Cinta Triple A

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 November 2016

Angin berhembus begitu lembut. Mengibarkan ujung jilbab yang membalut kepalaku. Di pinggiran pantai mataku menerawang jauh. Mengingat peristiwa 5 tahun lalu.

“Jadi kamu mau nikah?”, tanyaku pada Aris, sahabatku.
Aris mengangguk. Sambil menyerahkan undangan pernikahannya.
“Siapa gadisnya?”, tanyaku lagi.
“Bukan siapa-siapa. Dia cuma gadis biasa. Temen kuliah adikku”, jelas Aris.
Aku terdiam. Entah apa yang kurasakan saat itu. Seperti tak rela saja sahabatku itu menikah.
“Jangan lupa dateng ya… Ajak suami kamu. Kalo perlu si kecil juga diajak. Aku pamit pulang dulu”, kata Aris seraya bangkit dari duduknya.
Aku hanya mengangguk.

Hari itu datang juga. Hari dimana Aris melangsungkan pernikahannya. Suamiku… Oiya, sepertinya aku perlu menceritakan sedikit tentangnya. Dia seorang manager di salah satu perusahaan swasta. Awalnya dia sangat perhatian padaku. Sangat menyayangiku. Di awal pernikahan tak pernah sekalipun dia berkata kasar padaku.
Tapi 2 tahun kemudian semuanya berubah. Saat itu aku sedang mengandung buah hati kami yang pertama. Namanya orang hamil inginnya diperhatikan dan dimanja. Aku ingat betul peristiwa itu. Aku ingin sekali tidur di pangkuan dia. Dengan diusap-usap kepalaku. Tapi tiba-tiba dia marah. Dia bilang aku seperti anak kecil. Aku langsung membalas amarahnya. Maklum orang hamil. Emosinya sangat labil. Aku berkata tak karuan. Menuduh dia tak perhatian, punya selingkuhan, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya sebuah tamparan keras mendarat di pipiku hingga sudut bibirku mengeluarkan darah. Aku tak pernah melupakan kejadian itu.

Aris adalah orang pertama yang aku hubungi. Aku sama sekali tak mempedulikan kondisiku yang sedang hamil. Kutinggalkan rumah dan meminta Aris untuk menjemputku. Dan benar saja. Aris datang tak lama setelah aku meneleponnya. Dia benar-benar sahabat terbaikku. Hadir disaat kubutuh.

Yah… Itulah sekilas tentang rumah tanggaku. Sejak saat itu aku sudah menganggap suamiku bukanlah orang yang pantas untuk kuberi cinta. Selama ini kita tinggal seatap. Tapi sama sekali hubungan kami bukan seperti layaknya suami istri. Kami hanya terlihat mesra ketika sedang di depan keluarga. Terutama di depan Angel. Putri kami. Malah akhir-akhir ini dia jarang sekali pulang ke rumah. Aku dengar dari teman sekantornya dia menyewa sebuah rumah tak jauh dari tempat kerjanya. Dan temannya pernah memergoki dia bersama wanita lain.

Hh… Aku benar-benar tak bisa berpikir jernih saat ini. Aku harus hadir sendiri di pesta pernikahan sahabatku. Dan perasaan ini… Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasa tidak siap menerima kenyataan bahwa Aris akan menikah?

“Lisa?”, aku menoleh ke asal suara. Seorang wanita berhijab menghampiriku.
“Nana? Kamu Nana kan?”, tanyaku seraya tak percaya.
“Iya! Ini aku Nana. Temen SMA kamu”
“Ya ampun… Kamu berubah sekarang. Aku nyaris nggak ngenalin kamu. Sejak kapan pakai hijab?”, tanyaku terheran-heran.
“Udah hampir setahun. Suamiku yang menuntunku untuk berubah”
“Oh ya? Beruntung sekali kamu dapet suami yang bisa bikin hidup kamu lebih baik. Udah nggak dugem lagi dong ya?”, komentarku yang membuat tawa kami meledak.
“Suami kamu mana? Aku dengar kamu udah nikah dan punya anak ya?”, tanya Nana.
Aku mengangguk. “Suamiku lagi dinas di luar kota. Kalo si kecil kebetulan tinggal bersama mertuaku”
“Ow… Ya udah kalo gitu aku tinggal ke temen-temen yang lain. Kamu pasti mau ke pengantinnya kan?”, kata Nana yang kuiyakan dengan anggukan.

Aku melangkahkan kakiku menuju sepasang kekasih bergaun pengantin warna putih.
“Lisa… Akhirnya kamu dateng juga”, ucap Aris sambil menyambutku.
Aku langsung mengembangkan senyum termanisku. Berusaha mengusir perasaan yang berkecamuk di hatiku.
“Mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk menyaksikan sahabatku memakai baju pengantin. Apalagi baju pengantin warna putih. Warna yang paling kamu benci. Pasti kamu nggak nyaman deh pake baju itu. Iya kan?”, godaku yang membuat tertawa sang putri dalam pesta itu.
“Sialan! Kalo dateng cuma buat ngeledekin mending pulang aja deh! Lagian biar nasi gorengnya nggak habis kamu makan!”, balas Aris.
Kami tertawa.
“Oiya, kenalin ini Tiara. Sekarang dia adalah istri sahku”, kata Aris memperkenalkan.
Aku mengulurkan tanganku. “Lisa”
“Tiara. Terima kasih udah hadir”, kata gadis itu lembut.
Aku tersenyum. “Oia, Ris. Mama Rita mana?”, tanyaku menanyakan ibunya. Aku sudah terbiasa memanggil Mama pada tante Rita. Dia memang sudah kuanggap seperti mamaku.
“Oh bentar! Biar aku panggil!”, Aris berlalu meninggalkan aku dan Tiara.
Aku menatapnya dan kembali berbincang dengan sang putri. Perasaan itu kembali berkecamuk.

“Aku banyak mendengar cerita tentang kamu dari Aris”, ucap Tiara mengawali obrolan.
“Oh ya? Cerita apa? Mudah-mudahan bukan hal buruk yang dia ceritain ke kamu”
Tiara tersenyum. Senyumnya manis sekali. Teduh dan nyaman rasanya.
“Terima kasih udah jadi teman berbaginya selama ini. Aku tau, aku nggak begitu mengenal Aris seperti halnya kamu mengenal dia. Tapi aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya”
Aku begitu terkejut mendengar ucapan Tiara. ‘Apa maksudnya?’ pikirku dalam hati.
“Kamu jangan berlebihan. Kami emang bersahabat. Tapi sejak aku nikah, hubungan kami udah nggak sedeket dulu. Cuma emang nggak bisa dipungkiri. Dia adalah orang pertama yang akan aku hubungi jika aku ada masalah dengan suamiku. Makanya aku ngerasa sangat kehilangan ketika tau dia mau nikah”, tuturku yang membuat Tiara mengernyitkan dahi.
Aku langsung sadar akan ucapanku. “Emm… Maksudku aku nggak tau mesti nyeritain masalahku ke siapa lagi kalo dia nikah. Aku cuma percaya sama dia”, lanjutku berusaha mencegah kesalahpahaman.
Aris datang dengan menggandeng Mamanya.
“Ini dia Mamaku tercinta. Lihat siapa yang hadir…”, kata Aris.
“Alissa…”, jerit Mama Rita sambil berlari memelukku.
“Mama Rita”, kataku membalas pelukannya.
“Kenapa kamu nggak pernah dateng lagi ke rumah?”, tanya Mama Rita sambil mengusap-usap kepalaku seolah aku adalah anaknya yang lama tak pulang.
“Iya Ma, sekarang Lisa ada usaha kecil-kecilan di rumah. Jadi nggak bisa sering-sering ke luar”, jawabku.
Kami pun larut dalam obrolan. Setidaknya aku bisa melupakan sedikit perasaan aneh yang dari tadi membuatku merasa tak nyaman.

“Ndre, kita mesti bicara!”, kataku pada Andre suamiku.
“Bicara apa lagi? Bukannya kamu terlalu sering bicara!”, ucapnya dengan nada yang tidak enak didengar.
“Maksud kamu apa? Selama ini aku nggak pernah berkomentar apa-apa tentang sikap kamu. Nggak pernah pulang, tiba-tiba nyewa rumah di dekat kantor, hh… kamu punya selingkuhan?”, tanyaku tiba-tiba.
“Kalo iya kenapa?”
“Jadi bener kamu tinggal di rumah kontrakan dengan perempuan pel*cur itu!”, kataku dengan nada marah.
“Tutup mulut kamu! Dia bukan pel*cur!”
“Ow… Kamu udah nikah sama dia?”
Andre diam. Kemudian melangkah pergi masuk ke kamar. Aku mengikutinya.
“Ndre! Jadi bener kalo selama ini kamu udah nikah lagi? Kamu jarang pulang bukan karena tugas kantor tapi karena harus berbagi dengan istri yang lain? Kamu jahat, Ndre! Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku? Apa salahku, Ndre? Apa salahku?”
Plakkk!!! Tamparan itu lagi-lagi mendarat di pipiku.
“Kamu pengen tau salah kamu apa? Kamu nggak pernah cinta sama aku! Aku nggak pernah ada di hati kamu kan, Lis? Bukan aku yang selama ini kamu harepin memeluk dan mencumbu kamu setiap waktu. Bukan aku!”
“Apa maksud kamu?”, aku terkejut mendengar penuturan Andre.
“Kamu yang pel*cur! Kamu yang tega-teganya memikirkan orang lain untuk menyentuh kamu, padahal kamu udah punya suami, bahkan anak! Kamu yang jahat, Lis! Menipu perasaanku dengan mau menjadi istriku. Kamu yang selingkuh!”, maki Andre semakin menjadi-jadi. Dia memecahkan barang-barang yang ada di kamar kami.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan Andre sampai aku melihat buku harianku di tangan Andre.
“Ini adalah bukti perselingkuhan kamu!”, kata Andre sambil melemparkan buku harian bersampul coklat ke arahku.
Aku tau sekarang. Andre berubah sejak dia membaca tulisanku. Dan isinya bukan tentang perasaanku padanya. Tapi pada Aris, sahabatku. Oh Tuhan… Betapa jahatnya aku. Tanpa sadar aku telah melukai suamiku. Orang yang dengan tulus mencintaiku.

Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil menangis terisak. Rasa sakit akibat tamparan Andre tak begitu terasa dibanding dengan luka hatiku saat ini. Ternyata selama ini Andre berubah karena ulahku sendiri. Oh… Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Andre duduk di sebelahku. Amarahnya sudah reda. Kata-katanya kembali manis. Seolah hal ini tak pernah terjadi.
“Aku tau bukan aku orang yang kamu cintai. Aku pikir kamu bisa bener-bener menjadi milikku setelah ada Angel. Tapi ternyata aku salah. Cinta itu hanya untuk Aris. Bukan Andre. Inisial A yang kamu tulis di buku itu sama sekali bukan untuk aku. Maaf jika aku harus mencari orang lain untuk mengisi kekosongan hatiku. Tapi Dina bukan pel*cur. Dia wanita yang baik. Yang bisa mencintaiku dengan tulus…”, ucap Andre lirih yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkanku.

Aku semakin menangis. Meratapi betapa bodohnya aku. Sekarang aku bukan hanya kehilangan orang yang benar-benar aku cintai, tapi juga orang yang selama ini tulus mencintaiku. Aku terus menangis, menangis dan menangis.

Semalaman aku berjalan tak tentu arah. Berusaha menghilangkan rasa sesal yang menyesak dada. Tapi semuanya seakan percuma. Kebodohonku terus membayang. Aku semakin tak sanggup menjalani kehidupan ini sendiri.
Aku sampai di pantai. Tempat dimana aku biasa melepas semua masalah. Mataku terasa sembab karena tangis semalam. Sebenarnya ingin kulanjutkan tangis itu. Tapi air mataku seolah kering. Aku teringat Angel. Aku berpikir untuk menemuinya. Namun tiba-tiba langkahku terhenti. Seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiriku.
“Lisa! Kamu kemana aja sih? Aku nyariin kamu semalaman tau nggak?”, kata laki-laki itu.
“Aris? Nga…ngapain kamu disini? Bukannya kamu harus…”
“Semalem Andre nelepon aku. Dia bilang kamu pergi dari rumah karena bertengkar sama dia. Kamu nggak papa?”, tanya Aris sambil memegang kedua lenganku.
“Aku nggak papa. Tapi kenapa kamu nyariin aku. Bukannya kamu mesti berangkat bulan madu? Kamu kan baru aja nikah…”, tuturku heran.
Aris tersenyum. “Aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba aku nyariin kamu. Sampai aku harus bertengkar dengan Tiara di malam pengantin kami. Ada apa sih, Lis? Kenapa kamu tengkar sama Andre lagi? Dan kenapa Andre malah nyuruh aku buat nyari kamu?”
Air mataku kembali meleleh. “Andre… Andre udah nikah lagi, Ris!”, tuturku sambil memeluk sahabatku itu.
“Apa? Andre nikah lagi? Kurang ajar! Teganya dia nglakuin ini sama kamu! Dasar laki-laki brengsek! Aku harus nemuin dia!”, kata Aris emosi seraya melepaskan pelukanku.
“Ris, tunggu! Ini bukan salah Andre. Tapi… Aku yang salah. Aku yang udah jahat sama dia. Aku yang udah nyakitin dia, Ris…”
“Apa maksud kamu?”, tanya Aris penasaran.
“Semua ini karena aku nggak pernah mencintai dia”
Aris semakin penasaran. Dia melangkahkan kakinya mendekatiku. “Kamu nggak cinta sama Andre… Kamu bohong kan? Mana mungkin kamu nggak mencintai dia. Kamu istrinya. Dan kalian udah punya Angel”
“Kami emang nikah. Tapi aku nggak pernah cinta sama dia”
“Lalu kenapa kamu nikah sama dia?”, kata Aris dengan nada emosi.
“Karena orang yang aku cintai ternyata sama sekali nggak cinta sama aku”
“Siapa?”, tanya Aris melemah.
Aku terisak. Mungkin saatnya aku mengatakan perasaanku pada Aris. Meski sangat terlambat, tapi setidaknya aku nggak akan terbebani.
“Kamu. Kamu orang yang selama ini aku cintai, Ris…”
Aris terkejut. Ekspresinya lemah seakan tak percaya dengan penuturanku.
“Nggak… Nggak mungkin aku orangnya!”, gumam Aris. “Kamu pasti becanda. Iya kan?”
“Aku serius, Ris! Aku emang cinta sama kamu. Dari dulu…”
“Lalu kenapa kamu memilih Andre?”
“Itu karena aku udah putus asa dengan perasaanku. Sebenernya aku jadian sama Andre cuma karena pengen tau gimana perasaan kamu ke aku. Aku kira kamu juga cinta sama aku. Aku berusaha bikin kamu cemburu. Tapi ternyata aku salah. Kamu nggak pernah suka sama aku. Apalagi cinta. Perasaan kamu ke aku hanya sebatas sahabat. Nggak lebih. Dan saat itu Andre melamarku. Aku nggak punya cukup alasan untuk menolak dia. Akhirnya aku terima untuk nikah sama dia. Aku kira dengan nikah sama dia, aku bisa ngelupain kamu. Tapi ternyata… Aku malah semakin kepikiran kamu. Aku selalu menuliskan semua perasaanku di buku. Hingga Andre mengetahui semuanya… Aku emang jahat! Udah tau cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi masih aja aku terus terlarut dalam cinta itu…”
Aris terdiam. Matanya berkaca-kaca mendengarkan ceritaku. Kemudian dia memelukku.
Aku terkejut kenapa Aris tiba-tiba memelukku? Dia membenamkan mukanya ke pundakku. Terisak. Aris menangis?

“Kamu kenapa, Ris?” tanyaku heran.
“Maafin aku, Lis! Maafin aku! Harusnya aku buang gengsi aku saat itu. Harusnya aku peka dengan perasaan kamu. Harusnya aku sampaikan ke kamu kalo sebenernya aku juga mencintai kamu!”
Bagai disambar petir disiang hari. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkan Aris. Dia mencintaiku. Yah! Ternyata selama ini cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Aris juga mencintaiku. Tapi tak ada gunanya sekarang. Dia telah menikah. Dan Tiara adalah wanita yang pantas untuk mendapatkan cinta Aris.
Aku melepaskan dekapan Aris. Berdiri dan meninggalkan dia. Namun tiba-tiba dia menarik tanganku.
“Jika kamu mau, aku bisa ceraikan Tiara. Kemudian kita menikah dan pergi jauh dari sini. Kita mulai hidup baru bersama-sama”, tutur Aris sambil menggenggam kedua tanganku.
Aku tersenyum. “Nggak, Ris… Aku nggak mau karena keegoisanku, aku melukai wanita lain.. Tiara gadis yang baik. Dia lebih pantas untuk kamu cintai. Hubungan kita bukanlah hal yang penting untuk dipersatukan”, kataku sambil berganti menggenggam tangan Aris.
“Pulanglah, Ris! Tiara pasti nungguin kamu. Jangan kecewakan dia, sepertihalnya aku mengecewakan Andre. Jangan ada lagi orang yang akan terluka karena cinta kita. Biarlah cinta ini jadi debu yang suatu saat akan terbang bersama angin. Aku bahagia bisa mencintai kamu. Tapi aku lebih bahagia melepas kamu bersama orang lain”, tuturku tegar.
“Tapi, Lis… Gimana sama kamu? Andre udah ninggalin kamu…”
“Aku percaya Tuhan punya rencana yang indah untuk hidupku. Aku bukan hanya kehilangan cinta kamu. Tapi juga cinta Andre. Tapi aku masih punya Angel. Malaikat kecilku… “

Kini 5 tahun telah berlalu. Kepiluan itu telah terkubur dalam oleh waktu. Aku kembali menjalani takdir Tuhan yang memang sudah terancang untuk kehidupanku.
“Mama… Makan yuk! Angel laper nih!”, kata gadis mungil bermata bulat. Angel. Putriku.
“Iya, papa juga laper! Pulang yuk!”
“Andre? Kok tau kalo kita disini?”, tanyaku sambil tersenyum.
“Tadi aku habis meeting sama klien di deket sini. Aku lihat mobil kamu. Ternyata bener, malaikat kecilnya papa lagi main-main sama bidadari papa”, kata Andre sambil mencubit hidungku.
Aku tersenyum.
“Papa… Mama… Ayo pulang… Angel laper nih!”, kata Angel tak sabar.
“Iya-iya sayang. Ayo kita pulang! Kita makan masakan mama yang paling enak di dunia”, kata Andre sambil menggandeng tangan Angel.
Aku mengikuti mereka di belakang.

Yah! Itulah rencana Tuhan. Setahun setelah peristiwa memilukan itu seorang wanita bernama Dina datang menemuiku. Dia menceritakan kalau selama menikah dengan Andre, dia sama sekali belum pernah mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Andre tak pernah menyentuhnya. Itu karena Andre begitu mencintaiku. Dina pun memutuskan untuk bercerai dengan Andre dan meminta Andre untuk kembali padaku.
Kami pun rujuk dan membina rumah tangga kami yang pernah hancur. Aku memutuskan untuk menutup usahaku dan menjadi ibu rumah tangga. Membesarkan Angel dan melayani suamiku. Hingga akhirnya Tuhan memberikan hidayahNya padaku. Aku bertemu Nana, teman lamaku. Dia yang mengenalkanku pada hijab dan membuatku memutuskan untuk mengenakannya.
Kini aku mulai menemukan cinta sejatiku. Cinta yang selama ini tak kusadari. Cinta Triple A. Alissa – Angel – Andre. Merekalah cintaku yang sebenarnya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Septi Aya MU
Facebook: Septi Aya Moment

Cerpen Cinta Triple A merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jendela Biru

Oleh:
Semua terasa berbeda. Pagi itu penuh sesak, penuh amarah, penuh aura negatif dalam pikiran Aura. Ya pagi itu pagi dimana embun sejuk berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan dada. Udara

Unfair (Part 1)

Oleh:
Entah kenapa Gue butuh keadilan di antara setiap lekuk kebahagiaan dalam hidup yang selalu terasa hampa dan tak pernah teradili. Semuanya terasa tak seimbang. Gue ngerasa jenuh akan semuanya,

Edelweis

Oleh:
Lagi-lagi aku harus meninggalkan pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam 09:25, aku

Satu Satunya Harapan Ayah

Oleh:
“Huahm… aduh sudah jam tujuh nih. Gak biasanya aku bangun jam segini. Untung hari ini hari minggu.” Ucap Diana sembari membereskan tempat tidurnya. “Eumzz… ini semua karena si jago

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *