Cinta Yang Tak Akan Tercapai

Cerpen Karangan: ,
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

Aku yang terburu-buru pulang langsung membuka pintu rumahku dan melihat sepatu adikku di rak. Aku pun berjalan ke ruang tamu tetapi tidak ada tanda bahwa adikku di situ. Lalu, aku pun beranjak ke kamar adikku dan melihatnya bersimbah darah dan memegang pisau di tangan kanannya. Aku panik dan pergi ke sisi adikku. ‘Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apakah aku harus menelepon ibu dulu atau rumah sakit dulu?’ pikirku. Setelah melihat kondisi adikku yang semakin pucat, aku pun memutuskan menelepon rumah sakit. Setelah beberapa saat, ambulans datang dan mengangkut adikku. Si perawat bertanya, ‘Apakah aku keluarganya’, aku mengangguk dan mereka menyuruhku masuk ke ambulans. Di ambulans, aku melihat infus di tangannya dan masker oksigen di hidungnya, aku pun berpikir ‘seandainya aku menyadari sebelumnya’.

Beberapa hari sebelumnya. Aku, Sealys, dan Dara yang merupakan adikku selalu menghabiskan waktu bersama sejak kecil. Bermain boneka bersama dan main petak umpet bersama, semua itu kita lalui. Orangtua kami sibuk bekerja di luar kota dan mereka jarang di rumah, jadi kita hanya saling memiliki di rumah ini dan saling menjaga diri kami sendiri. Hari ini adalah hari kenaikan kelas buatku dan aku menjadi senior di SMP-ku serta adikku menjadi sophomore* di sekolahku. Aku pun bangun dan pergi ke ruang tamu menemukan ibu dan adikku Bella.

“Besok Mama ke luar kota lagi sayang, jadi jaga rumah ya?” ucap mama sembari mengemas pakaian untuk besok.
“Lagi-lagi ke luar kota, kapan Mama ada waktu buatku?” cetusku.
“Ya mau gimana lagi sayang, kan ini udah jadi tugas mama. Jadi apa pun resikonya ya harus Mama terima, Mama harus professional dalam bekerja,” pungkas mama.

Siang itu aku memutuskan hangout bersama Bella. Kami hangout seperti biasanya, jalan-jalan, nonton film di bioskop dan yang terakhir adalah bagian favorit kami, yaitu membeli es krim di kedai es krim langganan kami. Rainbow Ice Cream, begitulah nama kedai es krim langganan kami. Seperti biasa aku memesan fruity pancake ice cream.

“Bel, kamu jadi pesan apa?”
“Aku pesan ehm.. ehm.. enaknya pesan apa ya, Kak Sel?” tanya Bella. Huft kebiasaan Bella dari dulu sampai sekarang tidak pernah hilang, kalau disuruh memilih paling lama, selalu dipikir-pikir dulu keuntungan atau ruginya. Akhirnya Bella ku pesankan es krim yang sama denganku.

“Kak Sel, lihat tuh ada Kak Danial, ihh kerennya,” ucap Bella tiba-tiba.
“Mana, Bel?” tanyaku.
“Itu yang sedang memesan es krim,”
“Oh Danial toh,” ungkapku datar.
“Kok cuma gitu responmu, Kak Sel?”
“Ya terus harus gimana Bell, harus nyengir kuda atau saltokah?”
“Ya nggak gitu juga kali, Kak,” seketika wajah Bella langsung jutek.

Mata Bella tak henti-hentinya memandangi Danial yang berjalan ke arah kami. Aku pun berpura-pura tidak menyukai Danial di dekat adikku. Aku tahu selama ini adikku menyukai Danial yang walaupun dia satu angkatan denganku. Aku pun merelakan perasaan sukaku kepada Danial dan mencoba untuk mengalihkan pandanganku darinya. Dia pun mendekati kami.

“Hai Sel, hai Bel,” dia menyapa kami dan kami menyapa balik.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Danial. Refleks, aku pun mengangguk. Danial yang dari memulai obrolan dengan pemain basket NY, Carmelo Anthony hingga penyanyi Legendaris, Michael Jackson. Danial merupakan pemain inti dalam tim basket sekolah kami. “Eh girls, minggu depan ada pertandingan basket di GOR Garuda. Tidakkah kalian menyaksikan pertandingan?” tanya Danial.
“Kapan?” ucapku dan Bella bersamaan.
“Lusa,” jawab Danial singkat.

“Ma, besok ada pertandingan basket antar SMP se-Kabupaten di GOR Garuda. Sealys nonton ya Ma?” begitulah pintaku pada mama. Namun, mama tak kunjung menjawabnya. “Ma? Mengapa tidak menjawab?” tanyaku.
“Mama nggak mau hal yang terjadi pada kakakmu terulang lagi,” jawab mama singkat. Ternyata mama belum bisa melupakan kejadian tragis yang menimpa Kak Tyan.

Waktu itu seusai bermain di pertandingan basket melawan SMP Nusa Jaya, kak Tyan berjalan menuju bangku penonton untuk beristirahat. Akan tetapi naas, bola basket yang out malah mengenai kak Tyan. Seketika kak Tyan langsung pingsan dan selang beberapa hari dirawat di rumah sakit. Ternyata bukan karena terkena bola saja tetapi kak Tyan memang mengidap tumor otak sejak lama yang cukup lama tidak diketahui. Akan tetapi mama selalu bermindset bahwa kak Tyan meninggal gara-gara terkena bola basket.
Esok harinya, aku dan Bella tak jadi menonton pertandingan basket. Ya, sebagai anak yang baik, kami harus mentaati kemauan mama. Jika mama berkata tidak, ya tidak boleh dilakukan. Terkadang aku sempat merasa sedih ketika Bella dibully oleh teman-temannya. Bella dibully karena sering tidak diperbolehkan melakukan hal ini itu. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa Bella anak manja. Apalagi saat kami tidak diperbolehkan menonton pertandingan basket, teman-teman Bella langsung bertindak membully Bella.

“Bel, nanti kamu nonton pertandingan basket kan?” tanya Erin. Erin merupakan ketua dari geng wow di sekolah kami.
“Emm.. nggak boleh sama Mama Rin,” jawab Bella sembari menunduk.
“Astaga!! Emang ya Bel, kamu itu sedikit-sedikit nggak boleh, sedikit-sedikit kata Mamalah apa lah. Kamu itu masih TK ya kok mau-maunya ini itu dilarang tapi diem aja,” bentak Erin. Aku yang awalnya mau lewat ku urungkan niatku, berbalik arah dan bersembunyi mengintip apa yang dilakukan Erin terhadap Bella. Awalnya Erin hanya mengolok hingga membentak Bella. Tetapi saat Erin menjambak Bella, aku tidak terima.

“Eh kamu apa-apaan Rin main jambak rambut orang seenaknya ha!” Seketika Erin berhenti menjambak Bella.
“Eh ada kakaknya Bella tersayang, emang masalah ya kalau aku berbuat seperti ini? Toh kamu juga tidak suka dengan Bella kan meskipun kalian saudara?” ucap Erin. Bella pun tertegun seketika setelah mendengar kata-kata Erin, sementara Erin menghilang dari kami.
“Kak Sel, apakah benar yang diucapkan Erin tadi?” tanya Bella.
“Em.. em.. itu ya? enggak kok, kakak sayang sama kamu..” Memang awalnya aku seperti itu, tapi lama-kelamaan melihat kamu dibully seperti ini oleh teman-temanmu, rasa respect-ku terhadapmu bertambah Bel, malah berubah menjadi rasa sayang.

Bella pun berlalu meninggalkanku seperti perbuatan Erin tadi yang tiba-tiba menghilang. Akan tetapi Bella berlalu dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya. Awalnya ku biarkan Bella berlalu tetapi aku khawatir akan kondisinya. Benar dugaanku, Bella masih saja menangis dan ternyata disertai sesak napas, segera ku bopong Bella menuju UKS. Sudah berminggu minggu kami bermain bersama, dan ini seperti kegiatan rutin kami bertiga. Aku melihat Bella semakin murung, dan ketika aku tanya, dia hanya menjawab bahwa dia tidak apa apa dengan nada marah. Danial pun izin pulang karena ada acara keluarga. Kami pun mengangguk dan akhirnya dia pergi. Di sana kami hanya duduk dan aku pun melirik ke arah Bella yang muka marahnya tidak kunjung usai. Aku pun memutuskan bahwa sikap marahnya harus ku hentikan sebelum dia meledak.

“Bel, kamu kenapa? Dari tadi marah terus, kalau aku punya salah ngomong aja,”
“Gak ada apa-apa,”
“Kamu ini kenapa? Dari dulu sampai sekarang kayak anak kecil, gak berubah-ubah,” dia pun akhirnya meledak setelah aku mengatakan itu.
“Kau ingin tahu sebenarnya?! Baiklah akan ku beritahu, sejak dulu kau bermain terus sama Danial, kalian berdua tidak pernah memperhatikan aku,”
Aku melihat adikku mulai ada air mata yang akan menetes tetapi dia tidak membiarkannya menetes.

“Aku tidak sepertimu yang punya teman dan ayah dan ibu pun rela tidak bekerja hanya untukmu bahkan mereka tidak pernah bermain denganku sejak kecil,” Setetes demi setetes air mata pun mulai menetes di pipinya. “Aku … di mata mereka … Bukanlah apa-apa … Bahkan … Danial pun–,” lanjut Bella.
Aku pun melihat adikku menangis dan air matanya terus mengalir tetapi aku melihat dia bernapas tidak seperti biasanya. “Bel, tenanglah,” tetapi napasnya bertambah tidak karuan. Aku pun panik dan menelepon ambulans dan setelah itu, aku mencoba menenangkan Bella sampai ambulans datang.

Di rumah sakit, aku menelepon mama sambil menunggu dokter dari ruang emergency. Sesaat kemudian, mama pun datang dan melihatku duduk terdiam di depan ruang UGD. Tak sepatah kata pun terucap di antara kami berdua. Saat dokter ke luar, dia ingin bicara berdua dengan ibu. Mereka pun agak menjauh dariku. Lalu tiba-tiba ibu mengeluarkan ekspresi syok dan dokter pun berbicara terus tanpa henti dan ibuku pun hanya terdiam mendengarkan kata dokter. Sesaat setelah berbicara dengan mama, dia pun meninggalkannya. Mama menghampiriku dan melihatku dengan ekspresi marah. Dia menamparku dan aku pun syok melihat mama yang tiba tiba saja menamparku.

“Lihat apa yang kau lakukan Sel! Dia hampir mati karenamu, dokter tadi berkata bahwa dia hampir kehilangan nyawa apabila kau tidak sampai menelepon tepat waktu, apa kau tidak tahu dia sakit, lupakan saja, aku bahkan tidak ingin melihatmu sekarang,” mama pun meninggalkanku dan melihat adikku dari balik pintu. Aku pun berlari ke luar dengan air mata yang terus berjatuhan dari mataku. Aku pun berpikir mungkin ini semua tidak akan terjadi bila aku tidak suka sama Danial.

2 minggu berlalu.
Mamaku dengan membopong Bella memberitahuku bahwa Bella terdiagnosa gagal jantung. Aku pun syok ketika mama bilang begitu tanpa melihatku. Aku pun menyesal dan menundukkan kepala dan mama pun meninggalkanku. Kini, hari-hariku terasa sepi tanpa adik dan teman yang dulu selalu ada buatku. Aku menjauh dari Danial agar Bella tidak kesal terhadapku. Akan tetapi, Bella juga menjauhiku. Selain itu mama, papa dan keluarga besarku lebih menyayangi Bella daripada aku, apalagi setelah mengetahui Bella mengidap gagal jantung. Ku perhatikan, akhir-akhir ini Danial dan Bella terlihat akrab kembali. Malah lebih akrab dari sebelumnya. Danial juga sering ke rumah untuk bermain, mengerjakan tugas, ataupun hanya mengunjungi Bella.

“Halo Dan, apa kabar? Nunggu Bella ya? Dia masih mandi tuh,” sapaku pada Danial yang duduk di ruang tamu.
“Eh Sealys, iya nih. Oh gitu ya? Ya udah gak apa-apa aku tunggu,” jawab Danial.
“Ngomong-ngomong kalian mau ngapain nih?”
“Mau ngerjakan fisika kok Sel, Bella minta aku untuk mengajarinya,” ucap Danial.
“Wah kalian makin akrab aja ya?” sindirku.
“Aduh nggak kok Sel, sama aja seperti kita dulu,” pungkas Danial malu-malu.
“Udahlah Dan, aku kira Bella ada rasa sama kamu sehingga ia tidak bertindak seperti biasanya, sekarang ia mulai bersikap agak dewasa dibanding biasanya,” jelasku.

“Apa benar Sel?” tanya Danial kaget.
“Iya Dan!”
“Tapi.. tapi.. aku hanya menganggap Bella seperti adikku sendiri Seal,” ucap Danial polos.
“Apa? Tega-teganya kamu Dan!”
“Maaf Sel, tapi jujur aku memang menganggap Bella itu seperti saudariku sendiri tidak lebih. Kalau boleh jujur lagi, aku menyukaimu dari dulu Seal,”
“Cukup dan cukup, kamu tahu nggak, Bella itu mengidap gagal jantung. Lantas bagaimana kalau Bella sampai tahu hal ini?” bentakku.
“Tahu apa Kak Sel?” tanya Bella yang tiba-tiba muncul disela-sela pembicaraan kami.
“Ehm anu Bel, tau kalau kamu itu cantik dan bersikap lebih dewasa dari sebelumnya serta reaksi dari Danial seperti apa hehe,” ujarku mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh gitu ya, jangan gitu dong kak Sel, aku jadi malu,”
“Ya udah kalian belajar dulu aja deh aku mau nyelesaikan laporan Biologi-ku,” Setelah itu ku tinggal mereka berdua ke atas.

Entah mengapa Danial tega mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingin Bella terluka, ia sudah cukup berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa untuk Danial. Aku berjanji akan melindungi perasaan Bella terhadap Danial dan aku akan menjauh dari Danial. Ya memang aku dan Danial saling suka, tetapi perasaanku harus ku bunuh sebelum Bella terluka. “Sel! Nanti siang kamu,” ucap Danial. Tak ku hiraukan sapaan dan ucapannya itu, aku berusaha menghindar darinya. Tak hanya sapaan Danial tadi pagi saja yang tak ku hiraukan, tetapi juga sapaan-sapaan Danial yang lainnya. Entah bagaimana Danial menilaiku saat ini, aku tidak peduli lagi.

Kak Sealys akhir-akhir ini berubah tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu, meski tidak akrab lagi dengan kak Danial, kak Seal tetap bersikap biasa. Tetapi untuk kali ini, kak Sealys seolah-olah menghindar dari kak Danial. Entah apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Mungkinkah kak Sealys mengetahui jika aku suka pada kak Danial? Tetapi aku harus bagaimana? Jika seperti ini, aku tidak tega terhadap kak Seal. Lebih baik aku yang mengalah. Aku tidak mau kakakku menjadi tidak seceria seperti dahulu. Lebih baik kehilangan orang yang aku suka daripada harus kehilangan saudariku. Toh orang yang aku suka juga belum tentu suka kepadaku. Aku akan berusaha mengembalikkan mereka seperti sedia kala dan membunuh perasaanku terhadap kak Danial. Meskipun aku tersiksa, tapi tidak apa-apa demi kak Sealys.

“Kak Sel nanti sore ada tugas atau acara nggak?” tanyaku pada kak Sealys.
“Aduh nggak tahu ya Bel, kalau ada tugas mendadak dan harus dikumpulkan besok ya jadi ada acara deh. Emang kenapa sih Bel?”
“Kak ayoo beli es krim di kedai yang biasanya, aku pengen es krim nih,” pintaku.
“Aduh Bel nanti ya kalau kakak bener-bener gak ada tugas kita beli es krim, kak Seal janji,” ujar kak Sealys.
“Huh kak Sel, please.. aku pengen es krim hari ini,” rengekku pada kak Sealys dengan memasang muka yang memelas.
“Ya udah Bella sayang, nanti sore kakak antar kamu beli es krim,”

Yes, kak Sealys udah setuju akan mengantarku ke kedai es krim yang dulu sering kami kunjungi, bahkan tempat pertama bertemu kak Danial di luar sekolah. Sekarang tinggal membujuk kak Danial agar nanti sore juga ke kedai es krim itu. Tetapi kak Danial sangat sulit untuk diajak ke luar jika tidak mengerjakan tugas. Tapi akan ku coba demi kak Sealyas dan Kak Danial bersatu kembali.

“Halo kak Danial, nanti sore bisa nggak temeni aku di kedai es krim biasanya?”
“Ehmm.. gimana ya Bel, emang kamu nggak ada tugas buat besok?” tanya kak Danial.
“Enggak kak, please kak aku gak punya temen selain kak Dani, jadi bisa ya kak?”
“Ya udah deh Bel, aku usahakan nanti datang,”
“Yeay, makasih kak Dani,”

Sorenya aku berangkat dengan kak Sealys. Sampai di sana bukan malah langsung memesan es krim malah aku pergi ke toilet. Sengaja aku melakukan hal itu agar kak Danial dan kak Sealys seolah-olah bertemu secara kebetulan. Selang 5 menit, rencanaku berhasil. Kak Danial yang baru datang langsung celingukan seperti mencari seseorang.

“Halo Sel..,” sapa Danial.
“Eh Dani, halo juga,” sapa balik kak Sealys cuek.
“Aku boleh duduk di sini nggak?” Danial pun mengangguk dan aku pun mulai duduk di sebelahnya.
Kita saling duduk tanpa memulai pembicaraan satu pun. Danial yang terlihat ingin memulai pembicaraan denganku mengurungkan niatnya.
“Kamu ke sini untuk apa, Dan?”
“Bella ingin aku menemaninya ke sini, kamu nggak diberitahu?”
Aku pun menggelengkan kepala.

Bukannya dia bilang hanya ingin berdua denganku? jangan-jangan .. dia merencanakan ini karena dia merencanakan ini. Aku yang ingin memastikan kecurigaanku pun langsung pamit ke Danial. Aku langsung pulang dan saat sampai, langsung membuka pintu rumahku dan melihat sepatu adikku di rak. Aku pun berjalan ke ruang tamu tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa adikku di situ. Lalu,Aku pun beranjak ke kamar adikku dan melihat tangan kanan adikku mengeluarkan darah yang sangat banyak dan memegang pisau di tangan kanannya.

Aku panik dan pergi ke sisi adikku. ‘Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apakah aku harus menelepon ibu dulu atau rumah sakit dulu?’ pikirku. Di sebelah tubuhnya terbaring catatan yang hanya berisi kalimat singkat dan menyayat hatiku semoga kau bahagia bersamanya. Setelah melihat kondisi adikku yang semakin pucat, aku pun memutuskan menelepon rumah sakit. Setelah beberapa saat, ambulans datang dan mengangkut adikku. Si perawat bertanya, ‘Apakah aku keluarganya,’ aku mengangguk dan mereka menyuruhku masuk ke ambulans. Di ambulans, aku melihat infus di tangannya dan masker oksigen di hidungnya, aku pun berpikir ‘Seandainya aku menyadari sebelumnya, ini tidak akan terjadi.’

Di ambulans, aku menggenggam tangan adikku dan berharap adikku selamat. Saat sampai, dia dirawat di ICU dan aku menunggu selama 3 jam lamanya dan ibu ku pun tidak bisa datang karena dia harus ke luar kota selama seminggu. Saat dokter ke luar, dia hanya mengucapkan sepatah kata yang sungguh menyayat hatiku. Aku minta maaf dan langsung meninggalkan aku. Aku pun menangis tanpa henti pada saat itu di rumah sakit. Hari demi hari berlalu, aku pun mengingat hari dimana kita selalu bersama saat bermain di taman sama Danial. Orangtuaku pun akhirnya memutuskan ke luar dari pekerjaan dan akhirnya membuat toko kue dimana kita selalu bersama. Danial dan aku pun jadian. Kita selalu mengunjungi kuburan adikku bersama. Suatu hari pada saat aku membersihkan kamar adikku, aku pun menemukan puisi adikku yang dia buat saat masih SD.

“Kakak
Kaulah bintang kejoraku
Yang tertawa, menangis, berjalan
Dan tak henti berkelip
Dalam langit hidupku”

Aku pun menangis setiap aku membaca puisi adikku. Walaupun kita selalu berantem bareng, kita selalu menyayangi satu sama lain

Cerpen Karangan: Maybella Damayanti, Satriyo Soegianto
Facebook: Satriyo Soegianto
Saya Satriyo dan karya yang saya kirimkan di sini adalah karya hasil dari saya dengan teman saya Bella.

Cerpen Cinta Yang Tak Akan Tercapai merupakan cerita pendek karangan , , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Lingkungan Alam

Oleh:
Suatu hari, di suatu sekolah menengah atas yang bernama SMA Negeri 1 Kateman akan segera mengadakan penghijauan, menanam pohon di sekitar halaman sekolah yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Andi,

Aku (Bukan) Orang Gila

Oleh:
Hijau itu membuat daun jambu yang melambai padaku terasa menyegarkan. angin yang berhembus di antara ruas ruas rambut sebahuku terasa bisu. aku hanya dapat merasakan rumput yang membelai lembut

Love Hour (Part 3)

Oleh:
“Tiga, dua, satu!” Agung memberi aba-aba dan tepat setelah jingle radio ini berakhir, suaraku pun mengudara. “Selamat malam, best pals! Kembali lagi di gelarannya Love Hour dan kali ini

Tempat Camping

Oleh:
“Kaylaaa…” teriak pacarnya Naufal, dan langsung duduk di sebelah Kayla dan menoyor kepala Kayla. “ishh, kebiasaan banget. kepala gue udah difitrah.” “biarin aja hahaha.. lo beli apa Kay?” tanya

Ditembak Balik Nembak

Oleh:
Pukul 6.45 WIB. Segera ku bergegas untuk berangkat sekolah. Seperti biasa, aku berangkat diantar ayah. Di perjalanan terselip rasa takut. Takut karena terlamat dan mendapat hukuman dari guru. Perasaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *