Cinta Pemalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 May 2017

Perkenalkan namaku Bimo, aku sekarang kelas 12 ipa di SMA Swasta. Aku mempunyai sifat pemalu, tapi baik. Aku mempunyai seorang perempuan yang kukagumi saat pertama aku melihatnya, dia sangat cantik, baik hati, murah senyum, pintar, dan percaya diri. Sifatnya itu semua sangat berbanding terbalik denganku. Oh ya, namanya adalah Aisyah Putri. Aku pertama kali bertemu dengan dia pada waktu kelas 10, ketika itu aku terjatuh karena terpeleset, tidak ada orang yang menolongku dan tiba-tiba dia menolongku, seketika itu aku langsung jatuh hati padanya. Oh ya, aku mempunyai dua orang sahabat yang sangat baik kepadaku, namanya Jon dan Alan. Mereka adalah sahabat sejak pertama aku masuk SMA ini, dan meraka membantuku ketika aku sedang kesusahan.

Suatu hari, di waktu jam istirahat, tidak sengaja aku berpapasan dengan Aisyah di kantin sekolah, aku pun melihat wajahnya yang begitu tersenyum manis di depanku, aku pun membalasnya juga dengan senyuman. Selang agak jauh, aku berbalik dan memanggilnya, “Aisyah, ano… selamat pagi..” dengan ragu-ragu aku mengatakannya, dan dengan jantung yang berdebar kencang. Dia pun berbalik, “Selamat pagi, juga Bim” dengan tersenyum manis, “Ada apa?” kata Dia. “a.a…a.. tidak ada apa-apa” aku dengan menundukkan kepalaku karena malu dan jantungku berdebar kencang sehingga tidak bisa barkata banyak. Kemudaian dia langsung berbalik dan meninggalkanku, lalu aku berbalik juga menuju kantin membeli makanan. Pertemuan tadi adalah pertemuan yang sangat berharga bagiku.

Keesokan harinya, pada waktu istirahat aku menunggunya di persimpangan menuju kantin yang biasanya dilewati olehnya, “kuharap kali ini kalau aku bertemu dengannya, aku akan berbicara banyak dengannya…” kata batinku. 30 menit sudah berlalu, dia juga tidak lewat. Akhirnya aku mendatangi temannya yang bernama Putri, “A..no selamat pagi, apakah aisyah tidak masuk hari ini?” kataku dengan menundukkan kelapa atau malu, “pagi… oh ya aisyah tidak masuk dan juga tidak ada surat keterangannya, mungkin dia sakit?” kata Putri. “oh begitu ya, semoga saja dia cepat sembuh dan bisa masuk seperti biasanya. Terima kasih..” kataku dengan masih malu. “oh ya, semoga saja ya, sama-sama…”.

Setiap hari, pada waktu istirahat aku selalu menunggu di persimpangan menuju kantin, dia pun tidak lewak juga. Hingga dua minggu pun berlalu, aku pun khawatir kenapa dia tidak lewat juga, pada saat setelah menunggu di persimpangan itu, aku pergi ke kelasnya untuk bertemu dengannya, setelah di cari ternyata tidak ada, aku pun semakin khawatir dan bertanya kepada temannya yaitu Putri yang lagi duduk di depan kelasnya. “se..se..lamat Pagi… ano apakah aisyah tidak masuk lagi hari ini?” tanyaku dengan perasaan khawatir. “Pagi juga.. ya dia tidak masuk lagi, dia juga tidak masuk selama dua minggu, tidak tau kenapa dia tidak masuk selama itu…” jawab Putri. Dalam batinku kaget dan sangat khawatir. “kalau boleh tahu dimana alamat rumahnya?” tanpa sengaja aku berucap seperti itu. Putri juga agak kaget ketika aku bertanya seperti itu, karena dia tidak tau kalau Aisyah punya teman sepertiku. Tapi dia menjawab pertanyaanku, mungkin karena dia percaya samaku “Rumahnya di Jalan Sukowati Nomer 5, Kediri… itu alamatnya”. “Terima Kasih, bantuannya, aku duluan”. aku pun langsung meninggalkan.

Saat bel sekolah berbunyi yang menandakan waktu pulang, aku pun bergegas berangkat menuju rumahnya aisyah dengan berlari, tiba—tiba terdengar suara tabrakan di depan, aku pun menghampiri tabrakan itu, dan terlihat itu adalah Aisyah dengan pakaian compang-camping, dan dengan darah yang mengalir di dahinya setelah ditabrak oleh mobil, aku pun panik dan meminta pengemudi mobil itu segera membawanya ke rumah sakit, “Pak cepat, Pak tolong dia antarkan ke rumah sakit, ini teman saya!” teriakku dengan panik. “I..i.iya dek, masukkan dia ke mobil!” kata pengemudi itu dengan panik juga. Kami langsung menuju ke rumah sakit terdekat, setelah sesampainya di rumah sakit, aku dalam keadaan panik langsung membuka pintu mobil, dan bergegas masuk, “Dokter, suster… tolong! Selamatkan dia!” aku berteriak dengan keras. “iya… iya tenang mas tenang..” kata suster yang membantuku, langsung aku letakka Aisyah yang terluka parah ke kasur yang disediakan oleh perawat. Dan langsung dibawa ke ruang IGD, saat itu aku ikut mengantarkannya ke ruang IGD dengan menangis menatap Aisyah yang terluka parah itu, dan aku tiba-tiba disuruh berhenti oleh suster itu karena tidak boleh masuk ruang IGD, “Maaf, mas harus menunggu di luar” kata suster itu, “Tolong sus, tolong selamatkan dia, karena dia sangat berarti untukku, tolong!” kataku dengan memohon sampai menangis. “Tenang mas, kami akan tangani dengan semaksimal kami.” suster itu menenangkanku, kemudian dia masuk keruang IGD. Aku pun menunggu diluar di temani di pengemudi itu, “tenang dek, nanti semua adminitrasi rumah sakit biar bapak yang bayar.” pengemudi itu menenangkanku, “Iya pak, terima kasih sudah mau bertanggung jawab.” aku dengan mulai berhenti menangis.

Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang itu, “Bagaimana keadaannya, Dok?” aku dengan keadaan sedikit panik. “Keadaannya tidak terlalu parah hanya pendarahan sedikit di kepalanya, tapi untuk saat ini biarkan pasien istirahat dulu untuk memulihkan keadaannya, do’akan agar cepat sadar dan sembuh.” kata Dokter itu untuk menenangkanku. “alhamdulillah, syukur kalau begitu, terima kasih,Dok.” kata aku dengan mulai tenang. Kemudian dokter itu pergi. “Alhamdulillah, keadaannya tidak parah. Kalau begitu bapak mau urus adminitrasinya dulu ya.” kata pengemudi itu, dan dia langsung pergi ke bagian adminitrasi. “iya pak, terima kasih.” kataku dengan perasaan tenang.

Kemudian aku langsung pergi ke rumah Aisyah, untuk memberitahukan kejadian ini kepada orangtuanya. Sesampainya di rumahnya, “Assalammualaikum.” salamku, “Waalaikumsalam” jawab seorang wanita atau mungkin ibunya, dan membukakan pintu. “ada apa?” tanyanya, “Apakah benar ini rumah Aisyah, dan anda ibunya?” tanyaku, “Iya benar, masuk dulu.” jawabnya, dan menyuruhku masuk ke dalam rumah, “Silakan duduk.” pintanya, “Iya Bu, terima kasih.” jawabku dan langsung duduk. “Ada apa?” tanyanya, “Jadi begini Bu, tadi waktu saya pulang, saya melihat kalo putri Ibu ditabrak oleh mobil dan sekarang dia sedang di rumah sakit.” jawabku, “Apa… Putriku kecelakaan, trus bagaimana keadaannya? Cepat antarkan aku ke rumah sakit” Ibunya langsung panik dan memintaku untuk mengantarkannya ke rumah sakitdengan segera. aku pun langsung mengantarkannya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Ibunya langsung masuk ke ruangannya Aisyah dan menangis, sambil menatap dan memegang tanyanya, “Maafkan, ibu nak maafkan, karena ibu tidak bisa memberimu keluarga yang aman dan bahagia seperti dulu, ma..afkan!” sambil menangis dan menyesal. aku pun mau pamit pulang tapi, tidak enak bilang karena suasananya sedang sedih, dan aku langsung pulang.

Keesokan harinya, aku masuk sekolah seperti biasa. Dan pada waktu istirahat aku tidak menunggu Aisyah di tempat biasa, karena pasti dia tidak masuk, “Tidak usahlah aku menunggu di tempat biasanya, nanti aja waktu pulang sekolah aku langsung ke rumah sakit mengunjungi dia.” kata batinku. Setelah pulang sekolah, aku langsung pergi ke toko buah, untuk membeli bingkisan yang nanti aku berikan ke Aisyah. Setelah membeli bingkisan itu kau langsung ke rumah sakit. Dan sesampainya di sana aku hanya melihat ibu Aisyah, “Assalammualaikum ibu, bagaimana keadaan Aisyah sekarang?” dengan sedikit gugup. “Waalaikumsalam eh adek, alhamdulillah keadaannya sekarang mulai membaik, tapi masih belum sadarkan diri.” jawab ibu Aisyah, “I..Ini Bu saya ada bingkisan untuk Aisyah, mohon di terima ya.” kataku dengan sedikit gugup, “Terima kasih, oh ya ibu belum tau nama adek, namanya siapa?” tanyanya. “nama saya Bimo, temannya Aisyah, Bu.” jawabku, “Oh dek Bimo, silakan duduk dulu, terima kasih ya, kemarin telah menolong Aisyah.” kata ibu Aisyah, “Iya Bu, sama-sama.” jawabku dan aku duduk di sebelah ibunya Aisyah yang sudah di sediakan kursi di situ. Keadaanpun hening sejenak dan aku menatap Aisyah dengan merasa sedih. “A…no Bu, boleh saya tanya?” tanyaku dengan sedikit gugup, “Ya, boleh.” jawabnya. “Kemarin saya melihat Aisyah, kenapa dia berpakaian lusuh compang-camping dan kelihatan berantakan?” tanyaku, “Boleh ibu cerita sedikit?” tanyanya, “Boleh Bu, silakan.” jawabku. “Sebelumnya, kami adalah keluarga yang bahagia, kami sangat menyayangi Aisyah, tapi semenjak Ibu bertengkar sama ayahnya, Aisyah mencoba melerainya, tapi tidak sengaja ayahnya menamparnya, lalu kemudian dia pergi dan tidak pernah kembali ke rumah, pada saat itu ibu sangat khawatir dan mencarinya di mana-mana, tapi tidak menemukannya, ibu sangat takut kalo terjadi apa-apa, ibu sangat sayang sekali pada Aisyah karena ia adalah anak satu-satunya dan sangat penting bagi ibu, karena itu waktu ibu mendengar kalau Aisyah mengalami kecelakaan ibu sangat kaget, menangis dan menyesal. Ibu ingin sekali membuat dia nyaman dengan keluarganya, mendapat kasih sayang, dan bahagia. Ibu tidak ingin hal seperti ini tidak terulang kembali.” dengan menangis dan mengusap tangan di matanya, “Maaf ya, dek Bim Ibu malah menangis.” ibu Aisyah dengan sedikit menangis. “Tidak apa-apa Bu, mungkin karena itu Aisyah menjadi marah, dan mencari kenyaman karena di rumah sudah tidak nyaman lagi dan dia pikir keluarganya sudah tidak menyayanginya, makanya dia kabur dari rumah. Saya sangat kesihan sekali dengan Aisyah, Bu.” dengan tidak kusadari aku berkata seperti itu. “Iya dek Bim, ibu juga sangat kasihan dengan ya, di usia masih sma, dia sudah dapat ujian seperti ini.” ibu Aisyah sedikit menangis lagi, “Kalau saya boleh menyarankan, ibu harus lebih menyayangi dia, bagaimanapun dia masih butuh kasih sayang dan keluarga yang nyaman, ibu juga harus berbaikan dengan suami ibu, emang saya masih sma tidak tahu apa-apa tentang keluarga, tapi kalau ibu tidak berbaikan dengan suami ibu, kasihan Aisyahnya, karena dia ingin keluarganya kembali seperti dulu dimana ibu, ayahnya, dan dia bisa berkumpul dengan bahagia. Ibu juga harus memikirkan itu dan perasaannya Aisyah. Dan maaf Bu bukannya saya menceramahi ibu, tapi ini demi kebaikan keluarga ibu terutama Aisyah.” dengan sedikit takut dan gugup aku memberi saran kepada ibu Aisyah. “iya, tidak apa-apa, terima kasih sudah mau memberi saran ke ibu. Benar juga saranmu, ibu juga harus memikirkan perasaannya Aisyah.” ibu sudah tidak menangis lagi dan kembali menatap Aisyah. “I..bu, maaf saya harus pulang dulu, ada hal yang harus saya kerjakan, dan maaf telah mencampuri urusan keluarga ibu.” dengan gugup dan sedikit malu, “iya tidak apa-apa, ibu malah senang ada yang mau mendengarkan cerita ibudan mau menyarankan, ibu juga senang juga ada teman yang peduli dengan Aisyah sampai sejauh ini.” ibu Aisyah. “Iya bu, terima kasih, semoga Aisyah cepat sadar dan sembuh dan bo.. boleh saya datang lagi kemari.” aku dengan sedikit gugup dan malu, “Amin semoga saja, boleh kamu boleh datang ke sini kapan saja.” jawabnya. aku pun berdiri dari tempat duduk dan ibu pun juga, kemudian dia mengantarkanku sampai ke luar ruangannya Aisyah dan di luar pintu ruangannya Aisyah. “I…ibu, saya meminta tolong jangan beritahukan ini kepada Aisyah ya.” aku mengatakannya lagu dengan gugup, “loh kenapa?, padahal kamu sangat baik kepada Aisyah?” tanya ibu dengan bingung, “Iya, soalnya saya malu kepada Aisyah, saya juga tidak ingin tahu kalau Aisyah tentang saya, pokoknya jangan beritahu Aisyah ya Bu, aku mohon Bu.” aku dengan memohon kepada ibu Aisyah, “Iya, kalau itu maumu, ibu akan turuti.” kata ibu Aisyah, “Alhamdulillah, terima kasih Bu, sudah mau menuruti permintaan saya. Ya sudah Bu saya pulang dulu. Assalammualaikum..” kataku. “Iya sama-sama. Waalaikumsalam..” jawabnya. aku pun langsung bergegas pulang. “Baik sekali anak itu, semoga bisa jadi kekasih Aisyah.” kata batin ibunya Aisyah yang melihat ke arahku yang berjalan pulang.

Kemudian, tidak berselang lama, Aisyahpun sadar dan membuka matanya, “ma… Di mana aku?, apa yang sedang terjadi padaku?” tanya Aisyah pada ibunya, “Nak, kau sudah sadar, alhamdulillah… Kamu sekarang sedang di rumah sakit, kemarin kamu mengalami kecelakaan.” jawab ibu. Lalu Aisyah mau duduk, “A…a..auuu..” rintian Aisyah yang kesakitan dan sedang memegang kepalanya, “pelan-pelan nak, kamu masih sakit, jangan banyak bergerak dulu.” jawab ibu dengan membantu Aisyah untuk duduk bersandar. “Nak, maafkan ibu, yang telah menyakiti perasaanmu, maafkan ya nak…” ibu dengan mulai sedikit menangis, “iya Ma, Aisyah juga meminta maaf karena telah marah lalu pergi dari rumah dan membuat mama khawatir, maafin ya Mah…, sudah mama tidak usah menangis.” kata Aisyah, dengan sedikit kesakitan. Kemudian Ibu memeluk Aisyah mulai sedikit menangis juga. Kemudian ibu melepaskan pelukannya, “Papa di mana mah?, aisyah ingin minta maaf sama papa.” tanya Aisyah, “Papamu, sedang bekerja, Nak, nanti papa akan ke sini.” jawab ibu.

Tidak lama kemudian dokter pun datang memeriksa Aisyah dan dia di suruh berbaring untuk diperiksa. Setelah diperiksa oleh dokter, Aisyah di bawa ke kamar biasa, karena keadaannya sudah membaik dan di suruh untuk beristirahat. Setelah Aisyah tertidur Ibu pulang, untuk mengambil keperluan Aisyah.

Setelah sempainya ibu Aisyah di rumah, dia teringat saran dari ku. Kemudian Dia menelepon ayahnya Aisyah, untuk segera pulang, “pah, tolong pulang dulu, ada yang ingin mama omongin, tolong pah ini penting…” dengan sedikit menangis ibu memohon kepada ayahnya Aisyah, yang masih marah dengannya, “ada apa! Papa lagi sibuk, jangan ganggu!” ayahnya Aisyah dengan nada tinggi atau masih marah dengan ibu, “Tolong pa, tolong kali ini saja dengarkan mama…” Ibunya Aisyah dengan sedikit menangis, “Iya, iya… papa pulang!” Ayahnya Aisyah dengan sedikit kesal.

Tidak lama kemudian ayahnya Aisyah pulang, dan langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu, yang ketika itu ibu sudah duduk sambil menangis. “Ada apa, Ma? Dan kenapa kamu menangis?” ayah dengan masih kesal, “Aisyah pah, Aisyah kemarin dia kecelakaan..” ibu dengan menangis, “Apa kecelakaan!, bagaimana keadaannya sekarang?” ayah dengan kaget, “Alhamdulillah sekarang, keadaanya sudah mulai membaik, tapi mama kasihan dengannya karena dia ingin kita tidak bertengkat lagi dan kita dapat berkumpul bersama seperti dulu. Mama minta maaf, karena sudah membuah papa marah, maafin mama ya pa..” ibu dengan sedikit menangis, “alhamdulillah, benar kata mama,iya papa maafin, papa juga minta maaf karena marah-marah ke mama, maafin papa ya.” ayah dengan tidak kesal lagi dan menyesal telah marah-marah, “Iya pah mama maafin.” ibu dengan mulai berhenti menangis. Kemudian mereka berpelukan dan saling memaafkan. “Pa, ayo kita ke rumah sakit, lihat kondisi Aisyah?” ibu mengajak ayah ke rumah sakit, “Ayo mah, papa juga ingin lihat keadaan Aisyah dan mau minta maaf telang memukulnya..” ayah. Kemudian mereka menuju rumah sakit untuk menjunguk Aisyah.

Tunggu lanjutanya…

Cerpen Karangan: Dimas Ariadi
Facebook: Dimas Ariadi
orang biasa.

Cerpen Cinta Pemalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Aku Tidak Diakui Ibuku

Oleh:
Hidup memberi banyak pengalaman.. Pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan bahkan diterima sekalipun adalah pengalaman ketika harus menerima kenyataan yang sebenarnya dan melewati itu dengan cara kita sendiri. Kenyataan

Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

Tidur Untuk Tenang

Oleh:
Perempuan dengan baju ungu yang duduk di teras itu adalah ibuku. Diana namanya. Seorang dengan wajah khas keturunan tionghoa dengan tubuh mungil dan mata yang sedikit merah karena terkena

Aku Takut, Mengenalmu

Oleh:
Namanya Putra Gauri Kevlar, Aiyra mengetahui nama itu ketika ia dan teman-temannya serta seluruh siswa berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan pemaparan para calon ketua OSIS yang baru, Putra

Hujan Disaat Valentine

Oleh:
Biasanya di bawah tangisan langit aku dan dia bermain air disini. Tapi sekarang entah kenapa aku benci dengan tangisan itu. Melihatnya saja aku tak mau apalagi menyentuhnya. Sekarang terasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *