Cinta 18 Hari (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 August 2014

Aku tersadar di sebuah tempat luas yang gelap, apakah ini akhir hidupku? Oh, tidak… Aku masih merasakan usapan lembut seseorng di rambutku, aku juga merasa ada sesuatu terdapat di dahiku. Dengan sedikit paksaan, mataku terbuka dan terlihat jelas kamarku.
“Ham, udah bangun?” Tanya seseorang lembut sambil menaruh kompresan di dahiku yang kelamaan makin kusadari bahwa dia adalah Kak Reza.
“Gue kenapa kak?” Sahutku dengan tak menjawab pertanyaan Kak Reza.
“Loe tadi pingsan di taman, Wenda yang ngasih tahu gue.”
“Wenda tahu loe darimana?”
“Kan, gue pernah sekolah di sana. Lagian tadi gue sekalian lewat.” Aku terdiam, sekelabat pikiran mengerikan berkelabat di otakku, bagaimana jika Wenda lebih menyukai kakakku?
“Kepala loe masih pusing?” Tanya Kak Reza.
“Oh iya, kenapa kepala gue agak pusing?” Balasku yang sekali lagi tanpa memeberi jawaban.
“Loe sakit, badan loe aja panas. Besok loe gak usah sekolah.” Seketika ruangan menjadi hening lantaran aku tak menimpali sedangkan Kak Reza kebingungan melihat perubahan sikapku.
“Ayah udah pulang kak?” Tanyaku memecah hening.
“Malam ini,” Jawab Kak Reza, sekali lagi aku terdiam. Ini mimpi buruk! Aku akan bertemu ayahku! Orang yang sepertinya paling membenciku di dunia ini, oke mungkin ini keterlaluan, tapi begitulah nyatanya.
“Gak usah takut, gue akan berusaha ngejauhin ayah dari loe,” Tukas Kak Reza seolah tahu ketakutanku, anggap aku berlebihan, namun memang itu yang terjadi.
“Kok, loe nangis?” Tanya Kak Reza. Terjadi kembali, air mataku mengalir ketika topik tentang ayahku mencuat.
“GUE ENGGAK NANGIS!” Bentakku. Aku mengusap air mataku dengan kasar, Kak Reza tampak terkejut melihat reaksiku.
“Maaf kak…” Desisku, tak seharusnya aku membentak orang yang telah sering menolongku.
“Gak apa-apa, gue ngerti,” Balas Kak Reza seraya merengkuhku ke pelukannya dan crap, air mataku kembali beraksi.
“Gak apa-apa kok, dek! Loe nangis aja sampai loe tenang.”

Malam harinya, terdengar suara mobil memasuki garasi rumahku. Aku langsung berlari ke dalam kamar seraya membawa piring berisi makan malam yang tadi sudah disiapkan. Sampai di kamar, aku langsung memegang BB (Black Berry)-ku kemudian membuka facebook dan mengirim pesan kepada Wenda:

Love you Wen, maafin aku tadi. Tapi aku benar-benar tidak tahan mendengar kata-katamu tadi karena mengingatkanku pada peristiwa yang tak ingin kuingat. <3 Semoga kamu mengerti, Wen! Batinku pilu. Setelah pesan tersebut terkirim, aku langsung menaruh BB-ku kemudian mulai memakan makanan yang tadi ku bawa. Jam mulai menunjukkan pukul 22:00, aku mulai berusaha memejamkan mata untuk pergi ke alam mimpi saat pintuku dibuka oleh Kak Reza. “Kenapa kak?” Tanyaku heran. “Loe udah minum obat?” Kata Kak Reza balas bertanya, aku langsung menepuk dahiku kemudian menggeleng. “Nih!” Ucap Kak Reza sambil menyerahkan beberapa kapsul obat, aku menghela nafas kemudian melahap obat itu. BRAK...!!! Pintuku dibuka dengan keras dari luar, tepatnya didobrak yang membuat aku dan Kak Reza terkejut seketika. Ayahku akan memulai aksinya, tepat malam ini. “Buat apa kamu minum obat? Yang sakit itu kakakmu! Bukan kamu!” Bentak ayahku. “Tapi Ilham benar-benar sakit yah!” Bela Kak Reza. “Kamu berani membantah?! Pasti ajaran anak s****n ini?!” Balas ayahku dengan bentakkan. Aku mengela nafas mendengar semuanya, membuatku kembali flashblack. “Kalau kamu mau, makan nih semuanya!” Aku begitu terkejut ketika ayahku menjejalkan semua obat yang tadinya terdapat di botol ke mulutku. Aku meronta sekuat tenaga namun sebuah obat termakan olehku, dengan cepat aku langsung memuntahkannya. Tiba-tiba saja, sebuah tamparan mendarat di pipiku yang membuatku langsung tersungkur dari pinggir tempat tidur. “AYAH, STOP...!” Teriak Kak Reza sambil membantuku berdiri. “Jaga mulutmu! Jangan karena anak bala ini kamu begini!” Sentak ayahku. “Tapi ayah jangan keterlalun sama Ilham, dia gak salah apa-apa.” “Gak salah apa-apa? Kamu tahu siapa yang buat ibumu meninggal? Siapa yang buat kakakmu meninggal? Dia udah ngerebut semua kebahagiaan kita! Dia pura-pura lemah biar orang-orang kasihan sama dia!” Air mataku mengalir semakin deras, ku rasakan rengkuhan Kak Reza kepadaku mulai melonggar, namun dengan cepat aku langsung meraih kembali tangannya, kali ini aku begitu takut. “DASAR ANAK CENGENG PARASIT!” Setelah berkata demikian, ayahku langsung keluar dari kamarku tanpa menutup pintu. Aku langsung menatap Kak Reza sambil mengusap air mata yang tak hentinya mengalir. Semoga saja dia tidak berfikir yang tidak-tidak. “Enggak kok, Ham! Gue di sini, udah loe istirahat aja,” Ucap Kak Reza sambil memelukku dengan erat, kali ini aku benar-benar tidak dapat menahan air mataku, aku menyerah kali ini. “Ham, gue boleh nanya? Tapi kalau loe gak mau jawab juga enggak apa-apa,” Kata Kak Reza beberapa saat kemudian. Aku menatap Kak Reza dengan posisi masih berbaring di tempat tidur dengan was-was. “Tanya apa?” Balasku. “Loe lakuin apa ke ibu?” JEDAR...! Skakmat! “Waktu ibu ngandung gue, ibu kena kanker rahim. Cara paling sukses untuk sembuh adalah operasi, tapi ibu tidak mau karena rahimnya juga harus diangkat dan berarti janin yang dikandungnya ikut digugurkan. Ibu juga tidak ingin dikemoterapi karena efek samping radiasinya berbahaya bagi janin. Saat gue lahir, ibu meninggal gak lama kemudian, kan? Itu karena kankernya sudah sangat parah, makannya ayah nyalahin gue atas kematian ibu. Karena menurut ayah, kalau aja ibu dioperasi, pasti ibu masih hidup, tapi karena gue, ibu jadi gak mau,” Jelasku. Tak kusangka reaksi Kak Reza berbeda dari yang kupikirkan, dia langsung mengusap lembut dahiku sambil tersenyum. “Bukan salah loe, sekarang istirahat biar cepet sembuh,” Ucapnya. Di esok hari, waktu serasa cepat meninggalkan angka-angkanya, aku tidak bersekolah hari ini, Kak Reza libur hari ini, sedangkan ayah sedang kerja; nanti malam mungkin baru pulang. “Ham, ada temen loe tuh!” Kata Kak Reza yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. “Siapa?” Sahutku heran. “Gak tahu, yang jelas cewek.” Cewek? Wenda kah? Perhatian amat, Batinku. Akhirnya kuputuskan turun ke bawah, lagipula aku juga sudah sembuh, menurutku sih! Ha ha ha... Saat di bawah, aku menatap gadis berambut lurus panjang bewarna hitam, berkulit putih dan matanya yang sedikit sipit menoleh ke arahku saat langkah kakiku mulai menggema di ruangan. “Wenda?” Tanyaku tak percaya. “Gue ke sini cuma mau bilang putus,” Jawab Wenda yang membuatu membatu seketika. “Ke kenapa?” “Loe terlalu lemah, baru gue bilang gitu aja langsung nangis, habis itu langsung sakit, nyusahin orang! Gue enggak suka.” “Enggak kayak gitu Wen, aku cuma...” “Cuma mau pamer ke orang-orang!” Wenda langsung berbalik bermaksud pergi. “Aku gak kuat denganr kata-kata kayak gitu! Perkataanmu itu sama dengan perkataan ayahku!” Entah mengapa, Wenda langsung berhenti seketika. “Bokap loe ngomong gitu? Ke loe?” Tanyanya heran, aku hanya mengangguk menahan air mata. Huh, kenapa harus drama Korea di sini sih?! “Aku harap kamu mau ngelanjutin ini sampai ultahku.” Kataku sambil tersenyum. Setelah terdiam sejenak ,Wenda mengangguk sambil menyunggingkan sedikit senyum yang selama ini kutunggu. “Gue pamit,” Ucapnya kemudian sambil berbalik dan berlalu pergi. Hari terus berjalan, hubunganku dengan Wenda seperti biasa walau semakin lama dia dosis keacuhan semakin berkurang. Aku berusaha sebanyak mungkin mengumpulkan fotoku dna Wenda berdua. Hari ini,aku akan mengantar Wenda pulang ke rumahnya seperti biasa. Dengan santai, aku menunggu kedatangan gadis tersebut. “Hai!” Sapanya, benar bukan, dia sudah tak seperti dulu? “Eh, ayuk!” Balasku seraya menyerahkan helm kepadanya. “Eehh... Ham, entar malam jadi?” “Jadi? Jadi apa?” Kudengar desahan dari mulutnya. Astaga, aku pasti melupakan sebuah moment. “Dinner bukan?” Tanyaku hati-hati, jangan-jangan hanya aku yang terlalu PD. “Iya, jam berapa?” Sahutnya dengan sedikit senyum, oke ini sungguhan. “Jam 7, oke?” “Oke!” Setelah Wenda naik ke atas motorku, aku langsung memacu motorku secepat mungkin. Dan memang, Wenda lebih menyukai jika kecepatannya tinggi dibandingkan rendah ataupun sedang. “Aku akan SMS kamu kalau aku sudah berangkat atau-pun berada di depan rumahmu,” Jelasku begitu sudah sampai di depan rumah Wenda. “Oke, aku tunggu,” Balas Wenda sambil tersenyum. Ya, selain itu dia menjadi lebih terbuka denganku, buktinya, dia memberikanku nomornya. Aku langsung menjatuhkan diri ke kasur begitu sampai di dalam kamar. Ini kencan pertamaku yang tentu saja ingin ku buat seberkesan mungkin bagiku dan dia. “Apa yang harus gue lakuin? Gimana kalau dia enggak senang? Apakah hanya sebatas dinner? Apa perlu gue tanya ke Kak Reza?” Walau senang, tapi aku bingung dan takut juga untuk ini. Akhirnya, aku memutuskan membuka laptop dan men-search semua hal yang kupikirkan tentang malam nanti. “Kayaknya ada lagi yang seneng banget, nih...” Aku langsung menoleh ke sumber suara yang berada di belakangku -Kak Reza. “Lagi ada apa?” Lanjutnya kemudian. “Gue lagi seneenngg... banget!” Kataku asal. “Gue juga tahu, tapi kenapa?” “Malam ini bakal menjadi malam terspesial bagi gue!” Sepertinya Kak Reza semakin penasaran karena dia semakin menatapku lebih tajam, “My Special Dating.” “Oohh...” Kak Reza hanya mengguman santai. Huh, sangat tidak menghargai! “Apa? Dating? Kencan? Sama siapa?!” Tanya Kak Reza bertubi-tubi. Hhmm... mungkin dia baru connect. “Cewek yang gue certain itu lho!” “Oh, si cewek populer itu ya? Selamat deh, gue yakin loe pasti bisa ngedapetin dia.” “Tapi setelah itu gue sama dia bakal putus kak!” “Lah, kenapa?” “Kan, pura-pura.” Kak Reza menghela nafas panjang kemudian menepuk bahuku, “Mending loe siap-siap buat nanti,” Lanjutnya. 18:50, waktu tepat untuk menjemput my princess, ha ha ha... sepertinya aku mulai tidak waras. Rumahku dengan rumahnya tidak terlalu jauh, jadi tak ada alasan bagiku untuk terlambat. “Enggak terlambat, kan?” Tanya begitu melihat Wenda sudah berdiri di depan gerbangnya. “Enggak kok, cuma gue aja yang terlalu rajin,” Balas Wenda sambil tersenyum. Aku membalasnya senyumnya lalu memberikan helm kepada Wenda yang langsung dipakainya. “Kamu tahu darimana aku suka warna merah darah?” Tanya Wenda begitu melihat lokasi yang memang sudah kupesan yang memang didominasi warna favoritnya. “Ya... aku kan, mengikuti perkembanganmu,” Jawabku seadanya. “Biasanya orang benci dengan warna ini, karena katanya melabangkan kesialan. Kamu adalah orang yang bisa menghargai ini.” Aku benar-benar terkesiap, aku baru menyadari bahwa sedari tadi dia berbicara menggunakan aku-kamu. “Sini Wen!” Aku menariknya ke salah satu bangku, lagi-lagi dia tersenyum. Malam ini, memang istimewa. “Ham, kamu masih ingat perjanjian kita kan?” Tanya Wenda saat kami berdua tengah berjalan-jalan di taman yang berada di lokasi tesebut. “Kamu masih pikir itu?” Balasku lirih, sepertinya dia masih ingat janji itu. “Jujur saja, aku udah punya gebetan, maaf.” Wenda langsung berlari, namun aku menangkap tangannya. “Siapa dia?” Tanyaku yang lebih terdengar memaksa. “Kamu gak perlu tahu!” Seru Wenda sedikit kesal sambil berusaha melepaskan pegangan tanganku darinya. “Aku perlu tahu!” Kali ini aku tak kalah keras dengannya. “Lihat saja kalau begitu, aku akan bertemu dengannya sekarang!” Setelah berkata demikian, Wenda langsung pergi sedangkan aku mengikutinya dari belakang. “Hai!” Sapa Wenda pada seseorang, mataku seakan keluar saat aku melihat sosok laki-laki tersebut. “Hai, cantik banget kamu,” Balas laki-laki tersebut yang tak lain adalah kakakku sendiri-Kak Reza. Aku tak fokus lagi mendengar setiap kata yang diucapkan mereka, namun mataku mendadak menangkap sebuah benda yang melaju cepat ke arah Kak Reza yang tengah menyebrang. “AWAS KAK...!” Teriakku spontan saat melihat benda itu semakin dekat dengan kakakku, reflex saja aku langsung mendorongnya, aku tak dapat mengingat hal lain lagi kecuali pekikan beberapa orang. Sepertinya kesadaranku mulai pulih, aku dapat merasakan usapan lembut di kepalaku, suara-suara juga mulai terdengar. Akhirnya, ku coba membuka mata perlahan, semoga tak terjadi sesuatu. “Udah bangun dek? Gue panggil dokter dulu ya!” Kata Kak Reza sambil tesenyum kepadaku dan beranjak pergi, namun aku menahannya. “Kenapa?” Katanya lagi. “Gue kenapa?” Balasku. Huh, sepertinya volume suaraku mengecil tanpa kuminta. “Loe kecelakaan,” Balasnya singkat. Aku hanya mengangguk, sepertinya dia tak berniat menjelaskan lebih detail. Beberapa saat kemudian, seorang dokter masuk dan mulai memeriksaku dengan cara yang membingungkanku karena aku memang tak ahli, ha ha ha...! “Gimana dok?” Tanya Kak Reza dengan tatapan cemas. “Semuanya normal, kecuali yang tadi,” Jawab dokter tersebut. “Terima kasih dok!” “Saya permisi dulu.” “Silakan dok!” Aku menatap kepergian sang dokter dengan heran, apa maksudnya kecuali? Pengecualan untuk apa? Apa yang terjadi? “Makasih ya, Ham!” Kata Kak Reza yang tanpa kusadari telah berada di sampingku. “Kenapa?” Balasnya heran. “Loe udah tolong gue tadi, tapi...” “Kenapa?” Oke, sejak kapan aku menjadi kepo begini? “Maafin gue Ham, kaki loe terpaksa diamputasi.” JEDAARR...! “LOE BOHONG KAN?” Teriakku histeris. “Maaf, dek.” Air mataku mulai mengalir kembali, dengan segera aku langsung bangkit walau ditahan Kak Reza. Segera saja aku menyibak selimut yang menutupi tubuhku. Kali ini aku benar-benar terkesiap, kaki kiriku sudah tak lagi di tubuhku dan ini karena... “Aaa...!!!” Jeritku histeris sambil menghentak-hentakkan kakiku yang tinggal sebelah. “Jangan gitu, sayang! Maafin gue, ini salah gue, harusnya gue lebih hati-hati,” Ucap Kak Reza sambil memelukku erat. Entah berapa lama aku habiskan waktu di pelukannya, tapi inilah yang aku butuhkan sekarang. “Gue sayang sama loe,” Bisik Kak Reza tepat di telingaku. “Ilham!” Seru seseorang, aku langsung melihat ke arah suara yang memanggilku; Wenda. “Gue minta maaf yang sebesar-besarnya, Ham! Harusnya gue mikirin perasaan loe,” Kata Wenda dengan sedikit isakan, sekali lagi aku terkesiap saat tangannya menggenggam tanganku. Aku menghela nafas mendengar mereka semua melontarkan permintaan maaf, rasanya aku ingin menyalahkan mereka khususnya Kak Reza, namun sebersit pikiran muncul dan menyadarkanku. “Ini bukan salah kalian, ini salah gue yang udah maksa Wenda dalam segala hal. Harusnya gue yang minta maaf Wen! Gue udah nyiksa loe dengan segala sandiwara,” Jelasku. “Tapi Ham...” Kata Wenda. “Maafin gue juga ya kak! Harusnya gue enggak rebut Wenda dari loe. Harusnya gue gak buat loe bingung gini,” Ucapku lagi sambil menatap Kak Reza. “Jangan nyalahin diri loe sendiri,” Sela Kak Reza sambil mengusap rambutku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Mendadak, handphone Kak Reza berbunyi tanda ada SMS masuk, Kak Reza langsung membacanya. “Siapa Za?” Tanya Wenda penasaran, sementara aku hanya menatapnya dengan rasa penasaran juga. “Bokap gue,” Jawab Kak Reza singkat. “Gue boleh baca kak?” Tanyaku, Kak Reza menatapku curiga. “Loe gak apa-apa?” “Jangan buat gue kepo!” Aku langsung merebut paksa handphone Kak Reza dari tangannya. Kubaca kata-kata di SMS tersebut: Biarin sajalah, Za! Ini karma untuk dia, ayah banyak kerjaan, gak punya waktu buat anak itu. Aku langsung mengetahui maksud dari SMS tersebut, pasti aku yang dimaksud ayah. Sepertinya Kak Reza memberi tahu kejadian ini. “Loe ngasih tahu ke ayah soal kejadian ini?” Tanyaku sedikit sinis; aku benar-benar kesal karena sama saja tindakannya ini membuat masalah. “Salah ya?” Balas Kak Reza polos, aku menghela nafas. “Ham, gimana kalau loe sama adik gue aja?” Usul Wenda, aku menatapnya ragu, “Cuma usul, lho!” Sambungnya cepat. “Siapa, dia?” Tanya Kak Reza. “Loe kenal?” Sahut Wenda terkejut. “Pernah ngelihat.” “Kalau dia mau sama keadaan gue yang kayak gini... mungkin boleh aja!” Tukasku sambil menatap keduanya. Seketika itu juga tawa memenuhi ruangan tersebut. “My sister...” Desis Wenda sambil meneruskan tawanya. Inilah kisahku, cinta yang semulus mimpiku namun mampu membuatku tersenyum di tengah senyuman yang lain. Memang hanya terkata 18 hari, tapi jika kau izinkan, ku siap mengubahnya menjadi selamanya. Biarlah, jika itu sesaat dan biarlah menjadi selamanya di alamku. Dalam angan kosong dibalut kerinduan, aku mulai bertanya... Akankah yang kupikir kan kembali di kenyataan? - @AlfiyahD_Atika Percaya atau tidak. Sampai saat ini pun aku masih mencintaimu. Mencintaimu sesempurna mungkin yang kubisa. Alasannya? Mungkin karena hanya kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tak bisa berhenti tersenyum, walau kadang menangis. - @AlfiyahD_Atika Cerpen Karangan: Alfiyah Dhiya Atika Facebook: https://www.facebook.com/deanatasha.narutovers Namaku Alfiyah Dhiya Atika, maaf jika terjadi kesalahn dalam pengetikan

Cerpen Cinta 18 Hari (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Selamanya Untuk Alex

Oleh:
“Kuping lo dimana sih?! Udah gue bilang berkali-kali, JAUHIN GUE. Risih tau gak sih gue di deketin lo terus tiap hari.” Kata-kata itu selalu melekat di telinganya tak pernah

Setumpuk Mutiara Kasih (Part 1)

Oleh:
Setiap aku bilang cinta, yang paling sering teringat hanya satu. Cintaku padaNya. Mungkin selama ini aku hanya berpacu pada dunia, yang hanya memberiku kebahagian sesaat, yang membuat aku jenuh

Love In Silence

Oleh:
Nina memandangi sebuah novel yang ada di depan matanya, ia merasa judul buku itu hampir mirip dengan kisah silamnya 2 tahun lalu. Ia mulai membuka halaman pertama buku itu

You

Oleh:
Kamu. Bagi aku, kamu itu cahaya, cahaya matahari yang mau menarikku dalam kegelapan. Haha, aku lebay ya? Oke. Tapi, ini bagi aku lho. No coment! Oke, balik lagi ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cinta 18 Hari (Part 2)”

  1. nida andzar says:

    Suka cerpen nya. Tapi nama tokoh nya gak suka. Harusnya pakai nama2 umum yg lain aja. Jangan pakai nama artis. Apalgi artis itu adalah idolaku. Jdi kurang sreg aja bacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *