Cinta Yang Lebih Besar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 11 November 2016

Mataku menatap lesu ke arah luar jendela kamar, memandangi dedaunan yang menunduk tertimpa setetes demi setetes air hujan. Petir saling sahut menyahut bergemuruh di langit, tidak ada panas menyengat membakar kulit di pukul 11 siang ini.

Berkali-kali yang kulakukan hanya menghela nafas panjang, membuat kaca jendela di depanku mengembun. Berkali-kali pula aku hanya menempelkan pipiku ke kaca jendela, menikmati dingin yang menggelitiki manja permukaan kulitku.

Bayangan Ayahku tiba-tiba saja tergambar jelas di atas langit yang mendung.

“Aku merindukanmu, Ayah”

Untuk kesekian kalinya, aku terlalu lemah untuk menahan tangis, airmata selalu saja menang melawan aku yang mencoba menjadi kuat.

“Aku rindu, aku merindukanmu, kumohon pulang, atau sekedar memberiku kabar, kumohon”

Kubenamkan wajah di antara himpitan lututku, memeluk erat kedua kakiku.
Aku terus bergumam di antara tangis tertahanku, aku tidak ingin ibu mendengar.

Iya, aku sudah kembali ke rumah.

“Ayah, bahu dan punggungku sakit, aku terlalu lama duduk di kampus hari ini”
“Coba sini biar Ayah pijat, pakai kayu putih aja yah, kalau pakai balsem kepanasan. Memangnya seharian duduk aja di kampus?”
“Iya, uh pegal”
“Kenapa enggak coba selonjoran gitu, piknik di kampus, gelar tikar sambil ngerumpi”
“Hahaha”

Ponselku berbunyi dengan nada dering suaraku yang sedang bernyanyi.

“Astaga”

Aku terperanjat. Mataku berkunang-kunang, kepalaku terasa berat. Aku tertidur, dengan kepala masih terbenam di antara lutut, menimbulkan bekas merah di pipi. Aku tersenyum ringan, kasih sayangnya terasa amat nyata di dalam mimpiku.

Ponselku terus saja meraung-raung memperdengarkan suara sumbangku. Ada seseorang menelponku.

“Apaan sih? Ganggu aja” Aku mengomel, memarahi seseorang yang sudah mengganggu tidurku.
Fajar menjawab tidak kalah sengit mengomeliku dari balik telepon.
“Iya, aku ketiduran, lagian hujan juga kan. Baiklah, aku berangkat sekarang. Hujannya juga sudah reda” Kumatikan sepihak teleponnya, dan bergegas menuju kamar mandi.

Aku berjalan kaki menuju gerbang komplek, jalanan yang sedikit becek memaksaku berjalan dengan berjinjit. Aku melihat seseorang mengenakan jaket berwarna biru dongker sedang duduk di atas motor maticnya, tertunduk memainkan sebuah ponsel di tangannya.

“Wah, tuan putriku sudah datang. Luar biasa sekali ya, hamba menunggu sampai satu jam lebih disini” Dia berbicara dengan logat yang aneh, sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Maafin aku, aku ketiduran” Aku menjawab dan memasang ekspresi memelasku dengan sedikit memajukan bibir.
“Jangan memasang wajah seperti itu dong. Tolong tuan putri, bantu hamba menguatkan iman di diri hamba”

Aku semakin bersemangat meledeknya. Kupasang maksimal ekspresi memelasku dengan bibir yang kumanyunkan dengan sempurna.

“Baiklah. Kamu enggak salah. Aku yang salah. Aku saja yang terlalu cepat sampainya” Dia akhirnya mengalah.
Aku tersenyum penuh kemenangan.
“Aw” Aku memekik kesakitan. Fajar dengan iseng mencubit bibirku yang sedang tersenyum.
“Jangan kebanyakan senyum. Nanti imanku amburadul” Ucapnya seraya menyerahkan sebuah pelindung kepala berwarna pink yang khusus dia beli untukku.

Aku menaiki motor maticnya, memeluk mesra pinggang seseorang yang sudah resmi menjadi kekasihku. Seperti biasa, kebiasaanku ketika dibonceng di atas motor, pandanganku selalu jelalatan ke kiri dan ke kanan, dengan iseng menghitung warna cat apa saja yang paling banyak dipakai oleh rumah-rumah.

Aku mempererat pelukkanku di pinggangnya, dengan menyandarkan daguku di bahu sebelah kanannya.

“Faj.. Aku cinta kamu”
“Apa? Aku enggak denger”
“Aku cinta kamu”
“Apa sih?”
“Itu lihat, ada daun warnanya hijau” Jawabnyaku kesal dengan mencubit pahanya.
“Haha ampun.. Aku cinta sama kamu, emm.. kalau bisa dikatakan cinta aku lebih besar dari kata cinta itu sendiri”
Aku tersenyum, lalu mengecup pelan bahunya.

Cerpen Karangan: Ana Raj
Blog: belajarbercerita.tumblr.com

Cerpen Cinta Yang Lebih Besar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibuku Tercinta

Oleh:
Jantungku berdetak lebih kencang, keringat dinginku bercucuran, air mataku tak henti hentinya mengalir. Aku merangkul lututku dengan kepala menunduk. Setega inikah orangtuaku? Apa mereka tak memikirkanku? Ah suara ayahku

Mengarang Tapi Tak Jadi Pengarang

Oleh:
Maafkan aku, Kek. Ayahku belum sempat membaca tulisanmu atau bahkan membaca nasihat darimu yang kau tulis untukknya 54 tahun yang lalu. Dia bahkan tak pernah membuka buku harianmu yang

Satu Opini Untuk Tuhan

Oleh:
Semilir angin menerpa wajahku membuat berantakan tiap helai rambutku, terus-menerus aku gerakkan pena kesayanganku mengisi tiap-tiap lembar kosong dengan imajinasiku. Aku Cindy anak dari seorang petani di desa seberang,

Mimpi Yang Tak Terduga

Oleh:
Sepintas angin lalu, namanya sering terngiang di telingaku, wajahnya sudah tak asing lagi di tiap pandanganku, seorang lelaki tampan yang selalu bergaya maskulin itu, sungguh dapat menjerat hatiku, senyumnya

Blackforest Untuk Bunda

Oleh:
“Bunda berangkat ya nak!” seru Bunda. “Iya Bunda! Hati-hati di jalan, ya!” seru Ara dan Hanny. Pagi itu, Bunda Ara dan Hanny pergi ke keluar kota. Tepatnya Jakarta. Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *