Caroline

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 October 2013

“Aku menghindar bukan karena aku seorang yang penakut atau pecundang yang takut ketika aku melihat mukamu. Aku menghindar untuk menahan emosiku yang mengebu-gebu tiap aku mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Aku menghindar juga untuk menahan hasratku memukul wajahmu sebagai pelampiasan.”

Entah mengapa mereka melakukan ini semua padaku. Apa karena aku seorang anak dari keluarga broken home? Mungkin itu benar. Sejak umurku 6 tahun kedua orang tuaku sudah bercerai entah mengapa alasanya, aku tak tahu. Karena, pada saat itu aku seorang gadis kecil yang polos yang belum mengerti seluk beluk dunia. Tetangga dan teman-teman sekolahku dulu mengejekku dengan kata-kata yang kasar. Aku ingat ada temanku yang berbicara seperti ini… “Hei caroline… kemarin ayahmu kemana saat kita ada pengambilan rapot? Kok ibumu saja yang datang? Ups aku lupa, kan orang tuamu sudah bercerai? Kemarin kedua orangtuaku datang untuk mengambil rapotku. Enak ya jadi aku, kedua orang tuaku masih menyatu tak sepertimu. Oh iya lin dengar-dengar anak yang berasal dari broken home ya seperti kamu itu, sikapnya tak terdidik loh, ya ancur gitu dan akan masuk lubang kesengsaraan akibat pergaulan bebas dan nark*ba akibat tak mendapat perhatian yang utuh. Jadi, aku mohon sama kamu jangan berteman denganku apalagi dekat-dekat denganku karena aku tidak nyaman.”

Saat itu aku pulang sekolah dengan keadaan menangis sampai rumah. Ibuku yang melihat aku menangis dengan lembutnya mengelus rambutku dan bertanya padaku. Mengapa aku menangis? Aku tak menjawab pertanyaan ibu. Melihat itu semua, ibu mengajakku masuk untuk makan siang. Ibu memasakan makanan kesukaanku yaitu mie goreng, setelah aku menghabiskan mie goreng itu aku beranjak pergi ke halaman. Aku bermain boneka sendirian disana. Karena, aku tak punya teman. Melihatku sedang sendiri Ibu menghampiriku dan ikut bermain denganku. Diselang waktu aku bertanya pada Ibu.

“Ibu… aku kesal dengan orang-orang. Mengapa mereka mengejekku?”
“Lalu, apa yang kamu lakukan terhadap mereka?”
“Aku hanya diam saja bu, karena aku ingat nasihat ibu.”
“Apa coba nasihat ibu?”
“Bersabar. Hanya dengan satu hal itu niscaya keadaan akan lebih baik dari sebelumnya. Biarkan mereka semua berkata apa yang mereka inginkan yang penting ingatlah satu hal orang baik temannya sedikit dan orang jahat temannya banyak. Karena, orang jahat banyak macam cara untuk mendapatkan teman. Ya salah satunya menjelekkan orang baik. Dan satu lagi bahwa Sang Pencipta selalu melindungi orang yang sabar dan baik.”
“Tuh kamu tahu nasihat ibu. Biarkan mereka menjauh asalkan jangan olin buat Sang Pencipta jauh dari caroline ya.”
“Iya ibu aku janji sama ibu, aku enggak akan lupa dengan nasihat itu.”

Sekarang aku sudah 15 tahun. Pada saat itu, emosiku terkadang mengebu-gebu jika ada seseorang yang membuat aku kesal. Untung saja ada temanku Stevani ia selalu mengingatkan aku tentang nasihat ibu. Ia adalah teman pertamaku dan aku harap kami akan berteman sampai akhir hayat nanti. aku memanggil Stevani denagan nama panggilan mooh (suara sapi) karena ia sangat menyukai boneka sapi dan aku dipanggil embe karena rambutku keriting. Kami berdua saling mengerti kekurangan masing-masing.

4 tahun kemudian stevani pindah keluar kota. Menangis. Itu yang aku lakukan karena aku kehilangan teman pertamaku yang mengerti aku seutuhnya yaitu Stevani. Ia pindah keluar kota karena, Ayahnya dipindah tugaskan. Setelah stevani pergi, aku menjadi sesosok yang pendiam karena aku baru tahu bahawa persahabatan terasa berarti jika kita sudah kehilangannya. Terkadang untuk menghilangkan rasa rinduku pada stevani, aku mengirimkan email padanya. Sudah lima email yang kukirim dan tak ada satu pun yang dibalas. Aku berusaha untuk berpikiran positif mungkin ia sedang sibuk. Hingga keesokan harinya si mooh membalas emailku. Ia mengundangku untuk berlibur di rumahnya mumpung sedang liburan. Dengan senang hati aku tak menolaknya.

Aku meminta izin pada Ibuku untuk pergi ke rumah si mooh di bali. Ibuku mengijinkan. Aku tak sabar tuk segera pergi ke rumah Stevani. Aku ingin melihat rumahnya. Aku ingin liburan dengannya. Aku tak sabar untuk esok hari.

Hari yang aku tunggu akhirnya datang. Aku sudah sampai di bandara ngurah rai. Aku menunggu stevani sudah beberapa menit. Akhirnya ada seorang wanita yang kulitnya sawo matang dan cantik. Ternyata ia stevani, moohku.

“Stevani?” Ucapku dengan rasa kaget
“Iya ini aku embe. Aku iteman ya?”
“iya.” Ucapku sembari mengangguk
“Ya udah, ke rumah aku sekarang yuk embe.”

Sesampainya di rumah Stevani, aku langsung disuruh menunggunya di serambi rumahnya menunggu ia membuatkan aku minuman. Aku takjub dengan rumah stevani sekarang lebih besar dari sebelumnya. Ketika aku sedang melihat-lihat halaman rumah stevani. Sosok laki-laki menghampiriku. Aku kaget melihatnya. Mengapa mukanya mirip dengan ayahku yang telah bercerai dengan Ibu? Aku berusaha untuk tenang. Aku menanyakan namanya. Dalam hati aku berharap namanya tak sama dengan nama ayahku. Aku kaget ternyata namanya sama dengan ayahku! Wahai Sang Pencipta, mengapa… mengapa ayahku adalah ayahnya Stevani? Mengapa harus dia. Mengapa harus Stevai yang menjadi anak tirinya? Aku berlari meninggalkan rumah itu. Stevani yang kebingungan, memangil-mangilku. Tapi, aku tak menggubrisnya. Aku berlari tanpa aku tahu tujuan. Hingga aku akhirnya berhenti di suatu restoran di dekat pantai kuta. Disana aku menelpon Ibuku.

“Bu…Ibu…” suaraku berusaha menahan air mata
“Kenapa?”
“Aku bertemu ayah, aku seneng karena aku sudah bertemu dengan ayah tapi…”
“Tapi kenapa?”
“Ayah… Ayah juga papahnya stevani” Ucapku sembari menahan air mataku yang sudah siap terjun melewati pipi.
“Benar?” Ucap Ibu yang tak kalah kagetnya denganku.
“Benar ibu. ”
“Sekarang kamu ada dimana?”
“Aku di sebuah restauran dekat pantai kuta. Aku tadi pergi dari rumah Stevani karena, perasaanku bercampur aduk.”
“Kamu sekarang hubungi Stevani dan Ayahnya suruh mereka menjemputmu disana dan bicarakan baik-baik pada mereka.”
“Haruskah?”
“Harus!!!”

Tak beberapa lama setelah aku menghubung stevani dan ayahku, mereka berdua datang. Aku menjelaskan secara rinci semua dan menjelaskan bahwa Ayahnya Stevani adalah Ayahku juga dengan menunjukan foto Ibuku dan ayah. Aku melihat muka Stevani seperti ingin marah dan menangis. Aku tahu Stevani jika ia akan menangis. Dan aku melihat wajah Ayah yang senang karena melihatku. Tak berapa lama setelah penjelasan itu. Stevani pergi. Sebelum ia pergi ia mengatakan sesuatu padaku.

“Mulai hari ini hubungan pertemanan kita putus!! Aku udah gak peduli denganmu lagi. Pokoknya aku mohon jangan ganggu kehidupanku lagi dengan menyatakan ayahku adalah ayahmu itu sangat tidak masuk akal. Ternyata benar kata orang memang seharusnya aku tak berteman denganmu karena kamu hanyalah seorang pengacau. Pergi kamu dari kehidupan aku sekarang!!!”

Belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata, Stevani pergi bersama Ayah. Aku terdiam sebentar di restauran itu meratapi nasib yang kudapat. Aku berusaha untuk tabah menjalaninya. Setelah makan malam di restauran itu aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah.

Aku mengirimkan beberapa email. Tapi, satu pun tak pernah dibalas. Aku tetap mengirimkan email terus menerus berharap ia membalasnya. Aku sudah lelah dengan semua ini. Akhirnya, aku mengirimkan email terakhirku pada stevani yang berisi…

“Stev, aku tahu kamu pasti kesal padaku. Aku tahu itu dan aku merasakannya. Stev, aku harap suatu saat nanti entah kapan waktunya kamu dapat memaafkan aku seutuhnya. Tak ada yang mengganjal di hati kamu. Stev, makasih kamu sudah menjadi temanku yang pertama. Makasih, hanya kata itu yang dapat kuucap. terimakasih untuk sahabat terbaikku. Stevani”

Cerpen Karangan: Intan Kurniasari Suwito
Facebook: Intan Kurniasari

Cerpen Caroline merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Memang Terbaik

Oleh:
Kirana, Thia, Shilla dan Hani adalah kawan akrab. Mungkin, lebih tepatnya lagi, sahabat. Akan tetapi, mereka selalu memperdebatkan hal itu. Kirana dan Thia setuju jika mereka bersahabat. Namun, Shilla

Selalu Ada Maaf

Oleh:
Malam ini begitu menyedihkan bagiku, aku menatap sekeliling kamarku kenapa harus begini, ku kira semua akan sesuai rencanaku tapi ternyata tidak, padahal seharusnya hari ini jadi hari yang membahagiakan

From Sahabat Be Love

Oleh:
Nama gue Liliana Septi Anugrah pratama. Gue biasa dipanggil Lili. Gue memang bukan cewek yang sempurna. Inget, di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah.

Selamat Tinggal Sahabatku

Oleh:
Tersinar sebuah cahaya yang masuk di dalam kamarku terkejut kubangun. Dengan malas aku meninggalkan kamar. Seperti biasanya ada yang harus kukerjakan. Apalagi kalau bukan ke sekolah. Suhu udara sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Caroline”

  1. caroline maharani says:

    kak, sumpah, cerpen ini sama persis dengan kehidupanku kak. ya beda cuman papa ku bukan papa sahabatku. aku juga keriting, dan saat mama papa bercerai umurku juga 6 tahun. dan namaku juga caroline.kakak terinspirasi dari mana ya?:) jawab ya kak:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *