Cinta Yang Tak Terlupakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Cahaya yang terbentang di ufuk barat perlahan-lahan menghilang menyisakan rembulan, sang malam pun mulai menciptakan kesunyian namun Intan masih duduk dalam bayang-bayang dedaunan pohon yang berdiri kokoh di depan rumahnya. Ia mencari sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia mengerti. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 22.00 WITA sudah sangat lama ia duduk di sana tapi belum juga menemukan jawaban, ia pun beranjak dari tempat duduknya.

Sinar mentari mulai menembus ruas-ruas jendela kamar Intan membuat ia membuka matanya, ia menyusuri setiap sudut ruangan berharap ada seseorang tapi ia tidak menemukan siapa pun. Intan kembali berbaring di tempat tidurnya bukannya ia seorang pemalas ia hanya merindukan pelukan hangat dari ibunya. Lagu Iwan Fals dengan judul IBU bergema di ruangan kamarnya membuat kedua bola mata indahnya meneteskan air mata. Jauh di lubuk hatinya ia merindukan sosok ibunya. Ia membayangkan wajah ibunya yang redup sayu. Semenjak perceraian kedua orangtuanya ia tidak pernah akur dengan ibunya, menurutnya ibunyalah penyebab dari perceraian itu.

Seorang tak dikenal datang menemuinya, orang itu menyodorkan sebuah amplop yang di dalamnya berisi beberapa lembar rupiah, rupanya orang itu ialah atasan dari tempat ibunya bekerja sekaligus sahabat ayahnya. Orang itu menjelaskan semua yang menimpa ibunya, mulai dari perceraian hingga kasus pidana yang sedang menimpa ibunya.
Intan masih berdiri penuh keheranan seakan tidak percaya dengan apa yang ditangkap oleh indra pendengarannya, orangtuanya bercerai akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh ayahnya. Ia mengutuk dirinya sebagai anak durhaka saat mengetahui ibunya bekerja paruh waktu demi membelikannya sebuah hadiah saat pertambahan usianya nanti. Ia membayangkan betapa terluka hati ibunya saat ia marah kepadanya.

“Ya Tuhan dosa apa yang sudah aku lakukan? tidak seharusnya aku membenci Ibu. Ibu banting tulang demi kebahagiaanku, Ibu tidak pernah menyesal membiarkanku berada dalam kesalahpahaman terhadapnya. Tuhan aku malu dengan Ibu, ia selalu memberi tanpa pernah menuntut, sementara aku? apa yang sudah aku berikan? aku hanya bisa membuat Ibu menangis, aku tahu aku tak akan bisa membalas jasa Ibu, entah dengan cara apa aku membalasnya? Ibu maafkan anakmu yang durhaka ini,” ia merintih membayangkan betapa berdosanya ia kepada ibunya.

Intan menguatkan dirinya untuk menemui ibunya, saat perjalanan ke tempat ibunya ia menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan kepada ibunya. Langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang berdindingkan besi. Ia melihat ada sosok perempuan di balik sana. Sosok yang tanpa lelah menjaganya, tanpa letih berjuang sendirian demi membahagiakannya. Intan menyadari ia sedang diamati oleh sepasang mata.

Sepasang mata yang tanpa henti mengeluarkan air mata kesedihan saat melihatnya, dialah orang yang selama ini Intan benci, orang yang berada di balik jeruji besi itu adalah ibunya, menanggung dosa yang tak pernah ia lakukan. Ibunya dituduh mencuri di salah satu pusat perbelanjaan. Ini kali pertama Intan bertemu dengan ibunya sejak kejadian itu. Hati Intan menjerit saat melihat wajah ibunya yang letih dan cemas.

“bagaimana kabarmu Nak, kamu sudah makan?” kalimat pertama yang ibunya keluarkan saat bertemu Intan, ia diam membisu, mulutnya seakan terkunci hanya setetes air mata yang menyambut pertanyaan ibunya. Ia bersimpuh di hadapan ibunya memohon ampun atas apa yang dilakukannya selama ini. Air matanya kembali jatuh saat ibunya berbisik lirih di telinganya.
“Ibu tidak pernah memintamu untuk percaya dengan Ibu, Ibu tahu kamu anak pintar yang tidak mudah percaya dengan omongan orang. Ibu yakin putriku tidak akan mengkhianatiku, kamulah kuatku Nak, Ibu menyanyangimu.”

“maafin Intan bu, Intan tidak pernah mendengar perkataan Ibu. Intan percaya Ibu tidak melakukan ini, Intan yakin ibu tidak akan menghidupiku dengan sesuatu yang haram. Intan akan berusaha agar Ibu ke luar dari tempat ini..” Didekaplah sang ibu dengan penuh kasih sayang.
“maafin Ibu Nak, Ibu tidak bisa memberikan hadiah di hari ulang tahunmu.”
“tidak Bu, Ibu tidak perlu memberikan Intan hadiah, Ibulah hadiah terindah bagi Intan. Intan tidak butuh harta apalagi kemewahan. Ibulah harta yang berlimpah bagi Intan. Intan janji Bu, Intan tak akan mengaburkan matamu dengan air mata, aku menyayangimu Bu..” Ibunya hanya tersenyum saat mendengar ucapan Intan.

Kini Intan telah menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya. Ia menemukan segudang kasih sayang yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Ibunya pun telah menghirup udara bebas. Ia menyadari ibunya memberikan kasih sayang yang tulus tanpa henti. Ia sadar ia tak bisa berdiri sendiri tanpa sang ibu, hanya ibulah yang mampu memberikan apa yang orang lain tak mampu berikan. Ia benar-benar menyadari ibu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kasih sayang ibu bagaikan sumber air yang tidak akan pernah berhenti mengalir. Baginya ibu adalah satu-satunya cinta yang tak terlupakan.

Cerpen Karangan: Hastuti Mahmud
Facebook: Hastuti Hahmud
Ibu adalah sosok malaikat yang Tuhan kirimkan untuk kita, yang memberi kasih sayang tulus tanpa henti. Sayangilah ibumu.

Cerpen Cinta Yang Tak Terlupakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jurnal Mama

Oleh:
Pagi ini aku membuka lemari tua ayahku, setelah kepindahan ku kemari, kepindahan kembali tepatnya. Aku belum sempat melihat-lihat rumah tua ini, selain semak belukar di sekeliling rumah yang berencana

Hujan Pertama 27 Oktober

Oleh:
Kutatap jam dinding yang menunjukkan pukul 2 malam. Aku masih belum tertidur karena masih dihadapkan dengan tugas tugas matematika yang belum kuselesaikan. Aku menemukan 3 soal matematika mengenai aljabar

Ketika Salah Menilai

Oleh:
Aku adalah seorang mahasiswi dari sebuah universitas swasta di tempatku, aku sedikit tomboy dan menyebalkan kata teman-teman ku, hee… oh.. ya sampai lupa nama ku Echa Suatu hari 3

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *