Cinta Tanpa Syarat (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 24 July 2018

Suasana rumah sakit cukup ramai siang itu. Tampak Pak Rio sedang terburu-buru menemui Shady.
“Shady, bisakah kita bicara sebentar?”
“Baik, Om. Ada apa?”
“Begini, seperti janji Om, Om sudah memberitahu Juna. Tapi dia tak banyak bicara sekarang. Om takut dia stress dan tertekan. Menurutmu apa yang harus Om lakukan?”
“Benarkah? Menurutku Om biarkan saja dia. Dia sedang terguncang sekarang. Ia butuh waktu untuk sendirian. Jika sudah membaik, Shady yakin dia akan berbicara. Om tenang saja.”
“Begitukah? Baiklah terima kasih, Shady. Om akan menghubungimu lagi nanti.”

Hmmm bosan sekali liburanku kali ini. Aku ingin pergi ke perpustakaan tapi sepedaku rusak. Tunggu, bukankah ada diary-diary itu? Aku akan membacanya lagi. Kali ini benar-benar menggunakan perasaanku.
Ayah benar, cinta Ayah dan Ibu tak pernah habis untukku. Meskipun mereka tak berada di sampingku lagi tapi cintanya tak pernah mati. Aku bersyukur memiliki Ayah dan Ibu yang luar biasa. Tak terasa pipiku mulai basah oleh air mata.

“Juna…” terdengar suara Papa.
“Eh, Pa. Papa udah pulang? Tumben, ini kan baru jam 2.”
“Ayo ikut Papa, Nak.” Kata Papa dengan lembut.
“Iya, Pa. Juna ganti baju dulu.”

Papa mengajakku ke sebuah pemakaman. Makam-makam di sana terlihat rapi dan hampir mirip. Tapi ada dua makam yang terlihat berbeda. Makam itu tidak ditumbuhi rumput liar dan berada di bawah pohon mangga yang rindang.
“Juna, ini makam ayah ibu kamu. Ayo ucapkan salam dulu.” Pinta Papa.
“Assalamualaikum, Ibu. Assalamualaikum, Ayah.” Ucapku sambil tersenyum.
Kami pun membacakan doa untuk Ayah dan Ibuku.

Tak lama Papa mulai bercerita. “Juna, kamu tahu? Papa tanam pohon mangga ini 17 tahun yang lalu. Gunanya supaya pohon ini bisa melindungi makam ini dari panas matahari dan hujan. Dan mangga itu buah favorit ibu kamu.”
“Makam ini juga bersih karena Papa menyuruh seseorang membersihkannya setiap pagi.” Lanjut Papa. Pantas saja makam ini terlihat berbeda dari makam-makam yang lain. Di sebelah kiri makam Ayah dan di sebelah kanan makam Ibu. Tertulis di batu nisan Ayah dan Ibu meninggal di hari yang sama. Mereka lahir di tahun yang sama. Ayahku 4 bulan lebih tua dari Ibu.
“17 tahun yang lalu kamu lahir di rumah sakit tempat Papa kerja. Ayah dan Ibu kamu senang. Kakak-kakak kamu juga. Hari itu gak ada yang gak bahagia dengan lahirnya kamu. Karina menamai kamu Arjuna karena kamu ganteng. Beda dari Ren dan Shady.” Kata Papa sambil tertawa.
“Tapi sehari setelah kamu lahir, ada kebakaran di rumah sakit itu. Kebetulan Papa sedang ada di lantai dasar, sementara kalian ada di lantai 5. Dan kebakaran itu asalnya memang dari lantai 5. Papa berusaha naik untuk menyelamatkan kalian. Saat itu lantai 5 sudah benar-benar penuh oleh asap, tapi Papa terus maju sampai akhirnya bertemu kalian. Tiba-tiba langit-langitnya runtuh dan menimpa Ayah dan Ibu kamu. Posisi Haris melindungi Karina, Haris pun meninggal. Posisi Karina melindungi kamu. Karina masih sadar dan dia sempat bilang sesuatu sama Papa. Dia bilang ‘Rio tolong jaga anak kami. Katakan padanya kami selalu menyayanginya’. Papa menjawab ‘Tidak, Rin. Kamu harus bertahan. Kita jaga anak ini sama-sama. Kamu mau lihat dia tumbuh kan? Kamu pasti bisa bertahan, Rin.’ Tapi Karina tidak menjawab lagi. Dia sudah menyusul suaminya. Sejak itu lah kamu jadi amanah terbesar dalam hidup Papa. Papa bersumpah sampai akhir hidup Papa, Papa akan menjaga dan menyayangi kamu seperti Ibu dan Ayah kamu.” Papa menghentikan ceritanya, ia menangis. Aku juga ingin menangis melihatnya.

“Terima kasih, Pa. Terima kasih.” Kataku menghibur Papa. “Juna gak tahu harus gimana membalas jasa-jasa Papa.”
“Tidak, Nak. Papa cinta kamu dengan tulus. Kamu amanah di hidup Papa. Gak pernah sekali pun Papa berpikir kamu bukan anak Papa. Kamu adalah anak Papa, Arjuna.”
Aku langsung memeluk Papa. Terima kasih Tuhan, Kau telah memberiku malaikat yang tulus mencintaiku tanpa syarat, walaupun aku harus kehilangan dua malaikatku yang lain.

“Arjuna…” terdengar suara seorang wanita memanggilku. Taman di perpustakaan ini lagi. Sepertinya aku bermimpi lagi.
“Arjuna…” suara itu terdengar lagi. Aku mulai mencari asal suaranya. Dan kulihat seorang wanita cantik dan bercahaya duduk di bangku taman. Ia mulai memanggil namaku lagi. Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya. Ia tersenyum, manis sekali. Tunggu aku kenal senyum itu. Itu mirip senyuman Ibu ku di foto. Apa wanita ini memang Ibuku?
“Arjuna, kesayangan Ibu. Ini Ibumu, anakku.”
“Ibu! Ibu! Ibuku!” kataku sambil memeluknya. Nyaman sekali pelukannya. Terasa hangat dan aku tak ingin melepaskannya. Orang-orang memang benar, tempat paling nyaman adalah dekapan seorang Ibu.
“Kamu rindu Ibu, ya?”
“Aku rindu Ibu setiap hari.”
“Alah rayuan gombal, persis Ayahmu.” Kata Ibu sambil mencubit tanganku.
“Juna, kamu senang bertemu Ibu?”
“Senang sekali. Bagaimana dengan Ibu?”
“Lebih dari yang kamu tahu. Sudah lama sekali Ibu ingin bertemu kamu.Tapi Tuhan mengizinkannya sekarang. Ini bukan mimpi, Juna. Ini nyata. Kamu sedang bersama Ibu sekarang.” Aku mempererat pelukanku. Aku tak ingin Ibu pergi lagi.
“Juna, kamu tahu? Perpustakaan ini adalah rumah kita. Ayah, Ibu, Kak Ren, Kak Temai, Kak Shady, dan Papa Rio membangun perpustakaan ini. Dan Ayahmu membangun rumah kita di atasnya. Kapan-kapan kamu boleh berkunjung ke lantai atas. Ada banyak benda-benda kenangan kita di sana. Ibu tahu Papa Rio menjaganya dengan sangat baik. Dan Ibu tahu Papa Rio menjaga dan menyayangi kamu dengan ketulusan hatinya.” Ucap Ibu sambil mengusap kepalaku.

“Juna maafkan Ayah dan Ibu, ya. Kami tidak bisa merawat kamu, menjaga kamu, melihat perkembangan kamu. Kami sangat ingin melakukannya, tapi Tuhan berkata kami harus pulang. Kami …”
“Sudahlah, Bu. Jangan meminta maaf. Ayah dan Ibu tidak salah. Aku bahagia dan bangga memiliki orang tua seperti kalian.”

“Satu hal yang harus kamu tahu Juna. Kami selalu menyayangi kamu. Selalu. Kakak-kakakmu juga sangat menyayangi kamu. Kamu juga pasti merasakannya. Dan… jadilah anak yang baik untuk Papa Rio. Jangan pernah menyakiti dan mengecewakan papamu, berjanjilah pada Ayah dan Ibu, nak.”
“Iya, Bu aku janji. Aku juga menyayangi Ayah, Ibu, dan Papa Rio selamanya.” Kataku sambil terisak. Aku sangat bahagia bertemu Ibuku. Wanita yang aku rindukan selama 17 tahun hidupku. Tuhan, jika ini mimpi jangan bangunkan aku dulu, aku ingin bersama Ibuku lebih lama lagi.

Keesokan harinya, ketiga kakakku datang berkunjung. Kak Ren dan Kak Temai membawa keluarganya sedangkan Kak Shady membawa kekasih barunya. Mereka membawakanku banyak hadiah, mereka juga memberiku pelukan. Bahkan Kak Temai tak berhenti menangis karena terharu. Huh dasar wanita! Ibu benar, mereka sangat menyayangiku.

Aku sangat beruntung memiliki kakak sebaik dan setulus mereka. Ada rasa iri karena mereka sempat merasakan kasih sayang Ayah dan Ibu. Tapi aku juga merasakannya. Aku tahu Ayah dan Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukku. Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu.

“Pa, kenapa Papa gak cari Mama buat Juna?”
“Apa sepenting itu Mama buat kamu?”
“Nggak juga sih. Bukan buat Juna, kan Juna punya Ibu Karina. Mama itu sosok yang akan melengkapi Papa.”
“Bicara apa sih kamu, Jun? Jangan ngawur.”
“Juna serius, Pa. Apa Papa gak punya seseorang yang Papa suka?”
“Kalau Papa jujur, nanti kamu marah.”
“Maksudnya, Pa?”
“Haha, Papa suka sama Karina, Ibu kamu.”
“Apa?” aku terkejut.
“Tuh kan kamu marah. Papa gak akan lanjutin ceritanya.”
“Juna gak marah kok, Pa. Lanjutin aja.”
“Papa suka sama Ibu kamu dari Papa seusia kamu. Sampai sekarang Papa masih suka. Tapi namanya bukan jodoh, Ibu kamu nikahnya sama sahabat Papa, ya Ayah kamu itu. Papa bisa apa? Tapi Papa gak nyesel, cinta itu gak harus memiliki ya, kan? Memiliki kamu aja itu udah cukup buat Papa, Jun. Senyum kamu, sifat kamu, banyak yang mirip sama Ibu kamu. Tapi sayang, wajah kamu mirip sama Ayah kamu.” Kata Papa sambil tertawa.
“Gitu ya, Pa?”
“Iya, apalagi sifat pelupa kamu itu.” Kata Papa sambil menjitak kepalaku. Aku hanya meringis kesakitan.

“Sekarang giliran Papa yang nanya. Kamu gak punya seseorang yang kamu suka?”
“Juna belum kepikiran sampai situ, Pa. Tapi Juna mau cari yang mirip sama Ibu. Gak terlalu mirip wajahnya juga gak apa-apa asalkan perempuan itu tulusnya mirip Ibu.”
“Iya, semoga aja ada ya, Jun.” Kata Papa sambil mengusap kepalaku.

Terima kasih Papa. Papa rela menjadi ayah, ibu, dan sahabat untukku. Papa menjadi semua yang aku mau. Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah mencintai aku tanpa syarat apapun. Aku juga mencintai Papa tanpa syarat. Jangan takut, Pa. Aku tidak akan meninggalkan Papa. Aku akan menjaga Papa selamanya. Juna sayang Papa.

Cerpen Karangan: Feni Rahmi
Blog / Facebook: Feni Rahmi

Cerpen Cinta Tanpa Syarat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kartini Selanjutnya

Oleh:
Aku tahu, jika sikapku ini akan mendapatkan pertentangan yang sengit, ketidaksetujuan yang lebih mendominasi. Tapi aku akan tetap melakukannya, meski seluruh dunia menentangku aku hanya perlu sebuah keyakinan besar

Penyesalan Nara (Part 2)

Oleh:
Sudah hampir seminggu anaknya Rayan, Danar dan bibinya menginap di rumahku karena Rayan harus tugas keluar pulau selama dua minggu. Aku sebenarnya yang menawarkan diri untuk menjaga mereka, kasihan

Hadiah dari Mama

Oleh:
Mendung yang mencekam. Banyak motor dan mobil melintas. Ada juga yang menaiki sepeda. Lantas, aku pun berpikir. Bukankah sekolah ini sekolah elit? Hanya dari kalangan orang berada yang dapat

Menembus Kelabu

Oleh:
Xenia hitam yang sedang ku tumpangi menerobos pagi buta bergelayut embun. Keadaan di sekitar jalan belum menampakkan hiruk pikuk aktivitas manusia atau deru mesin kendaraan yang memekakkan telinga. Mata

Perfectionis

Oleh:
Kalau bicara akhwat (wanita) ini selalu pakai nada tinggi bahkan kadang terlalu tinggi. Tertawanya lepas dan apa adanya. Jujur dan menjaga perasaan orang lain apalagi ibunya. Parfum yang ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *