Cause of My Parent’s Lie

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 12 December 2013

Pada sabtu pagi sang ayah hendak berangkat kerja, dia mulai mengendap-ngendap ke luar kamar ketika selesai berpakaian, setelah sampai di pintu depan dia merasa bahwa dia telah berhasil meloloskan diri tanpa sepengetahuan pangeran kecilnya, tapi baru sebelah kaos kakinya dipasang sudah terdengar suara sang pageran kecilnya “Ikuuuttt…” disertai tangisan yang keras, itulah kebiasaan seorang ayah setiap pagi ketika hendak berangkat kerja.

Dipeluk anaknya “Kamu nggak usah ikut sayang, bapak bentar saja cuma mau ke sana dekat saja, nanti kalau bapak pulang, bapak belikan mainan bagus ya, yang penting kamu tidak ikut!”. Mendengar kalimat itu sang anak pun terdiam dari tangisnya berharap bapaknya sebentar lagi pulang dengan mainan kesukaannya.

Sore hari bapak baru pulang, si kecil baru terbangun setelah tertidur kecapean menangis menunggu bapaknya pulang yang katanya hanya sebentar, dia pun menagih mainan yang dijanjikan bapaknya “Waduh… tadi waktu bapak lewat, tokonya lagi tutup sayang, ya mainannya nggak bisa dibeli”. Sang pangeran pun percaya bahwa memang mainannya tidak bisa dibeli. Sang bapak pun merasa bahwa sudah tidak ada lagi masalah, semuanya telah teratasi hari ini.

Kesekon harinya, giliran ibu yang akan berangkat ke pasar untuk keperluan keluarga kecilnya dalam satu minggu ke depan, karena hanya pada hari minggu itulah sang ibu bisa belanja tanpa mengikut sertakan sang pangerannya yang tinggal di rumah bersama bapaknya.

Tidak jauh berbeda dengan pagi kemarin sang anak lagi-lagi mengamuk ingin ikut bersama ibunya. Sang ibu seakan tidak mau kalah, dia juga mengeluarkan jurus ampuh dengan menjanjikan akan membelikan es cream makanan kesukaan anaknya yang membuat pangeran kecilnya terdiam sambil melambaikan tangannya dengan ikhlas sebagai tanda bahwa dia tidak akan ikut serta.

Lewat tengah hari sang ibu baru pulang tanpa es cream, sang anak dengan harapan besar mendapatkan es cream hari ini menyambut kedatanagan ibunya di depan pintu “Nanti es creamnya dibagi sama bapak dan ibu” sahut anaknya.
“Maaf sayang, penjual es creamnya tidak ada tadi di pasar, ibu sudah datangi semua penjual es cream, tapi semuanya tidak ada” jawab ibunya.
“Kenapa bisa bu?” Tanya anaknya lagi.
“Kata orang-orang di pasar tadi semua penjual es cream sudah pindah ke pasar sebelah” jawab ibunya meyakinkan.

Apakah yang akan terjadi kelak bila orang tua sering membohongi anaknya?, sang anak tidak akan percaya lagi sama orang tuanya dan mungkin itu juga yang membuat anaknya melawan tidak mau menuruti lagi orang tuanya ketika sang anak sudah besar (beranjak dewasa) karena hilangnya kepercayaan sama orang tuanya.

Amanah: Sebaiknya kita berkata jujur sama anak, menjelaskan bahwa kita akan berangkat kerja (pasar) nanti kalau kita mau berlibur baru boleh ikut, karena anak kecil pada hakekatnya sama seperti orang dewasa yang bisa mengerti. Pada awalnya memang anak mungkin menangis tapi lama kelamaan dia akan memahaminya

Cerpen Karangan: Joe Fatrah
Blog: englishstory12.blogspot.com

Cerpen Cause of My Parent’s Lie merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


She Is, Who Left Behind (Part 2)

Oleh:
Sudah beberapa halaman dari buku catatan milik Kakaknya yang sudah Chenxiao baca. Tidak seperti dugaan Chenxiao sebelumnya, karena buku peninggalan Kakaknya itu, ternyata bukan buku harian. Tidak setiap hari

Hidupku Berwarna Karnamu Kak

Oleh:
Setiap hari mentari menyambutku dengan sinarnya. Malam, malam kuhabiskan dengan senyuman bulan dan kilauan bintang yang sangat mengagumkan. Sejak hari itu semua keindahan dunia musnah begitu saja. Oh ya!

Sahabat Tak Akan Runtuh

Oleh:
Halloo perkenalkan namaku karina andriani bisa dipanggil karin, Sekarang aku duduk di kelas 8 smp. Sifat ku orangnya emosional, gak sabaran! Namun, dan walau sifat ku seperti itu aku

Amabel

Oleh:
“Ha-hantuuu.. Ibu rumah itu ada hantunya! Rumah itu ada hantunya!!!” Lelaki kecil berusia sekitar 9 tahun berlari ketakutan ketika melewati rumah megah di ujung gang Redrose tersebut. Ia melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *