Catatan Hati Seorang Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Aku rasa hal semacam ini sering ku alami. Krisis yang menjadikan kehidupanku semakin mengikis jiwa, dan usiaku terus bertambah setiap harinya. Angan dan harapan seakan melayang tak tahu kapan terwujud. Anak-anak kian hari makin bertambah besar, semakin pula kebutuhan ekonomi melonjak, sedangkan krisis tak pernah berakhir. Pada siapa perasaan ini ku tumpahkan, orangtua telah tiada. Hanya saudara dan teman yang jadi tempat berkeluh kesah. Tapi, Aku tidak boleh putus asa, apapun resiko, di mana pun aku harus mencari, aku harus bisa menghadapi berbagai macam kendala.

Di perantauan aku mengalami kendala yang sangat menyakitkan. Terkadang aku merasa putus asa apakah aku sanggup menghadapi masalah demi masalah. Sadangkan saat ini aku masih sangsi, dengan penyakit yang aku derita. Kemarin aku merasakan sakit perut yang belum pernah aku alami sebelumnya. Tetapi sudah berbagai obat tidak sembuh juga. Akhirnya aku bicara langsung pada bos, untungnya langsung dibelikan obat yang mahal. Setelah diminum, beberapa jam langsung tidak terasa. Alhamdulillah…

Walaupun begitu, Minggu yang ketiga ada saja masalahnya, yang namanya sakit kepala menyerang tiap hari. Tiap hari itu pun aku minum obat sakit kepala yang murah di pasaran, tetapi tidak sembuh juga. Sudah itu, kepalaku pernah terbentur kayu sampai keluar darah. Sakitnya bukan main, dan lama sekali sembuhnya. Untuk itu, banyak sekali uang yang aku keluarkan untuk membeli obat, habis sudah. Tetapi yang terpenting aku bisa bertahan hidup. Beginilah resiko jadi kepala rombongan buruh. Apalagi tenagaku dibutuhkan oleh mereka. Aku harus mampu menghadapi godaan apapun. Tapi Andai aku bisa merubah segala hidupku ini. Mungkin penderitaan tak akan ku lalui berkepanjangan. Namun kapan aku bahagia?

Sakit…

Aku tak peduli dengan kesehatanku sekarang ini. Yang penting aku harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Tetapi kondisiku semakin drop, aku memutuskan pulang ke kampung. Mau tak mau aku harus istirahat. Menurut dokter, aku terkena paru-paru basah. Bagaimana ini, anak-anakku masih kecil-kecil dan perlu perhatian dari orangtua. Semakin hari aku semakin takut. Di tengah malam aku terkadang menangis tanpa sebab. Apakah penyakitku bisa sembuh? batuk dan sesak sangat mengganggu tidurku. Aku hanya bisa pasrah pada Tuhan. Aku semakin sedih saat istriku menangis setiap aku kesakitan. Tenanglah, menangis bukan cara menyelesaikan masalah. Berdoa adalah hal yang terpenting untuk sekarang.

Aku sebagai kepala keluarga, tulang punggung keluarga, aku harus kuat. Keluarga itu nomor satu. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Setiap hari aku menuruti apa yang dokter bilang. Bersama istriku yang ikut berjuang, hari demi hari aku semakin pulih. Dan walaupun kadang masih terasa sakitnya, aku harus tetap kuat dan berusaha agar sembuh total. Dan kesembuhanku hari itu adalah dimana awal untuk berjuang lagi. Bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ini sudah jadi nasibku. Semoga saja umur dan rezeki tak pernah terhambat karena penderitaan. Oh Tuhan semesta alam… Berikanlah jalan terang agar kami bisa meniti jalan setapak yang penuh semak berduri dalam mencari jati diri. Siapa diriku yang sebenarnya. Bisakah aku merubah hidupku. Bisakah aku terhindar dari penderitaan yang panjang. Bisakah aku membahagiakan anak dan istriku dan selamat dunia akhirat. Semoga itu akan tersampaikan lewat kata-kata yang aku tuliskan.

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indah Cho

Cerpen Catatan Hati Seorang Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Esperanza

Oleh:
Ezperanza berarti harapan. Dan harapan berarti sesuatu keinginan. Thomas Carlyle pernah berkata, “Dia yang memiliki kesehatan, memiliki harapan. Dan ia yang memiliki harapan, memiliki segalanya.” Dan ia juga pernah

Identitas Gula

Oleh:
Aku tercipta dari sebuah makhluk besi besar, mengkilap jika terkena cahaya matahari. Bersama adik-adiku yang berjumlah ribuan, bahkan milyaran. Terkumpul dalam sebuah bak raksasa yang sungguh teduh suhunya. Dari

Penyesalan

Oleh:
“Ibu, berikan aku uang Rp 800.000,00,” Kataku sambil menyodorkan tanganku. “Karina, kamu mau ke mana? untuk apa uang sebanyak itu kamu pakai?” Tanya Ibuku padaku. “Gak usah banyak tanya

Hadiah

Oleh:
Pagi itu Hani berangkat sekolah diantarkan oleh pamannya. Paman yang sangat dekat dengan keluarganya, dekat dengan Hani. Dan pamannya pun mengatakan sesuatu yang membuat Hani merasakan memiliki beban. Beban

Ayah… ini Aku

Oleh:
Tubuh Mungilnya menggigil kaku… ia duduk di sebrang trotoar, sambil terus menggigil kedinginan.. tiba tiba dua orang sosok berbadan tegap dan gelap mendekatinya “Dasar Anak gak tau diri kamu!!!,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *