Catatan Terakhir Gista

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 August 2015

Di malam yang sesunyi itu, ketika bulan tak malu untuk menampakkan bentuk indahnya yang putih bening bersinar terang. Tepat pukul 00.00 malam itu aku dilahirkan. Ayah dan Bunda menangis terharu melihat aku lahir di muka bumi ini membawa kelengkapan dalam keluarga kecilnya. Augista Lutfi Putri itu nama indah yang diberikan orangtuaku kepadaku, mereka memberi nama itu kepadaku karena aku lahir pada bulan Agustus dan berharap agar aku menjadi putri yang lembut dan penuh kasih sayang.

Gista adalah nama panggilanku. Sejak kecil aku dirawat oleh Nenekku beserta Kak Nurya anak asuh Nenek. Entah mengapa demikian. Kata Nenek orangtuaku pergi meninggalkan aku ketika aku masih berumur 1 tahun, mereka pergi untuk mencari uang dan berjanji akan kembali tapi nyatanya hingga kini mereka tak pernah kembali.

Pernah suatu saat ketika umurku menginjak 12 tahun, aku nekad ingin kabur dari rumah dan mencari Ayah dan Bunda, sayangnya niatku ini ketahuan oleh Nenek dan akhirnya aku dimarahi habis-habisan dan sempat tidak diperbolehkan untuk ke luar rumah.

Tepat keesokan harinya, ada selembar surat terkirim di rumahku tertera dari Bunda tersayang untuk Gista putri Bunda, di dalam surat Bunda tertulis,

Dari: Ayah dan Bunda
Untuk: Gista tersayang

Apa kabar Gista sayang? Bunda harap Gista dalam keadaan baik-baik saja. Maafkan Ayah dan Bunda ya sayang, Ayah dan Bunda tidak bisa pulang dahulu karena pekerjaan Ayah dan Bunda belum selesai jadi, Ayah dan Bunda minta maaf sangat tidak bisa pulang ke rumah, tapi suatu saat Ayah dan Bunda janji benar-benar akan pulang.
Salam kangen Bunda untuk Gista tersayang dan juga Nenek
Ttd

Ayah & bunda

Kemudian surat itu aku balas demikian,

Dari: Gista Putri
Untuk: Ayah dan Bunda

Bund, yah, kenapa kalian begitu? kenapa tak pulang langsung sudah lama Gista menunggu, berharap sekali kalau di setiap ulang tahun Gista Ayah dan Bunda selalu ada, dan memberikan ciuman kasih sayang dari Ayah dan Bunda. Gista dan Nenek di sini juga sangat kangen dengan Ayah dan Bunda. Tolong Ayah dan Bunda lekas pulang. Gista mohon, Gista tunggu sampai tanggal 17 Agustus 2012 nanti ya.

Ttd
Gista Putri

Tapi nyatanya setelah aku balas surat itu Ayah dan Bunda pun tak kunjung pulang padahal, sudah berulang kali aku kirim surat itu.

Suatu hari aku bermimpi tentang kedua orangtuaku, mereka datang tepat pada tanggal 17 Agustus 2012 dan Bunda langsung memelukku seraya berkata “Gista Bunda rindu sekali, Bunda nggak ingin melepaskan pelukan ini” tak lama kemudian ada cahaya yang bersinar terang muncul dari kejauhan dan merenggut paksa pelukan Bunda denganku aku pun menjerit. “Bunda. Jangan pergi, jangan pergi. Gista masih kangen Bunda bundaaaa”

Aku pun langsung sontak terbangun dari tidurku yang lelap itu dan langsung memeluk Kak Nurya yang saat itu masih belajar dan aku menceritakan mimpiku tadi kepadanya. Kak Nurya hanya tersenyum sambil berkata.

“dek Gista, mimpi itu kan hanya bunga tidur, jadi nggak usah sedih atau takut lagi ya sudah salat malam dulu sana, biar tenang”
“iya kak,” kemudian aku pun pergi wudhu untuk melaksanakan salat malam, setelah salat malam aku berdoa.

“ya Allah. Lindungilah kedua orangtuaku yang jauh di sana jagalah mereka dari mara bahaya ya Allah Gista mohon banget agar nanti tepat tanggal 17 Agustus 2012 orangtua Gista pulang dan kembali lagi berkumpul dengan Gista, Gista mohon. Gista sangat merindukannya amiiin” Setelah salat aku melanjutkan tidurku yang terhambat oleh mimpi burukku tadi.

Beberapa hari kemudian tepat tanggal 17 Agustus 2012, aku ulang tahun. Umurku bertambah menjadi 17 tahun, aku merasa sangat bahagia karena pada saat itu Nenek dan Kak Nurya merayakan ulang tahunku. Mereka memberikan kado spesial yang sebelumnya aku tidak pernah diberi. Namun, aku teringat dengan surat terakhirku yang kukirimkan kepada orangtuaku, agar mereka lekas pulang ketika pada tanggal 17 Agustus 2012 ini. Tapi nyatanya mereka belum pulang.

Kemudian aku pergi ke kantor pos untuk menanyakan tentang surat itu, dalam perjalanan tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang menabrakku, aku terjatuh dan pingsan. Aku pun langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk diselamatkan tapi, dalam perjalanan ke rumah sakit nyawaku sudah tak tertolong lagi, aku menghembuskan napaskan pada hari itu. Nenek dan Kak Nurya menangis melihatku pergi begitu saja sebelum melihat kedua orangtuanya pulang.

Senggang beberapa jam kemudian ada sebuah mobil mampir ke rumah Nenek, di dalam mobil itu ke luar sepasang suami istri, mereka langsung lari dan memeluk Nenek, mereka kaget ketika di rumah Nenek ada suasana duka, mereka bertanya,

“Nek siapa yang meninggal? mana Gista?” Nenek hanya menangis dan tak menjawab pertanyannya,
“Nek, siapa yang meninggal?! Bunda Gista langsung membuka kain yang menutupi tubuh Gista, mereka kaget dan langsung menjerit.
“Gista?! Kenapa kamu pergi meninggalkan kami, Gistaa!”

Mereka tak sanggup lagi menahan kesedihan yang paling dalam dirasakan, mereka menyesal telah datang terlambat sebelum nyawa putrinya masih ada. Setelah itu Kak Nurya memberikan secarik kertas kepada kedua otangtua Gista, “ini surat terakhir yang akan diberikan kepada kalian.”

Untuk: Ayah dan Bunda tersayang

Ayah, Bunda,
Kenapa kalian belum pulang? Apa kalian nggak ingat dengan hari ini? Atau mungkin masih sibuk dengan pekerjaan kalian?
Ayah, Bunda,
Gista sangat berharap kalau hari ini Ayah dan Bunda bakal pulang tapi, kenapa kalian belum ada
Ayah, Bunda.
Dengarkan keinginan putrimu yang terakhir ini.

Ttd
Gista Putri

Setelah membaca surat itu mereka menyesal dengan apa yang telah terjadi saat ini. Mereka terus bersedih dan terus dilanda penyesalan terhadap Gista, putri semata wayangnya.

Cerpen Karangan: Nuril Azizah
Blog: nuril-writing22.blogspot.com

Cerpen Catatan Terakhir Gista merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Namaku Suganda

Oleh:
Tak ada yang pantas untuk dipaksakan. karena semuanya sudah ALLAH tetapkan. Jika kau sayang, mohon lepaskan. Jika kau cinta, tolong tinggalkan. Lanjutkan hidupmu, dan aku lanjutkan hidupku. Tak perlu

Gelang Emas Untuk Bunda

Oleh:
“Lind, besok kan Bunda ultah, kita kasih kado apa ya?” ucap Dila pada adiknya, Linda. “emm… bagaimana kalau gelang emas kak? Kan dari dulu, bunda ingin sekali membeli sebuah

Lampung Yang Membuatmu Bangga

Oleh:
Sindy Putri Anastasya adalah anak dari bapak Darmawan dan ibu Santi. Dia lahir pada 26 Desember 1999, sekarang usianya 13 tahun. Shanti duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Jalan Terbaik

Oleh:
Pagi ini tak seperti biasanya, terlihat di salah satu kompleks perumahan yang biasanya sepi, khusus pagi ini sangat ramai sekali orang di luar rumah. Oh… ternyata mereka sedang menyambut

Mrs. Aditya

Oleh:
15 April 2017 06.00 WIB Pagi yang cerah, tetapi sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak? Lihatlah, pagi-pagi buta seperti ini, ketika aku masih kusut, kucel, dan ditambah rambut mengembang seperti balon,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *