku berdiri, mendekati puncak tanah lapang ini. “Kita terbangkan burung-burung kertas ini bersama, seperti Merry Riana kita juga punya mimpi sejuta dolar yang harus kita wujudkan! Ikrarkan impian kamu yang baru, kita buat langit dan bumi menjadi saksi janji seorang Srikandhi!”
“Seorang wanita juga bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh seorang pria” ucapku pasti, dan malah dihadiahi jitakan oleh kak Devan. Aku memandanginya kesal. “Disuruh ucapin mimpi kok kamu malah ucapin kata-kata sok bijakmu” aku terkekeh pelan, ya kalimatku barusan adalah salah satu kata yang aku suka dari seorang Merry Riana, aku sangat terobsesi akan dirinya, jadi tak salah kan?

Aku dan kak Devan saling menerbangkan burung-burung kertas itu ke udara, menambah keyakinan pada batinku jika impianku harus bisa setinggi langit, sekuat batu karang dan sehangat sinar mentari. Apa yang aku raih hari ini, hanyalah awal dari perjuanganku, perjalanan yang sebenarnya belum dimulai, oleh sebab itu aku takkan berhenti bermimpi. Kata orang bijak, gantungkan mimpimu setinggi bintang, jika impian itu jatuh, setidaknya akan tertawan di antara gumpalan awan lainnya.

SELESAI

Cerpen Karangan: Linda Kartika Sari
Facebook: Linda Kartika Sari

Cerpen Burung Kertas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tetap Semangat Demi Kain Kafan

Oleh:
Suatu ketika di daerah seberang sana, andi menemui seorang tua dalam perjalanan. Seorang tua tersebut membawa sapu lidi yang masih hijau dan siap pakai. Tak melihatnya sangat terharu, kisaran

Kak Rangga

Oleh:
Hujan turun begitu deras, diikuti kilatan segara disusul Guntur. Ku buka jendala kamarku. Aku mulai hanyut dalam derasnya hujan. Dingin memang, tapi enggan ku tutup jendela kamar. Percikan air

Nasihat Terindah

Oleh:
Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku dan keluargaku tinggal di daerah pedesaan yang amat ramai dengan banyaknya tetangga. Di rumah tersebut aku tidak hanya tinggal dengan keluargaku, namun ada

LOVE

Oleh:
“Wuiiih siapa itu, Ay?” “Siapa? siapa?” Gaby dan Aurel mendorongku, Shalin memepetku. “Aduuh, Edric sama siapa itu?” “Shal, jangan jadi kompor, ya..” kata Gaby. “Udahlah biarin.” Kataku kembali membaca

Andri Sayang Papa (Part 1)

Oleh:
“huft, capenya.” keluh Andri sambil duduk pelan. “kamu habis dari mana aja Ndri? Jam segini baru pulang! Akhir-akhir ini kamu pulangnya malem terus, kamu tuh anak cewek, ndak baik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Burung Kertas”

  1. David Aji says:

    Membuat air mataku menetes..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *