Cinta Kakek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 August 2017

Saat itu aku masih berumur 8 tahun. Aku dan seluruh keluargaku pergi untuk mengunjungi kakek dan nenek menggunakan mobil. Aku masih ingat saat itu hari sangat mendung. Angin berhembus kencang hingga membuat daun-daun berguguran. “Yah, apakah sebentar lagi akan hujan?” tanyaku padaku ayahku yang sedang menyetir. “Ya, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Jadi, cepat tutup jendelanya agar kau tidak masuk angin karena terlalu banyak menyapa angin-angin itu” kata ayahku. Aku pun menurut.
Rumah kakek dan nenek terletak di pedesaan. Yang bisa kulihat di sebelah kanan dan kiriku hanyalah hutan yang tampak menakutkan karena gelapnya hari.

Kami sampai di rumah kakek dan nenek pada malam hari. Rumah nenek dan kakek tampak lebih terang dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain. Karena kakek sangat suka memasang berbagai macam lampion di sekitar rumah. Itulah yang membuat aku sangat suka untuk berlibur ke rumah kakek dan nenek. Saat turun dari mobil ternyata nenek sudah ada di depan rumah untuk menyambutku dan keluargaku. Tapi aku bingung kenapa kakek tidak ada. Apakah kakek sedang pergi? Atau kakek sedang sibuk? Tanyaku dalam hati.

Aku menghampiri nenek mencium tangannya dan lalu memeluknya karena aku sangat rindu padanya. Nenek juga membalas pelukanku. “Kakek di mana?” tanyaku pada nenek karena kakek tidak juga terlihat. “Kakek sedang di kamar. Dia sedang istirahat.” Aku langsung berlari ke kamar kakek. Aku tidak mempedulikan panggilan ibuku yang menyuruhku untuk membereskan buku-bukuku yang berserakan di mobil.

“Kek, kakek di dalam?” tanyaku sambil membuka pintu kamar kakek dengan pelan. Di sana kulihat kakek sedang duduk di atas sejadah sambil mengangkat tangannya. Aku tahu kakek baru selesai shalat dan berdoa. Aku menunggu kakek selesai berdoa dan duduk di belakangnya. Aku mendengar ada yang aneh dengan suara kakek. Suara kakek terdengar parau dan bergetar. Aku ingin menegur, tapi kakek selalu mengajarkan padaku bahwa ketika seseorang berdoa dirinya harus fokus pada ALLAH swt. jadi jangan pernah mengganggunya. Jadi, aku tetap menunggu. Seandainya saja aku tidak mengikuti nasehat kakek saat itu, pasti aku tidak akan terlalu kecewa nantinya.

Tidak lama setelah itu kakek berbalik dan tersenyum ke arahku. “Kau sudah lama ci?” tanya kakek. Kakek memang memanggilku dengan panggilan cici karena ia bilang itu panggilan sayang yang cocok untuk anak manis tapi nakal sepertiku. “Tidak juga, tapi cici lelah menunggu kakek selesai berdoa.” Kataku dengan nada kesal yang dibuat-buat. Kakek mendatangiku lalu memelukku. Ia berkata” Kau harus terbiasa dengan yang namanya menunggu. Menunggu mengajarkanmu apa arti kesabaran. Kau akan dapat bertahan jika kau sudah terbiasa menunggu.” Aku hanya mengangguk karena aku sungguh tidak terlalu mengerti apa yang kakek ucapkan. Lalu aku dan kakek pergi ke ruang tamu untuk berkumpul bersama nenek, ayah, ibu, serta adikku. Kami saling melepas kerinduan karena sudah lama tidak bertemu.

Saat makan malam aku melihat kakek meminum sesuatu “Apa itu permen kek? Cici mau satu boleh?” tanyaku pada kakek. Kakek tersenyum lalu menjawab “Ya ini permen, tapi kau tidak bisa memakan ini karena ini rasanya sangat pahit. Kau akan bisa memakannya jika kau sudah besar” Aku hanya mengangguk dan melihat kakek menyimpannya di lemari. Aku tau yang kakek minum saat itu bukan permen, tetapi obat. Tapi aku hanya diam. Kakek pun mengantarkanku ke kamar tidur.

Aku memang lebih akrab dengan kakek sedangkan adikku lebih dekat dengan nenek. Kakek menemaniku bahkan menceritakan beberapa cerita lucu agar aku bisa tidur dengan nyenyak. Kakek selalu melakukan itu setiap kali aku datang berlibur. Setelah aku tidur kakek bangkit mencium keningku dan mengucapkan selamat tidur dan selamat malam. Aku bangun pagi dengan posisi seratus delapan puluh derajat terbalik dari posisi tidurku semula. Aku memang memiliki ciri khas tersendiri dalam tidur. Aku langsung bangun dan mandi lalu mengambil air wudhu dan shalat. Selesai shalat aku bersiap untuk pergi jalan-jalan keliling desa dengan kakek. Kakek bilang bahwa ia akan menunjukan tempat yang indah padaku. Aku bergegas keluar kamar dan menemui kakek di ruang tamu.

Kakek sedang berbicara dengan ayah. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dengan kakek “Yah, kau tidak bisa pergi berkeliling dengan kondisimu yang sekarang. Kau harus istirahat. Dan aku yang akan membawa cici berkeliling.” Aku terdiam. Kondisi? Memang kakek kenapa? Apa kakek sakit? Tanyaku dalam hati. Lalu kakek menjawab “Aku baik-baik saja, jangan khawatir”. Lalu aku pun menghampiri kakek dan berpura-pura tidak mendengar pembicaraan kakek dengan ayah “Pagi kakek, ayah” sapaku sambil mencium pipi mereka. “Pagi cici” balas kakek. “Udah siap buat jalan-jalannya? Tanya kakek. “Udah dong, coba lihat aku sudah cantik begini” jawabku bersemangat. Kakek tertawa dan ayah hanya tersenyum. Lalu aku dan kakek pun langsung pergi untuk berkeliling.

Sepanjang jalan kakek bercerita tentang banyak hal. Aku tidak terlalu mendengarkan apa yang kakek ceritakan karena aku sedang memikirkan tentang pembicaraan kakek dan ayah tadi. “ci, cici kenapa? Capek? Tanya kakek mengejutkanku. “oh, tidak. Cici Cuma lagi menikmati pemandangan aja” jawabku bohong. Kakek hanya mengangguk. “kek, memang kakek mau ngajak cici ke mana? Masih jauh ya?” tanyaku lagi karena jujur saja aku sudah sangat lelah. “sebentar lagi sampai kok, sabar dikit ya” jawab kakek dengan senyum khasnya. Senyum yang sangat aku sukai. Dan yang akan paling aku rindukan.

Tak lama kemudian aku dan kakek sampai di sebuah taman bermain. Taman bermain tersebut terlihat tidak terurus. Banyak mainan seperti ayunan, jungkat-jungkit, atau selungsuran yang terlihat berkarat. Rumput liar tumbuh di sekilingnya. “kek, ngapain kita kesini? Katanya ada tempat yang mau kakek tunjukin? Tanyaku ragu. “ini tempat yang mau kakek tunjukin ci” jawab kakek riang. “hah? Kok tempatnya kayak gini sih?” tanyaku terkejut. Kakek tidak menjawab dan hanya berjalan terus ke tengah taman bermain tersebut. Mau tidak mau aku mengikuti kakek masuk ke taman bermain tersebut.

Aku terkejut karena ternyata di tengah taman bermain tersebut terdapat taman dengan rumput hijau yang indah. Taman tersebut ditumbuhi bunga-bunga yang beragam dengan warna yang sangat cantik. “Keindahan bukan dilihat dari luar. Tapi dilihat dari dalam. Bukan karena tampang yang buruk sesuatu itu buruk. Bisa saja tampang buruk itu menyembunyikan keindahan yang tak ternilai” kata kakek dengan senyum manis. Aku mengerti sekarang. Kakek bukan ingin mengajakku jalan-jalan tapi ingin mengajarkanku tentang hal baru. Seperti itulah kakek. Selalu ada hal baru yang akan dia bagikan. Dan aku sangat menyayanginya karena itu.

Ia mengajarkan padaku tentang hidup. Hidup yang indah dengan berbagai pengetahuan. Ia guru yang sempurna bagiku. “ini sangat indah” kataku terkagum-kagum. “jangan mengagumi sesuatu secara berlebihan. Karena kekaguman itu bagai duri yang tak terlihat. Ia indah tapi mematikan, itulah ketidak tahuan” jawab kakek. Aku tidak mengerti apa maksud kakek tapi aku tidak ingin bertanya.

Aku melihat setangkai bunga mawar di ujung taman itu. Mawar itu sangat indah dengan warna merah cerahnya. Aku terpesona dengan mawar itu. Aku ingin memetiknya tapi aku mengurungkan niatku karena mawar itu hanya satu. Aku takut jika itu adalah mawar terakhir di sana. Kakek menghampiriku dan bertanya padaku “cici tahu apa yang bisa kita pelajari dari bunga mawar dan apa yang harus kita hindari juga darinya?” aku menggeleng.
“kita harus indah seperti bunganya dan jangan melukai seperti durinya. Bunga mawar indah karena seperti itulah ia diciptakan. Begitu juga kita, kita sudah diciptakan dengan keindahan kita sendiri. Kita memiliki pesona kita sendiri. Karena itulah diri kita. Indah itu bukan menjadi seperti orang lain. Tapi menjadi diri sendiri yang sesuai dengan yang diciptakan. Dan jangan seperti durinya yang melukai. Walau ia menjaga tetapi menyakiti orang lain. Kita tidak boleh menyakiti orang lain, meski untuk melindungi orang yang kita sayang. Karena kita manusia yang memiliki perasaan yang sama. Bukan melukai tapi mengobati. Jadilah orang yang seperti itu” kata kakek penuh makna. Aku tercengang dengan kata-kata kakek. Kata-kata kakek memang memiliki makna tersirat yang mengagumkan.

Aku selalu mengingat kata-kata kakek yang kakek sampaikan padaku. Aku sangat bangga padanya. Setelah selesai berkeliling aku dan kakek istirahat sebentar dengan duduk dibawah pohon yang rindang sambil menikmati pemandangan taman. Sepi. Sunyi. Itulah yang kurasakan sekarang. Aku sangat menyukai suasana seperti ini. “ci, bagaimana jika kakek pergi nanti?” tanya kakek mengejutkanku. “maksud kakek? Kakek mau pergi ke mana? Kakek gak mau ngajak cici?” tanyaku berturut-turut. “kakek tersenyum kecut. Kakek juga gak mau pergi sebenarnya. Tapi cici tau kan kalo kakek udah tua jadi mungkin umur kakek gak panjang lagi”. “kakek ngomong apa sih, kakek pasti panjang umur. Kakek bakal selalu sama cici. Nanti kalo cici udah besar kakek bakal lihat cici sukses. Pendidikan cici selesai kakek ada di samping cici, bahkan nanti kalo cici udah ketemu jodoh cici kakek juga bakal nemenin cici” kataku tersendat karena air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. Kakek tersenyum lalu mengusap kepalaku. Kakek memelukku erat dan mencium keningku. “kakek bakal sama cici. Kakek bakal selalu doa’in cici. Kakek selalu suport cici. Pokoknya harapan kakek yang terbaik buat cici” kata kakek. Aku menangis dalam peluk kakek. Aku sangat takut jika kakek benar-benar meninggalkanku. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa itu hanya pertanyaan biasa dari kakek.

“ci, nanti kalo cici udah besar kita ke sini lagi. Kita bakal tanam bunga mawar yang banyak. Biar kalo ada yang mau metik bunganya gak akan takut kalo bunganya bakal abis. Kita tanam yang banyak yang warnanya beda-beda” tutur kakek. Aku mengangguk dan menjawab “iya, nanti kalo aku udah besar aku bakal bawa bunga mawar yang banyak dan kita bakal tanam di sini. Jadi kakek tungguin cici ya, kakek gak boleh ke mana-mana”. Kakek tersenyum sayang padaku. Setelah itu aku dan kakek pulang ke rumah karena sudah hampir tengah hari.

Hari demi hari pun kulalui dengan kakek. Aku tak tahu bahwa itu menjadi hari-hari terakhirku. Sekarang saatnya aku pulang. Aku berpamitan pada kakek dan nenek. Berat hati aku meninggalkan kakek. Aku ingin melalui hari-hariku dengan kakek. Dengan kasih sayangnya dan dengan segala hal baru yang ada padanya. Aku menangis dan memeluknya. Aku melihat ia tersenyum. Aku membalas senyum nya dengan air mata yang terus mengalir.

Setelah saat itu aku melewati hari-hari seperti biasa. Hampir satu tahun aku tak mendengar kabar dari kakek. Aku hanya selalu berdoa untuk kesehatannya, untuk kebahagiaannya, untuk ketentraman hidupnya. Hingga suatu hari saat aku dan keluargaku makan malam. Ibuku mendapat sebuah telepon. Aku tidak terlalu peduli tentang siapa yang menelepon. Tetapi aku menjadi khawatir saat melihat ibu menangis. Aku bertanya tentang apa yang terjadi, tetapi tidak ada yang menghiraukanku. Sampai saat sekitar jam 10 malam aku tahu bahwa yang membuat ibu menangis adalah berita kematian kakek. Aku sangat syok dan karena tidak kuat menahan emosiku keadaaku tiba-tiba menjadi drop dan aku jatuh pingsan.

Sekitar 10 menit aku pingsan aku seakan lupa yang terjadi. Tapi tiba-tiba kenyataan tentang meninggalnya kakek bagai sebuah nuklir yang menghantamku tepat di jantungku. Seakan semua menjadi diam. Dunia serasa mati. Jantungku seakan tak berdetak. Seperti seluruh organ tubuhku menjadi tak berfungsi. Aku sangat terpukul. Aku frustasi, aku hanya menangis dan berharap ini hanya mimpi. Aku berdoa semoga ini bukan kenyataan.

Tepat pukul jam 11 malam aku dan keluargaku berangkat ke rumah kakek. Seperti langit mengerti perasaanku hujan turun dan angin yang bagai mengamuk seperti kacaunya hatiku. Jam 00.30 aku sampai di rumah kakek. Kulihat banyak keluarga yang berkumpul dan menangis. Nenek terduduk lesu di samping badan kakek yang terbujur kaku. Seakan kehilangan kendali tubuhku jatuh ke tanah dan air mataku tak henti-hentinya menangis. Aku seperti kehilangan duniaku.

Aku menghampiri kakek dengan kekuatan yang tersisa. Aku menyentuh tangan kakek dan mencoba memanggilnya “kakek, kakek bangun. Kakek ngapain tidur di sini nanti masuk angin. Kakek, kakek bangun ini cici lo. Kalo kakek gak bangun nanti cici pulang nih. Kek, kakek bangun, kek.” Tangisku pecah seketika. Aku berusaha tersenyum “kek, jangan bercanda dong. Cici udah capek nih nangis mulu dari tadi. Kek, bangun. Kakek kok gitu sama cici. Kek, ih kakek cici ngambek nih. Kek, kek, kakek, tolong dong kek. Bangun sekarang, kek.” Teriakku. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Semua keluargaku hanya menangis. Aku tambah terpuruk “ayah, banguni kakek dong. Bu, kakek kok gini sama cici? Tante, Om? Kenapa kalian kayak gini?” tanyaku frustasi.

Orang-orang hanya memandang iba padaku. Aku menangis sejadinya. Aku hancur. Aku kehilangan motivatorku sekarang. Aku kehilangan guru yang paling berharga. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang terjadi sekarang? Kenapa jadi seperti ini? Air mata tak henti menetes dari mataku. Aku mencoba tegar dan mencoba mengikhlaskan. Aku hanya berharap bahwa aku sedang bermimpi. Tetapi jika aku tak terbangun, aku akan tersenyum untuknya, untuk yang terakhir. Tapi bagaimana janji yang ia buat untuk menemaniku? Ia bilang ia akan ada di sampingku saat aku sukses. Kemana janji yang ia buat bahwa ia akan menungguku? Ia bilang ia akan menanam bunga bersamaku. Tapi kenapa ia pergi sekarang? Kenapa ia meninggalkanku sekarang? Secepat ini? Ya tuhan, aku merindukan senyumnya. Merindukan suaranya. Merindukan semua yang ada pada dirinya. Saat terakhir sebelum orang memasukkannya ke dalam peti aku diminta mencium keningnya, tapi aku menolak karena aku takut aku tak bisa mengikhlaskannya.

Aku mengantarkannya ke tempat penantiannya. Hujan turun dengan deras, seakan ikut bersedih akan kepergiaannya. Aku hanya bisa memaksakan senyum untuknya. Aku ingin ia melihatku tersenyum bukan menangis. Karena ia akan sedih jika aku menangis. Setelah pemakaman aku duduk sendiri di kamar. Aku merenungi kepergian kakek. Dan aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ia akan baik-baik saja. Terdengar suara ketukan pintu dari luar “ci, ini nenek. Boleh nenek masuk?” ternyata itu nenek. “silahkan nek, pintunya gak dikunci kok.” Nenek masuk dengan membawa seperti surat dengan warna pelangi dan begambar bunga mawar indah. “ci, jangan sedih lagi ya, nanti kalo cici sedih kakek juga sedih, sekarang senyum ya” aku pun memaksakan tersenyum dan mengatakan “aku baik-baik saja nek, ada apa ya nek?” tanyaku langsung “ini adalah surat terakhir dari kakek. Ia menulis surat ini untuk cici. Nenek ingin menyerahkan ini” aku menerima surat itu dan nenek langsung keluar dari kamar. Aku masih belum kuat untuk membaca surat itu. Jadi aku meletakkannya di atas meja dan aku pun merebahkan tubuhku di atas kasur. Air mataku mengalir lagi. Dan tak lama setelah itu aku terlelap.

Saat aku bangun jam menunjukan pukul 4 sore. Aku pun memutuskan untuk mandi dan setelah mandi aku memilih untuk keluar dan berkeliling. Saat berkeliling aku tak sengaja melewati taman bermain yang dulu aku kunjungi dengan kakek. Tanpa sadar aku melangkah menuju taman itu. Taman itu masih sama seperti setahun yang lalu. Aku duduk di bawah pohon dan memilih untuk membaca surat dari kakek. surat dari kakek seperti pukulan telak yang kedua bagiku. Isi surat itu begitu menyayat hatiku. Surat yang indah dan menyakitkan. Isi surat tersebut:

Luna Zara Syefiani (cucuku tersayang)
Ci, kakek ingin menepati janji kakek tapi sepertinya waktu tak berpihak pada kakek. Kakek ingin melihat cici sukses. Kakek ingin melihat cici bahagia. Kakek minta maaf kalau kakek harus pergi secepat ini. Kakek minta cici jaga diri baik-baik. Ingat selalu yang kakek ajarkan. Bukan kesempurnaan tapi keindahan dalam kebaikan. Hal terakhir yang bisa kakek bagi adalah jadilah seperti benang dan jangan seperti gunting. Menyatukan bukan memisahkan. Jadilah seperti madu yang manis dan mempunyai banyak manfaat bagi orang lain. Dan hiduplah dengan caramu bukan dengan cara orang lain. Kakek sangat beruntung punya cucu seperti cici. Jadi banggakanlah kakek dengan kebaikan, bukan dengan kekayaan. Doa kakek selalu menyertai cici jadi jangan khawatir. Kakek selalu ada di hati cici, jadi jangan merasa kehilangan. Kakek selalu bersama cici. Selalu.
I LOVE YOU

Air mata menetes membacanya. Tapi aku akan menjadi yang seperti kakek inginkan. Janjiku sekarang menjadi yang bisa kakek banggakan. Aku seperti bunga yang indah, manis seperti madu, dan berharga seperti permata. Bukan kekayaan tapi kebaikan. Bukan kejahatan tapi ketulusan. Bukan keterpaksaan tapi keikhlasan. Dan bukan ‘Dia’ tapi ‘Aku’.

“Hiduplah seperti kupu-kupu. Meski hidup tidak lama, tetapi memanfaatkan hidupnya dengan benar. Ia hidup untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Bebas dan menuju sesuai dengan hatinya ingin.”

Cerpen Karangan: Siti Zubaidah
Facebook: Siti Zubaidah

Cerpen Cinta Kakek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Menyerah

Oleh:
Walau dunia tak seindah surga tapi inilah duniaku, tak tau harus senang atau sedih, semua yang kualami adalah pelajaran berharga sepanjang hidup. Manusia tak bisa memilih dari rahim siapa

Kisah Sukses Berkat Selendang Ibu

Oleh:
Sebelum ayam berkokok dan pagi belum merekah Adi sudah bangun membantu ibunya membuat kue untuk dijual. Seperti hari-hari biasa Adi harus berjalan kaki menjual kuenya, meskipun gelap masih menutupi

Supercake

Oleh:
Lelah. Hanya itu yang dapat ku ungkapkan selama sehari penuh. Noda bekas cream cake, air, mentega, tepung, tumpahan telur, dan berbagai karya seni hari ini yang dapat ku buat

Manusia-Manusia Trotoar

Oleh:
“Pak, Bu, Mbak! Tolongin ibuku, Mas! Kumohon! Aku nggak bohong.” Orang-orang masih saja lalu lalang melewati trotoar depan minimarket itu. Seorang gadis kecil semakin keras menangis sambil memeluk ibunya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *