Cinta Tanpa Syarat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 24 July 2018

“Aduh! 5 menit lagi jam 5, Papa pasti marah kalau aku telat.”

Hai! Namaku Juna, Arjuna tepatnya. Saat ini aku sedang terburu-buru menuju ke suatu tempat. Aku harus ke rumah sakit. Bukan karena aku sedang sakit, tapi aku harus pulang bersama papaku. Papa seorang dokter senior di sana. Aku harus memperlebar langkahku sekarang. Papa sangat tidak suka dengan orang yang tidak ‘on time’.
Aku, Juna. Aku seorang siswa di sekolah menengah atas. Aku adalah anak semata wayang. Aku hanya tinggal dengan papaku. Hartaku satu-satunya. Mengapa? Seandainya saja aku tahu siapa mamaku, mungkin harta berhargaku bukan hanya Papa.

Hari itu Papa membangunkanku. Kulihat jam menunjukkan pukul 1 malam. Menyebalkan sekali!
“Ada apa sih, Pa? Tengah malam gini bangunin Juna.” protesku.
“Dasar pelupa! Hari ini kan ulang tahun kamu. Ayo bangun sekarang! Cepat! Atau Papa siram kamu pake air seember.” Kata Papa sambil tertawa. Kenapa aku bisa lupa ulang tahunku sendiri? Hmmm Papa benar, aku memang benar-benar pelupa.

Dengan mata setengah tertutup aku mengikuti langkah Papa menuju teras belakang. Papa memintaku duduk dan menutup mata. Hmmm sebentar lagi pasti ada kue dan lilin angka 17 di hadapanku. Benar saja, dugaanku tak pernah meleset. Ini terlalu mainstream Pa, please.
“Make a wish dulu dong, Jun.” cegah Papa saat aku akan meniup lilin. Malas sekali! Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Lagipula harapan itu tak pernah jadi kenyataan. Setiap ulang tahunku aku selalu mengucapkan harapan yang sama. Tapi apa? Sia-sia saja Papa tak mengabulkannya, Tuhan juga tak mendengarnya. Kalian ingin tahu apa harapanku? ‘Aku hanya ingin bertemu mamaku’ sekali saja. Seumur hidupku aku tak pernah tahu tentangnya. Menyedihkan sekali bukan?

“Jun, apa harapan kamu? Sekarang kamu udah 17 tahun. Gak terasa ya, rasanya baru kemarin Papa nganter kamu ke TK, hahaha.”
“Pa, papa mau tahu harapan Juna?” Kulihat Papa mengangguk pasti.
“Juna mau ketemu Mama.” ucapku tegas. Kulihat air muka Papa berubah. Tawanya berubah menjadi murung. Maaf Pa, aku hanya ingin tahu. Itu saja.
“Jangan bercanda Juna! Papa serius, apa yang kamu mau? Apa itu topi? Baju? Sepeda? Oh iya, sepeda kamu rusak, kan?” kata Papa mulai mengalihkan pembicaraan.
“Juna juga serius, Pa. Juna gak butuh itu semua. Juna cuma mau tahu mama. Selama ini Juna tersiksa, Pa. Juna bahkan gak tahu nama Mama.” Ujarku kesal. Papa hanya terdiam. Aku kesal sekali. Setiap aku bertanya tentang mama, selalu saja Papa mengalihkan pembicaraan. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah haram bagiku untuk tahu siapa mamaku?
“Papa bosan dengar omongan kamu itu, Juna!”
“Juna juga bosan bilangnya. Apa salah kalau seorang anak menanyakan ibunya, Pa? Juna berhenti bertanya kalau Papa menjawabnya.”
“Sudahlah, Juna! Jangan tanyakan itu lagi. Kamu anak yang penurut, kan?” Ah, sial! Lagi-lagi seperti itu. Aku tak berani lagi menjawab jika Papa sudah berkata seperti itu. Bagaimanapun, aku sangat menyayanginya. Maafkan aku, Pa.

Keesokan harinya aku sudah melupakan kejadian malam itu. Rencananya hari ini aku akan pergi ke perpustakaan favoritku. Di sana aku bisa bertemu sahabat-sahabatku. Aku mengenal mereka karena kami sama-sama menjadi member di perpustakaan itu. Ada tiga sahabat yang selalu ada dan mendengarkan ceritaku ketika aku bertengkar dengan Papa. Yang pertama, Ren namanya. Ia seorang insinyur dan sudah memiliki dua anak. Usianya 33 tahun. Di sela-sela kesibukannya, ia selalu menghabiskan hari Minggunya di perpustakaan ini. Benar-benar sosok yang menginspirasi. Yang kedua, Temai namanya. Usianya 30 tahun. Wanita yang cantik dan lembut hatinya. Ia juga sudah memiliki seorang anak. Ia hanya ibu rumah tangga biasa. Dulunya ia bekerja sebagai sekretaris, tapi setelah menikah ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Dan yang terakhir, Shady namanya. Usianya 25 tahun. Ia seorang dokter muda dan belum menikah. Mereka sudah seperti kakakku. Persahabatan yang aneh memang, tapi kami saling menyayangi layaknya saudara. Seandainya saja kami adalah saudara, aku akan sangat bahagia.

“Kamu kenapa, Jun? Berantem lagi sama papa kamu?” tanya Kak Temai mengagetkanku.
“Ah, nggak Kak. Cuma kurang tidur aja.” Elak ku. Tiba-tiba Kak Temai mengeluarkan sebuah kotak. Disusul oleh kotak dari Kak Ren dan Kak Shady yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Selamat ulang tahun, Juna!” kata mereka serempak.
“Tapi itu kemarin, Kak.”
“It’s okay, Jun. Ini masih bulan Juni, kan? Sah-sah aja kalau kami mengucapkannya sekarang.” Kata Kak Ren.
“Iya, Jun. Lagian ini kan rezeki, masa ditolak sih?” kata Kak Shady tak ingin kalah.
“Terima kasih, Kak. Kalian memang yang terbaik. Aku bukanya di rumah saja ya?”
“It’s okay terserah kamu saja.”

Setelah itu kami mulai sibuk membaca. Akhir-akhir ini aku menggilai buku astonomi. Itulah mengapa aku ingin puas menghabiskan waktuku membaca beberapa buku yang tebal itu. Tapi di mana mereka? Kak Ren? Kak Temai? Kak Shady? Apa mereka sudah pulang? Tidak, mereka pasti izin dulu padaku. Aku melangkahkan kakiku mengitari ruangan yang cukup besar itu. Itu dia! Mereka sedang berdiskusi di meja pojok ruangan. Apa yang mereka bicarakan? Apa itu rahasia?

“Aku gak tahan lagi. Sampai kapan kita mau pura-pura jadi sahabatnya? Dia sudah dewasa sekarang. Dia harus tahu yang sebenarnya.” Kata Kak Temai sambil berlinang air mata.
“Tenanglah, Kak. Kita harus menunggu intruksi dari Om Rio. Bukannya dia pernah janji akan memberitahu Juna jika usianya udah 17 tahun?” kata Kak Shady.
“Kita serahkan aja sama Om Rio. Jangan gegabah. Percayalah. Bagaimana kalau hari ini kita ke makam saja. Setuju?” kata Kak Ren dengan tenang.
Apa yang terjadi? Mengapa Kak Temai menangis? Mengapa mereka menyebut-nyebut nama Papa dan aku? Aku benar-benar tidak mengerti. Sudahlah, bukan urusanku juga. Aku segera kembali ke tempat dudukku.

“Jun, kami harus pergi ke suatu tempat. Kamu gak apa-apa kan sendiri di sini?”
“Kalian mau ke mana, Kak? Boleh aku ikut?” pintaku sambil memelas.
“Lain kali saja ya, kami sedang terburu-buru.” Kata Kak Ren sambil berlalu meninggalkanku. Hmm ya sudahlah aku teruskan membaca saja sampai jam 5 sore nanti.

Sesampainya di rumah aku mendapati Papa sudah berdiri di depan pintu rumah sambil memasang mimik kesalnya padaku.
“Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang. Papa pulang lebih awal buat kamu tapi kamu malah keluyuran gak jelas!” seru Papa.
“Juna pulang dari perpustakaan, Pa. Juna keasyikan baca sampai lupa waktu. Maaf Pa, Juna gak tahu Papa pulang cepat hari ini.” Kataku sambil menunduk. Aku segan pada Papa.
“Ya udah, ayo ke dalam. Cepat mandi lalu makan. Papa udah masak banyak buat kamu.” Kata Papa sambil mengusap kepalaku. Papa memang yang terbaik! Terima kasih, Pa.

Malam itu Papa sangat baik padaku. Papa membelikanku banyak hadiah. Tapi apa yang aku inginkan tetap saja tidak ada. Papa memintaku membuka hadiah-hadiah itu. Ada sepuluh kado. Dengan ukuran yang berbeda-beda. Papa menyuruhku membukanya dari kado yang paling kecil. Hmm tidak ada yang istimewa. Kulihat kado kesepuluh. Kotak berwarna biru cerah dan bertuliskan ‘Some love stories live forever’. Aku penasaran sekali apa isinya. Sepertinya kotak itu sudah lama sekali disimpan. Warnanya sudah sedikit memudar.

Aku mulai membukanya. Di sana terdapat tiga buku diary dan satu album foto yang tebal. Juga terdapat bunga, cincin, dan benda-benda cantik lainnya.
“Kamu mau tahu tentang mama kamu, kan? Itulah jawaban Papa, Jun.” Kata Papa sambil tersenyum tipis. Aku belum mengerti apa ini. Aku membaca buku diary pertama. Di sana tertulis nama ‘Karina’. Aku mulai membaca lembar demi lembar diary ini. Isinya sangat menyentuh hati. Tentang perasaan seorang wanita yang sangat mencintai kekasihnya. Sepertinya ia sangat bahagia. Kisah-kisah yang sangat manis, Karina. Lalu aku membaca diary kedua yang bertuliskan ‘Haris’. Rupanya ini adalah diary kekasih Karina. Mereka saling mencintai. Kisah cinta yang sangat indah. Siapapun yang membacanya pasti akan mengatakan hal yang sama.

Lalu tanganku mulai bergerak membuka diary ketiga yang bertuliskan ‘You are mine and I’m yours’. Aku mengerti sekarang diary ketiga ini adalah diary mereka berdua yang mereka isi setelah mereka resmi menikah. Mereka menuliskan semuanya di sini. Dan yang membuatku terkejut adalah aku membaca bahwa mereka memiliki tiga orang anak, yaitu Ren, Temai, dan Shady. Apa ini? Apa aku tidak salah baca? Ataukah mataku sedang terganggu? Tidak, ini nyata. Aku membaca nama-nama itu berkali-kali. Apakah mereka bersaudara? Mengapa mereka tidak memberitahuku. Dan pada lembar terakhir, mereka menuliskan bahwa mereka memiliki seorang anak lagi, Arjuna namanya. Tanggal lahirnya sama dengan tanggal lahirku. Mungkinkah…

“Pa, ini…” kataku terbata-bata.
“Iya, nak. Karina itu ibu kamu. Haris ayah kamu. Ren, Temai, dan Shady itu saudara-saudara kamu.” Kata Papa sambil menahan tangis.
“Maafkan Papa, nak. Papa bukan ayah kandung kamu. Maafkan Papa, Juna.” Aku hanya bisa terdiam. Bagai disambar petir aku mendengar kenyataan itu. Bagaimana mungkin?
“Maaf, Pa. Juna cape. Juna ingin istirahat. Selamat malam, Pa.” Ucapku sambil pergi menuju kamarku. Badanku mendadak lemas dan kepalaku pusing. Ini hanya ilusi saja. Ini tidak nyata, Juna. Papamu hanya bercanda.

Di dalam kamar pun mataku sulit memejam, padahal aku mengantuk. Untungnya besok aku sudah libur semester, tak masalah meskipun malam ini aku tidak tidur. Karina dan Haris? Ibu dan ayah kandungku? Tidak mungkin. Aku percaya saja jika Karina adalah ibuku. Tapi tidak dengan Haris. Jika ia adalah ayah kandungku, lalu siapa Papa? Aku benar-benar sakit kepala memikirkannya. Ya Tuhan, beri aku penjelasan. Aku sedang kalut sekarang. Tolonglah hambamu ini Ya Tuhan. Aku menangis tanpa suara. Aku tak ingin Papa mendengarnya.Tak terasa aku pun terlelap.

Aku terbangun di sebuah taman. Hei, aku kenal taman ini. Ini taman di samping perpustakaan itu. Indah sekali suasananya. Apakah aku sedang bermimpi? Tapi sepertinya ini nyata. “Juna… Juna… Juna…” samar-samar kudengar seseorang memanggil namaku. Aku menoleh, tampak seorang laki-laki tersenyum kepadaku. Ia sangat bersih, memakai baju serba putih, wangi, dan wajahnya bercahaya. Ia melambaikan tangannya sebagai isyarat aku harus menghampirinya. Entah mengapa aku menurut saja.
“Kau mirip sekali denganku.” Katanya sambil tertawa. Aku heran siapa dia? Mengapa dia tahu namaku dan mengatakan aku mirip dengannya? Apa dia Haris?
“Ya, aku Haris, Juna. Ayahmu yang selalu menyayangimu.” Apa? Apa dia bisa membaca pikiranku?
“Tenanglah, nak. Ini bukan mimpi. Ayah sudah lama sekali ingin menemuimu, tapi baru sekarang ayah diizinkan. Ayah hanya ingin mengatakan ayah dan ibu sangat sangat sangat menyayangimu. Jika kamu tak percaya, baca kembali diary-diary itu dengan seksama. Maka kamu akan mengetahuinya. Ayah selalu mendoakanmu, Juna. Selalu…” kata Ayah sambil memelukku lalu menghilang.

“Ayah, ayah, ayah!” kataku sambil berteriak. Dan ternyata itu hanya mimpi. Tapi mengapa begitu terasa nyata. Harum tubuh Ayah masih melekat di bajuku. Aku bahagia sudah bertemu Ayah walau itu hanya dalam mimpi dan hanya sekejap saja. Terima kasih sudah menyayangi dan mendoakan aku, Ayah. Aku juga menyayangimu.
“Juna! Juna! Bangunlah sudah siang!” suara Papa memulihkan kesadaranku. Aku segera bangun dan menghampiri Papa yang sedang memasak di dapur. Aku ingin bercerita padanya.Tapi hatiku menolak. Itu pasti akan menyakiti hatinya.
“Hei, kenapa ngelamun? Kamu udah cuci muka, kan?” kata papa mengagetkanku.
“Eh iya, Pa. Aku lupa, hehe.” Kataku sambil menuju kamar mandi.
“Kamu persis ibumu, pelupa sekali.” gumam Papa. Tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Juna, kamu marah sama Papa?” tanya Papa memulai pembicaraan saat sarapan pagi.
“Kenapa Papa bilang gitu? Buat apa Juna marah sama Papa.”
“Kamu kelihatan marah. Jujur saja, nak.”
“Juna tidak marah, Pa. Hanya butuh waktu untuk berpikir. Coba bayangkan kalau Papa jadi Juna? Juna memang sedang kalut sekarang tapi apa pantas Juna marah sama Papa?”
“Tanyakanlah apa yang kamu ingin tanyakan. Jangan memendam itu sendirian. Papa berangkat dulu, nak. Hati-hati di rumah.” Kata Papa sambil berlalu pergi. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang kian menjauh. Nanti saja Pa. Jika pikiranku sudah membaik aku akan menanyakan semuanya pada Papa.

Cerpen Karangan: Feni Rahmi
Blog / Facebook: Feni Rahmi

Cerpen Cinta Tanpa Syarat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Rindu

Oleh:
Debu-debu berserakan, seakan menjadi penghias di kampung sudut kota. Menuangkan diri ke suasana desa yang cukup ramah dan penuh kesunyian. Entah apa yang para penduduk itu lakukan, mungkin sebuah

I Like You Like I Like a Lake

Oleh:
Namira menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur dengan kasarnya. Menumpahkan semua air matanya disana. Kesedihannya memuncak sudah. Sesekali Ia berteriak histeris dengan menutupkan bantal ke wajahnya. Tak terbayangkan

Suatu Kesalahan dan Penyesalan

Oleh:
Hai, perkenalkan namaku Sindy, aku berkalangan dari kelas ekonomi yang sangat bawah, ayahku tidak bekerja alias pengangguran, ibuku hanya seorang tukang judi yang tidak tentu hasilnya, kakakku tidak tahu

Tangisan Bisu

Oleh:
“Aku tidak dilahirkan untuk menangis.” Biarkan aku menonton film romantis yang (katanya) menyentuh sampai berpuluh-puluh judul. Ceritakan padaku cerita-cerita yang (katanya) menyentuh —baik dari video motivasional (yang ternyata iklan

Indahnya Cinta Ratih (Part 2)

Oleh:
Rumah sakit yang besar ini ternyata sudah penuh sesak dengan petugas maupun sanak keluarga dari korban bus rombongan yang terjatuh di jurang itu. Tak ada tawa yang terlihat di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *