Candy Girl

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 May 2013

Candy Girl. Julukan yang tepat buat Da Vinci Mozart. Pasti kalian langsung mikir Leonardo Da Vinci seorang pelukis (1452-1519) yang melukis The Last Super dan Mona Lisa. Dan pastinya kalian mikir juga tentang Wolfgang Amadeus Mozart yang terkenal dengan efek Mozartnya.

Da Vinci Mozart lebih suka dipanggil Moza. Dia cewek yang manis. Cewek termanis, tercantik, dan terpintar di sekolahnya. Siapa sih yang nggak kenal Moza? Cewek dengan nama yang rada gimana gitu. Moza: Cewek agak tomboy, anaknya agak bertingkah tapi belum pernah masuk BP, yang disukai banyak cowok, hobinya menyanyi, melukis, dan menulis. Satu yang khas dari Moza: Setiap hari di saku kanan tasnya pasti ada permen. Entah itu Kis, Say, Relaxa, Tamarine, Kino, Center Fruit, Davos, Frozz, Big Babol, sampai Yupi ada di tasnya. Moza paling suka makan permen. Bukan Cuma permen sih tapi juga eskrim and cokelat. Teman-temannya sering bilang Moza itu manis karena kebanyakan makan permen. Moza cuma nyengir dikatain kaya gitu.

“Permenku habiiissss…!” Teriak Moza ketika merogoh saku tasnya dan mendapati permennya habis. Teriakannya otomatis membuat orang-orang di dekatnya menoleh. Pasti Moza. Tebak mereka.
“Za, diem napa?!” Bentak Ofa. Satu-satunya cowok yang sebel sama Moza ya Ofa itu.
“Biarin.!”
“Kayanya kamu tuh galau banget kalau nggak punya permen?” Tanya Ofa.
“Emang.”
Moza, Aylin, Helra, Vasha, dan Krisya terus berjalan. Sementara Ofa udah duluan gara-gara eneg lihat wajah Moza. Awalnya Moza juga heran kenapa sikap Ofa begitu ke dia. Nggak ada angin nggak ada petir tiba-tiba kaya gitu. Tapi Moza ngebiarin aja dan menikmati.

“Za,” Panggil Aylin.
“Ibu kamu udah pulang?” Mendengar pertanyaan Aylin, wajah Moza langsung merah padam setengah ingin menangis dan setengah ingin marah.
“Emm, nggak tahu.” Jawab Moza sambil memalingkan wajah. Agar sahabat-sahabatnya tidak tahu betapa ia ingin marah dan ingin menangis.
Kejadian ini udah terjadi berulang kali. Terang saja Aylin, Helra, Vasha, dan Krisya aneh dengan sikap Moza. Di tanya kalimat yang umum aja mukanya langsung merah padam seperti Lucifer. Tidak ada yang tahu kenapa sikap Moza seperti itu setiap di tanya tentang ibu.

Suatu saat, saat Moza sedang berjalan bersama Aylin, dia di tanya sama seseorang. Mereka nggak kenal orang itu. Paling orang iseng.
“DA VINCI MOZART!!!” Moza langsung menoleh pada orang itu. Orangnya tinggi, putih, dia cowok usianya sekitar 20an.
“Yes, that’s me.” Jawab Moza sambil mendongak menatap orang itu. Orang itu terkejut. Nggak nyangka anak SMP berani kaya gini.
“What’s up?” Tanya Moza.
“Nama ibu kamu siapa?” Dasar orang aneh belum kenal aja udah nanyain nama ibu. Pikir Moza.
“Aku nggak punya ibu!” Bentak Moza dengan sorot mata penuh amarah.
“Nama mama kamu siapa?” Tanya orang itu lagi.
“Aku nggak punya mama!” Bentak Moza lagi.
“Oke. Nama ibu, mama, bunda, ina, eomma kamu siapa?”
“Aku nggak punya itu semua. Aku cuma punya UMMI!”
“Ummi dan ibu itu sama.”
“Beda. Apa sih urusan kamu nanyain kaya gitu? Nggak ada gunanya!” Moza langsung meninggalkan orang itu. Aylin dan orang itu di buat heran dengan tingkah Moza.
“AYLIIIINNN…!!!” Moza, Helra, Vasha, dan Krisya teriak memanggil Aylin. Rupanya dia ngelamun.
“Eh! Ha? Apaan?”
“Ngelamun ya? Ini udah sampai perempatan. Waktunya kamu nyebrang Lin.” Jawab Krisya.
“Oh ya? Daaaggghh friends!”
“Daaggghh…” Jawab Moza, Helra, Vasha, dan Krisya.

Sampai rumah Moza nangis habis-habisan. Biar nggak ketahuan kalau dia nangis, dia makan permen yang ad di tasnya. Moza menghabiskan 20 permen untuk meredam tangisannya. Terpaksa dia harus keluar beli permen lagi karena yang ada di tasnya habis.
“Ngapain nangis?” Tanya seseorang. Moza cuma menggeleng.
“Jawab!” Bentak orang itu.
“Apa juga urusan kamu?” Benta Moza balik. Orang ini yang pernah nanya waktu itu.
“Lihat aku Za!”
”Apa sih? Aku nggak kenal sama kamu!” Moza ingin berlari tapi orang itu mencekal tangannya.
“Lepasin! Aku mau pulang!”
“Ikut aku!” Nadanya final. Moza tidak dapat mengelak lagi.
Dia menyeret Moza ke sebuah Outlander Sport. Moza hanya bisa menurut.
“Kenalin, nama aku Mirza. Mirza Beethoven. Nama kita hampir sama, kamu tahu kan di mana letak kesamaannya?”
“Ya. Tapi kita mau ke mana? Aku belum pamit, nggak bawa hape, dan nggak pakai kerudung.”
“Nih pakai. Kita mau ke ARTOS. Magelang.” Kata Mirza sambil menyerahkan kerudung berwarna krem.
“Tapi aku nggak bawa uang terus aku juga belum pamit. Bisa kita putar dulu? Aku ambil uang dulu. Soalnya aku kalau belanja banyak.” Kata Moza memohon.
“Nggak bisa. Aku yang bayar semuanya. Kamu nggak perlu ngerasa nggak enak sama aku. Anggap aja aku ini kakak kamu sendiri. Walaupun kita baru kenal.”
“Emmm, nanti kalau aku kena marah orangtuaku gimana?”
“Nggak akan kena marah. Aku yang jamin. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Kamu harus menjelaskan semua cerita hidup kamu sama aku.” Kata Mirza mengejutkan Moza.
“Bagian-bagian tertentu?”
“Vital.”
“What? Nggak…” Belum sempat Moza melanjutkan kata-katanya langsung di putus sama Mirza.
“Aku janji nggak akan bilang siapa-siapa.”
“Oke. Aku mulai ceritanya.” Moza menghela napas sejenak. “Oke. Aku mempunyai dua orang tua. Satu bapak ibuk satu abah ummi. Jujur aku lebih bahagia dengan Abah dan Ummi. Karena aku merasa tenang jika ada di samping mereka. Mereka memberiku kasih sayang, perhatian, dan cinta dengan cara yang luar biasa. Aku bisa cerita banyak hal ke Abah dan Ummi. Yang paling aku suka ceritain adalah masa depanku. Aku bisa bebas bercerita kadang tertawa bersama. Walaupun aku jauh dengan Ummi dan Abah, tapi hati kami terikat dengan tali cinta dan kasih sayang. Sedangkan aku merasa nggak mendapatkan itu semua dari ibu dan bapak. Mungkin secara materi, kebutuhanku terpenuhi. Tapi aku nggak di beri perhatian, cinta,dan kasih sayang seperti yang Abah dan Ummi berikan. Mereka nggak pernah nanyain nilai aku, kegiatanku di sekolah, muji aku sebagai anak yang hebat aja nggak pernah. Sedangkan Abah dan Ummi sangat ringan mengucapkan: Moza anak yang hebat. Kadang aku iri dengan teman-temanku yang mempunyai keluarga harmonis. Aku sumpek, Za. Tiap hari mendengar bentakan dan bentakan. Aku ingin sekali dipahami kalau aku bukan anak kecil lagi. Moza udah kelas IX SMP. Moza udah remaja dan bisa menyukai lawan jenis. Tapi aku nggak pernah bisa mencurahkan seluruh isi hatiku pada bapak dan ibu. Aku memendam perasaan dan masalah sendiri. Aku ingin berbagi tapi sulit. Aku lebih terbuka dengan Abah dan Ummi. Aku merasa nyaman dengan kehadiran mereka. Abah pernah bilang kalau aku anak yang manis, yang cerdas, yang membawa kesejukan di mana saja. Maka, Abah memberiku nama Adzkiya Fahma Izzati. Panggilanku bukan Moza tapi Izza. Gitu ceritanya.” Moza mengakhiri ceritanya.
“Emang Ummi dan Abah kamu di mana?”
“Lhokseumawe.”
“Jauh banget. Kok bisa kenal?”
“Itu panjang banget ceritanya.”
Tanpa terasa, butiran-butiran kristal bening mengalir di pipi lembut Moza. Senakal apapun Moza, sepintar apapun Moza, sehebat apapun Moza, Moza tetaplah manusia biasa. Bukan robot. Moza punya perasaan. Moza ingin dimengerti. Moza ingin hidup normal seperti anak-anak lain.
“Za, jangan nangis dong. Di mana Moza yang selalu ceria?” Tanya Mirza setengah tidak enak hati dengan Moza.
“Aku ceria hanya pura-pura Za. Aku hanya ingin orang lain nggak tahu kehidupan Da Vinci Mozart yang sebenarnya. Aku ingin tinggal bersama Abah dan Ummi aja biar bisa menikmati indahnya kasih sayang mereka.” Moza bicara penuh emosi. Seakan ingin meluapkan semua yang mengganjal hatinya.
“Za, Allah pasti nggak akan kasih cobaan yang di luar batas kemampuan umat-Nya. Kalau Allah kasih cobaan, berarti Dia tahu kamu bisa melewati semua ini. Udah ah hapus air matamu. Lihat tuh, kita udah mau sampai.”
Moza pun tersenyum. Meski hatinya menjerit ingin segera masalah ini pergi. Namun ia berjanji akan melewati ini semua dengan senyuman agar semua terasa ringan. Agar ia juga tenteram menjalani hidup.

Mirza dan Moza masuk ARTOS. Yang pertama di tuju adalah Time Zone. Moza bermain Terminator Salvation, Mirza hanya menemani Moza. Moza bukan orang baru baginya.
Mirza adalah anak angkat Abah dan Ummi yang di utus Abah dan Ummi untuk menjaga Moza. Secara tidak langsung kehidupan Moza turut diawasi oleh Abah dan Ummi. Kalau Mirza kuliah pagi, ia menitipkan adiknya kepada Azril, teman Moza. Tentunya tanpa sepengetahuan Moza. Azril melaksanakan tugasnya dengan baik. Entah apa yang akan terjadi esok, lusa, seminggu yang akan datang, sebulan yang akan datang, setahun yang akan datang, dan kapan pun jika Mirza tidak menjaga Izza. Abah, Ummi, Mirza, dan kakak-kakak Moza yang lain hanya bisa berdoa dan berusaha agar Izza tetap semangat dan tegar menjalani hidup. Kalau pun boleh memilih, sebenarnya Abah dan Ummi ingin sekali mengambil Moza dan benar-benar menjadikan Moza anak mereka sepenuhnya. Menyayangi Moza sepenuhnya seperti mereka menyayangi anak-anak mereka sendiri. Namun apa daya? Semua itu tak mungkin kecuali dengan satu syarat.

Cerpen Karangan: Dhiyafirsta Swastika
Facebook: Dhista Dhiafanta

Cerpen Candy Girl merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Aku?

Oleh:
Rasa sakit di dada tak mampu di tahan lagi, Aku terlalu kecewa dan sakit menerima kenyataan yang sedang ku hadapi kini, ketika ibu selalu tidak memperlakukan aku adil dengan

Ayah Atau Pacar

Oleh:
Nama gue Tyas, tahun ini usia gue 23 tahun. Gue kuliah jurusan hukum semester 7. Tadi waktu di kampus, dosen ngasih tugas ke kami untuk membuat sebuah makalah tentang

A Story of Friendship

Oleh:
Nadia menutup pintu kamar mandi. Ia memutar badannya, lalu berjalan menuju tempat tidur yang berada beberapa langkah di hadapannya. “Hai, kamu sudah bangun.” Ucap Nadia kepada seorang gadis yang

Dark

Oleh:
Tak ada sesuatu yang menarik di sini, hanya ada sepi yang banyak berkeliaran, juga banyak kenangan yang datang ke sana ke mari, mungkin mereka mencari kenangan lain yang hilang,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Candy Girl”

  1. Syafa says:

    Ofa itu nama panggilan atau emang namanya singkat amat kebetulan panggilan aku Ofa juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *