Cinta Untuk Maura

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 18 December 2013

Maura dengan hati yang berbunga menatap sendu lelaki yang baru saja menikahinya. Sesekali ia membelai cincin yang melingkar di jarinya. Laki-laki itu mendekat padanya. “Sayangku, sekarang kau jadi bagian dalam hidupku. Bukan sebagian dari hidupku, tapi sepenuhnya akan ku berikan segalanya untukmu.”
Terlukis indah senyum di wajah Maura. “Aku tak tau harus mengatakan apa untuk menggambarkan kebahagiaan ini,” ujar Maura, “Boleh, aku menanyakan sesuatu padamu?” lanjutnya.
“Apa yang ingin kau tanyakan sayangku?”
“Bolehkah aku bebas meski telah bersuami?”
“Aku tidak melarangmu. Kau boleh melakukan apapun yang membuatmu senang,” pungkas suaminya.

Hari-hari berlalu. Pengantin muda yang sedang berbahagia itu telah menghabiskan banyak waktu berdua. Mereka mengukir kenangan yang mengesankan dalam hidupnya. Azzam, suami Maura. Tampak jelas terlihat ketulusan cintanya pada sang istri. Segalanya ia berikan pada Maura. Entah berbentuk materi atau pun lainnya. Waktu, tenaga, pikiran, segalanya.

Suatu ketika pergilah sang suami bekerja keluar kota dan meninggalkan sang istri yang saat itu sedang mengandung anak pertama mereka. Selama masa perantauan sang suami tak pernah lupa mengirimi surat untuk istrinya. Serupa seperti yang di lakukan sang suami. Si istri pun melakukan hal yang sama.

Waktu terus bergulir si buah hati pun hadir melengkapi kebahagiaan mereka.

Surat untuk Maura:

Kau tau sayangku? Apa yang membuatku lelah? Bukan… bukan pekerjaanku. Melainkan menahan rindu padamu dan buah hati kita.

Balasan untuk Azzam:

Apakah kau menduga aku lelah? Lelah merawat anak kita sendirian? Tidak… bukan itu yang membuatku lelah. Melainkan menanti kau kembali.

Dan Azzam mulai meneteskan airmata kerinduan. Hari-hari terasa panjang. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam. Dan seterusnya. Tak ada yang bisa menghentikan kesedihan itu. Di ambilnya secarik kertas kumal serta tinta hitam dari laci mejanya. Ditulisnya bait-bait kalimat, kenangan awal mula pertemuannya dengan sang istri.

Aku melihatmu lagi
Untuk kedua kali
Berlingkar sutra biru mengelilingi kepalamu
Kembali kau ajak memoriku mengingat
Pertemuan pertama kali

Kau punya senyuman termanis
Yang hanya aku bisa melihatnya
Yang kau persembahkan hanya untukku pula

Kau ajak aku rasakan apa yang kurasa
Dan kau perlihatkan padaku apa yang ingin ku lihat
Dan semua tentang hati…

Bait itu meredakan sedikit kesedihan yang ia rasa. Kembali laci mejanya terbuka. Secarik kertas kumal itu di remasnya. Lalu, dilempar ke dalam laci meja.

Pagi ini, ada kiriman surat dari Maura untuknya. Sebentar Azzam keluar dari persembunyian sekedar mengambil surat itu dari kotak pos.

Sayangku, berbulan-bulan aku menanti surat darimu. Apa kau lupa mengirimkan surat untukku? Atau suratmu menghilang saat di perjalanan menujuku? Aku hanya ingin membaca tulisan dari tanganmu? Aku sangat merindukanmu.

Setelah membaca surat dari Maura, binar di matanya pecah menjadi air yang mengalir pada kedua pipinya.

Lelaki itu merenung. Bukan tanpa alasan ia tak mengirim surat pada sang istri selama berbulan-bulan lamanya. Ia mengangkat kacamatanya sembari mengusap airmata yang mengganggu penglihatannya. Lelaki itu masuk kembali ke dalam rumah kemudian duduk dan membuka laci mejanya. Di ambilnya selembar kertas serta tinta.

Dulu, saat bertemu denganmu
Aku hanya bisa menyembunyikanmu di dalam hatiku.
Aku hanya bisa melihatmu secara utuh dari balik buku yang berdebu
Saat itu kau bersama lelaki lain.

Sekarang, kau telah jadi milikku.
Aku hanya bisa menyembunyikanmu sebagai kerinduaan di dalam hatiku.
Aku hanya bisa melihatmu secara utuh dari imajinasiku.
Saat ini pula, kau sedang bersama lelaki lain.

Pekerjaanku telah berakhir seminggu yang lalu.
Tapi, aku tak mungkin kembali sekarang.
Aku khawatir akan mengganggu kesenanganmu.

Selembar kertas itu diremasnya hingga jadi gumpalan. Lalu, dilempar ke dalam laci meja.

Waktu terus berjalan tanpa mau menunggu. Lagi-lagi Maura mengirim surat pada sang suami.

Tubuh ku mulai melemah sekarang. Terkadang untuk sekedar berdiri saja aku tak kuat. Kapan kau akan kembali menemuiku?. Aku ingin sekali menemuimu di sana. Tapi aku tak tau harus mencarimu kemana.

Maura kembali tak mendapat surat balasan dari sang suami. Untuk kesekian kalinya ia menitik kan airmata. Beban yang dipikulnya sangat berat. Terlebih ia merawat seorang anak sendirian.

Bertahun lamanya Azzam tak memberinya kabar berita. Diperantauan Azzam terus merenung dalam kesedihannya. Ia meratapi kesalahannya yang terlalu mencintai istrinya. Ia duduk pada tumpukan kertas yang lusuh. Diambilnya salah satu kertas lusuh tersebut. Kemudian ia menuliskan sesuatu yang menjadi keluh kesah hatinya pada kertas itu.

Biasanya kau tuliskan namaku dengan rapi di sudut kanan kertasmu.
Waktu itu, aku melihat nama itu seperti bukan milikku.
Awalnya aku coba berbaik sangka,
Namun jelas surat itu bukan untukku.
Aku menyesal memberikan kebebasan untukmu
Saat kau memintanya ketika hari pertama kita menikah

Aku menyesal!!!
Karena hal itu membuatku kehilanganmu.

Aku tidak menyalahkanmu.
Ini bukan salahmu.

Mau kah kau tau, Maura?
Ini semua salahanku.
Kesalahanku, karena terlalu mencintaimu
Hingga aku takut merenggut kebahagiaanmu.

Sebenarnya aku bisa dengan mudah menghentikan hubunganmu
Dengan lelaki itu karena aku adalah suamimu.
Tapi, aku tak akan melakukannya padamu.
Aku tak ingin kau menangis.
Aku tak rela melihatmu menangis, terlebih aku melihatnya dengan mataku sendiri.

Hal yang mengesankan, Maura.
Adalah aku pernah memilikimu dalam hidupku.
Merangkulmu, membelai pipimu, dan mendengarkan ceritamu
Sepanjang malam hampir di setiap hariku.

Azzam hanya memandang pada tulisan itu. kemudian ia berdiri dan membuka laci meja. lalu, kertas lusuh itu diremas dan dilemparnya ke dalam laci. Kemudian, ia kembali menghempaskan tubuhnya pada tumpukan kertas itu. kedua tangannya diletakan pada bagian belakang kepalanya. Tiba-tiba, Maura kembali pada memori ingatannya sebagai rindu. Airmatanya pelan-pelan menitik. Masa muda kembali menghias benaknya. Perjuangan untuk mendapatkan cinta Maura kembali mengusik lamunnya. Tempat-tempat yang mereka lalui bersama, kembali menjadi kenangan manis dalam pikirnya.

Tiba-tiba seseorang mengetuk keras pintu rumahnya. Ia mengangkat gagang kacamatanya sembari mengusap airmata. Kemudian, ia melangkah menuju pintu.
“Sebentar,” ujar Azzam dari dalam rumah.
Setelah pintu terbuka. Langsung saja orang yang mengetuk pintu rumahnya memeluk erat tubuhnya. Orang itu tak lain adalah istrinya. Perempuan itu menangis terisak sembari memukul-mukul tubuh suaminya.
“Kau jahat!!! Kau tega!!! Kau meninggalkan kami!!!” ujar Maura dengan gendongan di tubuhnya.
“Maafkan aku. Maafkan kejahatanku. Maafkan ketegaanku yang meninggalkan kalian,” sahut Azzam sembari mengusap airmata istrinya.
“Apa kau melupakanku? Apa kau melupakan anakmu? Apa kami masih ada diingatanmu?”
“Kalian tidak ada diingatanku.”
Maura terdiam.
“Kalian tidak ada disini,” ujarnya sembari menunjuk kepalanya, “Kalian disini, di dalamnya. Kalian tak akan pernah menghilang dari sini,” lanjutnya dengan tangan menepuk dada.
“Kenapa kau meninggalkanku?” Istrinya bertanya dengan tatapan tajam.
“Bolehkah aku bertanya sebelum menjawab pertanyaanmu?” timpal Azzam balik bertanya.
“Tanyakan saja?”
“Surat ke-8 yang kau kirim!!! Pada siapa surat itu kau tujukan? Sepertinya itu bukan untukku?”
“Perlihatkan surat itu padaku!” pinta Maura.
Kemudian, Azzam masuk ke dalam mengambil surat tersebut.
“Ini,” ujar Azzam sembari menyodorkan surat.
“Ini surat untuk Paman Sam!!! Aku menaruh kata sayang di dalam surat ini. Sekedar ungkapan terima kasih karena ia telah menolongku. Lalu, agar kau tak salah paham aku membuat 2 surat. Untukmu dan untuk dikirim ke Paman Sam,” aku Maura, “Tapi aku tak sempat menjelaskan padamu tentang ini.”
“Surat ini yang membuatku bertahun-tahun tersiksa, surat ini pula yang membuatku mengabaikan kalian.”
“Mengapa kau tak bertanya padaku?”
“Aku khawatir akan mengganggu kebahagiaanmu.”
“Kau pikir aku bahagia disana!!!” ujar Maura kembali memukul suaminya, “Kau tau!!! Aku tak bisa makan dengan nikmat, tak bisa tidur dengan nyenyak. Karena kau!!! Karena memikirkanmu hampir sepanjang waktu!!! Itu yang kau sebut bahagia?”
“Maafkan aku… maafkan aku,” sahut Azzam sembari menghalau pukulan istrinya, “Kesalahpahaman ini membuat kita seperti orang bodoh saja,” tukasnya kemudian memeluk paksa Maura yang sedang memukulnya.
“Kau yang bodoh,” sahut Maura yang menangis dalam pelukannya.
“Aku yang bodoh. Iya, kau benar aku yang bodoh!!! Maafkan aku… sungguh maafkan aku. Aku tak akan mengulangi ini lagi. Ini salahku yang berprasangka buruk padamu. Aku mohon, maafkan aku,” pinta Azzam sembari mengusap airmata istrinya.
“Lihatlah anak kita,” ujar Maura menunjuk ke arah putri kecilnya, “Ia jadi korban kepicikan hatimu.”
Kemudian Azzam menghampiri putri kecilnya lalu memeluk erat tubuh mungil itu.
“Maafkan Ayah, Nak!!!” ujar Azzam dengan beberapa kecupan untuk putrinya, “Ayah terlalu mencintai Ibumu hingga jadi buta seperti ini. Maafkan kebodohan Ayahmu ini, Nak!!!” ujarnya sembari mempererat pelukannya.
Maura melangkah menuju Azzam dan putrinya. Kemudian ia memeluk keluarga kecilnya.

Kesalahpahaman berakhir sudah. Akhirnya, mereka kembali ke kampung halaman bersama dengan perasaan yang bahagia.

Cerpen Karangan: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Facebook: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Twitter: @Fahrialjauvan

Cerpen Cinta Untuk Maura merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Temuilah, Hanya Untuk Bertemu

Oleh:
“Kamu dari mana?” “Dari sana, bu.” “Dari mana Nak? Ibu tidak pernah mengajari kamu berbohong.” “Hm, aku dari rumah Ayah.” Suasana menjadi hening. Sebelum akhirnya ibu menunduk dan terisak.

Mutiara Air Mata

Oleh:
“Hidup bukan untuk disia-siakan. Hidup itu untuk diperjuangkan. Sesulit apa pun Tuhan memberikan ujian, maka jalanilah dengan tegar. Jika kamu sudah tidak mampu, maka berdoalah dan minta pertolongan pada

Nasi dan Ayam

Oleh:
Nasi dan ayam, makanan favoritku. Tidak ada yang bisa mengalahkan betapa enaknya ayam goreng yang berkulit gurih dengan nasi hangat yang tersedia setengah bundar di atas piring putih bermotif

Halaman Baru Yang Meliputi Hujan

Oleh:
Matahari kian meninggi. Tidak terasa hari sudah beranjak, sekarang pukul 07:00 WIB membantu banyak pekerja di bumi yang semakin meningkat. Di antara ribuan serta milyaran orang yang memiliki masalah,

Kebaikan Cinta Rp.1000,-

Oleh:
Semburat cahaya di petang hari ini mulai merasuki sela-sela dinding rumah Aya. Aya yang saat itu sedang duduk di tempat makan menunggu kedatangan kakak tunggalnya, Imran itulah namanya. “Bang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *