Cahaya Dalam Gelap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 3 April 2019

“Sebenarnya ini harus aku ceritakan pada kalian semua. Sangat berat bagiku jika mengingat hari itu, kejadian itu, dan semuanya. Tetapi, aku tidak memiliki waktu lagi. Sebelum aku mati, aku hanya ingin kalian tahu bahwa pasti akan ada cahaya walau dalam gelap sekalipun. Ini kisahku…”

“Ibu, hari ini aku sangat bahagia, aku sudah memiliki teman di sekolah..” Ucapku yang sangat bahagia pada hari itu.
“Baiklah nak, lebih baik sekarang kau makan dulu.. Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”
“Oh, baiklah…”

Perkenalkan namaku Jesie, waktu itu aku kelas 1 Sekolah Dasar. Dan aku hanya tinggal bersama Ibuku karena Ayahku sudah berpisah dengan Ibuku saat aku masih di Taman Kanak-Kanak.

Dan waktu itu tiba tiba gempa terjadi. Ibu sontak memelukku dengan erat. Entah apa yang aku pikirkan waktu itu. Tiba-tiba aku ingin sekali keluar dan melepas pelukan Ibuku. Karena rumahku dekat dengan laut, jadi aku berlari ke tepi laut. Dan, WUSHHHH ombak pun naik, karena aku sangat lugu, aku pun turun ke laut dan mendekati ombak lalu dengan sekejap air membasahi tubuhku. Ombak tadi menyerbu rumahku, dan kali ini aku tidak bisa melihat apapun. Semuanya tenggelam bersama air. Aku sangat terkejut karena ini pertama kalinya.

Dan aku berteriak “Ibu Ibu” sambil aku mencoba untuk tidak tenggelam termakan air laut. Kulihat air berubah menjadi warna merah, pikiranku sudah negatif bahwa orang-orang sudah terluka bahkan meninggal. Aku hanya menangis karena aku salah, harusnya aku tidak meninggalkan Ibuku. Mungkin jika aku tidak meninggalkannya tadi, kami akan menghadapi ini bersama. Lama kelamaan, penglihatanku buram, semuanya menjadi pelangi, lalu gelap.

Aku pun tersadar, aku sedang ada di puskesmas. Sebenarnya yang tadi aku ada di laut itu hanya mimpi. Tapi, tanganku tergores-gores dan berdarah. Memang benar jika aku tadi ke laut, tetapi saat ombak muncul aku pingsan dan ditemukan oleh orang puskesmas, kak Ardi.

“Jesie, kemari. Kakak akan mengobati lukamu.” Pinta kak Amel.
“Iya kak. Oh iya kak, tadi kakak nemuin aku dimana? Apa yang terjadi? Ibuku dimana?”
“Jesie, kamu tadi ditemukan mengambang pingsan di laut. Kebetulan kak Ardi yang lagi lewat langsung siaga nolong kamu. Dan nyawa kamu pun tertolong. Dan Ibu kamu, kak Ardi dan semua orang gatau kemana Ibumu. Tapi, kamu akan dirawat di panti asuhan.”
“Apa?” Aku sangat terkejut. Ibu kemana? Padahal Ibu adalah harta benda yang aku miliki satu-satunya. Entah kenapa? Hubunganku dengan Ibu seakan sangat erat sampai aku lupa dengan Ayahku sendiri.

Aku berlari ke rumah, dan aku tidak melihat Ibuku di sana.
“Ibu…” Aku berteriak dengan airmata yang tak tertahankan. Dan aku pun mendengar suara Ibuku.
“Jesie, jaga diri baik-baik. Ibu pasti akan kembali, nanti…”
“Ibuuuuuuu..” Semakin aku mendengar suara Ibu, semakin keras aku berteriak Ibu. Dan aku pun tidak dapat berbuat apapun. Aku hidup dalam kegelapan.

10 Tahun Kemudian
“Bu, aku merindukanmu. Kemana kau selama ini? Sudah 10 Tahun aku hidup dalam kegelapan, walau bersama ayah, tetapi aku sangat merindukan Ibu. Bu, kumohon kembalilah…” Aku memegangi foto Ibu yang saat itu sedang berfoto bersamaku.

“Jesie, ayo makan.” Ajak Ayah yang tiba-tiba datang ke kamarku. Memang, semenjak Ayah berpisah dengan Ibu. Dia menjadi pengusaha terkenal dan kini rumahnya kutempati.
“Kau tidak perlu sok perhatian padaku. Yang pantas menawarkan itu hanya Ibu, yang sudah membesarkanku. Bukan kau yang sudah meninggalkanku!” Bentakku. Ayah yang merasa bersalah pun pergi keluar dari kamarku.

Aku pun pergi mandi lalu bersiap pergi. Saat melewati meja makan, Ayah dan Istri barunya yang bernama Sari pun bertanya padaku.

“Kamu mau kemana?” tanya Ayah.
“Main!” jawabku simple.
“Ga makan dulu?” tanya Tante Sari.
“Aku nanti makan di luar!”
“Makan di luar ga baik loh.” Tante Sari terus memperingatkanku.
“Memangnya kenapa? Kamu aja orang luar, berarti kamu itu ga baik buat keluargaku! Dan benar, kamu itu memang ga baik!” Bentakku. Tante Sari hanya terdiam memendam airmatanya. Dan Ayah hanya mengelus dada karena kelakuanku.

Dan kini aku tiba di rumah kecilku yang aku huni dengan Ibuku dulu. Aku memegangi kerangka kasur yang terbuat dari besi itu yang sudah bolong-bolong. Dan aku keluar memandangi laut tempat aku tenggelam. Dan seketika air WUSHHHH. Tragedi ini terjadi lagi. Tetapi Ibu kali ini sudah ada di sampingku.

“Ibu, Ibu bangun Ibu. Ibu selama ini kemana? Bu, aku merindukan Ibu, Bu kumohon bangun Bu…” tangisku sambil menggoyang goyangkan tubuh Ibuku yang basah kuyup oleh air.

Aku pun mendengar seperti ada yang memanggil namaku. Sebenarnya aku tidak berniat menoleh, tetapi ini semacam paksaan. Lalu aku menoleh dan di situ ada Tante Sari yang terus menteriakan namaku. Dan dia berbicara “Hari ini Ibumu sudah kembali dan Tante yang akan pergi. Dan hari ini juga, mulai sekarang kalian akan hidup berbahagia. Keluargamu Jesie akan terbentuk kembali. Tante pamit. Doakan Tante akan kembali 10 tahun lagi, atau Tante akan terbawa ombak selamanya…” Dan kata-katanya terngiang di kepalaku.
“Tanteeeee!” aku pun memasuki air dan mencoba berenang mencari Tante Sari. Tetapi, disitu aku tidak menemukan Tante Sari. Aku pun kembali ke Ibuku. Karena tubuhku basah, tetesan airnya menetesi wajah Ibuku dan seketika Ibu bangun.

“Ibuuu…” teriakku sambil memeluknya erat, sangat erat. Akhirnya setelah 10 tahun Ibu kembali.
“Jesie, kau sudah besar nak. Ibu sudah bilang Ibu akan bertemu lagi denganmu. Tapi, siapa yang jadi tumbal laut kali ini?”
“Tante Sari…” jawabku tegas.
“Siapa dia?”

“Sari itu Istri keduaku.” Ayah tiba-tiba datang.
“Tante Sari sudah mengorbankan 10 Tahunnya untuk Ibu. Aku sangat berterimakasih sama Tante Sari.” ucapku. Ayah dan Ibu hanya tersenyum.

Dan akhirnya setelah 11 Tahun. Keluargaku pun bersatu. Terima kasih atas pengorbananmu Tante Sari…

TAMAT!

Cerpen Karangan: Nur Rizki
Blog / Facebook: NurRizki Madevvv
Mungkin lagi mood yah bikin cerpen jadi di publis. Baca dulu aja, barang kali sukaa

Cerpen Cahaya Dalam Gelap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Kilat

Oleh:
Teramat sangat menyakitkan ketika tubuhmu terbalut dalam kain putih dihiasi oleh warna warni bunga yang merekah di sana sini. Kupandangi layar kaca. Entah kenapa bayangku tak terlihat di sana.

Lorong Gelap

Oleh:
Seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan jejak kumis yang dicukur seadanya.

Selamat Pagi, Bunda!

Oleh:
Remang-remang malam masih mengusik tidurku. Mataku yang tadi mengantuk menjadi terang dan tak mau lagi tidur. Aku sungguh lelah hari ini. Aneh juga perasaanku. Aku yang selalu huru hara

Sullivan Pemburu Drakula

Oleh:
Desanya rapat dengan rumah, dia tinggal pada salah satu rumah yang kecil, sendirian dan hanya berteman lemari buku yang selalu dia bersihkan. Dia melongok lewat jendela, bulan tertutup awan-awan,

Senja Yang Abadi

Oleh:
Malam ini sungguh sunyi.. Hanya terdengar suara detingan jam di sudut ruang keluarga. Semerbak tiupan angin membelalak jendela rumah. Percikan hujan di luar membuatku gelisah nan gundah Malam ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *